The Problem

The Problem
The Problem - Tiga Puluh



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya Valencia sampai juga di kedai milik Ayah nya. Valencia melepaskan helm yang melekat dikepalanya kemudian ia meletakkan helm tersebut di kaca spion sebelah kanan.


Seperti biasa ketika hari libur, pasti kedai milik Ayah nya akan ramai pembeli. Valencia menjadi merasa bersalah, karena beberapa saat lalu ia memilih hanya diam di rumah dan tidak pergi membantu Ayah nya di kedai.


Biasanya kedua Kakak Valencia juga ikut membantu Ayah nya di kedai ketika hari libur, tapi karena saat ini kedua Kakak nya itu sedang sibuk mengurus kuliah mereka, jadi mereka tidak dapat membantu Ayah nya.


Pasti Ayah nya kewalahan melayani para pembeli hanya seorang diri. Valencia bersyukur, karena sahabatnya mengajak pergi ke kedai Ayah nya, jadi selain dapat menghabiskan waktu bersama sahabatnya Valencia juga dapat membantu Ayah nya untuk melayani para pembeli.


Jika sahabatnya tidak mengajak pergi ke kedai Ayah nya, mungkin saat Valencia sedang tidur siang di rumah. Valencia menghela napas sejenak, setelah itu ia pun melangkahkan kakinya masuk kedalam kedai.


Valencia tidak melihat keberadaan salah satu sahabatnya didalam kedai, mungkin mereka masih bersiap-siap makanya belum datang. Jadi, sembari menunggu sahabatnya datang Valencia akan membantu Ayah nya dulu.


"Ayah, Valen datang." Seru Valencia girang pada Hery yang sedang sibuk membungkus pesanan pembeli.


"Ayah mengira kau tidak akan datang kesini, mengingat ini sudah siang sekali." Balas Hery yang kini menyerahkan bungkusan itu pada pembeli dan ia pun mengambil uang ditangan pembeli itu.


"Tadinya Valen tidak pergi kesini karena Valen ingim istirahat di rumah, karena nanti malam Valen akan pergi ke acara peresmian CEO baru ditempat Valen magang." Jelas Valencia pada Ayah nya.


"Kau sugguh ingin datang ke acara peresmian itu, Valen." Ujar Hery memastikan.


Valencia mengangguk pelan. "Iya Ayah, Valen akan datang, karena Valen tidak enak menolak Kak Luna yang terus memaksa Valen untuk ikut, bahkan Kak Luna sampai meminjamkan gaunnya agar aku datang ke acara peresmian itu." Jelas Valencia lagi.


Hery tersenyum sambil mengusap pelan rambut Valencia. "Sepertinya Luna anak yang baik, Ayah percaya kalau Luna bisa menjagamu diacara peresmian itu"


Valencia membalas senyum Ayah nya. "Ayah benar, Kak Luna memang orang baik dan Valen juga percaya kalau Kak Luna dapat menjaga Valen diacara peresmian nanti malam, jadi Ayah tidak perlu khawatir dengan Valen."


"Acaranya jam berapa dimulai?" Tanya Hery pada Valencia.


"Acaranya mulai jam tujuh malam Ayah, tapi Kak Luna akan datang ke rumah Valen lebih dulu untuk mendandani Valen, baru setelah itu kami berangkat bersama menuju Aldebaran Company." Jawab Valencia panjang lebar pada Hery Ayah nya.


"Ayah mengira acaranya akan diadakan di balroom hotel bintang lima."


Valencia menggeleng pelan. "Tidak Ayah, acaranya akan diadakan di Aldebaran Company, katanya itu permintaan dari CEO baru sendiri."


Valencia juga baru tahu kalau acara peresmian itu diadakannya di Aldebaran Company bukan di ballroom hotel, Valencia tahu itu pun juga karena Luna yang memberitahu padanya tadi malam lewat chat whatsapp.


"Valen, Ayah ingin kau jaga kedai sebentar, karena Ayah harus ke pasar untuk membeli bahan cupcake." Pinta Hery pada Valencia.


Ayah nya itu memang suka sekali membeli bahan di pasar dari pada di mini market, karena menurut Ayah nya barang di pasar harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan harga di mini market.


Walaupun Ayah nya membeli bahan di pasar, tapi Ayah nya tidak sembarangan dalam membeli bahan, Ayah nya selalu memastikan kalau bahan yang ia beli tersebut kualitasnya baik, aman dan tentunya higenis.


"Baik Ayah, Valen akan menggantikan Ayah untuk menjaga kedai selama Ayah di pasar." Balas Valencia sambil menyunggingkan senyumnya.


"Terima kasih Valen, Ayah hanya pergi sebentar tidak akan lama."


"Ayah, hati-hati dijalan." Ujar Valencia pada Hery.


Hery mengangguk dan kembali mengusap pelan rambut Valencia. "Ayah akan hati-hati." Setelah mengatakan itu Hery pun beranjak pergi meninggalkan Valencia dan menuju ke pasar.


Valencia masih diam ditempat sambil melihat kepergian Ayah nya yang menuju pintu belakang karena motor Ayah nya di parkir disana, setelah melihat punggung Ayah nya hilang ditelan oleh pintu belakang baru Valencia mengalihkan tatapannya ke pintu depan.


Valencia melihat dua wanita tengah masuk kedalam kedai dan menuju ke arah etalase, kemudian mereka mulai melihat-lihat beraneka macam kue dan roti yang ada dalam etalase.


"Permisi, kalian berdua ingin memesan apa?" Tanya Valencia ramah sambil menyunggimgkan senyumnya.


