
SelamatMembaca...
...🍁🍁🍁...
Tidak terasa hari senin kembali tiba, itu tandanya Valencia akan melaksanakan magang kembali seperti biasanya di Aldebaran Company.
Saat ini Valencia sedang duduk dikursinya sambil mengisi absen bahwa hari ini ia masuk magang, setelah magang selesai maka absen tersebut wajib dikumpulkan pada ketua magang. Setelah mengisi absen tersebut Valencia menyimpan absen tersebut kedalam tasnya.
Kini tatapan Valencia mengarah pada para karyawan yang sibuk mengerjakan pekerjaan mereka. Saat ini Valencia hanya duduk tidak melakukan tugas apapun, karena sedari tadi belum ada salah satu karyawan yang menyuruhnya untuk mengerjakan sesuatu.
Mata Valencia mengarah pada Luna yang saat ini sedang berjalan menuju ke arahnya sambil membawa surat. Melihat Luna yang tersenyum padanya Valencia pun membalas senyum Luna.
"Hai Valen, seperti biasa aku akan meminta bantuan padamu untuk mengerjakan surat ini." Ujar Luna sambil melirik ke arah surat yang ada ditangannya.
"Dengan senang hati Valen akan membantu Kak Luna." Balas Valencia masih dengan senyumnya.
Luna meletakkan surat yang ia bawa itu ke meja Valencia. "Terima kasih Valen, semangat."
Valencia mengangguk. "Kak Luna juga, semangat."
"Aku akan kembali ke mejaku." Setelah mengatakan itu Luna pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Valencia dan kembali menuju mejanya.
Valencia mulai memilah surat yang diberikan oleh Luna tadi untuknya, Valencia merasa kalau surat yang diberikan oleh Luna kali ini tidak banyak seperti biasanya.
Mungkin Valencia membutuhkan waktu 2 jam untuk menyelesaikan semua surat ini. Jadi, setelah ia menyelesaikan semua surat itu, ia bisa mengerjakan tugas sekolahnya.
Valencia pun mengambil buku jurnal yang ada diatas mejanya, kemudian ia pun mulai mengagenda surat tersebut satu persatu kedalam buku jurnal.
Kurang lebih 2 jam berlalu, akhirnya Valencia selesai juga menyelesaikan semua itu. Valencia mulai merapikan surat yang berserakan diatas mejanya, setelah rapi Valencia pun meletakkan surat tersebut diatas jurnal.
Valencia melirik ke arah jam yang melingkar ditangan kirinya, sekarang jam telah menunjukkan pukul 10.20, masih ada 2 jam lagi untuk waktu istirahat tiba.
Valencia mengambil buku tugas bahasa inggris di dalam tasnya, untung saja tugas bahasa inggris kali ini hanya mencatat tidak menjawab soal. Tanpa membuang waktu lagi Valencia pun mula mencatat tugas bahasa inggris nya tersebut ke buku catatannya.
Valencia merasa jarinya mulai kram, ia pun memutuskan untuk berhenti sejenak untuk melemaskan otot jarinya.
"Valen, apa kau sedang sibuk?"
Valencia mendongak untuk melihat siapa pemilik suara itu dan ternyata pemilik suara itu adalah Helena.
"Tidak juga." Balas Valencia singkat.
"Aku ingin kau membantuku."
Kali ini wanita ular itu ingin meminta bantuan apa padanya, semoga saja wanita itu tidak menyuruhnya yang berujung malah mengerjainya.
"Kakak ingin meminta bantuan apa?" Tanya Valencia pada Helena.
"Aku dengar kau pandai membuat kopi." Ujar Helena pada Valencia.
Ternyata Helena juga tahu kalau dirinya pandai membuat kopi, sepertinya Helena tahu hal itu dari Gavin.
"Ya, lumayan kak."
"Aku ingin kau membantuku membuat kopi." Pinta Helena pada Valencia.
Satu pertanyaan yang muncul dibenak Valencia, kopi itu untuk siapa hingga Helena meminta bantuannya untuk membuat kopi.
"Baik Kak, saya akan membantu Kakak membuat kopi."
"Bagus, memang itu yang ku inginkan." Setelah mengatakan itu Helena pun langsung menarik pergelangan tangan Valencia dan membawa Valencia menuju dapur khusus ruangan arsip.
Kini Valencia dan juga Helena telah dampai di dapur khusus ruangan arsip, Valencia pun mulai membuatkan kopi untuk Helena. Sedangkan Helena, ia hanya melihat Valencia yang begitu lihai membuat kopi.
"Sudah selesai, Kak Helena bisa membawa kopinya." Ujar Valencia pada Helena.
Helena mengambil kopi tersebut dan langsung membawanya keluar tanpa mengucapkan terima kasih pada Valencia.
Valencia berjalan keluar dan menuju mejanya, tidak masalah kalau Helena tidak mengucapkan terima kasih padanya, yang penting ia sudah membantu wanita itu.
