The Problem

The Problem
The Problem - Tiga Puluh Delapan



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Mata Valencia tidak sengaja bersitatap dengan mata milik Rafael dan itu sukses membuat tangan Valencia terhenti menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


Dengan cepat Valencia membalikkan tubuhnya membelakangi Rafael, jangan sampai Rafael menyadari kalau yang bertatapan dengannya barusan adalah dirinya.


Valencia hanya takut, ketika Rafael menyadari kalau yang bertatapan dengannya barusan adalah dirinya, maka Rafael akan datang menghampirinya untuk menagih hutang dirinya pada pria itu tempo lalu.


Valencia memang berencana akan menemui Rafael, tapi tidak sekarang. Tapi nanti, ketika ia sudah berhasil mengumpulkan uang yang dirinya hutangi pada Rafael. Jujur, sampai saat ini, uang jajan yang telah ia sisihkan untuk membayar hutangnya pada Rafael masih belum cukup.


Sepertinya Valencia harus segera pergi dari aula, sebelum Rafael benar-benar menyadari keberadaan dirinya.


"Kak Luna, Valen ingin pergi ke toilet sebentar." Ujar Valencia berbohong pada Luna.


Valencia terpaksa membohongi Luna, karena hanya alasan itu yang terbesit dalam kepalanya agar dirinya bisa pergi dari aula ini. Semoga Luna mau memaafkan dirinya, ketika wanita itu tahu kalau dirinya telah berbohong pada wanita itu.


Luna pun menghentikan aktivitas makannya dan menatap ke arah Valencia. "Kau ingin ku temani." Tawar Luna untuk Valencia.


Valencia menggeleng pelan. "Tidak, Valen sendiri saja, lagi pula Kakak sedang makan, jadi Valencia tidak ingin menganggu Kak Luna makan."


"Kau yakin ingin sendiri saja, tidak ingin ku temani." Ujar Luna memastikan.


Valencia mengangguk meyakinkan Luna. "Iya Kak, Valen bisa sendiri pergi ke toilet."


"Baiklah, kau pergi saja ke toilet, jangan lama." Peringat Luna pada Valencia.


Valencia kembali menganggung sambil menyunggingkan senyumnya. "Siap Kak, Valen pergi ke toilet dulu."


Sebelum pergi ke luar aula, Valencia meletakkan piring yang ada ditangannya ke atas meja, setelah itu tanpa membuang waktu lagi Valencia langsung bergegas pergi meninggalkan aula.


Luna mengernyit heran ketika melihat Valencia yang begitu terburu-buru pergi ke toilet, mungkin Valencia tidak tahan lagi, hingga membuat wanita itu terburu-buru pergi ke toilet. Luna pun kembali melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda oleh Valencia tadi.


Tidak lama setelah Valencia pergi dari aula, Rafael datang menghampiri tempat dimana orang yang tidak sengaja bertatapan dengannya tadi.


Entah kenapa dirinya seperti mengenal wanita itu, jadi ia memutuskan untuk mendekat ke arah wanita itu tapi sayang wanita itu telah pergi.


Rafael menatap ke arah wanita yang sedang sibuk menikmati makanannya, rasanya ia pernah bertemu dengan wanita itu, Rafael semakin menatap lekat ke arah wanita itu, sampai akhirnya ia ingat kalau wanita itu satu ruangan dengan Valencia dan juga Helena.


"Permisi, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Rafael sopan pada wanita yang belum ia ketahui namanya itu.


Wanita yang sedang makan itu adalah Luna, dengan terpaksa Luna pun menghentikan aktivitas makannya kembali dan menatap ke arah sumber suara, matanya otomatis terbelalak lebar karena ia tidak menyangka kalau yang bertanya pada dirinya barusan adalah Rafael Aldebaran.


"Kau Rafael bukan." Ujar Luna sambil menunjuk ke arah Rafael.


Ternyata wanita itu mengenali dirinya, Rafael hampir lupa kalau wanita itu adalah karyawan di perusahaan Ayah nya tentu saja wanita itu mengenali dirinya.


"Iya aku Rafael, aku ingin menanyakan sesuatu." Rafael memberitahu ingin bertanya pada Luna.


"Kau ingin menanyakan apa?" Luna balik bertanya pada Rafael dengan ekspresi penasaran.


"Apa kau tahu kemana perginya seorang wanita yang tadi berdiri disini?" Tunjuk Rafael tepat disebelahnya, karena seingatnya wanita yang tidak sengaja bertatapan dengannya tadi berdiri ke arah yang ia tunjuk barusan.


Seingat Luna hanya Valencia yang berdiri pada tempat yang ditunjuk oleh Rafael. "Maksudmu Valen, seingatku hanya Valen yang berdiri disitu."


Ternyata dugaannya benar kalau wanita yang tidak sengaja bertatapan dengannya barusan adalah Valencia, Beberapa saat Rafael sempat ragu kalau itu Valencia atau bukan, karena wanita itu begitu berbeda sekali ketika memakai riasan.


