The Man Is Mine

The Man Is Mine
Chapter 10



Tiba-tiba tangan Angela menarik tubuh Carlos hingga jatuh ke dalam pelukannya, mungkin Angela mengira itu adalah sebuah guling. Haha....


"Ughhh... Angela... Angela. Jika kamu tau siapa yang sedang kamu peluk sekarang maka kamu akan berteriak seperti kebiasaan kamu", ujar Carlos dalam hatinya sambil tersenyum manis namun terlihat licik,


Jelas sekali Carlos sangat memanfaat kan keadaanya seperti ini dengan begitu dia tidak perlu lagi mencari kesempatan untuk berdua dengan Angela.


"Kringgg...kringgg...kringgg", alarm jam Angela berbunyi tepat pukul 7.00 pagi, karena di jam itu dia harus bangun dan bersiap-siap untuk kembali kerja.


"Gawat,gawat. Jam itu malah berbunyi sekarang, Angela pasti akan bangun dan melihatku tidur di ranjangnya sekarang. Sebaiknya aku bersembunyi sebelum Angela melihatku", dengan bergegas Carlos berlari sekecil mungkin agar tidak terdengar oleh Angela maka dia akan ketahuan


Carlos menuju lemari pakaian Angela untuk bersembunyi tidak ada tempat yang aman selain lemari itu.


"Ah sudah pagi ternyata, ehmm. Bukan kah aku tertidur di dalam mobil tadi malam? Lalu bagaimana bisa aku pindah ke tempat tidur? Apakah ada yang mengangkatku ke sini? Tapi siapa? Tidak mungkin Carlos kan?", gumam Angela sendirian sebab merasa bingung dengan perpindahannya


"Ah sudah lah nanti saja aku tanyakan padanya langsung. Lebih baik aku sekarang mandi dan bersiap-siap. Siapa tahu Direktur berwajah dingin itu akan memarahiku karena terlambat", gumam Angela kemudian bergegas beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi


Carlos mendengar ucapan Angela barusan dengan wajah tersenyum kecil namun terlihat jahat itu berkata "Berani sekali dia berbicara seperti itu di belakangku, awas kamu Angela"


kemudian Carlos keluar dari lemari pakaian Angela menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap juga.


Setelah selesai mandi mereka berdua keluar secara bersamaan dari dalam kamar semacam ada ikatan batin di antara keduanya. Hehe:)


"Selamat pagi pak Carlos", sapa Angela setelah melihat Carlos keluar dari kamarnya,


Carlos hanya mengabaikan sapaan Angela dengan wajah dinginnya lewat begitu saja di depan Angela tanpa menoleh sedikit pun kepada Angela.


"Kenapa lagi dengan wajahnya, pagi-pagi sudah menampakkan wajah dinginnya. Apakah tidak bisa di tunda-tunda dulu. Setidaknya menjawab sapaanku atau menoleh dan tersenyum sedikit. Begitu saja sulit", gumam Angela sambil memperagakan gerakan tangannya di belakang Carlos


Carlos telah sampai lebih dulu di meja makan dan duduk di tempat biasa dia duduk. Angela menyusul di belakangnya dan juga mengambil posisi duduknya.


Hening di meja makan tanpa ada suara sedikit pun hanya dentingan sendok bersahutan yang sedang di gunakan Carlos dan Angela.


Angela melirik ke arah Carlos lantas kembali melihat ke makanannya, dalam hati Angela berkata "Apakah aku berbuat salah padanya? Kenapa seperti sedang mengacuhkan ku!", tanya Angela dalam hatinya


Carlos tetap diam sambil menikmati sarapan paginya, setelah sepotong roti berisikan selai coklat kesukaannya habis. Tanpa sepatah kata pun Carlos beranjak dari tempat duduknya kemudian pergi begitu saja tanpa menolehkan wajahnya ke arah Angela.


"Pak jalan", ucapnya pada supir setelah masuk ke dalam mobil.


"Hey, tunggu aku. Lalu aku naik apa? Bisakah berikan aku tumpangan?", dengan tergesa-gesa Angela berlari ke arah mobil Carlos dan berteriak,


"Kamu naik taksi saja", balasnya


"Jalan sekarang", ucapnya singkat pada supir itu, sambil melirik ke arah Angela supir itu kemudian menghidupkan mesinnya


"Baik pak", ucapnya kemudian menjalankan mobilnya


Sesampainya Carlos di kantor dia berniat untuk membuat Angela jera karena telah berbicara yang buruk di belakangnya, dia menunggu di depan lift tempatnya biasa naik hanya saja Angela tak kunjung sampai ke kantor.