Valencia pun mulai mengerjakan tugasnya yang sempat tertunda oleh Helena tadi, ia berharap semoga Helena tidak datang lagi padanya untuk meminta bantuan.
Sedangkan Helena ia sedang menuju lantai paling atas Aldebaran Company dengan kopi yang ada ditangannya, Helena mendengar kalau CEO baru mereka menyukai kopi, jadi Helena berinisiatif untuk membawakan kopi untuk CEO baru mereka itu.
Walaupun itu kopi buatan Valencia bukan buatan dirinya, tapi tidak masalah bukan jika ia mengakui kalau dirinya sendiri yang membuat kopi tersebut pada CEO baru mereka.
Helena yakin kalau CEO baru itu akan memuji kopi yang ia bawa, mengingat Valencia pandai membuat kopi. Ia mengetahui kalau Valencia pandai membuat kopi itu dari Gavin, makanya ia menyuruh Valencia membuatkan kopi.
Helena tersenyum sumringah ketika pintu lift terbuka, ia pun segera melangkahkan kakinya keluar dan berjalan menuju ruangan CEO baru mereka.
"Permisi, saya ingin mengantarkan kopi ini untuk Pak Felix." Ujar Helena lembut pada sekretaris CEO mereka, untung saja sekretaris CEO mereka itu adalah pria, jika wanita Helena tidak akan bersikap lembut seperti sekarang.
"Apa kau disuruh oleh Pak Felix?" Tanya sekretaris itu.
Helena mengangguk meyakinkan. "Iya, saya disuruh langsung oleh Pak Felix."
Sekretaris itu diam sejenak sambil menatap Helena. "Baiklah, silahkan masuk."
Helena melemparkan senyum terbaiknya pada sekretaris itu, baru setelah itu ia melenggang masuk kedalam ruangan CEO Aldebaran Company.
"Selamat siang Pak, saya Helena, staff dari bidang arsip." Helena memperkenalkan dirinya pada Felix.
Felix yang semula fokus menatap berkas yang ada ditangannya beralih menatap Helena. "Ada kepentingan apa hingga membuatmu kemari?"
"Saya, membawakan kopi untuk Bapak." Ujar Helena selembut mungkin.
Seingatnya ia tidak meminta dibuatkan kopi oleh siapapun, "Hari ini aku tidak meminta dibuatkan kopi dengan siapa pun." Balas Felix dengan wajah datarnya.
Helena meringis pelan mendengar ucapan Felix serta melihat wajah datar pria itu, sepertinya CEO baru mereka tidak memiliki ekspresi yang lain selain datar dan dingin.
"Saya mendengar Pak Felix suka kopi. Jadi, saya berinisiatif membuatkan kopi untuk Bapak." Ujar Helena lembut sambil menampilkan senyum terbaiknya.
Jujur Felix tidak suka dengan perkataan lembut dan juga senyum wanita yang ada dihadapannya saat ini. Felix dapat menilai kalau wanita dihadapannya itu sedang mencoba menarik perhatiannya, tapi sayang sekali ia tidak tertarik sedikit pun dengan wanita itu.
"Saya akan meminumnya."
Perasaan bahagia langsung menghinggapi Helena ketika mendengar Pak Felix mau meminum kopi buatannya, Helena pun meletakkan kopi yang ada ditangannya ke atas meja kerja Pak Felix.
"Semoga Pak Felix suka kopi buatan saya."
Felix diam tidak membalas ucapan Helena, ia pun mengambil cangkir kopi itu dan mulai menyesap kopinya, setelah menyesap kopi tersebut Felix kembali meletakkan cangkir kopi itu ke atas meja.
Tatapan Felix kembali pada Helena yang masih berdiri ditempatnya. "Kenapa masih disitu?"
"Saya ingin tahu pendapat Bapak tentang kopi buatan saya." Balas Helena dengan senyum yang tidak luntur dari bibirnya.
"Kau yakin ingin tahu."
Helena mengangguk yakin. "Iya Pak, saya ingin tahu."
"Kopinya terlalu manis dan saya tidak suka itu, bawa kopi itu kembali." Felix memberitahu Helena.
Senyum Helena pun langsung luntur ketika mendengar ucapan Felix, ia tidak tahu kalau Felix tidak suka yang manis. Tapi ini bukan salahnya, itu murni salah Valencia yang membuat kopi itu terlalu manis.
"Ma—af Pak, saya tidak tahu kalau Pak Felix tidak suka yang manis, saya akan membawa kopi itu kembali, permisi Pak saya pamit keluar."
Felix diam tidak membalas ucapan Helena karena ia lebih memilih untuk kembali fokus dengan berkas yang ada ditangannya tanpa melihat kepergian Helena dari ruangannya.
Sedangkan Helena ia merutuki Valencia karena wanita itu membuat kopi untuknya terlalu manis, ia akan memberi pelajaran pada anak magang itu, karena wanita itu telah membuat dirinya malu.
...🍁🍁🍁...