
SelamatMembaca...
...🍁🍁🍁...
Setelah Valencia menyelesaikan urusannya di sekolah, Valencia langsung kembali ketempat ia magang, ia mengendarai motor beat miliknya dengan kecepatan tinggi agar dirinya cepat sampai ketempat magang, karena Valencia baru ingat kalau dirinya belum menyelesaikan mencatat semua surat masuk ke jurnal.
Hampir jam 2 siang Valencia sampai ke Aldebaran Company, tanpa membuang banyak waktu lagi Valencia segera menuju ruangannya.
Valencia takut jika Helena tidak menyampaikan izinnya dan berakhir dengan dirinya dapat masalah lagi. Helena tidak dapat dipercaya lagi, mengingat apa yang telah dilakukan Helena padanya.
Ketika Valencia sampai diruangannya, ia melihat seorang wanita yang sudah berumur sedang berdiri disamping meja milik Valencia sambil menatap jurnal yang ada ditangannya.
Perasaan gugup langsung melanda Valencia, ia takut keterlambatannya membuat ketua bidang arsip marah padanya dan dirinya pun mendapat hukuman, semoga saja kali ini dewi keberuntungan berpihak padanya agar dirinya tidak dapat masalah lagi.
"Permisi Bu, maaf saya datang terlambat, karena saya ada urusan di sekolah." Ujar Valencia sambil menunduk.
Wanita itu pun berbalik ke arah Valencia dan melihat Valencia dari atas kepala sampai ujung kaki. "Helena sudah memberitahuku, kalau kau akan datang terlambat."
Mendengar itu membuat Valencia dapat bernapas dengan lega, untung saja ia tidak dimarahi ataupun mendapat hukuman atas keterlambatannya.
Ternyata Helena masih mempunyai hati nurani untuk menyampaikan alasan mengapa dirinya datang terlambat pada ketua bidang arsip.
Walaupun Helena telah berbaik hati menyampaikan alasan dirinya datang terlambat pada ketua magang, Valencia tidak akan sudi mengucapkan terima kasih, karena wanita itulah penyebab dirinya yang harus pergi ke sekolah dan datang terlambat seperti ini.
"Saya Alison Cullen, ketua bidang arsip di perusahaan ini." Ibu Alison memperkenalkan diri Valencia.
"Saya Valencia Floryna Hermawan, dari sekolah SMK Karya Pelita." Valencia ikut memperkenalkan diri pada Ibu Alison.
"Apa kau yang mengerjakan semua ini?" Tanya Ibu Alison sambil menunjuk ke arah tulisan yang ada pada jurnal.
Valencia mengangguk. "Iya Bu, itu saya yang mengerjakannya."
Ibu Alison membuka lembar demi lemba jurnal tersebut, ia tidak menyangka kalau anak magang bisa serapi ini mencatat surat yang masuk maupun keluar didalam jurnal.
"Hasil kerjamu sangat bagus dan saya menyukainya."
Mendengar itu membuat senyum cerah terbit diwajah Valencia. "Saya turut senang, karena Ibu menyukai hasil kerja saya."
"Sudah berapa hari kau magang disini?" Tanya Ibu Alison lagi.
"Ini hari ketiga saya magang disini." Jawab Valencia.
Ibu Alison kembali meletakkan jurnal itu ke atas meja Valencia. "Beberapa hari ini saya sibuk jadi baru sekarang saya bisa datang kesini, sekaligus memantau hasil kerjamu dan hasilnya tidak mengecewakan kau memang layak untuk magang disini."
Rasa sedih yang sempat bersarang dihati Valencia seketika mulai memudar karena Ibu Alison yang memuji hasil kerjanya. "Terima kasih, saya akan berusaha lebih keras lagi agar hasil kerja saya memuaskan."
Mendengar nada serius diucapan Valencia membuat Ibu Alison tersenyum. "Bagus, kau memang harus berusaha lebih keras lagi agar hasil kerjaanmu memuaskan."
Valencia hanya tersenyum menanggapi ucapan Ibu Alison. Valencia menatap Alison dari kepala sampai ujung kaki, Valencia dapat menebak kalau usia Ibu Alison sudah menginjak kepala empat, tapi itu tidak membuat kecantikan Ibu Alison memudar, malah Ibu Alison terlihat awet muda.
"Jika kau ada urusan yang ada hubungannya dengan saya, kau bisa datang keruangan saya tepat disebelah ruangan ini." Ibu Alison memberitahu pada Valencia.
Valencia mengangguk paham. "Baik Bu, saya mengerti."
Ibu Alison tersenyum pada Valencia. "Sekarang kembalilah bekerja, saya harus kembali keruangan."
Valencia kembali mengangguk. "Baik, saya akan kembali bekerja, terima kasih karena telah datang kesini untuk melihat saya dan juga hasil kerja saya."
"Sama-sama. Saya keluar dulu." Setelah mengucapkan itu Ibu Alison pun kembali menuju ruangannya.
