The Problem

The Problem
The Problem - Tiga Puluh Satu



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Tatapan Valencia kini mengarah ke meja para pembeli sambil bertopang dagu, Valencia dapat melihat dengan jelas kalau para pembeli begitu menikmati pesanan mereka dan itu membuat Valencia senang.


Entah kenapa melihat itu membuat Valencia menjadi lapar padahal di rumah tadi Valencia sudah makan, Valencia pun berjalan ke arah etalase dan mengambil dua cupcake rasa strawberry.


Setelah itu Valencia pergi menuju mesin minuman dan membuat milkshake untuknya, Valencia memang suka sekali milkshake dan ia menobatkan milkshake sebagai minuman favoritnya.


Ketika milkshake miliknya sudah jadi, Valencia pun kembali ke tempat kasir dan duduk disana, ia pun meletakkan milkshake dan cupcake tersebut ke atas meja disamping mesin kasir.


Valencia pun mulai memakan cupcake miliknya, rasanya memang tidak diragukan lagi, cupcake buatan Ayah nya pasti sangat enak.


Sepertinya dua cupcake itu masih kurang untuk mengganjal perutnya yang lapar, mungkin ia akan mengambil dua cupcake lagi setelah ini, Valencia hanya bisa berharap semoga Ayah nya tidak marah karena ia memakan banyak cupcake.


Valencia melirik ke arah jam tangan yang melingkar pada tangan kirinya, jam sudah menunjukkan pukul 12.10 siang dan sahabatnya satu pun belum datang juga.


Valencia mengambil ponselnya didalam tas kecil miliknya, ia pun membuka aplikasi whatsapp, sahabatnya mengatakan kalau mereka sedang menuju kesini tapi Valencia heran mengapa mereka lama sekali sampai.


Valencia menutup aplikasi whatsapp nya dan membuka aplikasi kamera, Valencia tersenyum ketika melihat penampilannya begitu bagus dan Valencia memutuskan untuk mengambil beberapa foto dirinya.


Pose pertama Valencia tersenyum, pose kedua Valencia memeletkan lidahnya dan pose ketiga Valencia menampilkan jejeran giginya yang putih.


Valencia tersenyum melihat hasilnya yang lumayan bagus, mungkin ia akan mengunggah salah satu hasil foto tersebut ke instagram miliknya.


Valencia memasukkan ponselnya kembali kedalam tas, setelah itu Valencia pun kembali fokus menghabiskan cupcake miliknya.


Tatapan Valencia mengarah ke pintu belakang dan ia melihat Ayah nya tengah berjalan menuju ke arah nya. Perasaan tadi Ayah nya itu baru saja berangkat ke pasar dan sekarang Ayah nya telah kembali.


"Ayah cepat sekali pergi ke pasar." Ujar Valencia pada Hery yang kini duduk disebelahnya.


"Ayah sudah bilang, kalau Ayah hanya pergi sebentar tidak lama." Balas Hery sambil menyunggingkan senyumnya.


Hery melihat milkshake serta bungkusan cupcake diatas meja. "Sudah berapa cupcake yang kau makan?" Tanya Hery pada Valencia.


"Baru dua Ayah." Jawab Valencia sambil menyengir lebar ke arah Ayah nya.


Hery hanya bisa menggeleng pelan ketika mendengar jawab Valencia, putrinya itu memang suka sekali memakan cupcake miliknya.


"Kau yakin hanya dua."


Valencia mengangguk meyakinkan, karena ia memang baru dua memakan cupcake tersebut. "Iya Ayah, Valen hanya memakan dua cupcake."


"Kau tidak makan di rumah?" Tanya Hery pada Valencia.


"Valen makan kok, cuma Valen masih lapar." Jawab Valencia yang kembali menyengir.


Hery lupa kalau putrinya itu memang cepat sekali lapar, walaupun putrinya itu sudah makan banyak sekali pun. Tapi, walaupun makan banyak, entah kenapa tubuh putrinya itu tidak ada perubahan sama sekali.


"Ayah tidak marah kan, kalau Valen memakan cupcake milik Ayah?" Tanya Valencia hati-hati.


Hery tersenyum dan mengusap rambut Valencia pelan. "Ayah tidak marah, kau bisa mengambilnya lagi kalau kau masih lapar."


Mendengar itu membuat mata Valencia berbinar. "Benarkah Ayah, kalau Valen boleh mengambil lagi."


Hery mengangguk pelan tanda mengiyakan ucapan Valencia. "Iya Valen, kalau kau ingin ambil saja."


Valencia pun berteriak girang tanpa memperdulikan orang sekitarnya yang menatap bingung ke arah nya. "Terima kasih Ayah, Valen sayang Ayah."


"Valen, kami datang."


Mendengar teriakan itu membuat Valencia menoleh ke arah sumber suara dan Valencia melihat ketiga sahabatnya yang baru saja masuk kedalam kedai.


