The Problem

The Problem
The Problem - Tujuh Belas



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Tidak terasa senin telah tiba dan Valencia harus kembali ke Aldebaran Company untuk melaksanakan tugas magangnya.


Seperti biasa kalau dirinya tiba diperusahaan, Valencia akan membersihkan ruangan terlebih dahulu, kalau ia tidak membersihkan ruangan maka Helena akan melaporkannya pada Ibu Alison atau Ibu Emy.


Padahal perusahaan ini memiliki cleaning service untuk membersihkan setiap ruangan, tapi Helena tetap saja menyuruhnya untuk membersihkan ruangan bidang arsip setiap kali masuk magang.


Valencia bersyukur hari ini Helena tidak mengganggu dirinya, sepertinya wanita itu sedang sibuk hingga tidak mempunyai waktu lagi untuk mengganggu dirinya. Valencia berharap semoga Helena selalu diberikan tugas yang banyak agar wanita itu tidak punya waktu lagi untuk mengganggu dirinya.


Saat ini Valencia sedang berada disebuah tempat makan yang menjual bakso, ia tidak sendirian karena Luna juga ikut bersamanya.


Valencia memakan baksonya begitu lahap karena ia sangat lapar, mengingat dirinya yang tidak sarapan di rumah karena takut terlambat. Sesekali Valencia akan menyeruput es teh manis miliknya untuk menghilangkan rasa hausnya.


Kadang Valencia bingung mengapa Luna lebih memilih menghabiskan waktu makan siang bersamanya dibandingkan bersama para karyawan yang lain. Sepertinya Valencia harus menanyakan ini pada Luna, agar rasa penasarannya terjawab.


"Saya bingung kenapa Kakak lebih memilih makan siang bersama saya dari pada dengan karyawan yang lain?" Tanya Valencia dengan ekspresi penasaran.


"Aku tidak begitu akrab dengan karyawan yang lain, jadi aku memilih makan siang bersamamu saja." Luna menjawab rasa penasaran yang bersarang dipikiran Valencia.


"Bukankah Kakak sudah lama bekerja disana." Ujar Valencia sambil memakan baksonya.


"Walaupun aku sudah lama bekerja disana tidak menjamin bisa akrab dengan para karyawan." Balas Luna sambil sesekali menyeruput sirup miliknya.


Yang dikatakan oleh Luna barusan ada benarnya juga, berada satu ruangan tidak menjamin seseorang bisa akrab.


Apalagi dalam bekerja pasti ada persaingan pasti orang-orang akan lebih sibuk meningkatkan kualitas kerjanya dan menghindari pertemanan agar tidak ada yang menusuk dari belakang seperti Helena misalnya.


"Aku pernah ikut makan siang dengan para karyawan dan itu terasa membosankan." Sahut Luna sambil menopang dagu.


"Membosankan, bukankah kalian seumuran, pasti akan banyak hal yang dibahas saat makan siang bersama."


Luna tersenyum tipis. "Mereka selalu bercerita mengenai pekerjaan, itu membuatku bosan."


"Apa kalian tidak membahas semacam gosip misalnya?" Tanya Valencia penasaran.


"Pernah tapi gosip mereka terlalu vulgar dan aku tidak menyukainya." Luna menjawab.


Valencia mengangguk paham, walaupun Luna terlihat dewasa tapi ia tidak menyukai pembahasan yang vulgar, sama seperti dirinya yang juga tidak menyukai pembahasan yang vulgar, Valencia merasa risih jika ada orang yang membahas hal tersebut.


"Sepertinya hari ini aku mendapatkan sebuah gosip terbaru." Ujar Luna sambil menampilkan senyum miringnya.


Menurut Valencia gosip orang dewasa lebih membuat penasaran dari pada gosip teman sebaya nya.


"Gosip apa?" Tanya Valencia menampilkan ekspresi penasarannya.


"Sebentar lagi CEO Aldebaran Company akan diganti." Luna memulai gosip dengan wajah bersemangat.


"Benarkah, saya penasaran siapa orang yang akan menggantikan posisi CEO tersebut." Sahut Valencia.


"Dari yang aku dengar, anak sulungnya yang akan menggantikan posisi CEO." Ujar Luna memberitahu pada Valencia.


"Anak sulung keluarga Aldebaran wanita atau pria?" Valencia kembali bertanya pada Luna.


"Keluarga Aldebaran hanya mempunyai dua anak dan kedua anaknya berjenis kelamin pria tidak ada yang wanita." Jawab Luna.


Mengetahui fakta kalau keluarga Aldebaran hanya mempunyai anak berjenis kelamin pria membuat rasa penasaran Valencia menjadi-jadi, pasalnya ia sudah bertemu dengan anak bungsu keluarga Aldebaran sabtu lalu.


Rafael saja sudah sangat tampan pasti Kakaknya juga sangat tampan, Valencia berharap kalau Kakak Rafael sikapnya juga sama seperti adik bungsunya Rafael baik dan tidak sombong.


Tapi Valencia harua memastikan sesuatu terlebih dahulu apakah Rafael memang benar dari keluarga Aldebaran atau bukan.


"Apa Kakak tahu nama mereka?" Tanya Valencia lagi.


"Kau tidak tahu nama anak dari perusahaan tempat kau magang?" Luna berbalik bertanya.


Valencia mengangguk polos, walaupun sebenarnya Valencia tahu nama bungsunya tapi ia hanya ingin memastikan apakah Rafael berbohong atau tidak.


"Saya tidak tahu."


"Astaga, aku kira kau mengetahuinya. Apa kau juga tidak tahu nama pemilik Aldebaran Company?" Luna bertanya kembali.


"Kalau nama pemilik Aldebaran Company saya tahu Kak, nama nya Pak Alfred Aldebaran."


