The Problem

The Problem
The Problem - Tiga Puluh Sembilan



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Karena terlalu sibuk dengan pikirannya membuat Valencia tidak menyadari kalau kakinya telah membawanya ke taman belakang Aldebaran Company.


Valencia menatap sekeliling taman yang begitu sepi dan juga minim cahaya, sepertinya taman ini tempat yang aman untuk menyembunyikan diri dari Rafael.


Valencia melihat ada sebuah kursi panjang, langsung saja Valencia melangkahkan kakinya menuju kursi panjang tersebut dan duduk disana.


Valencia memejamkan matanya sambil sesekali menghela napas pelan, rasanya disini sangat damai karena ia tidak mendengar suara bising, sepertinya ia memutuskan untuk duduk disini saja sampai acara selesai.


Mata Valencia mulai menjelajahi isi taman, Valencia melihat banyak sekali tanaman hias serta pohon kecil yang menjadi pajangan untuk taman ini, ditambah lagi ada air mancur ditengah-tengah taman membuat taman ini tampak indah.


Untuk pertama kalinya Valencia menginjakkan kakinya ke taman belakang Aldebaran Company, ia terlalu sibuk mengerjakan surat di ruangannya, hingga ia tidak memiliki waktu lagi untuk menjelajahi Aldebaran Company.


Ditambah lagi waktu istirahat pun Valencia gunakan untuk makan diluar dan ketika kembali ke perusahaan waktu istirahat telah habis. Lain kali ia akan membawa bekal agar ia dapat menghabiskan jam istirahatnya ditaman ini sambil memakan bekalnya.


Valencia mengambil ponselnya didalam dompet yang ia bawa, Valencia melihat tidak ada satu pun notif whatsapp dilayar ponsel, Valencia pun dapat bernapas lega kalau Luna tidak mencarinya atau menanyakan dirinya dimana sekarang.


Valencia membuka aplikasi kamera dan ia melihat pantulan wajahnya di kamera tersebut, Valencia masih tidak percaya kalau yang ada di kamera itu adalah dirinya karena riasan Luna sukses membuat dirinya tampak berbeda.


Mungkin ketika acara perpisahan sekolah nanti Valencia akan menyuruh Luna untuk merias dirinya atau mungkin ia akan meminta Luna untuk mengajarkan dirinya dalam merias wajah.


Sepertinya Valencia harus mengambil beberapa foto, sayang sekali jika riasan yang ada pada wajahnya ini tidak diabadikan, Valencia tidak tahu kapan lagi ia akan merias wajah seperti ini, mungkin ketika ada acara atau event tertentu baru ia akan merias wajahnya lagi.


Cekrek...


Satu foto berhasil ia ambil dengan pose memeletkan lidah, Valencia pun mengambil beberapa foto lagi dengan pose yang berbeda-beda tentunya.


Ketika Valencia sudah merasa dirinya banyak mengambil foto, barulah Valencia menutup aplikasi kameranya kemudian Valencia beralih membuka galeri untuk melihat hasil foto yang ia ambil barusan.


"Kau tidak ingin mengambil foto bersamaku?"


Mendengar suara itu sontak membuat Valencia kaget dan ia lebih kaget lagi ketika mengetahui kalau pemilik suara itu adalah Felix.


"Sepertinya kedahiranku membuatmu kaget." Sahut Felilx pada Valencia sambil bersidekap.


Kenapa ia harus bertemu dengan Felix disini, padahal Valencia ia tetap disini sampai acara selesai, tapi karena ada Felix disini sepertinya dengan terpaksa ia harus kembali ke dalam.


Valencia pun memasukkan ponselnya kembali ke dalam dompet kemudian ia pun beranjak dari kursinya. "Maaf Pak, sepertinya saya harus kembali kedalam."


Dengan cepat Felix berjalan menghampiri Valencia dan ia langsung menahan pergelangan tangan Valencia agar Valencia tidak pergi.


"Temani aku disini." Pinta Felix pada Valencia.


Valencia diam sambil sesekali melirik ke arah tangannya yang masih dipegang oleh Felix. "Tapi Pak, teman saya menunggu saya didalam."


"Kau tinggal pilih duduk disini bersamaku atau kau ingin masuk ke dalam bersamaku dengan tangan yang saling menggenggam." Ujar Felix memberi pilihan pada Valencia.


