
SelamatMembaca...
...🍁🍁🍁...
Seperti biasa ketika pagi menjelang semua orang kembali beraktivitas. Ada yang pergi sekolah, ada yang pergi kuliah dan ada juga yang pergi bekerja.
Saat ini Valencia sedang bersiap-siap untuk pergi ketempat magang, tidak lupa ia sarapan terlebih dahulu untuk mengisi perutnya agar tidak kosong.
Setelah selesai sarapan, Valencia pun langsung berpamitan pada orang tuanya dan juga kedua Kakaknya untuk pergi ketempat magang. Valencia takut jika berlama-lama sarapan ia bisa datang terlambat ketempat magang.
Membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit untuk Valencia sampai ketempat magang. Sebelum ia masuk kedalam, Valencia melihat penampilannya dirinya terlebih dahulu di kaca spion motor beat miliknya.
Ketika ia sudah merasa penampilannya rapi dan sempurna barulah Valencia masuk kedalam dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya.
Saat Valencia berpapasan dengan para karyawan, ia langsung melemparkan senyumnya sambil mengangguk hormat. Di perusahaan ini, ia harus bisa bersikap sopan. Jika tidak, mungkin ada saja orang yang akan melaporkan dirinya pada ketua magang dan Valencia tidak ingin itu terjadi lagi.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Valencia sampai ke ruangannya, Valencia melihat ruangannya yang masih begitu sepi hanya dua orang yang baru datang.
Padahal Valencia sudah khawatir kalau dirinya akan datang terlambat mengingat jam sekarang hampir menunjukkan pukul 8 pagi, perusahaan ini mulai bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore.
"Selamat pagi, Valencia." Sapa seorang wanita pada Valencia sambil tersenyum.
Valencia pun membalas senyum wanita itu. "Selamat pagi juga, Kak." Valencia balik menyapa.
"Selamat pagi, anak magang." Seorang pria yang juga ikut menyapa Valencia.
Valencia pun menatap ke arah pria itu masih dengan senyum yang melekat pada bibirnya. "Selamat pagi juga, Kakak."
"Ternyata kau ramah, aku sempat mengira kalau kau orangnya sangat cuek." Ujar wanita itu menyuarakan pendapatnya.
"Saya tidak cuek, terkadang saya cuma bingung bagaimana menyapa kalian terlebih dahulu." Balas Valencia jujur.
"Aku mengerti, lagi pula kau baru empat hari magang disini, pasti masih canggung untuk menyapa sekaligus berkenalan pada para karyawan terlebih dahulu." Sahut pria yang belum Valencia ketahui namanya.
Valencia mengangguk pelan menyetujui ucapan pria yang ada dihadapannya itu, Valencia memang sulit mengajak seseorang berkenalan terlebih dahulu.
"Aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Lily hanya Lily tidak ada tambahan lagi." Ujar wanita yang bernama Lily itu memperkenalkan diri pada Valencia.
"Saya Valencia Floryna Kak, bisa dipanggil Valen." Valencia ikut memperkenalkan diri.
"Pria yang disebelahku ini namanya Gavin Dirgantara." Lily memperkenalkan pria yang ada disampingnya.
"Kenapa kau yang memperkenalkan namaku pada Valen?" Tanya Dean pada Lily.
Mendengar pertanyaan Gavin otomatis membuat Lily menatap ke arah pria itu. "Aku kira kau tidak ingin memperkenalkan diri pada Valen. Jadi, aku berinisiatif sendiri untuk memperkenalkanmu padanya." Jawabnya jujur.
"Kakak berdua sudah lama bekerja disini?" Tanya Valencia pada Lily dan Gavin.
"Aku dan Gavin baru bekerja satu tahun disini." Jawab Lily pada Valencia.
Valencia mengangguk mengerti. "Bagaimana rasanya bekerja disini Kak?" Tanya Valencia penasaran.
"Bekerja disini sangat menyenangkan walaupun ada masa sulitnya juga." Jawab Lily sambil bersidekap.
"Lalu, bagaimana denganmu? Senang bisa magang disini?" Gavin bertanya pada Valencia.
"Tentu saja aku senang bisa magang disini, apalagi ini adalah perusahaan besar dan terkenal, rasanya masih seperti mimpi bisa magang disini." Jawab Valencia jujur.
Gavin menampilkan senyumnya pada Valencia. "Aku senang mendengar jawabanmu, semoga kau betah magang disini."
"Kau boleh pergi ke mejamu, senang bisa berkenalan denganmu Valen." Ujar Lily dengan senyumnya.
"Senang juga bisa berkenalan dengan Kakak berdua. Saya pamit ingin ke meja saya dulu." Sebelum pergi Valencia mengangguk hormat terlebih dahulu baru setelah itu ia pergi menuju mejanya.
