
Tentu saja di sana sudah duduk Carlos dengan pakaian yang sudah rapi ala kantorannya tapi nampak wajahnya yang begitu karismatik membuat jantung Angela kembali berdetak keras. Hanya melihat wajahnya sudah mampu meluluhkan pertahanan Angela.
"Pagi, nona Angela", sapa sang pelayan ramah dan begitu lembut pada Angela,
"Pagi bi Rasti", sapa balik Angela pada pembantu yang di kenal Angela dengan nama Bi Rastii
Angela terpaku sekejap enggan untuk duduk di depan Carlos meski pun berjarak yang cukup jauh namun tetap saja itu membuat Angela menjadi gugup. Tampak nya sekelebat bayangan tentang hubungan mereka tadi malam kembali muncul di benak Angela seperti terus menghantuinya membuat Angela menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apakah tidak ingin sarapan?", tanya Carlos
"Ahhh, ini mau sarapan", Angela kemudian duduk dengan pelan
"Sini, duduk di sampingku", ucap Carlos yang membuat Angela terperangah mengangakan mulutnya sedikit lebar,
"Ti...tidak-tidak aku terbiasa duduk di sini, jadi terima kasih", tawaran Carlos membuat Angela menjadi gugup namun Angela berusaha membuang rasa gugup tersebut.
"Hari ini aku ada pertemuan penting dengan seorang clien, jadi aku harap kamu bisa menemaniku nanti", sambil menyuap sehiris roti di depannya,
"Baiklah", jawab Angela singkat.
Angela tiba sedikit lebih lambat dari Carlos karena harus menunggu taksi di jalan, dia tidak ingin berangkat bersama Carlos karena itu dapat membuat orang lain curiga.
Bergegas Angela menuju lift dan naik ke lantai tempat ruangannya berada, tidak lama lift terbuka dan Angela masuk ke dalam lift tersebut. Kemudian Angela menekan tombol lantai dan pintu lift segera tertutup, baru saja pintu lift tertutup sebuah tangan menghalangi nya sehingga pintu lift kembali terbuka.
Tampak sosok pria berwajah tampan namun sangat dingin, masuk bersama ke dalam lift yang di dalamnya ada Angela. Dia adalah Carlos, tampak tersenyum tipis membuat kerutan kecil di samping bibirnya yanh merah merona dengan mata biru yang indah hidung mancung dan tajam.
"Pak Carlos? Bukan kah seharusnya Anda sudah tiba lebih dulu dari saya?", ucap Carlos ketika Carlos tiba di dalam lift,
"Ya benar saya memang tiba lebih dulu, tapi saya menunggumu Sekertaris Angela"
"Hah?", Angela terperangah mendengar ucapan Carlos
"Kenapa? Apakah saya salah?"
"Ti ti.. tidak Pak", ucap Angela gugup lalu menundukkan kepala agar tidak melihat wajah Carlos
Carlos yang melihat gelagat sikap Angela yang menggemaskan membuat hati Carlos bergerak untuk mencium Angela, Carlos mencoba mencari kesempatan itu.
Tubuh Angela terdorong ke dinding lift oleh Carlos, dengan tangan Carlos yang berada di samping kepala Angela membuat tubuh Angela gugup dan sedikit gemetara.
"Ka..kamu mau apa?", tanya Angela gugup
"Aku mau kamu", ucap Carlos
"Jangan macam-macam, kita sedang di kantor"
"Bukankah kita di dalam lift, lantas siapa yang akan tahu"
Ciuman yang begitu lembut dan hangat membuat Angela juga membalasnya dengan lumatan-lumatan yang sama, tangan Carlos yang menahan tubuhnya pada dinding lift kini beralih ke pinggul Angela, merangkulnya dengan mesra.
Angela merasakan tubuh Carlos yang begitu kuat, otot-otot perutnya terasa jelas di tubuh Angela. Ada sesuatu yang begitu jelas terasa menonjol di pangkal paha Angela yang perkiraan Angela itu adalah Junior Carlos yang mulai merasakan ketegangan.