Yang benar saja Valencia masuk ke dalam dengan tangan Felix yang menggenggam tangannya, apa yang akan dikatakan oleh para tamu dan juga kolega ketika melihat seorang CEO sedang berjalan masuk dengan tangan yang saling menggenggam dengan seorang anak magang di perusahaannya sendiri.


Valencia pun kembali duduk ke kursinya dengan ekspresi masam, Felix yang melihat Valencia kembali duduk ke kursinya membuat ia tersenyum tapi senyum tersebut sangat tipis agar Valencia tidak menyadari kalau dirinya sedang tersenyum.


Sepertinya pilihannya barusan sukses membuat Valencia menuruti permintaannya, Felix pun juga tidak percaya kalau dirinua sendiri membuat pilihan gila agar wanita itu mau duduk disini bersamanya.


Suasana menjadi hening salah satu diantara mereka tidak ada lagi yang berbicara, Felix sibuk dengan pemandangan didepannya sedangkan Valencia sibuk dengan pikirannya.


Niat Valencia ke taman ini untuk menghindari Rafael tapi ternyata ia malah dipertemukan dengan Kakak nya yaitu Felix. Ketika Valencia berusaha agar dirinya tidak masuk dalam kandang harimau ternyata ia malah terperangkap dalam kandang singa yang jauh lebih berbahaya dari pada harimau.


Valencia bingung mengapa dirinya tidak bisa bebas dari Kakak beradik itu, jika ia tidak bertemu Felix maka ia akan bertemu Rafael, jika ia tidak bertemu dengan Rafael maka ia akan bertemu dengan Felix.


"Jadi, kenapa kau bisa ada di taman ini? Tanya Felix tiba-tiba pada Valencia.


Seharusnya itu pertanyaan milik Valencia, mengapa pria itu ada disini, seharusnya pria itu ada didalam untuk bertemu dengan para tamu dan juga kolega.


"Sepertinya, pertanyaan itu cocok untuk Pak Felix sendiri." Balas Valencia yang enggan menatap Felix.


"Apa kau lupa kalau aku tidak suka pesta dan sejenisnya." Felix mengingatkan Valencia.


Valencia hampir melupakan fakta kalau Felix tidak suka pesta. "Maaf Pak, saya lupa."


"Apa kau juga melupakan alasan kalau aku hadir malam ini karena ada kau." Ingat Felix lagi pada Valencia.


Valencia tidak bodoh kalau yang diucapkan oleh Felix barusan hanyalah kalimat bualan, acara malam ini diadakan untuk meresmikan Felix sebagai CEO baru Aldebaran Company, jadi tidak mungkin pria itu tidak hadir dalam acaranya sendiri.


"Jika Pak Felix mengeluarkan kata bualan lagi saya akan pergi dari sini." Ujar Valencia sambil menatap ke arah Felix.


Felix membalas tatapan Valencia dengan tatapan serius. "Apa aku kelihatan sedang membual."


Melihat tatapan serius Felix membuat jantung Valencia berdetak kencang, dengan cepat Valencia mengalihkan tatapannya ke arah lain, ia tidak ingin detak jantungnya semakin menggila hanya karena terlalu lama melihat tatapan serius pria itu.


"Aku ingin menanyakan sesuatu."


"Pak Felix ingin menanyakan apa?" Tanya Valencia penasaran.


"Apa kau bekerja di kedai rainbow?" Felix mengutarakan pertanyaannya.


Sepertinya Felix tidak tahu kalau pemilik kedai rainbow itu adalah milik Ayah nya. Jadi, pria itu mengira kalau dirinya pekerja paruh waktu di kedai tersebut.


"Kedai rainbow itu milik Ayah saya, jadi ketika hari libur saya akan membantu Ayah saya di kedai." Jawab Valencia pada pertanyaan Felix.


"Pantas saja kau begitu berani menyuruhku agar tidak datang kesana lagi." Sahut Felix pelan yang masih dapat didengar oleh Valencia.


"Itu karena Bapak bersikap kurang ajar pada saya." Balas Valencia sarkas.


"Keadaannya terdesak, jadi aku terpaksa melakukan itu agar wanita asing itu pergi menjauh dariku." Felix membela dirinya.


Valencia diam tidak membalas ucapan Felix lagi, karena Valencia tahu kalau dirinya akan kalah jika terus berdebat dengan Felix.


...🍁🍁🍁...