The Problem

The Problem
The Problem - Dua Puluh Lima



SelamatMembaca...


...🍁🍁🍁...


Valencia tidak dapat menutupi ekspresi terkejutnya, ketika ia mengetahui kalau CEO baru Aldebaran Company ternyata pria menyebalkan yang sering datang ke kedai milik Ayah nya.


Selama ini Valencia begitu penasaran seperti apa wajah CEO baru mereka, bahkan dirinya juga sampai mencari di internet dan juga mencari di instagram milik Adiknya Rafael, hanya untuk mengetahui wajah CEO baru mereka.


Ternyata tidak sangka, kalau selama ini Valencia sudah sering melihat bahkan bertemu dengan CEO baru mereka itu. Ternyata dunia memang sempit, orang yang selama ini Valencia cari ternyata berada disekitarnya.


"Terkejut melihatku disini gadis kecil, aku juga sama terkejutnya karena melihatmu disini." Ujar pria yang belum Valencia ketahui namanya itu, yang hari ini telah resmi menjabat jadi CEO baru Aldebaran Company.


Valencia masih diam tidak membalas ucapan CEO baru mereka, karena ia masih terkejut menerima kenyataan kalau pria menyebalkan itu ternyata CEO baru mereka.


Valencia baru menyadari satu hal, kalau selama ini sikap menyebalkan Rafael berasal dari sang Kakak. Sepertinya Valencia akan menambah satu orang lagi, dalam daftar orang yang harus ia hindari, agar ia bisa menjalani masa magang dengan damai.


Jumlah yang masuk kedalam daftar yang harus ia hindari berjumlah tiga orang yaitu Helena, Rafael dan CEO baru mereka. Entah kenapa firasat Valencia mengatakan, kalau dirinya harus menjauhi dan jangan sampai berurusan dengan CEO baru mereka.


Sedangkan CEO baru itu matanya kini menatap ke arah ID Card yang menggantung dileher Valencia. "Ternyata kau anak magang, aku baru mengetahui kalau perusahaan ini menerima anak magang."


"Perusahaan ini juga baru pertama kalinya merekrut anak magang Pak." Balas Valencia sambil menunduk kebawah.


CEO baru itu memang baru mengetahui kalau perusahaan milik Ayah nya ini telah merekrut anak magang, karena sebelumnya Ayah nya tidak memberitahu padanya tentang perusahaan ini yang telah merekrut anak magang.


Atau mungkin Ayah nya sudah memberitahu, tapi ia memilih untuk mengabaikannya dan bahkan melupakannya.


Mata Valencia melirik ke arah papan nama kecil yang ada diatas meja. "Ternyata namanya Felix Reynand Aldebaran."


"Aku ingin kau memperkenalkan dirimu secara lengkap padaku." Pinta Felix pada Valencia.


Valencia menghela napas terlebih dahulu sebelum memperkenalkan diri. "Nama saya Valencia Floryna Hermawan, dari SMK Karya Pelita kelas XI Manajemen Perkantoran, umur 17 tahun."


Sebenarnya Valencia tidak ingin memperkenalkan diri pada Felix CEO baru itu, tapi ia takut kalau dinilai tidak sopan bahkan dilaporkan lagi hanya karena tidak ingin memperkenalkan diri pada Felix CEO baru itu.


"Beri aku alasan kenapa kau memilih untuk magang di perusahaan ini." Pinta Felix lagi pada Valencia dengan ekspresi serius.


Ditatap serius seperti itu entah kenapa malah membuat Valencia gugup, sikap menyebalkan Felix dimata Valencia seakan lenyap hanya karena tatapan serius pria itu.


"Sebenarnya magang disini bukan pilihan saya, tapi wali kelas saya yang menempatkan saya disini." Jawab Valencia jujur, karena memang itu faktanya kalau dirinya ditempatkan disini karena wali kelas mereka.


"Benarkah, kau magang disini murni dari pilihan wali kelasmu." Ujar Felix dengan alis terangkat.


"Iya Pak, itu murni dari pilihan wali kelas saya sendiri." Balas Valencia dengan kepala yang masih menunduk.


"Baiklah, kau bisa keluar sekarang." Felix mempersilahkan.


Mendengar kalimat itu membuat Valencia dapat bernapas dengan lega, karena akhirnya ia dipersilahkan keluar dari ruangan CEO ini.


"Saya permisi dulu Pak." Setelah mengatakan itu Valencia pun langsung keluar dari ruangan CEO dan menuju ruangan arsip.


Sedangkan Felix ia masih menatap lurus ke arah punggung Valencia, sampai punggung itu hilang ditelan oleh pintu. Felix tidak menyangka kalau gadis kecil yang akhir-akhir ini suka menghantui pikirannya ternyata maganh di perusahaan milik Ayah nya.


Sepertinya menerima paksaan dari Ayah nya untuk menjadi CEO di perusahaan Aldebaran Company bukan hal yang buruk. Felix yang sempat berpikir kalau menggantikan Ayah nya menjadi seorang CEO akan sangat membosankan sepertinya pikirannya salah.


