The Problem

The Problem
The Problem - Enam Belas



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk Valencia sampai dikedai kue milik Ayah nya. Untung saja jalanan tidak macet jadi ia cepat sampai.


Valencia melepaskan helm yang terpasang dikepalanya, dan meletakkannya di spion motornya. Cuaca yang panas membuat keringat membanjiri dahi Valencia, Valencia mengeluarkan tisu yang ada dalam tasnya untuk menyapu keringat didahinya.


Pikiran Valencia melayang ketika pertemuan dirinya dengan Rafael tadi, ia masih tidak percaya kalau di alun-alun kota ia akan bertemu dengan anak pemilik Aldebaran Company.


Rasanya tidak mungkin kalau orang itu berbohong jadi Valencia memilih untuk mempercayainya, walaupun berbohong Valencia juga tidak akan masalah selagi itu tidak merugikannya.


Valencia akui kalau Rafael memang sangat tampan sama seperti Ayah nya, wajah Rafael dan Ayah nya saja sudah sangat tampan, lalu bagaimana dengan wajah Kakak nya pasti juga tampan atau cantik.


Valencia tersadar dari pikirannya, untuk apa ia memikirkan keluarga Aldebaran, lebih baik sekarang ia segera membantu Ayah nya didalam.


Valencia melihat keadaan kedai yang begitu ramai, banyak orang yang berlalu lalang keluar masuk kedai, pasti Ayah nya kewalahan dalam melayani pelanggan, karena Ayah nya itu bekerja di kedai hanya seorang diri tanpa ada karyawan.


Valencia pun berjalan masuk kedalam sambil memamerkan senyum terbaiknya, pasti Ayah nya akan senang melihat kedatangannya.


"Selamat siang Ayah, aku datang." Seru Valencia girang pada Ayah nya yang sibuk meletakkan kue di etalase.


Hery tersenyum melihat kedatangan Valencia. "Selamat siang, Valen. Akhirnya kau datang, tolong bantu Ayah dalam melayani pelanggan."


Valencia mengangguk bersemangat. "Siap Ayah, dengan senang hati aku akan membantu."


Setelah mengatakan itu, Valencia meninggalkan Ayah nya dan berjalan masuk ke dalam ruangan khusus milik Ayah nya, untuk meletakkan tas nya dan juga memakai apron yang telah tersedia, agar pakaiannya tidak kotor.


Setelah memakai apron Valencia pun langsung keluar untuk melayani pelanggan, tidak lupa ia membawa catatan kecil serta pulpen untuk mencatat pesanan para pelanggan.


Valencia melangkahkan kakinya ke meja nomor 7, disana sedang duduk seorang wanita sambil melihat ke daftar menu yang telah disediakan disetiap meja.


"Permisi, anda ingin memesan apa?" Tanya Valencia sopan sambil menampilkan senyum ramahnya.


"Saya ingin memesan dua cupcake rasa coklat." Ujar wanita itu menyebutkan pesanannya.


Setelah mencatat pesanan itu Valencia kembali menatap pelanggan tersebut. "Baik, pesanan anda akan segera datang."


Valencia meninggalkan meja nomor 7 dan menuju meja nomor 2. "Permisi, anda ingin memesan apa?" Tanya Valencia pada seorang wanita yang duduk dimeja nomor 2.


"Saya ingin 1 roti gandum." Wanita itu menyebutkan pesanannya pada Valencia.


Valencia mencatat pesanan tersebut kedalam catatan kecilnya. "Baik, pesanan anda akan segera datang." Ujar Valencia setelah itu ia pun pergi ke etalase untuk mengambil pesanan para pelanggan.


Valencia mengambil dua cupcake dan satu roti gandum dalam etalase kemudian ia meletakkan cupcake dan roti gandum itu keatas nampan, setelah itu Valencia pun membawa itu ke meja nomor 7 terlebih dahulu.


"Ini pesanan anda." Valencia meletakkan dua cupcake tersebut ke atas meja.


Wanita itu tersenyum pada Valencia. "Terima kasih."


Valencia mengangguk dan membalas senyuman wanita itu. "Sama-sama, selamat menikmati." Setelah mengucapkan itu Valencia pun meninggalkan meja nomor 7 dan menuju ke meja nomor 2.


"Pesanan anda sudah datang." Seru Valencia sambil meletakkan satu roti gandum ke atas meja.


"Terima kasih." Sahut wanita itu sambil tersenyum pada Valencia.


Valencia mengangguk dan membalas senyum pelanggannya. "Sama-sama, selamat menikmati." Valencia pun meninggalkan meja nomor 2 dan menghampiri Ayah nya kembali dimeja kasir.


"Kau lelah?" Tanya Hery pada Valencia yang saat ini sedang duduk disampingnya.


Valencia menggeleng pelan. "Tidak ada kata lelah dalam membantu Ayah."