Sepertinya Gavin dan Lily orang yang baik, apalagi melihat sikap mereka berdua yang begitu humble padanya. Tapi, tetap saja Valencia harus waspada, ia tidak ingin terjebak lagi hanya karena mengira orang itu baik lalu dirinya malah mempercayainya dan malah berakhir terjebak dalam masalah lagi.
Valencia meletakkan tas ranselnya dibawah meja, kemudian ia mengeluarkan alat tulisnya ke atas meja baru setelah itu Valencia duduk dikursinya.
Sepertinya hari ini tidak ada tugas dari para karyawan untuk dirinya. Jadi, Valencia memutuskan untuk mengerjakan tugas sekolahnya saja. Walaupun mereka sedang melaksanakan magang, tetap saja guru di sekolahnya memberikan tugas bahkan tugasnya sangat banyak.
Valencia mengeluarkan buku tulis serta paket dan lembar soal untuk ia kerjakan, lebih cepat ia mengerjakan tugas sekolahnya lebih cepat juga selesainya.
"Selamat pagi, Valen."
Mendengar sapaan itu otomatis membuat Valencia menatap ke arah sumber suara, ternyata yang menyapanya barusan adalah Luna.
"Selamat pagi juga, Kak Luna." Valencia balik menyapa sambil tersenyum ramah.
"Kau sedang apa?" Tanya Luna penasaran sambil melirik kearah lembar soal yang ada diatas meja.
"Saya sedang mengerjakan tugas dari sekolah, Kak." Jawab Valencia jujur.
"Astaga, padahal kau sedang melaksanakan magang. Tapi, masih saja guru memberikan tugas."
Valencia tersenyum tipis menanggapi ucapan Luna. "Status saya masih pelajar Kak, jadi tidak luput dari tugas sekolah."
"Kau memang cerdas," Tunjuk Luna pada Valencia, "Selama status masih pelajar, maka tugas sekolah akan selalu berdatangan."
"Permisi, Valen boleh aku minta bantuanmu?"
Valencia langsung menatap ke arah sumber suara, ia tidak menyadari kalau Helena saat ini sedang berada disamping mejanya, mungkin ia terlalu fokus berbicara dengan Luna hingga ia tidak menyadari keberadaan Helena.
"Nada bicaramu jangn sinis seperti itu, aku hanya ingin meminta bantuan dengan anak magang bukan denganmu." Balas Helena dengan tatapan tidak suka pada Luna.
Melihat pertengkaran kecil antara Luna dan Helena membuat Valencia dapat menebak kalau mereka tidak mempunyai hubungan baik, sepertinya ada sesuatu yang membuat Luna jadi bersikap sinis pada Helena.
Ternyata Helena tidak membuat masalah dengan Valencia saja, tapi dengan Luna juga, nanti ia harus menanyakan alasan luna mengapa jadi bersikap sinis kepada Helena.
"Kakak ingin minta bantuan apa?" Tanya Valencia sambil menampilkan senyum palsunya.
"Bisa kau fotocopy dokumen ini, mesin fotocopy diruangan ini sedang rusak, jadi aku harap kau mau membantuku." Jawab Helena penuh harap.
"Kau yakin mesin fotocopy disini rusak." Sahut Luna pada Helena.
"Kau tidak perlu ikut campur." Balas Helena sengit pada Luna.
Luna memutar mata ketika mendengar ucapan Helena, berlama-lama berhadapan dengan Helena hanya akan membuat Luna darah tinggi lebih baik ia segera pergi dari sini sebelum dirinya membuat keributan dengan Helena. Luna beranjak dari kursinya dan mendekat ke arah Valencia untuk mengatakan sesuatu.
"Turuti saja apa perintahnya. Jika tidak kau akan dapat masalah, orang seperti dia suka sekali mencari masalah dengan orang lain." Bisik Luna pelan pada Valencia sambil melirik ke arah Helena untuk memastikan Helena tidak mendengar ucapan dirinya.
"Aku pergi Valen, aku harus menyelesaikan pekerjaanku." Setelah mengucapkan itu Luna pun pergi dan menuju ke arah mejanya.
"Jangan percaya dengan ucapannya, ia wanita ular." Helena memberitahu pada Valencia.
Mendengar itu membuat Valencia ingin tertawa keras, seharusnya Helena mengatakan kalimat itu untuk dirinya sendiri bukan untuk Luna.
Valencia hanya bisa tersenyum tipis menanggapi ucapan itu. "Dokumen yang ingin difotocopy yang mana Kak?" Tanya Valencia.
Helena pun menyerahkan sebuah map yang berisi dokumen penting yang akan difotocopy itu kepada Valencia. "Semua dokumen yang ada didalam tolong fotocopy, ini uangnya." Helena menyerahkan uang 50 ribu kepada Valencia.
Valencia pun mengambil map tersebut dan juga uang itu dari tangan Helena. "Apa tempat fotocopy nya jauh?" Tanya Valencia.