Angela tidak diam begitu saja Angela balas merangkul leher Carlos dengan sedikit berjinjit karena tubuhnya yang lebih pendek dari Carlos. Ciuman terus berlanjut sampai lantai tujuan mereka tiba, Angela yang sadar akan itu buru-buru melepaskan pelukan dan ciumannya dan berusaha menjauh dari Carlos agar para karyawan lain tidak mencurigai hubungannya dengan Carlos.
"Sudah tiba, kamu keluarlab lebih dulu", ucap Angela membarikan isyarat pada Carlos untuk keluar lift
"Baiklah", Carlos menuruti perkataan Angela
Angela pura-pura memfokuskan dirinya dengan ponsel di tangannya, begitu pintu lift terbuka seperti biasa para karyawan sedang berdiri di depan pintu lift menunggu untuk masuk dan menuju ruangan-ruangannya masing-masing.
Siang ini seperti yang telah di katakan Carlos sebelumnya kepada Angela bahwa dia akan bertemu dengan klien pentig perusahaan. Dan Angela harus menemaninya pergi, kali ini tempat bertemu dengan klien itu berbeda dari klien-klien lainnya, tempatnya seperti sebuah bar tempat minum-minum dan hal lainnya.
Rasanya membuat Angela merasa tak nyaman, seperti ada sebuah firasat buruk yang akan terjadi entahlah itu apa tapi pastinya bukan hal yang baik.
Angela mencoba menenangkan dirinya setenang mungkin agar tetap terlihat baik-baik saja di depan Bos nya, mungkin juga agar terlihat tegas di depan kliennya. Menunggu beberapa menit bukan masalah bagi Angela karena dia sudah terbiasa menunggu dari pada di tunggu oleh orang lain.
Detik, menit, bahkan hampir dua jam mereka menunggu di sebuah sofa panjang dengan tataan yang rapi dan di desain unik dari sofa-sofa lainnya, mungkin memang di peruntukkan jika ada yang ingin menyewa untuk melakukan pertemuan penting atau sejenis meeting penting, may be, pikir Angela.
Carlos beberapa kali melirik jam di tangannya mungkin karena merasa ini tidak seperti jam janjian yang sudah di sepakati, hampir dua jam itu bukan waktu yang singkat untuk menunggu. Carlos mulai geram, dia menyeruput gelas yang berisi wiski mahal lalu meletakan kembali gelas itu setelah isinya habis.
"Apakah dia sengaja membuat kita menunggu lama seperti ini?", tanya Carlos di sertai amarahnya
"Bukankah Anda yang menentukan janji, lantas kenapa malah seperti ini?", Angela balik bertanya
"Benar dia bahkan berjanji akan datang 5 menit lebih awal dari jam yang sudah di janjikan, tapi faktanya malah telat hampir 2 jam dari jam yang sudah di janjikan. Aku akan mehabisinya jika dia berani mempermainkanku", ucap Carlos dengan geramnya
Lalu kemudian menuangkan lagi sebotol wiski ke dalam gelas kecilnya, warna putih kekuningan di teguk habis dengan sekali tegukan kecil Carlos, lalu menuangkan lagi dan lagi. Hampir membuat dirinya mabuk karena terlalu banyak minum.
"Pak, anda jangan minum lagi. Anda akan mabuk jika terus minum", Angela mencoba mengambil gelas yang akan di tenggak Carlos,
"Biar..kan..saja..,karena..aku..sedang..kesal", ucap Carlos terbata-bata kesadarannya hampir hilang di gelas terakhir yang di teguknya
Bruggg
Carlos terbaring di atas sofa itu, sepertinya sudah benar-benar mabuk. Angela tidak tahu harus bagaimana, dia mana kuat mengangkat tubuh Carlos yang dua kali lipat lebih besar darinya. Sunggub merepotkan, ucap Angela dalam hati.
"Halo, pak bisa jemput saya di bar?", telponnya pada seorang sopir pribadi Carlos,
"Bisa-bisa, saya akan segera ke sana",balas sang supir
"Baiklah saya tunggu", kemudian Angela menutup telponnya dan kembali ke tempat di mana Carlos terkapar tak sadarkan diri karena begitu mabuknya.
Angela kemudian duduk di samping Carlos sambil memandangi wajah laki-laki itu dengan lekat, wajah yang sempurna.