The Problem

The Problem
The Problem - Empat Puluh Sembilan



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Ketika pagi menjelang, seperti biasa Valencia akan bangun pagi agar ia sempat sarapan di rumah sebelum berangkat ke tempat magang.


Valencia tersenyum melihat penampilannya di depan cermin, ia memakai kemeja berwarna coklat dan rok panjang span warna hitam. Tidak lupa ia mengikat rambutnya agar tidak mengganggu aktivitasnya saat melaksanakan magang.


Valencia mengambil tanda pengenal miliknya yang tergantung di dinding, kemudian ia mengalungkan tanda pengenal tersebut ke lehernya.


"Perfect." Puji Valencia dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


Sebelum pergi ke ruang makan Valencia mencek isi tasnya lagi terlebih dahulu, apa semuanya sudah lengkap atau masih ada barang yang lupa Valencia masukkan dalam tas.


"Alat tulis ada, MOU ada, absen ada, catatan kosong ada, sepertinya semuanya sudah lengkap tidak ada yang tertinggal." Gumam Ayana sambil melihat isi tasnya.


Ketika Valencia merasa kalau semuanya sudah lengkap tidak ada yang tertinggal baru Valencia keluar dari kamarnya dan pergi menuju ruang makan.


Saat ini Valencia sedang duduk di ruang makan sambil menyantap omelet serta satu gelas susu putih buatan Ibu nya.


Seperti biasa masakan Ibu nya selalu enak jadi Valencia tidak enak hati jika tidak menghabiskan masakan buatan Ibu nya.


Pagi ini Valencia sarapan hanya bersama Ibu nya dan itu membuat Valencia bertanya-tanya dimana keberadaan Ayah dan juga kedua Kakaknya.


"Ayah mana Bu, apa Ayah sudah berangkat ke kedai?" Tanya Valencia pada Ibu nya.


"Ayah mu masih tidur di kamar karena kelelahan bekerja." Jawab Risa.


"Lalu Kak Raga dan Kak Farel?"


"Mereka juga masih tidur karena kelelahan." Jawab Risa lagi.


Sepertinya kedua Kakak nya itu juga kelelahan hingga belum bangun, kalau ia jam segini belum bangun mungkin ia akan terlambat datang ke tempat magang.


"Apa kau sudah mencek isi tasmu?" Tanya Risa sambil menyuap omelet miliknya.


Ayana mengangguk pelan. "Valen sudah mencek isi tas milik Valen, semuanya lengkap tidak ada yang tertinggal."


Risa tersenyum. "Bagus."


Valencia tidak membalas ucapan Ibu nya, ia fokus menghabiskan omelet nya agar ia cepat berangkat ke tempat magangnya.


Membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit untuk Valencia sampai ke Aldebaran Company, Valencia melirik ke arah jam nya yang telah menunjukkan pukul 06.45.


Valencia melihat beberapa staff dan karyawan yang juga baru sampai ke Aldebaran Company.


Melihat staff dan karyawan itu tersenyum ke arahnya mau tidak mau Valencia harus membalas senyuman mereka, Valencia tidak ingin di cap sebagai anak magang yang sombong karena tidak membalas senyuman mereka.


Valencia melangkahkan kakinya menuju lift untuk naik ke lantai 20, untung saja kali ini lift tidak terlalu banyak orang jadi Valencia tidak berdempetan dengan para staff dan karyawan yang lain.


Ting...


Lift pun terbuka, Valencia berjalan ke luar dari lift karena lift menunjukkan kalau mereka telah berada di lantai 20.


Valencia membuka pintu ruangan arsip, Valencia berdiam sejenak di depan pintu, ia tidak melihat satu pun karyawan atau staff berada di ruang arsip, padahal sudah hampir jam 7.


Seperti biasa ketika Valencia tiba ke ruangan, ia akan membersihkan ruangan terlebih dahulu agar ruangan itu bersih dan juga tidak berdebu.


Valencia berjalan menuju ruangan khusus tempat penyimpanan alat pembersih ruangan, Valencia akan menyapu ruangan terlebih dahulu baru setelah itu ia mengepel lantai.


Membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk Valencia selesai membersihkan ruangan, Valencia duduk di kursinya sambil menghela napas lelah.


Valencia mengambil tisu yang terletak di atas meja kemudian ia menggunakan tisu tersebut untuk menyeka keringat yang membanjiri wajahnya.


"Selamat pagi Valen." Sapa Luna yang tiba-tiba ada di depan mejanya dengan surat yang lumayan banyak di tangannya.


Mungkin karena ia sibuk menyeka keringat di wajahnya jadi ia tidak menyadari kalau Luna telah datang.


"Pagi juga Kak Luna." Valencia balik menyapa.


"Kau tampak berkeringat, apa kau habis mengerjakan sesuatu?" Tanya Luna.


"Saya baru saja selesai membersihkan ruangan ini." Jawab Valencia.


Luna menggeleng pelan. "Seharusnya kau tidak perlu membersihkan ruangan ini Valen, padahal ada cleaning service yang akan membersihkan ruangan ini."


Valencia menampilkan senyumnya. "Tidak apa Kak, Valen sudah terbiasa membersihkan ruangan ini."


