
Ketika jam pulang magang telah tiba, Valencia memilih untuk pergi ke kedai Ayah nya. Tapi, sebelum pergi ke kedai, Valencia memberi tahu Ibu nya terlebih dahulu bahwa ia tidak akan pulang ke rumah, karena ia akan langsung pergi ke kedai Ayah nya.
Jadilah saat ini ia duduk di kedai Ayah nya dengan satu gelas caramel macchiato yang baru saja ia buat.
Hery datang menghampiri Valencia dan duduk tepat di depan putrinya itu. "Sepertinya kau langsung datang kesini setelah pulang dari tempat magang." Tebak Hery.
Valencia mengangguk. "Iya Ayah, Valen langsung datang kesini ketika jam pulang tiba."
"Kau sudah memberi tahu Ibumu?" Tanya Hery pada Valencia.
Valencia kembali mengangguk. "Sudah Ayah, sebelum datang kesini Valen sudah memberi tahu Ibu terlebih dahulu."
"Ayah lihat wajahmu begitu kusut, apa kau ada masalah di tempat magang?" Tanya Hery lagi pada Valencia.
Valencia menggeleng. "Valen tidak memiliki masalah di tempat magang." Bohong Valencia, ia tidak mungkin menceritakan masalah ini pada Ayah nya, bisa-bisa Ayah nya nekat mendatangi tempat magangnya.
"Jadi, kalau tidak ada masalah mengapa wajahmu terlihat kusut seperti itu?"
"Valen hanya lelah karena terlalu banyak kerjaan di tempat magang." Valencia kembali berbohong.
"Pasti laporanmu nanti semakin banyak karena kau banyak kerjaan di tempat magangmu."
Valencia mengangguk setuju. "Ayah benar, baru 1 bulan magang laporan milik Valen sudah lumayan banyak."
Kadang ketika ada waktu luang Valencia akan menyicil laporannya, agar nanti saat magang selesai laporannya juga akan selesai.
Jadi ia langsung menyerahkan laporannya pada Ibu Emy dan Valencia berharap semoga laporan miliknya nanti tidak terlalu banyak revisi.
"Tak apa, itu malah bagus, semakin banyak kau bekerja disana semakin banyak ilmu yang kau dapat." Ujar Hery sambil menampilkan senyumnya.
"Permisi, saya ingin memesan roti." Sahut seorang wanita sambil menatap ke meja Valencia dan juga Hery.
"Sayang sekali Ayah tidak bisa berlama-lama duduk disini, karena Ayah harus melayani para pembeli. Padahal Ayah masih ingin berbicara padamu." Ujar Hery menyayangkan.
Valencia tersenyum. "Tak apa Ayah, pergilah karena para pembeli menunggu Ayah."
Hery membalas senyuman Valencia. "Ayah tinggal dulu." Setelah mengatakan itu Hery pun beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri pembeli.
Sedangkan Valencia ia kembali menyeruput caramel macchiato miliknya, Valencia berharap semoga dengan meminum caramel macchiato, rasa kesal dihatinya akan hilang.
Jujur Valencia masih kesal karena Felix tidak mau menanda tangani MOU miliknya, pria itu malah mengajukan syarat untuk menjadi kekasihnya terlebih dahulu baru pria itu mau menanda tangani MOU miliknya.
Valencia rasa kalau Felix itu adalah pedofil, menyukai seorang wanita yang umurnya terpaut jauh dengannya.
Andai saja kalau Felix adalah teman sebayanya, dengan senang hati Valencia akan menerima pria itu menjadi kekasihnya. Ditambah lagi wajah tampan Felix pasti membuat wanita mana pun akan iri padanya.
Tapi sayang sekali Felix telah berumur 27 tahun dan pria itu lebih cocok Valencia panggil dengan sebutan paman dari pada dipanggil dengan sebutan sayang.
Lupakan masalah itu, Valencia harus segera menyerahkan MOU itu pada Ibu Emy jika tidak Ibu Emy akan memarahinya atau mungkin akan mengancam dirinya tidak lulus magang.
Tapi, bagaimana ia cepat menyerahkan MOU tersebut kalau Pak Felix tidak mau menanda tanganinya.
"Pak Felix sialan! Bisanya cuma mempersulit hidup orang saja." Maki Valencia dalam hati.
Satu ide gila muncul di kepala Valencia. "Bagaimana kalau aku memalsukan tanda tangan Pak Felix."
Valencia menggeleng pelan, jika ia melakukan itu, ia takut di masa depan akan menjadi bomerang untuknya dan Valencia tidak ingin hal itu terjadi.
Tapi, apa yang harus ia lakukan agar Pak Felix mau menanda tangani MOU miliknya tanpa harus menjadi kekasih pria itu.
"Sepertinya aku harus minta solusi dengan sahabatku." Gumam Valencia, ia pun mengambil ponselnya di dalam tas, kemudian ia membuka grup whatsapp ia bersama sahabatnya.
Valencia : Malam guys.
Valencia : Apa kalian sibuk?
Valencia : Apa kalian lagi mengerjakan tugas?