Mendengar suara Valencia membuat kedua wanita itu menatap ke arah Valencia dan membalas senyuman Valencia.


"Saya ingin dua roti gandum Kak." Wanita itu menyebutkan pesanannya sambil menunjuk ke arah roti gandum.


"Kalau kau ingin memesan apa?" Tanya Valencia pada wanita disebelahnya.


"Saya ingin satu croissant Kak." Jawab wanita disebelah itu mengatakan pesananya sambil menunjuk ke arah croissant.


Valencia pun mengambil dua roti gandum dan satu croissant didalam etalase, kemudian Valencia membungkus roti gandum dan croissant tersebut secara terpisah.


"Ini dua roti gandum pesananmu." Valencia menyerahkan bungkus yang berisi dua roti gandum pada wanita itu.


"Makasih Kak, berapa totalnya?" Tanya wanita itu pada Valencia.


"Totalnya lima puluh ribu." Jawab Valencia.


Wanita itu pun mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu didalam dompetnya kemudian wanita itu menyerahkan uang tersebut pada Valencia.


Valencia pun mengambil uang tersebut dari tangan wanita itu dan meletakkannya dalam laci meja. Valencia menyerahkan bungkus yang berisi satu croissant pada wanita disebelahnya.


"Ini croissant pesananmu."


Wanita itu pun mengambil bungkus croissant miliknya dari tangan Valencia. "Total pesanan saya berapa Kak?" Tanya wanita itu pada Valencia.


"Totalnya dua puluh lima ribu." Jawab Valencia pada wanita itu.


Wanita itu pun mengambil dua lembar uang dalam dompetnya, satu uang dua puluh ribu dan satu lagi uang lima ribu, kemudian ia menyerahkan dua lembar uang tersebut pada Valencia.


"Itu uangnya Kak, terima kasih." Ujar wanita itu sambil menyunggingkan senyumnya.


Valencia mengangguk dan membalas senyum wanita itu. "Sama-sama, jangan lupa nanti mampir lagi kesini."


"Siap Kak." Ujar dua wanita itu serempak, setelah mengatakan itu mereka pun keluar dari kedai.


Tatapan Valencia kini beralih ke samping dan ia melihat ada tiga orang pembeli yang sedang duduk di meja nomor enam, satu dan empat. Valencia pun mengambil catatan kecil serta pulpen dan ia pun berjalan menghampiri meja nomor satu.


"Permisi, Kakak ingin memesan apa?" Tanya Valencia pada seorang wanita yang duduk dimeja nomor satu, menurut Valencia wanita itu lebih tua darinya, jadi Valencia memutuskan untuk memanggil wanita itu dengan sebutan Kakak.


"Saya ingi satu milkshake dan satu cupcake coklat." Ujar wanita itu menyebutkan pesanannya.


Valencia pun segera mencatat pesanan itu kedalam catatan kecil yang ia bawa. "Baik Kak, tunggu sebentar, pesanan Kakak akan segera datang."


Valencia berjalan menuju ke meja nomor empat dan yang berada di meja nomor empat itu adalah seorang pria. "Permisi, Kakak ingin memesan apa?" Tanya Valencia pada pria itu.


Mendengar suara Valencia otomatis membuat pria itu yang semula fokus pada daftar menu kini beralih menatap ke arah Valencia, tapi pria itu masih diam dan tidak menjawab perntanyaan Valencia.


Valencia melambaikan pelan tangannya ke wajah pria itu." Halo, Kakak ingin memesan apa?" Tanya Valencia lagi.


Pria itu menggeleng pelan dan tersadar dari lamunannya. "Aku ingin pesan satu espresso." Pria itu menjawab dan menyunggingkan senyumannya.


Valencia pun mencatat pesanan pria itu kedalam catatan kecilnya. "Baik Kak, tunggu sebentar, pesanan Kakak akan segera datang."


Valencia menuju ke meja nomor enam dan yang duduk dimeja nomor enam tersebut wanita. "Permisi, Kakak ingin memesan apa?"


"Saya ingin satu hot chocolate dan satu croissant." Wanita itu menyebutkan pesanannya pada Valencia.


Valencia mencatat pesanan wanita itu dalam catatan kecil miliknya. "Baik Kak, tunggu sebentar, pesanan Kakak akan segera datang."


Valencia pun bergegesa menuju ke mesin pembuat minuman, pertama Valencia membuat milkshake, kedua Valencia membuat espresso dan yang ketiga Valencia pun membuat hot chocolate.


Setelah selesai membuat ketiga minuman tersebut Valencia meletakkan minuman tersebut keatas nampan, ia pun menyerahkan minuman tersebut terlebih dahulu baru ia menyerahkan roti pesanan milik meja nomor satu dan enam.


Sehabis menyerahkan minuman, Valencia pun segera menuju etalase untuk mengambil satu cupcake coklat dan juga croissant, ia pun meletakkan cupcake dan croissant tersebut ke atas nampan.


Valencia menyerahkan satu cupcake coklat pesanan meja nomor satu dan setelah itu ia pun menyerahkan satu croissant pesanan meja nomor enam.


Valencia menghela napas lega, karena ia telah menyelesaikan pesanan para embeli, Valencia pun kembali ke tempat kasir dan duduk disana.


Valencia menatap ke arah pintu masuk dan ia tidak melihat tanda kalau sahabatnya akan sampai kesini, sedari tadi Valencia tidak melihat ponselnya jadi ia tidak tahu apakah sahabatnya sudah berangkat atau justru membatalkannya.


...🍁🍁🍁...