The Problem

The Problem
The Problem - Empat Puluh Tiga



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Ketika mobil milik Luna sudah tidak terlihat lagi dari pandangan mereka, barulah Valencia dan juga Risa kembali masuk ke dalam rumah.


"Hari ini kau pergi ke kedai Ayah mu atau tidak?" Tanya Risa pada Valencia.


Valencia menggeleng pelan, sepertinya hari ini ia memilih diam di rumah saja untuk istirahat, mengingat besok ia akan masuk magang kembali.


"Tidak Bu, hari ini Valen ingin di rumah saja, mungkin sabtu depan Valen akan pergi ke kedai untuk membantu Ayah."


Risa mengangguk mengerti. "Sepertinya Ibu akan pergi ke kamar untuk istirahat sebentar." Risa memberitahu pada Valencia.


Valencia mengangguk pelan. "Baiklah, Ibu istirahat saja di kamar."


Risa pun berjalan menuju kamarnya sedangkan Valencia ia berjalan menuju ruang tamu dan ia melihat dua Kakak nya itu sedang duduk disana sambil menonton televisi.


Valencia pun melangkahkan kakinya menuju sofa, kemudian ia pun duduk tepat disebelah Kakak pertamanya yaitu Farel.


"Temanmu yang bernama Luna itu mana?" Tanya Raga pada Valencia.


"Kak Luna baru saja pulang." Jawab Valencia sambil menonton acara di televisi.


Raga menatap ke arah Valencia. "Kenapa kau tidak memanggilku saat Luna ingin pulang tadi."


Valencia membalas tatapan Raga dengan alis terangkat. "Untuk apa aku memanggil Kak Raga."


"Kau tidak tahu, kalau Kakakmu yang satu itu tertarik pada temanmu itu." Farel memberitahu pada Valencia.


Valencia terkekeh pelan ketika mengetahui kalau Raga ternyata tertarik pada Luna. "Kak Luna suda bertunangan, jadi Kak Raga tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mendekati Kak Luna."


Kedua mata Raga menyipit. "Kau pasti berbohong."


Valencia menggeleng. "Astaga, untuk apa aku membohongi Kakak."


"Dugaanku benar bukan kalau teman Valen tadi telah memiliki kekasih bahkan telah tunangan." Timpal Farel untuk Raga.


Ekspresi raga yang semula bersemangat mendadak lesu. "Sayang sekali, padahal aku ingin mengajaknya berkencan tapi ternyata wanita itu sudah memiliki tunangan."


"Walaupun Kak Luna tidak mempunyai tunangan sekalipun aku tidak akan membiarkan Kak Raga berkencan dengan Kak Luna." Ujar Valencia yang kembali menatap televisi.


"Kenapa? apa kau tidak ingin Luna menjadi Kakak iparmu?" Tanya Raga pada Valencia.


"Aku ingin, tapi karena Kak Raga ada playboy kelas kakap jadi aku tidak ingin kalau Kak Luna menjadi pasangan hidup Kak Raga." Jawab Valencia telak pada Raga.


Raga menampilkan ekspresi sedih yang dibuat-buat. "Ucapanmu menyakitiku Valen."


Melihat tingkah Raga yang begitu dramatis membuat Farel jengkel, ia pun mengambil bantal sofa kemudian ia melemparkan bantal tersebut tepat mengenai wajah Raga.


"Berhentilah bersikap dramatis, itu membuatku jijik."


Valencia melihat itu hanya bisa tertawa, Raga memang pantas mendapat lemparan bantal karena sikap dramatisnya yang menyebalkan.


Sedangkan Raga ia menatap Farel dengan ekspresi kesalnya. "Kau memang tega sekali dengan Adikmu yang satu ini."


"Kau ingin ku lempar bantal lagi." Ancam Farel pada Raga.


Raga menggeleng pelan. "Tidak perlu, lemparan ini saja sudah cukup membuat wajahku terasa sakit."


"Valen, bagaimana magangmu selama di Aldebaran Company?" Tanya Farel pada Valencia.


"Berjalan dengan baik Kak." Jawab Valencia pada Farel.


"Syukurlah, kalau kau ada apa-apa atau kesulitan dalam membuat laporan kau bisa memberitahuku biar aku dapat membantumu."