Pantas saja wanita itu langsung pergi ke luar aula setelah memutus tatapan mereka. Tapi, kenapa Valencia langsung ke luar aula setelah bertatapan dengannya? apa Valencia sengaja keluar untuk menghindari dirinya?


Padahal ia hanya menjadikan alasan hutang tersebut sebagai alat agar dirinya dan Valencia dapat bertemu lagi atau membuat wanita itu mau menuruti permintaannya.


"Jadi, Valen pergi kemana?" Rafael mengulangi pertanyaannya.


"Ada keperluan apa mencari Valen?" Luna balik bertanya.


"Tidak ada, aku hanya ingin menyapanya." Jawan Rafael pada pertanyaan Luna.


Kedua mata Luna menyipit. "Kau yakin, hanya ingin menyapa saja."


"Cepat katakan saja, kemana perginya Valen?" Tanya Rafael tidak sabaran.


"Dia pergi ke toilet." Jawab Luna.


"Terima kasih, karena telah memberitahu." Setelah mengatakan itu Rafael pun bergegeas keluar dari aula dan menyusul Valencia ke toilet.


Sedangkan Luna ia masih menatap kepergian Rafael sampai punggung Rafael menghilang ditelan oleh pintu. Menurut pengamatan Luna, sepertinya Rafael tertarik pada Valencia, itu terbukti ketika dirinya telah mengatakan kemana Valencia pergi, Rafael langsung pergi meninggalkan aula dan Luna yakin pasti Rafael pergi menyusul Valencia.


Luna berharap semoga Rafael memang tertarik, bukan hanya sekedar penasaran dan ingin bermain-main dengan Valencia. Jika sampai ia tahu kalai Rafael hanya mempermainkan Valencia, mungkin ia akan menghajar pria itu, karena Luna sudah menganggap Valencia seperti Adiknya sendiri, jadi ia tidak akan membiarkan orang lain berniat buruk atau mempermainkan Valencia.


Rafael kini tengah berdiri didepan toilet wanita yang jaraknya tidak jauh dengan aula, ia yakin pasti Valencia pergi ke toilet ini mengingat hanya toilet inilah yang dekat dengan aula.


Rafael menunggu selama beberapa menit tapi ia tidak melihat tanda kalau Valencia akan keluar dari toilet tersebut, sepertinya ia harus menunggu beberapa menit lagi sampai pinti toilet itu terbuka dan menampakkan Valencia, jika tidak maka Rafael nekat akan mendobrak pintu toilet itu.


Rafael tidak mengerti menagapa dirinya mau menyusul wanita itu ke toilet, bahkan ia juga suka rela menunggu wanita itu keluar dari toilet, seharusnya saat ini ia bersenang-senang menikmati acara malam ini.


Pintu toilet pun terbuka, tapi sayang sekali bukan Valencia yang muncul tapi wanita lain dan itu membuat Rafael kecewa.


"Rafael, sedang apa kau disini? Apa kau menunggu seseorang?" Tanya wanita itu yang ternyata adalah Helena.


"Ya, aku sedang menunggu seseorang dan sampai sekarang dia belum keluar juga dari toilet." Jawab Rafael pada Helena.


"Kau menunggu teman priamu?" Tanya Helena mengingat toilet pria bersebelaham dengan toilet wanita.


Rafael menggeleng pelan. "bukan, aku sedang menunggu teman wanita."


Dahi Helena berkerut ketika mendengar jawaban Rafael, seingatnya tidak ada orang lain lagi selain dirinya didalam toilet.


"Seingatku tidak ada lagi wanita selain aku didalam toilet." Helena memberitahu pada Rafael.


"Kau yakin, tidak ada orang lain lagi didalam." Ujar Rafael memastikan apakah ucapan Helena benar atau tidak.


Helena mengangguk meyakinkan kalau ucapannya itu benar. "Kau bisa melihatnya sendiri kedalam."


Rafael pun berjalan masuk kedalam toilet wanita dan mulai mencek satu persatu bilik toilet, ternyata yang diucapkan Helena memang benar kalau tidak ada orang lain lagi selain wanita itu ditoilet.


Jika Valencia tidak ada di toilet ini, lalu Valencia pergi ke toilet mana. Andai jika ia tidak terlambat menyadari kalau itu adalah Valencia, mungkin ia dapat dengan cepat mecegah Valencia pergi dari aula.


"Ucapanku benar bukan, aku tidak ada niatan berbohong." Sahut Helena sambil bersidekap.


"Ya, ucapanmu memang benar." Balas Rafael seadanya.


"Sebaiknya kita pergi saja dari sini, aku juga ingin minta bantuanmu untuk mengenalkan diriku pada Kakakmu." Tanpa menunggu jawaban dari Rafael, Helena pun langsung menarik pergelangan tangan Rafael dan membawa pria itu kembali masuk kedalam aula.


...🍁🍁🍁...