The Problem

The Problem
The Problem - Empat Puluh Lima



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Akhirnya waktu istirahat telah tiba, hari ini Valencia menghabiskan waktu istirahatnya hanya seorang diri tidak dengan Luna, karena Luna menghabiskan waktu makan siangnya dengan tunangannya.


Hari ini Valencia memutuskan menghabiskan waktu makan siangnya di taman belakang Aldebaran Company, sebelum pergi ke taman Valencia membeli makanan di luar terlebih dahulu untuk mengisi perutnya yang lapar.


Setelah membeli makanan, baru Valencia pergi ke taman sekaligus untuk menyantap makanannya. Valencia memilih duduk di bangku yang pernah ia duduki saat acara peresmian CEO tempo lalu.


Valencia menghela napas pelan sambil melihat keadaan sekitarnya yang sepi, sepertinya para staff dan karyawan banyak memilih menghabiskan waktu makan siang mereka di cafeteria perusahaan dari pada di taman belakang.


Valencia membuka bungkusan burger yang ia beli tadi, karena hari ini ia ingin memakan burger jadi Valencia memutuskan


membeli satu burger berukuran jumbo lengkap dengan minumannya.


Valencia mulai menyantap burger tersebut dengan lahap, Valencia berharap semoga burger ini mampu membuat perutnya kenyang sampai jam pulang magang.


Sesekali Valencia meminum minumannya setelah itu ia melanjutkan memakan burger nya kembali.


Untung saja bangku yang ia duduki memiliki atap, jadi Valencia tidak akan terkena panasnya cahaya matahari di siang hari.


Valencia berhenti memakan burgernya ketika ia melihat Helena sedang berjalan menuju ke arahnya, apa lagi yang di inginkan oleh wanita itu hingga ia kesini.


Tapi yang menjadi pertanyaan Valencia saat ini, dari mana Helena tahu kalau dirinya sedang berada disini. Seingatnya ia tidak mengatakan pada siapa pun kalau ia akan kesini.


"Disini kau rupanya." Ujar Helena yang saat ini telah berdiri dihadapan Valencia.


"Kakak mencari saya?" Tunjuk Valencia pada dirinya.


"Ya, aku mencarimu." Jawab Helena dengan ekspresi marah.


Valencia mengernyit bingung melihat ekspresi marah Helena, apa ia membuat kesalahan hingga wanita itu menampilkan ekspresi marah padanya.


"Kakak ada keperluan apa hingga mencari saya sampai kesini?" Tanya Valencia.


"Aku ingin memberimu pelajaran, karena kau telah membuatku malu." Jawab Helena pada pertanyaan Valencia.


Mendengar jawaban Helena membuat Valencia semakin bingung. Sedari tadi ia sibuk mengerjakan surat dan juga mengerjakan tugasnya. Jadi, ia tidak punya waktu untuk mempermalukan Helena.


Walaupun ia membenci Helena, tapi ia tidak pernah berniat untuk mempermalukan Helena pada siapa pun.


"Saya membuat Kakak malu dalam hal apa?"


"Kau membuat kopinya terlalu manis dan Pak Felix tidak suka itu, kau berhasil membuat membuat imageku buruk di depan Pak Felix." Jawab Helena sambil menunjuk ke arah Valencia.


Mulut Valencia hampir menganga ketika mendengar jawaban Helena, jadi kopi yang ia buatkan tadi ternyata untuk Felix. "Saya mengira kalau kopi itu untuk Kakak bukan untuk Pak Felix, Kakak juga tidak mengatakan kalau kopi itu untuk Pak Felix."


"Tetap saja kau yang salah bukan aku." Helena membela diri.


Ingin rasanya Valencia menjambak rambut Helena, wanita itu yang salah tapi wanita itu malah menyalahkannya. "Kenapa jadi salah saya?"


"Karena itu kopi buatanmu dan aku yang kena imbasnya."


"Kalau Kakak mengatakan kopi itu untuk Pak Felix, saya tidak akan menambahkan gula pada kopinya." Valencia membela diri.


Plak...


Satu tamparan mendarat di pipi mulus Valencia sebelah kiri, Valencia pun memegangi pipinya yang terasa perih.


"Itu untukmu karena kau salah membuat kopinya." Ujar Helena sambil menampilkan senyum miringnya.


Valencia mengepalkan tangannya, ia pun berdiri dari dan membalas senyum miring Helena dengan tatapan tajam.