"Tentu saja saya tahu, karena beliau sering muncul ditelevisi." Seru Valencia sambil memamerkan jejeran giginya yang putih.


"Aku akan memberitahumu siapa nama anak dari keluarga Aldebaran. Anak sulung bernama Felix Reynand Aldebaran dan anak bungsu bernama Rafael Aldebaran." Jelas Luna lengkap.


Valencia tersenyum ketika mendengar nama Rafael disebutkan, Ternyata Rafael tidak berbohong kalau dirinya memang anak dari keluarga Aldebaran.


"Ada apa dengan senyummu itu?" Tanya Luna dengan alis terangkat.


"Saya hanya senang karena telah mengetahui nama kedua anak dari keluarga Aldebaran Company."


Luna hanya mengangguk mengerti dan itu membuat Valencia bernapas dengan lega karena Luna tidak menanyakan apapun lagi.


"Aku penasaran dengan anak sulung." Ujar Luna mengungkapkan rasa penasarannya pada Valencia.


Alis Valencia berkerut mendengar ucapan Luna. "Kenapa Kakak jadi penasaran?"


"Anak sulung keluarga Aldebaran begitu misterius, wajahnya tidak pernah terekspos oleh media ataupun dimajalah. Kalau wajah adiknya sudah sering aku melihat karena dia selalu terekspos oleh media."


Ternyata Luna juga memiliki rasa penasaran yang sama dengannya. "Kakak pernah bertemu dengan adiknya secara langsung?"


Luna menggeleng pelan. "Tidak pernah, aku hanya melihat wajah adiknya ditelevisi dan diinstagram pribadinya."


Ternyata Rafael mempunyai instagram, ingatkan dirinya agar mencari akun instagram pribadi milik Rafael ketika pulang nanti.


"Apa Rafael tidak pernah berfoto bersama Kakaknya dan mengunggahnya diinstagram?" Valencia bertanya.


Luna kembali menggeleng pelan. "Tidak pernah sama sekali, sudah ku bilang kalau anak sulung keluarga Aldebaran begitu misterius."


Valencia diam tidak bertanya apapun lagi, ia menatap ke arah mangkok baksonya yang hampir habis, karena Valencia terlalu fokus berbicara dengan Luna membuat Valencia tertunda untuk menghabiskan baksonya, langsung saja Valencia menghabiskan bakso tersebut tanpa tersisa sedikit pun.


Luna menghabiskan sirup miliknya yang sisa setengah, sedangkan bakso miliknya sudah lama habis ketika ia sedang mengobrol dengan Valencia tadi.


"Aku yakin pasti para karyawan wanita akan berlomba untuk menarik perhatian CEO baru kita." Sahut Luna lagi yang sudah selesai menghabiskan sirup miliknya.


Valencia mengangguk menyetujui ucapan Luna. "Kakak benar, apalagi kalau CEO nya tampan, pasti mereka akan berusaha dengan keras mendekati CEO baru itu."


"Pasti Helena juga akan ikut bersaing."


Tentu saja wanita ular itu akan ikut bersaing mengingat wanita itu masih berstatus lajang belum menikah, pasti Helena mempunyai banyak cara untuk membuat CEO baru itu terpesona padanya, tapi Valencia tidak yakin apakah cara Helena akan ampuh untuk membuat CEO itu terpesona padanya.


"Ditambah lagi ada Ibu Alison, pasti Ibu Alison akan membantu Helena untuk mendapatkan CEO Aldebaran Company." Tambah Luna lagi.


Valencia hampir lupa kalau Helena adalah anak dari ketua bidang arsip Aldebaran Company, tentu saja seorang Ibu pasti akan membantu apa yang diinginkan oleh anaknya.


"Kakak benar, karena setiap Ibu pasti akan membantu keinginan anaknya selagi itu positif, apalagi untuk mengambil hati seorang anak CEO pasti Ibu Alison dengan senang hati membantu keinginan Helena." Ujar Valencia mengutarakan pendapatnya pada Luna.


"Tapi, melihat sikap Helena aku tidak yakin kalau CEO itu mau dengan Helena."


Lagi dan lagi pemikiran Luna sama sepertinya, pantas saja ia merasa cocok sekali berteman dengan Luna walaupun terpaut umur yang jauh.


"Apa Kakak tidak ingin ikut bersaing juga?" Tanya Valencia hati-hati.


Luna terkekeh pelan mendengar pertanyaan Valencia. "Aku sudah mempunyai kekasih, Valen. Jadi, tidak mungkin aku ikut bersaing untuk mendapatkan hati seorang CEO."


"Hubungan Kakak sudah berapa lama?" Tanya Valencia lagi bersemangat.


"Sejak satu tahun yang lalu dan sebentar lagi kami akan bertunangan." Jawab Luna menampilkan senyum bahagianya.


"Wah benarkah, Kakak harus mengundangku diacara pertunangan nanti." Seru Valencia girang.


"Tentu saja aku akan mengundangmu." Balas Luna.


Valencia menatap ke arah jam yang ada dipergelangan tangannya, tinggal 20 menit lagi waktu istirahat mereka akan berakhir. Mungkin karena terlalu seru mengobrol dengan Luna membuat waktu tidak terasa berlalu begitu cepat.


"Kak, kita harus segera kembali ke kantor." Ujar Valencia pada Luna.


Luna mengangguk. "Ayo kita membayar pesanan dulu baru kita kembali ke kantor."


Valencia dan Luna pun beranjak dari kursinya dan menuju kasir untuk membayar bakso serta minuman mereka, setelah membayar mereka pun langsung pergi menuju Aldebaran Company menggunakan motor milik Valencia.


...🍁🍁🍁...