
SelamatMembaca...
...🍁🍁🍁...
Melihat Luna yang sudah kembali ke mejanya, senyum sumringah terbit dibibir Valencia ketika melihat surat tersebut tinggal empat, ia berharap semoga tidak ada lagi surat yang datang untuk ia kerjakan.
Dengan bersemangat Valencia menyelesaikan mencatat surat kedalam jurnal. Karena habis selesai mencatat surat kedalam jurnal, ia harus mengerjakan tugas sekolahnya agar cepat selesai dan tidak menjadi beban pikiran lagi.
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk Valencia menyelesaikan empat surat itu, ia pun menutup buku jurnal tersebut dan juga merapikan surat yang berserakan.
Valencia pun menghela napas lega karena tugasnya mencatat surat kedalam jurnal sudah selesai. "Akhirnya sudah selesai, saatnya mengerjakan tugas sekolah." Seru Valencia pelan.
Valencia pun mengambil buku tugas dan buku paket miliknya dalam tas, kali ini Valencia mengerjakan tugas Bahasa Indonesia, karena tugasnya tidak banyak jadi pasti ia dapat menyelesaikannya sebelum jam istirahat.
Untung saja tugas Bahasa Indonesia kali ini hanya mencatat, jadi Valencia dapat dengan mudah menyelesaikannya.
Mata Valencia tidak sengaja menangkap Helena yang sedang berjalan menuju ke arahnya, sepertinya Valencia harus menunda dulu tugas sekolahnya.
Karena ia tahu pasti Helena datang kepadanya hanya untuk menyuruhnya melakukan sesuatu dan Valencia tidak menyukainya.
"Wah, sepertinya kau sangat sibuk anak magang." Sindir Helena sambil melihat ke arah meja Valencia yang terdapat buku tugas Bahasa Indonesia.
Mendengar Helena mengeluarkan suaranya saja sudah membuat Valencia darah tinggi, sebisa mungkin Valencia menahan emosinya agar tidak mengeluarkan kata sarkas kepada wanita itu.
"Ya, seperti yang Kakak lihat saya sedang sibuk." Balas Valencia sambil tersenyum tipis pada Helena.
"Tinggalkan kesibukanmu dulu, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku." Ujar Helena pada Valencia.
Benar bukan dugaan Valencia, kalau Helena datang padanya hanya untuk menyuruh dirinya melakukan sesuatu, Valencia hanya bisa berharap kalau Helena menyuruhnya melakukan sesuatu yang ringan.
"Kakak ingin saya melakukan apa?" Tanya Valencia.
"Aku ingin kau mengambil paket milikku dibawah, kalau kurir nya belum datang kau harus tetap menunggu dibawah sampai kurir itu datang." Jelas Helena pada Valencia.
Valencia menatap ragu ke arah Helena, apa ini cuma akal-akalan Helena saja menyuruh dirinya turun ke bawah untuk mengambil paket milik wanita itu.
Apalagi dirinya disuruh tetap menunggu kurir nya dibawah jika belum datang, sedangkan Valencia tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan kurir itu untuk datang ke tempat ia magang.
"Kalau boleh tahu, kurir nya sudah sampai mana Kak?" Valencia bertanya.
Helena melihat ke layar ponsel miliknya. "Mungkin, sebentar lagi akan sampai."
"Apa saya harus turun ke bawah sekarang?" Valencia bertanya lagi.
"Tentu saja kau harus turun sekarang." Suruh Helena sambil bersidekap.
"Baik Kak, saya akan turun sekarang." Setelah mengatakan itu Valencia pun berjalan ke luar ruangan untuk menuju ke bawah lebih tepatnya ke lobby kantor.
Helena yang melihat Valencia ke luar ruangan menampilkan senyum penuh artinya. "Ternyata anak magang itu masih saja mudah ditipu."
Helena pun kembali ke mejanya dengan perasaan senang, karena telah berhasil menipu Valencia untuk kesekian kalinya.
Kini Valencia sedang berada di lobby, Valencia melihat ke arah pintu masuk dan ternyata kurir nya masih belum datang, sepertinya ia harus menunggu di lobby ini selama beberap menit.