Melihat Ibu Alison yang telah menghilang ditelan pintu baru Valencia duduk dikursinya dan mengeluarkan alat tulisnya untuk mengerjakan surat yang belum selesai ia catat kedalam jurnal.
Sebelum mengerjakan, Valencia menghitung surat yang harus ia selesaikan hari ini dan ternyata jumlahnya lumayan banyak kurang lebih 50 surat.
Setidaknya perasaan sedih Valencia sedikit terobati oleh pujian Ibu Alison jadi dirinya bisa fokus untuk mengerjakan surat tersebut.
Karena Valencia terlalu fokus mencatat surat kedalam jurnal membuat Valencia tidak menyadari kalau Helena sedang berjalan menuju mejanya.
Valencia terkejut melihat Helena yang tengah duduk dihadapannya, bahkan Helena juga melemparkan senyum padanya, tapi kali ini Valencia sudah tahu kalau senyum itu hanya senyum palsu.
"Kau baru kembali dan langsung sibuk mengerjakan surat itu." Ujar Helena dengan mata yang melirik ke arah jurnal.
Valencia hanya diam tidak menanggapi ucapan Helena, lebih baik ia fokus menyelesaikan pekerjaannya dari pada meladeni ucapan Helena.
"Tadi, Ibu ku berbicara apa padamu?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Valencia mengernyit bingung, siapa Ibu yang dimaksud oleh Helena.
"Ibu Kakak? Siapa?"
"Alison Cullen ketua bidang arsip di perusahaan ini adalah Ibu ku." Ucapan Helena menjawab kebingungan yang ada dalam benak Valencia.
Valencia cukup terkejut mengetahui kalau Helena adalah anak dari Ibu Alison ketua bidang arsip di perusahaan ini, pantas saja jika Helena begitu berani menjebak dirinya hingga ia berakhir dapat peringatan terakhir dari Ibu Emy.
"Ibu Alison mengatakan kalau hasil kerjaku bagus tidak mengecewakan." Ujar Valencia jujur.
"Benarkah Ibu ku bilang begitu." Balas Helena kurang yakin.
Valencia mengangguk mantap. "Iya beliau mengatakan itu pada saya dan saya tidak berbohong."
Valencia kembali mencatat surat dan membiarkan Helena yang terdiam duduk dihadapannya.
"Aku penasaran kenapa kau dipanggil ke sekolah." Sahut Helena dan itu kembali membuat pekerjaan Valencia terhenti.
Valencia berusaha meredam emosinya yang ingin memuncak saat mendengar ucapan Helena yang seolah-olah tidak mengetahui alasan mengaoa dirinya dipanggil ke sekolah. Jika Helena adalah teman sekelasnya sudah dipastikan kalau Valencia akan menghajar Helena sampai babak belur.
"Saya hanya mengambil MOU yang harus ditanda tangani oleh CEO perusahaan ini."
"Benarkah." Helena menatap Valencia dengan alis terangkat.
"Iya, kalau Kakak tidak percaya saya akan memperlihatkan MOU nya pada Kakak." Valencia pun membuka tasnya dan mencari MOU.
Helena refleks menggeleng pelan dan menahan tangan Valencia. "Tidak perlu, aku percaya kalau kau ke sekolah hanya untuk mengambil MOU."
Valencia kembali menutup tasnya dan mencatat surat kembali kedalam jurnal. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Helena yang masih saja duduk dihadapannya.
Valencia heran mengapa Helena duduk disini dan tidak mengerjakan tugasnya, sedari tadi ia melihat karyawan di ruangan ini begitu sibuk bekerja hanya Helena seorang yang duduk santai dihadapannya.
Mungkin karena Helena anak seorang ketua bidang arsip, jadi ia bebas bersantai dari pekerjaannya. Helena memang memanfaatkan statusnya dengan baik.
"Apa pekerjaan Kakak sudah selesai? Aku melihat Kakak begitu santai tidak seperti karyawan lain yang begitu sibuk mengerjakan tugas mereka." Valencia bertanya tanpa menatap Helena.
Pertanyaan Valencia yang begitu berani sukses membuat Helena terusik. "Aku bisa mengerjakan pekerjaanku nanti, aku tidak seperti mereka dan sepertimu yang begitu gigih mengerjakan tugas." Balas Helena sambil menatap datar ke arah Valencia.
"Maaf jika pertanyaan saya barusan begitu lancang." Valencia meminta maaf pada Helena.
"Aku memaafkannya, baiklah kau bekerja saja dengan baik, aku akan kembali ke mejaku." Setelah mengatakan itu Helena pun beranjak dari hadapan Valencia dan menuju ke arah mejanya.
Sedangkan Valencia menatap punggung Helena dengan tatapan mengejek. Ia cukup puas kalau pertanyaannya barusan berhasil mengusik Helena.
...🍁🍁🍁...