Valencia tersenyum ke arah Farel Kakak pertamanya, Kakak nya yang satu itu memang tidak banyak bicara, tapi menurut Valencia Kakak pertamanya itu yang paling bisa diandalkan dibandingkan Kakak keduanya, apalagi dalam membuat tugas atau pun laporan.


"Baik Kak, Valen pasti akan memberitahu Kak Farel."


"Kau harus memberitahuku juga jangan hanya pada Farel saja." Raga ikut menimpali ucapan Valencia dan juga Farel.


"Iya Kak Raga, aku pasti akan memberitahmu juga." Balas Valencia pada Raga.


Raga menampilkan senyumnya. "Bagus, kau memang Adik kesayanganku."


"Acara di televisi tidak ada yang menarik, Valen akan pergi ke kamar saja." Setelah mengucapkan itu Valencia pun beranjak dari sofa dan pergi menuju kamarnya.


Setelah sampai di kamar, Valencia mengambil ponsel miliknya diatas nakas, kemudian ia duduk diatas kasur. Sedari tadi Valencia tidak memainkan ponsel miliknya karena ketika bangun tadi ia langsung mandi, berpakaian, kemudian ke dapur membantu Ibu nya.


Valencia mengernyit heran melihat banyak notif whatsapp dilayar ponselnya dan itu berasal dari grup dirinya dengan sahabatnya, tidak biasanya grup whatsapp mereka ramai di siang hari seperti ini, biasanya grup whatsapp mereka akan ramai saat malam hari.


"Apa mereka sedang mengatur waktu untuk menghabiskan waktu bersama lagi?" Tanya Valencia sambil menatap layar ponselnya.


Valencia menggeleng pelan, rasanya tidak mungkin kalau sahabatnya itu ingin menghabiskan waktu bersama lagi hari ini mengingat kemarin mereka sudah menghabiskan waktu bersama.


Dari pada dirinya terus menduga-duga lebih baik ia langsung membuka grup whatsapp mereka saja, agar mengetahui apa yang sedang mereka bahas hingga membuat banyak notif yang masuk dalam ponsel miliknya.


Valencia pun membuka aplikasi whatsapp kemudian ia membuka grup whatsapp ia dengan sahabatnya, mata Valencia sukses membelalak kaget ketika ia membaca isi chat di grup mereka itu.


...Girls Squad...


Joana : Valen.


Joana : Valen keluarlah.


Joana : Kau harus menjelaskan ini pada kami.


Bella : Kenapa dengan Valen?


Bella : Apa Valen dapat masalah lagi?


Bella : Cepat katakan Joe, ada apa dengan Valen?


Clara : Ini masih siang kenapa kalian ribut sekali?


Clara : Valen kenapa?


Joana : Astaga kalian tidak tahu.


Joana : Sepertinya kalian tidak membuka instagram.


Clara : Apa hubungannya Valen dengan instagram?


Bella : Benar, kami menanyakan Valen, bukan membuka instagram atau tidak.


Joana : Apa kalian tidak melihat kalau Rafael Aldebaran memberi komentar pada unggahan Valen di instagram.


Joana : Kalian ingin tahu apa isi komentarnya.


Joana : Komentarnya "Sangat Cantik".


Bella : Benarkah.


Bella : Valen beruntung sekali.


Bella : Bukankah Valen dan juga Rafael belum saling mengenal atau pun bertemu.


Bella : Tapi, rasanya tidak mungkin Rafael memberi komentar seperti itu jika pria itu tidak mengenal Valen.


Clara : Kalian menanggapinya terlalu berlebihan, dia hanya seorang Rafael Aldebaran, bukan presiden atau pun pejabat penting negara.


Joana : Tapi, Rafael Aldebaran adalah anak kedua dari pemilik Aldebaran Company, tempat dimana Valen magang.


Joana : Cepat Valen keluar.


Joana : Kami butuh penjelasan.


Joana : Sejak kapan kau dekat dengan Rafael?


Bella : Kemarin kau bilang tidak pernah bertemu atau pun mengenal Rafael.


Bella : Tapi, kenapa tiba-tiba ia memberi komentar pada unggahan fotomu di instagram.


Joana : Bahkan Rafael dan Valen saling follow di instagram.


Clara : Sepertinya Valen telah lama mengenal Rafael, cuma dia malu mengatakannya pada kita dan memilih untuk merahasiakannya.