"Kurasa lumayan jauh, sekarang pergilah, jangan lama karena sebentar lagi akan ada rapat dan aku memerlukan dokumen itu."
"Baik Kak, saya permisi dulu." Setelah itu Valencia pun pergi keluar ruangan dan menuju tempat fotocopy.
Untung saja Valencia membawa ponsel didalam kantong bajunya, jadi ia dapat menggunakan ponsel tersebut untuk melihat maps dan mengetahui tempat fotocopy terdekat.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya dokumen itu selesai difotocopy dan langsung saja Valencia kembali ketempat magang dan menyerahkan dokumen yang sudah di fotocopy itu pada Helena.
"Maaf Valen, sepertinya aku ingin meminta bantuanmu lagi, tolong fotocopy dokumen yang satu ini, tadi aku lupa untuk menyerahkannya padamu." Ujar Helena sambil menyerahkan dokumen tersebut pada Valencia.
Valencia diam sambil menatap ke arah dokumen yang saat ini ada ditangannya. Ingin rasanya Valencia menolak, tapi mengingat Helena adalah seorang anak ketua bidang arsip ia takut kalau Helena akan mengadu pada Ibu nya dan membuat dirinya dapat masalah lagi.
"Baik Kak, saya akan mengcopy dokumen ini."
"Ini uangnya." Helena menyerahkan uang 100 ribu pada Valencia.
Valencia pun mengambil uang tersebut dari tangan Helena dan ia pun langsung keluar ruangan untuk mengcopy dokumen milik Helena.
Tak lama kemudian Valencia pun datang dan langsung menyerahkan fotocopy dokumen tersebut pada Helena. "Saya sudah selesai membantu Kakak, jika tidak ada lagi yang perlu saya bantu, saya akan kembali ke meja saya sekarang."
"Tunggu dulu, aku ingin meminta bantuan lagi padamu." Cegah Helena agar Valencia tidak pergi.
Astaga apalagi yang diinginkan Helena sekarang, jujur saja Valencia saat ini sangat lelah karena bolak balik dari kantor ke tempat fotocopy.
"Tolong fotocopy surat ini, aku janji ini yang terakhir." Ujar Helena, kemudian ia menyerahkan surat itu pada Valencia.
Dengan terpaksa Valencia mengambil surat itu dari tangan Helena, ia pun langsung pergi keluar dari ruangan tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Beberapa menit kemudian Valencia telah kembali sambil membawa surat beserta fotocopy, kemudian ia menyerahkan surat itu pada Helena dan juga uang kembaliannya
"Ini Kak suratnya dan ini sisa uang kembaliannya."
Helena mengambil surat itu dan meletakkan ke atas meja, kemudian tatapannya pun mengarah pada Valencia.
"Sebenarnya mesin fotocopy di ruangan ini tidak rusak, aku bingung kenapa kau tidak memeriksanya terlebih dahulu untuk memastikan ucapanku benar atau tidak, kau malah seperti orang bodoh yang mempercayaiku ucapanku." Ujar Helena sambil tersenyum mengejek.
Mendengar itu membuat tangan Valencia terkepal erat, akhirnya wanita ular itu menunjukkan sisi aslinya, rasanya tangan Valencia terasa gatal ingin menampar wajah wanita yang ada dihadapannya ini.
"Rasanya menyenangkan mengerjai anak magang sepertimu." Ejek Helena lagi pada Valencia.
Valencia menampilkan smirknya dan itu membuat alis Helena terangkat. "Apa Kakak sudah selesai berbicara, jika sudah selesai saya akan pergi dari sini, karena banyak tugas yang masih menungguku."
Mendengar ucapan Valencia membuat Helena berdecih pelan. "Anak magang sepertimu tidak cocok berlagak sibuk seperti karywan."
"Lalu, apa saya cocoknya seperti Kakak yang hobinya hanya bersantai tidak mengerjakan tugas apapun dan suka mengerjai orang misalnya." Balas Valencia sarkas.
Helena berdiri dari kursinya dan langsung menunjuk Valencia dengan wajah yang penuh amarah. "Berani sekali kau mengatakan itu padaku."
Valencia kembali menampilkan smirknya. "Kenapa tidak, saya bukan wanita yang lemah ketika ditindas."
"Akan ku pastikan kau akan menderita selama magang disini." Ancam Helena pada Valencia.
"Coba saja, saya akan berusaha untuk dapat bertahan dari serangan Kakak, Saya pamit undur diri." Setelah mengucapkan itu Valencia pun pergi meninggalkan meja Helena.
Sedangkan Helena ia menatap punggu Valencia dengan tatapan penuh amarahnya, ia mengira kalau Valencia hanya wanita polos yang mudah dikerjai dan ditipu, ternyata wanita itu punya nyali dan berani untuk melawan dirinya.
...🍁🍁🍁...