"Kalau aku yang berwenang dalam memberi nilai untuk anak magang, maka aku memberimu nilai 100, karena kau anak magang yang rajin, tidak hanya rajin mengerjakan tugas kau juga rajin mengerjakan tugas yang di suruh." Puji Luna pada Valencia.


"Seperti biasa aku datang membawa surat untuk kau kerjakan." Luna meletakkan surat yang ia bawa ke meja Valencia.


Valencia menatap ke arah surat yang lumayan banyak, sepertinya surat itu akan selesai ketika jam pulang tiba.


"Valen akan mengerjakannya."


Luna menampilkan senyumnya. "Aku akan kembali ke mejaku, sampai jumpa saat jam istirahat Valen." Setelah mengucapkan itu Luna pun pergi meninggalkan meja Valencia.


Valencia menghela napas sejenak sebelum mengerjakan surat itu, pertama ia harus memilah surat itu terlebih dahulu baru setelah itu ia mencatat surat tersebut ke dalam buku jurnal.


Tidak terasa 2 jam telah berlalu, Valencia melirik ke arah jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 09.20, sepertinya Pak Felix sudah berada di ruangannya.


Valencia pun mengambil MOU miliknya di dalam tas, tidak lupa ia membawa pulpen untuk jaga-jaga, setelah itu Valencia berjalan menuju meja Luna untuk meminta izin keluar meminta tanda tangan Pak Felix.


"Permisi Kak Luna, saya ingin minta izin ke ruangan Pak Felix untuk meminta tanda tangan beliau." Jelas Valencia pada Luna.


"Baik, aku izinkan, kau bisa pergi ke ruangan Pak Felix sekarang." Balas Luna sambil menampilkan senyumnya.


"Terima kasih Kak, karena telah memberi izin, saya pamit pergi dulu." Setelah mengatakan itu Valencia pun pergi meninggalkan meja ruangan dan menuju ruangan CEO yang berada di lantai paling atas.


Kini Valencia telah sampai di depan ruangan CEO, ketika Valencia ingin mengetuk pintu, seseorang lebih dulu membuka pintunya.


"Ada anak magang disini." Ujar seorang pria yang membuka pintu tadi.


"Permisi Pak, apa Pak Felix nya ada di dalam?" Tanya Valencia sopan pada pria itu.


"Ada keperluan apa hingga kau datang kemari mencari Pak Felix?" Pria itu balik bertanya.


"Saya ingin meminta tanda tangan beliau." Jawab Valencia.


"Oh, Pak Felix nya ada, kau bisa masuk ke dalam."


"Terima kasih Pak, saya masuk ke dalam dulu." Ujar Valencia.


Pria itu mengangguk. "Sama-sama." Setelah mengatakan itu pria itu pun keluar dari ruangan Felix sedangkan Valencia ia masuk ke dalam dan berjalan menuju meja Felix.


"Selamat siang Pak." Sapa Valencia sopan pada Felix.


Felix yang semula fokus menatap berkas yang ada di tangannya kini beralih menatap ke arah Valencia yang tengah berdiri di depan mejanya sambil membawa sebuah map.


"Ada hal apa, hingga membuatmu datang kemari?" Tanya Felix pada Valencia.


"Saya ingin meminta Bapak untuk menanda tangani MOU dari pihak sekolah." Valencia memberitahu pada Felix.


"Aku ingin melihat MOU nya." Pinta Felix.


Valencia pun menyerahkan map yang berisi MOU itu kepada Felix. "Ini Pak."


Felix mengambil MOU itu dari tangan Valencia dan mulai membaca isi MOU itu. Setelah selesai membacanya Felix menutup map tersebut kemudian meletakkannya diatas meja.


"Apa harus aku tanda tangani sekarang?" Tanya Felix.


"Kalau Bapak tidak sibuk, Bapak bisa menanda tangani MOU itu sekarang." Jawab Valencia.


"Aku akan menanda tangani MOU itu kalau..." Felix menggantung ucapannya.


"Kalau apa Pak?" Tanya Valencia penasaran.


"Kalau kau mau menjadi kekasihku." Felix menampilkan smirknya.


Lagi dan lagi Felix mengatakan kalimat absurd yang sama seperti 2 minggu terakhir dan itu membuat dirinya kesal.


"Jangan bercanda seperti itu Pak."


"Apa wajahku terlihat bercanda?"


"Saya mohon agar Pak Felix mau menanda tangani MOU dari pihak sekolah tanpa ada syarat apapun." Valencia mencoba memohon.


"Jadi kekasihku atau aku tidak akan menanda tangani MOU yang kau bawa." Felix memberi pilihan pada Valencia.


Valencia diam sambil menahan rasa kesal di dalam hatinya. Valencia mengira kalau semuanya akan berjalan lancar, Pak Felix akan langsung menanda tangani MOU nya dan setelah itu ia akan meminta izin besok pada Ibu Alison untuk menyerahkan MOU itu ke sekolah.


Tapi ternyata pria itu malah mempersulit dirinya dengan memberi pilihan menjadi kekasih pria itu jika tidak pria itu tidak akan mau menanda tangani MOU miliknya.


Valencia mengambil MOU yang ia bawa tadi dari meja Pak Felix. "Maaf, saya tidak mau menjadi kekasih Bapak, saya pamit undur diri." Setelah mengatakan itu Valencia pun pergi meninggalkan ruangan Felix.


...🍁🍁🍁...