"Akhrinya kalian datang, kenapa kalian bertiga lama sekali sampai?" Tanya Valencia pada sahabatnya.


"Jalanan macet, makanya kami lama sampai kesini." Jawab Bella pada Valencia.


Valencia mengangguk mengerti. "Baiklah, kalian ingin memesan apa?" Tanya Valencia lagi.


"Aku ingin coffe late." Clara menyebutka pesanannya.


"Kalau aku ingin caramel macchiato." Bella menyebutkan pesananya.


"Kalian duduk saja dulu, aku akan membuatkan pesanan kalian." Suruh Valencia pada tiga sahabatnya.


Joanan, Bella dan Clara pun berjalan menuju meja nomor tujuh dan mereka pun duduk disana sambil menunggu pesanan mereka datang.


Sedangkan Valencia ia berjalan ke mesin minuman untuk membuatkan pesanan minuman para sahabatnya dahulu, beberapa menit kemudian minuman itu pun jadi dan Valencia meletakkan tiga minuman itu ke atas nampan.


Kemudian Valencia berjalan menuju etalase dan mengambil dua kue muffin berukuran sedang, ia pun meletakkan kue muffin tersebut diatas nampan.


"Ayah, Valen akan duduk bersama sahabat Valen sebentar." Valencia memberitahu pada Hery.


Hery mengangguk sambil menyunggingkan senyumnya. "Baik, kau bergabung saja dengan sahabatmu biar Ayah yang akan melayani pembeli."


Valencia membalas senyuman Hery. "Terima kasih Ayah." Setelah mengucapkan itu Valencia pun membawa nampan yang berisi minuman serta dua kue muffin pesanan sahabatnya tersebut.


"Ini pesanan kalian." Seru Valencia sambil meletakkan minuman dan dua kue muffin tersebut satu persatu ke atas meja.


Valencia pun meninggalkan meja sahabatnya itu sebentar untuk meletakkan nampan ke tempatnya semula, setelah itu ia pun kembali duduk di meja para sahabatnya tersebut.


"Rasanya sudah lama sekali, kita tidak menghabiskan waktu untuk berkumpul bersama." Joana membuka pembicaraan.


"Magang membuat kita sibuk dan susah mencari waktu untuk kumpul." Timpal Bella.


"Aku berharap magang cepat berakhir." Ujar Clara sambil menopang dagu."


Valencia menghela napas pelan. "Aku juga berharap sama sepertimu Clara, aku ingin magang cepat berakhir."


"Apa Helena itu masih suka mengganggumu?" Tanya Joana pada Valencia.


Valencia mengangguk pelan. "Iya, dia masih suka mengagngguku."


"Kalau aku jadi kau, mungkin aku akan pindah tempat magang." Timpal Bella pada ucapan Valencia.


"Kau yakin Ibu Emy akan menyetujuinya jika pindah tempat magang." Balas Clara pada Bella.


"Kemungkinan lima puluh persen Ibu Emy akan menyetujuinya."


"Aku tidak mungkin pindah tempat magang, apalagi kita baru dua minggu menjalani masa magang." Ujar Valencia pada Bella.


"Valen benar, kita baru dua minggu menjalani masa magang dan kemungkinan Ibu Emy juga tidak mungkin mengizinkan Valencia pindah dari tempat magangnya." Timpal Joana pada sahabatnya.


"Aku hanya bisa berharap semoga kau masih tetap kuat magang disana." Harap Clara pada Valencia.


Valencia tersenyum pada Clara. "Terima kasih, Clara. Aku pasti akan kuat."


Clara mengangguk dan membalas senyuman Valencia. "Sama-sama, Valen."


Suasana pun menjadi hening, Clara sibuk meminum coffe late miliknya, Joana sedang sibuk memakan mue muffin miliknya, sedangkan Bella ia sibuk meminum caramel macchiato miliknya.


"Kita sudah lama tidak mengambil foto bersama bukan, ayo kita berfoto." Seru Bella memecahkan keheningan.


"Ayo, nanti aku akan mengunggah foto kita berempat di instagram." Balas Joanan pada Bella.


Bella pun mengeluarkan ponsel miliknya dalam tas dan ia pun membuka aplikasi kamera dan mengarahkan kamera tersebut pada dirinya dan juga para sahabatnya.


"Tampilkan senyum dan pose terbaik kalian." Seru Bella pada sahabatnya.


Foto pertama mereka menampilkan senyum manis mereka, foto kedua mereka menampilkan gaya konyolnya, foto ketiga mereka menampilkan pose nyengir dan foto yang terakhir mereka berpose tangan peace.


Bella tersenyum melihat hasilnya yang bagus. "Foto nya bagus, aku akan mengunggahnya di instagram."


"Jangan lupa kirim foto nya ke gru whatsapp." Sahut Joana pada Bella.


Bella pun mengirim foto mereka tadi ke grup whatsapp mereka. "Aku sudah mengirimnya ke grup."


...🍁🍁🍁...