Plak...


Satu tamparan mendarat di pipi Helena dan itu membuat Helena meringis sakit. "Itu untuk Kakak yang menyalahkan saya padahal itu kesalahan Kakak sendiri."


Helena menatap Valencia geram. "Beraninya kau..." Helena bersiap melayangkan satu tamparan lagi pada pipi Valencia, tapi sayangnya tanganya ditahan oleh seseorang dan itu membuat tangan Helena langsung terhempas.


"Pak Felix..."


"Jangan membuat keributan disini." Ujar Felix dengan tatapan dingin.


"Ma—af Pak, saya tidak bermaksud membuat keributan, anak magang itu telah menampar saya." Adu Helena pada Felix dan itu membuat Valencia menganga karena Helena memutar balikkan fakta.


"Dan kau berniat ingin membalasnya."


Helena mengangguk. "Iya Pak..."


Felix menatap ke arah Valencia yang terlihat sedang menahan amarahnya. "Benarkah begitu?"


"Kak Helena yang lebih dulu menampar saya." Valencia memberitahu pada Felix.


"Jadi, siapa yang berbohong?" Felix menatap Valencia dan Helena bergantian.


"Tentu saja anak magang itu yang berbohong." Balas Helena sambil menatap ke arah Felix.


Helena menyalahkan dirinya lagi dan itu membuat Valencia tidak terima, sudah cukup ia bersabar dengan kelakuan wanita itu padanya.


"Saya tidak berbohong pada Pak Felix, Helena yang lebih dulu menampar saya." Valencia mencoba membela dirinya.


Helena menatap tidak suka ke arah Valencia, ia harus melakukan sesuatu agar Pak Felix mempercayai ucapannya.


"Dia membenci saya Pak, makanya dia menampar saya." Ujar Helena dengan air mata yang tiba-tiba menetes sambil memegangi pipi bekas tamparan Valencia.


Valencia menatap tidak percaya pada Helena yang kini menangis seolah dirinya yang paling tersakiti, Helena memang wanita paling licik yang pernah ia temui.


"Kau kembali ke dalam, biar anak magang ini aku yang urus." Felix menatap Valencia dengan tatapan dingin.


Mendengar ucapan Felix membuat hati Helena bersorak girang, Helena yakin pasti Pak Felix akan memarahi Valencia habis-habisan.


"Baik Pak, saya permisi dulu." Sebelum pergi Helena menampilkan senyum kemenangannya pada Valencia, setelah itu ia berbalik dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan taman belakang.


Valencia kembali duduk dan mengabaikan tatapan Felix yang tertuju padanya, Valencia kembali memakan burger dengan amarah yang masih berkumpul dibenaknya.


Andai saja Felix tidak tangan mungkin saat ini ia bisa melampiaskan semua amarahnya pada Helena.


Felix duduk disebelah Valencia dan itu membuat Valencia menghentikan acara makannya kembali. Valencia mengira kalau Felix akan pergi dari sini juga, ternyata pria itu malah duduk disini bersamanya.


"Kenapa Bapak tidak kembali ke dalam?"


"Apa kau tidak mendengar ucapanku tadi?" Felix berbalik melemparkan pertanyaan.


Valencia ingat kalau Felix akan mengurus dirinya, apa Felix akan mengadukan masalah ini pada ketua magangnya, Valencia berharap semoga Felix mau bermurah hati untuk tidak melaporkan kejadian tadi pada ketua magangnya.


"Apa Bapak akan melaporkan masalah ini pada ketua magang saya?" Tanya Valencia pada Felix.


Felix diam nampak mempertimbangkan ucapan Valencia. "Bisa iya, bisa juga tidak."


"Saya mohon kemurahan hati Bapak untuk tidak melaporkan masalah tadi pada ketua magang saya." Mohon Valencia pada Felix.


"Kau ingin aku bermurah hati, agar tidak melaporkanmu."


Valencia mengangguk cepat. "Iya Pak, jika Bapak melaporkan masalah ini pada ketua magang saya, mungkin saya tidak akan naik kelas dan saya pun harus mengulang magang lagi tahun depan."


"Aku akan melakukannya, kalau kau..." Menggantung ucapannya.


"Kalau apa Pak?" Tanya Valencia penasaran.


Felix menampilkan senyum penuh arti dan itu membuat perasaan Valencia tidak enak.


"Jadilah kekasihku."


...🍁🍁🍁...