Hery tersenyum sambil mengusap pelan rambut Valencia. "Kalau lelah istirahat saja, biar Ayah yang melayani pelanggan."


"Ayah duduk saja disini, biar aku saja yang melayani pelanggan." Ujar Valencia sambil tersenyum yang menampilkan jejeran giginya yang putih.


kedatangan pria tersebut sukses membuat pasang mata menatap ke arah pria tersebut.


Valencia sedari tadi hanya diam dan matanya terus saja menatap pria itu, astaga pria itu sangat tampan, ini pertama kalinya Valencia melihat seorang pria tampan masuk kedalam kedai milik Ayah nya.


Biasanya Valencia sering melayani pria yang wajah tampannya, tapi ketampanannya masih standar. Sedangkan pria itu, kadar ketampanannya sangat luar biasa karena sepertinya pria itu blasteran.


Ia harus menjaga sikapnya agar terlihat biasa saja, karena Valencia tahu kalau seorang pria akan langsung ilfeel ketika melihat sikap wanita yang begitu terang-terangan terpesona atau kagum padanya.


"Ayah tau dia tampan."


Mendengar suara Ayah nya membuat Valencia tersadar dari tatapannya yang terus menerus mengarah pada pria itu.


"Dia biasa saja." Valencia berdalih sambil menyembunyikan pipinya yang merah karena telah tertangkap basah oleh Ayah nya.


Hery terkekeh pelan melihat Valencia yang salah tingkat karena tertangkap basah olehnya. "Ayah tidak dapat dibohongi, Valen."


Benar Valencia memang tidak dapat membohongi Ayah nya, karena Ayah nya pasti akan selalu tahu kalau dirinya sedang berbohong.


"Aku akan mencatat pesanan pelanggan itu dulu." Ujar Valencia yang langsung meninggalkan Ayah nya.


"Permisi, anda ingin memesan apa?" Tanya Valencia pada pria itu sambil berusaha menetralkan rasa gugupnya.


Pria itu menatap Valencia dari atas kepala sampai ujung kaki, kemudian ia menampilkan smirknya. "Aku ingin dirimu."


Valencia terperangah mendengar ucapan pria itu, ternyata pria itu begitu mesum dan itu membuat rasa kagum Valencia terhadap pria itu langsung hilang.


"Jika tuan tidak ingin memesan sesuatu, tuan bisa pergi dari disini." Ujar Valencia sarkas dengan ekspresi datarnya.


"Kau mengusirku?" Tanya pria itu dengan alis terangkat.


"Anggap saja iya, saya takut kedatangan anda kesini hanya akan mengganggu ketentraman pelanggan saya yang lain."


Pria itu kembali menampilkan smirknya. "Kau yakin jika aku mengganggu ketentraman pelangganmu."


Valencia tahu kalau kehadiran pria itu tidak mungkin mengganggu ketentraman pelanggannya, dilihat dari ekspresi para pelanggannya saja Valencia sudah dapat menebak kalau mereka senang dengan kehadiran pria itu.


"Melihat ekspresimu itu sepertinya kau sudah tahu jawabannya, nona." Sahut pria itu lagi.


"Tuan ingin memesan apa? Jika tidak ada saya akan pergi." Tanya Valencia mengalihkan pembicaraan.


"Aku ingin satu kopi hitam tanpa gula." Pria itu menyebutkan pesanannya.


"Pesanan anda akan segera tiba." Setelah mengucapkan itu Valencia beranjak ke dapur kedai untuk membuatkan kopi hitam tanpa gula pesanan pria tersebut.


5 menit kemudian kopi itu pun sudah jadi, Valencia pun segera mengantarkan kopi tersebut pada pria itu.


"Ini tuan pesanan anda." Ujar Valencia sambil meletakkan kopi tersebut ke atas meja.


Setelah meletakkan itu valencia pun langsung pergi menuju kasir untuk menghampiri Ayah nya.


Valencia duduk disamping Ayah nya sambil menatap ke arah pria itu, ternyata pria itu wajahnya saja yang tampan tapi kelakuannya tidak. Valencia tebak sepertinya umur pria itu sekitar 25 keatas, pasti sudah banyak wanita yang terjebak dalam rayuan pria itu.


"Kau kenapa? Ekspresimu terlihat kesal." Tanya Hery penasaran.


"Ekspresiku tidak kesal Ayah." Jawab Valencia sambil tersenyum ke arah Ayah nya.


Hery hanya diam sambil menatap ke arah Valencia, anak nya ini memang tidak pandai berbohong.


Valencia bernapas lega karena Ayah nya memilih diam dan tidak menanyakan lebih lanjut, ia tidak ingin Ayah tahu kalau dirinya sedang kesal oleh pria yang duduk dimeja nomor 5.


...🍁🍁🍁...