Valencia meletakkan ponselnya diatas meja sembari menunggu balasan dari sahabatnya, Valencia kembali menyeruput caramel macchiato miliknya yang hampir habis.
Drt...
Drt...
Drt...
Satu notif whatsapp muncul di layar ponsel Valencia, sepertinya itu balasan dari sahabatnya. Valencia kembali membuka aplikasi whatsapp dan membaca pesan yang baru masuk itu.
Bella : Aku tidak sibuk.
Bella : Aku juga tidak mengerjakan tugas.
Joana : Sepertinya Valencia sedang bosan.
Bella : Kau benar.
Valencia tersenyum membaca pesan itu, sepertinya sahabatnya itu hapal betul dengan sikapnya.
Yang dikatakan oleh Bella dan Joana memang benar, ia akan meramaikan grup ketika ia bosan atau mungkin ia akan menanyakan sesuatu.
Valencia : Kalian tahu betul dengan sifatku.
Bella : Tentu saja, kami kan sahabatmu.
Valencia : Aku ingin menanyakan sesuatu pada kalian.
Joana : Kau ingin menanyakan apa?
Valencia : MOU milik kalian ditanda tangani oleh siapa?
Bella : MOU milikku ditanda tangani oleh Ayah ku, karena Ayah ku CEO nya.
Joana : MOU milik kami juga ditanda tangani oleh CEO tempat kami magang.
Valencia menatap layar ponselnya sambil menghela napas gusar, MOU milik mereka telah ditanda tangani oleh masing-masing CEO perusahaan mereka.
"Apa MOU itu harus ditanda tangani oleh CEO?" Tanya Valencia dalam hati.
Bella : Clara mana? Dari tadi aku tidak melihatnya muncul di grup ini.
Joana : Clara keluarlah.
Clara : Aku hadir untuk menyimak pembicaraan kalian.
Valencia : Apa MOU itu harus ditanda tangani oleh CEO?
Joana : Aku tidak tahu.
Bella : Memangnya kenapa? Apa Pak Felix sedang tidak ada di perusahaan.
Valencia : Pak Felix selalu sibuk dan susah ditemui.
Valencia meminta maaf dalam hati karena ia telah membohongi sahabatnya. Ia tidak mungkin mengatakan pada sahabatnya kalau Felix memberikan pilihan sulit, karena pilihan sulit itu lah membuat dirinya tidak mendapatkan tanda tangan Felix.
Clara : Setahuku tidak masalah kalau bukan CEO yang menanda tangani MOU itu, kau bisa meminta tanda tangan pada kepala bidang dimana kamu ditempatkan magang.
Clara : Kau bisa bertanya pada Ibu Emy untuk memastikan apa info yang aku berikan ini memang benar atau tidak.
Senyum cerah terbit dibibir Valencia ketika membaca pesan dari Clara, akhirnya ia mempunyai harapan agar ia cepat menyerahkan MOU pihak sekolah pada Ibu Emy.
Valencia : Terima kasih Clara, aku akan menanyakam pada Ibu Emy sekarang.
Langsung saja Valencia mencari kontak Ibu Emy dan ia mulai mengetikkan kalimat pembuka yang sopan sebelum menanyakan pertanyaan yang ingin ia tanyakan.
Valencia : Selama malam Bu, saya ingin bertanya sesuatu pada Ibu.
Valencia menatap layar ponselnya dengan gugup karena menunggu balasan dari Ibu Emy, ia berharap semoga info yang diberi tahu oleh Clara itu memang benar.
Drt...
Ibu Emy : Selamat malam.
Ibu Emy : Silahkan ingin bertanya apa?
Valencia : Apa benar kalau MOU dari pihak sekolah boleh ditanda tangani oleh kepala bidang?
Ibu Emy : Tentu saja boleh.
Valencia : Terima kasih Ibu telah menjawab pertanyaan saya.
Ibu Emy : Sama-sama.
Ibu Emy : Tapi, kalau CEO tidak sibuk kau bisa meminta tanda tangan CEO. Tapi kalau CEO sedang sibuk maka tanda tangan MOU itu boleh diwakilkan oleh kepada bidang.
Valencia : Baik Bu, sekali lagi terima kasih.
Senyum Valencia tidak luntur dari bibirnya, sepertinya ia besok akan ke ruangan Ibu Alison untuk meminta tanda tangan beliau.
Jadi setelah itu ia bisa menyerahkan MOU pihak sekolah itu pada Ibu Emy dan masalah MOU pun selesai, jadi ia tinggal fokus menyicil laporan saja.
"Valen, apa kau sibuk?" Tanya Hery.
Valencia yang semula menatap ke layar ponsel kini beralih menatap Ayah nya. "Valen, tidak sibuk Ayah."
"Bantu Ayah membersihkan kedai ini, baru setelah itu kita pulang." Pinta Hery pada Valencia.
Valencia mengangguk. "Baik Ayah, Valen akan membantu Ayah membersihkan kedai."
Valencia pun beranjak dari kursinya dan ia pun mulai membantu Ayah nya membersihkan dan juga merapikan meja dan kursi kedai.