Setelah membaca isi chat tersebut Valencia tidak langsung membalas chat di grup itu, ia memilih untuk membuka aplikasi instagram terlebih dahulu. Valencia ingin memastikan apakah yang dikatakan oleh Joana itu benar atau tidak, kalau Rafael memberi komentar pada unggahan fotonya di instagram.


Ternyata yang dikatakan oleh Joana itu memang benar, kalau Rafael mengomentari salah satu unggahan fotonya tadi malam.


Valencia menutup kembali aplikasi instagramnya, ia tidak berniat untuk membalas komentar dari Rafael tersebut.


Valencia kembali membuka aplikasi whatsappnya dan membalas chat grup mereka. Jika dirinya tidak memberikan penjelasan sekarang, Valencia yakin sahabatnya itu akan terus meneror whatsappnya.


Valencia : Aku memang pernah bertemu dan berkenalan dengan Rafael sebelumnya.


Joana : Kenapa kau tidak jujur kemarin dan memilih merahasiakannya?


Valencia : Rasanya sulit saja jujur pada kalian.


Bella : Cepat ceritakan bagaimana kau bisa bertemu dan berkenalan dengan Rafael.


Valencia : Baiklah, aku akan menceritakan semuanya pada kalian.


Valencia : Beberapa minggu dulu saat libur magang aku memutuskan untuk jalan-jalan ke alun-alun kota sendirian. Lalu, saat aku duduk sambil menikmati es krim milikku, tiba-tiba seorang pria datang dan meminta izin duduk disebelahku lalu ia pria itu memperkenalkan dirinya padaku, pria itu adalah Rafael Aldebaran.


Valencia : Saat itu aku juga tidak menyangka akan bertemu dengan Rafael Aldebaran bahkan duduk berbesalahan dengan pria itu.


Valencia : Waktu itu aku tidak berbicara banyak padanya, karena aku harus pergi ke kedai untuk membantu Ayah ku.


Valencia : Beberapa hari kemudian, saat aku telah selesai memilah surat di gudang arsip dan kembali ke ruangan, ternyata disana ada Rafael yang sedang berbincang dengan Helena.


Valencia : Beberapa saat, aku bersyukur Rafael tidak menyadari kalau aku juga ada di ruang arsip.


Valencia : Tapi ternyata Rafael menyadarinya dan pria itu langsung membawaku pergi makan siang di restoran mewah.


Valencia : Aku bahkan berhutang padanya karena uang jajanku tidak cukup untuk membayar makanan yang ku pesan, padahal aku sudah memilih makanan yang paling murah.


Clara : Kenapa kau tidak pergi saja dari restoran itu?


Valencia : Aku sudah mencoba pergi lewat pintu belakang, tapi sayang sekali aku ketahuan oleh Rafael dan pria itu membawaku kembali restoran itu.


Bella : Sepertinya Rafael tertarik padamu Valen.


Joana : Aku juga mengira begitu, sepertinya Rafael memang tertarik pada Valen.


Valencia : Seorang Rafael Aldebaran tidak mungkin tertarik pada wanita biasa sepertiku.


Bella : Kalau Rafael tidak tertarik padamu, mengapa dia menyusulmu ke pintu belakang dan mencegahmu pergi.


Joana : Benar, jika Rafael tidak tertarik padamu dia pasti akan membiarkanmu pergi begitu saja.


Clara : Kau harus hati-hati Valen, aku takut kalau Rafael berniat ingin mempermainkanmu.


Bella : Yang dikatakan Clara ada benarnya juga, kau harus berhati-hati dan kau juga harus memastikan apakah Rafael hanya sekedar mempermainkanmu atau memang tertarik padamu.


Valencia : Sepertinya Rafael hanya ingin bermain-main denganku.


Clara : Kalau pria itu sampai mempermainkanmu, kami akan menghajarnya.


Joana : Tapi, kalau Rafael memang tertarik padamu, aku akan mendukung hubungan kalian.


Valencia : Sudahlah, aku tidak ingin membahas Rafael lagi.


Valencia : Aku akan tidur siang.


Valencia : Bye.


Valencia pun mematikan sambungan data selulernya, setelah itu ia meletakkan ponselnya kembali diatas nakas, kemudian Valencia merebahkan dirinya diatas kasur, setelah mendapatkan posisi yang nyaman baru Valencia memejamkan matanya dan tertidur.


...🍁🍁🍁...