Adanya wanita itu di perusahaan ini, pasti akan membuat harinya menjadi seorang CEO tidak membosankan.


Tidak terasa beberapa jam telah berlalu dan waktu istirahat pun telah tiba, kini Valencia sedang memakan mie goreng miliknya dengan lahap, sedangkan Luna sedari tadi ia menatap Valencia dengan alis berkerut.


Valencia yang ingin memakan mie goreng miliknya terhenti dan menatap ke arah Luna dengan ekspresi penuh tanya, Valencia merasa ia tidak mempunyai hutang penjelasan apapun pada Luna.


"Saya hutang penjelasan apa Kak?"


"Kau ada hubungan apa dengan Rafael Aldebaran?" Luna balik bertanya.


Valencia diam sejenak untuk mencari kalimat yang tepat, untuk menggambarkan hubungan dirinya dan Rafael. "Kami hanya teman." Walaupun sebenarnya hubungan mereka tidak bisa diartikan sebagai teman.


Dahi Luna berkerut ketika mendengae jawaban Valencia. "Hanya teman, kau yakin Rafael hanya temanmu."


Valencia mengangguk meyakinkan. "Iya Kak, kami hanya teman."


Luna menatap menilai ke arah Valencia untuk memastikan apakah Valencia berbohong atau tidak. "Tapi, aku rasa kalian seperti sepasang kekasih."


Valencia terperangah ketika mendengar Luna mengatakan kalau dirinya dan Rafael seperti sepasang kekasih. "Saya bertemu Rafael baru dua kali Kak, jadi kami tidak mungkin sepasang kekasih."


Luna memakan mie goreng miliknya. "Aku masih tidak yakin. Lalu, untuk apa ia datang ke perusahaan dan mendatangi ruangan kita kalau bukan untuk menemuimu."


Valencia bingung apa yang harus ia katakan untuk meyakinkan Luna, kalau dirinya dan Rafael memang bukan sepasang kekasih. Menjadi teman Rafael saja Valencia enggan apalagi untuk menjadi kekasihnya, itu tidak akan terjadi.


Bahkan Valencia terkejut, ketika melihat Rafael yang sudah duduk manis sambil berbicara dengan Helena di ruangan mereka.


"Saya juga kaget, ketika melihat Rafael sudah ada di ruagan kita, saya pikir ia menemui Helena dan saya juga tidak menyangka kalau Rafael akan menyeret saya untuk makan siang." Jelas Valencia panjang lebar pada Luna.


"Baiklah, aku percaya kalau kau memang tidak ada hubungan dengan Rafael." Ujar Luna yang kembali menyuap mie gorengnya.


Valencia dapat bernapas lega karena Luna akhirnya percaya kalau dirinya dan Rafael memang tidak ada hubungan, seperti apa yang Luna bayangkan.


"Aku dengar dari Gavin, kau tadi ke ruangan CEO untuk mengantarkan kopi. Bagaimana menurutmu CEO baru kita, sangat tampan bukan."


Valencia akui CEO baru mereka memang tampan. Tapi, mengingat sikap kurang ajar CEO baru itu tempo lalu di kedai milik Ayah nya, membuat ketampanan itu minus dimata Valencia.


"Ya, lumayan tampan." Balas Valencia pada Luna.


"Kau bilang lumayan tampan, CEO baru kita sangat tampan Valen, bahkan Helena sampai tidak berkedip saat menatap CEO baru itu." Luna memberitahu pada Valencia.


Jika sebelumnya Valencia tidak pernah bertemu dengan CEO baru mereka, mungkin Valencia akan melakukan hal yang sama seperti Helena, menatap CEO itu tanpa berkedip karena ketampanannya yang diatas rata-rata.


"Aku yakin, Helena tidak akan menyerah untuk mendapatkan CEO baru itu." Tambah Luna lagi.


Valencia mengangguk tanda menyetujui ucapan Luna. "Kakak benar, mungkin wanita lain juga sama seperti Helena."


"Aku jadi penasaran siapa yang berhasil mendapatkan CEO baru itu. Mengingat wajah CEO baru kita itu sangat dingin, pasti akan susah mendapatkan CEO baru itu." Luna menyuarakan pendapatnya.


Entah kenapa semua orang menilai kalau CEO baru mereka itu dingin, sedangkan Valencia malah menilai CEO Baru mereka sangat menyebalkan dan suka bersikap kurang ajar.


"Saya juga penasaran Kak." Balas Valencia seadanya.


Luna melirik ke arah jam yang melingkar dipergelangan tangannya sebelah kiri. "20 menit lagi jam istirahat akan habis, sebaiknya kita harus cepat menghabiskan mie goreng ini."


Valencia hanya mengangguk dan mulai menghabiskan mie goreng miliknya, begitupun dengan Luna.


...🍁🍁🍁...