Valencia melihat sekelilingnya yang begitu ramai orang berlalu lalang, ada yang membawa dokumen, ada yang sedang menelpon dan ada juga orang yang berlari terburu-buru.
Sesekali Valencia menunduk karena ada beberapa karyawan yang melihat ke arahnya, ia takut kalau para karyawan beranggapan ia hanya duduk santai disini, padahal ia sedang menunggu paket milik Helena.
"Hai, kau sendirian?" Tanya seorang wanita yang tiba-tiba duduk disebelah Valencia.
Valencia pun menoleh kesamping. "Saya sedang menunggu paket, Kak."
Mata wanita itu tidak sengaja melihat ke arah ID Card yang menggantung dileher Valencia. "Ternyata kau anak magang, aku mengira kau juga karyawan disini."
Valencia mengangguk sambil tersenyum sopan. "Iya Kak, saya anak magang."
"Aku lupa mengenalkan diri, aku Renata." Wanita yang bernama Renata itu memberitahu namanya pada Valencia.
"Saya Valencia Kak." Balas Valencia memberitahu namanya.
"Sudah berapa lama kau magang disini?" Tanya Renata pada Valencia.
"Hampir dua minggu Kak saya magang disini." Valencia menjawab.
Renata melihta ke arah ponselnya sebentar, setelah itu ia memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku blazer nya. "Sepertinya aku harus pergi, senang bisa berkenalan denganmu Valen." Setelah mengatakan itu Renata pun beranjak dari kursinya dan langsung pergi meninggalkan Valencia.
Valencia hanya tersenyum melihat Renata yang langsung beranjak pergi ketika habis melihat ponselnya, sepertinya ada hal penting yang Renata urus hingga wanita itu begitu terburu-buru.
Mata Valencia kini teralih ke arah pintu masuk, sampai saat ini belum ada tanda kurir akan datang, Valencia merogoh kantong rok nya untuk mengambil ponsel miliknya, ternyata hampir setengah jam ia duduk disini.
Lebih baik Valencia kembali ke ruangan sekarang, dari pada ia duduk disini menunggu kurir tapi kurir itu tidak datang juga. Valencia pun beranjak dari kursinya dan melangkahkan kakinya menuju ruangannya.
"Permisi Kak, saya sudah setengah jam menunggu di lobby tapi kurir nya belum datang juga." Valencia memberitahu Helena.
Helena yang semula fokus dengan ponselnya kini menatap ke arah Valencia. "Astaga aku lupa mengatakan kalau paket nya datang besok."
Mendengar itu membuat Valencia mengepalkan tangannya. "Kenapa Kakak tidak memberitahu saya."
"Aku tidak mempunyai nomor whatsappmu jadi aku tidak dapat memberitahu dan aku juga aku malas turun kebawah, jadi aku memutuskan untuk memberitahumu ketika kau kembali kesini." Jelas Helena dengan ekspresi tidak merasa bersalah.
Melihat ekspresi tidak merasa bersalah di wajah Helena membuat tangan Valencia gatal ingin menampar pipi Helena, apa susahnya menyuruh seseorang turun kebawah untuk memberitahu padanya bahwa paket milik wanita itu datang besok.
"Kenapa Kakak tidak menyuruh seseorang kebawah untuk memberitahu pada saya?" Tanya Valencia berusaha menahan emosinya.
"Karyawan lain sedang sibuk, jadi aku tidak ingin mengganggu mereka." Jawab Helena sambil tersenyum miring.
Lagi dan lagi kalimat bohong yang dilontarkan oleh Helena padanya, lebih baik ia sekarang kembali ke mejanya sebelum ia benar-benar emosi dan membuat keributan di ruangan.
Valencia pun duduk di kursinya dan memasukkan buku tugas Bahasa Indonesia miliknya kedalam tas, ia tidak mood untuk mengerjakan tugas miliknya jadi lebih baik ia simpan saja dalam tas.
Valencia menghela napas sambil menetralkan emosinya, lagi dan lagi Helena mengerjainya, jika Helena bukan anak dari ketua arsip mungkin Valencia akan melaporkan kelakuan Helena sejak lama.
Semoga Valencia memiliki stok kesabaran yang banyak, agar ia tidak keluar dari tempat magang ini.
...🍁🍁🍁...