"Kemana anak ini, kenapa begitu lama sekali sampai", gumamnya dalam hati sambil celinguk-celinguk mencari keberadaan Angela.


"Gara-gara Carlos tidak mengajak ku naik mobil bersamanya aku malah harus menunggu bus di halte seperti ini. Aku yakin aku akan telat untuk sampai kantor", keluhnya sambil menunggu bus di halte penumpang


Ada seorang pria berdiri di samping Angela kelihatannya juga sedang buru-buru menunggu bus dan mungkin juga seorang karyawan kantornya. Wajahnya terlihat familiar tapi tidak pernah bertemu hanya saja seperti mirip seseorang yang sangat di kenal Angela.


Ya benar dia nampak seperti orang yang berwajah dingin itu, tapi pria di sebelahnya ini terlihat sangat hangat tidak sedingin Carlos. Apakah Carlos memiliki saudara? Tapi aku tidak pernah mendengar Carlos atau pembantu-pembantu nya Carlos menceritakan Saudara nya? Ah sudah lah untuk apa juga Angela mencari tahu.


Angela kembali tak acuh dengan keberadaan pria di sebelahnya itu. Jika dilihat wajahnya cukup tampan dan hangat senyum nya manis, berlesung pipitdi kedua pipinya, berkumis tipis, dan bibir yang halus dan merah.


Tergerak hati Angela untuk bertanya, rasa penasaran itu mampir dan membuat mulut Angela bergerak tanpa bisa di hentikan.


"Permisi! Sepertinya wajah Anda mirip sesorang. Apakah Anda memiliki keluarga di sini?", tanya Angela penasaran


"Benarkah? Apakah kamu melihat seseorang yang memiliki wajah mirip dengan saya? Dimana dia?", runtutan pertanyaan pria itu kepada Angela


Angela tampak bingung untuk menjawabnya, "Emmm, ya saya tahu tapi apakah benar anda memiliki keluarga yang tinggal di sini?", Angela berusaha mencari keyakinan nya terhadap informasi. Bisa jadi orang jahat atau pun sekelompok orang MAFIA seperti yang di beritakan di tv-tv.


"Oh saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya William Starbuck, dan Kamu?", sambil mengulurkan tangannya


Angela membalas uluran tangannya lantas juga memperkenalkan dirinya, "Ah, namaku Angela. Sturbuck? Kamu siapanya Carlos? Adik? Kakak atau sepupunya?", Angela mengerutkan keningnya setelah mendengar nama Starbuck di ujung nama William, ternyata marga keluar Star pikirnya


"Kamu kenal kakak aku? Di mana dia sekarang, bisakah kamu membawaku bertemu dengannya?", dengan wajah sedikit memelas agar Angela membawanya kepada Carlos yang dia sebut sebagai kakaknya,


"Dia kakakmu? Oh jadi kamu kesini untuk mencari Carlos. Beruntung sekali kamu bertemu denganku, aku akan menunjukkan keberadaan kakakmh itu", ucap Angela


Tidak berapa lama setelah perbincangan mereka berdua tampak dari jarak yang lumayan dekat sebuah bus besar itu adalah bus yang sering menjemput para penumpang untuk mengantarkan ke terminal selanjutnya. Setibanya bus itu di depan halte, para penumpang berdesakan untuk masuk ke dalam agar dapat duduk di kursi penumpang.


Tidak dengan Angela dia hanya terdiam melihat para penumpang lainnya yang berdesakan masuk, berpikir heran hanya untuk masuk saja seperti orang berebut makanan pikirnya. "Apakah harus berdesak-desakam seperti itu? Bukannya mereka juga akan sampai di tempat mereka bekerja. Dasar manusia yang tidak sabaran", gerutunya dalam hati,


"Apakah kamu tidak mau masuk? Em siapa nama mu tadi?", tanyanya, "Namaku saja kamu bisa lupa. Nama ku Angela. Ingat itu Angela", tegas Angela


"Oh Angela, sekarang aku ingat. Lebih baik kita sekarang naik sebelum kita ketinggalan" , ajaknya


"Baiklah", Angela menaiki bus itu bersama William yang di kenalnya sebagai adik dari Carlos.


Mereka berdua menaiki bus dengan bersamaan William mencoba memberikan jalan untuk Angela agar dengan leluasa menuju kursi kosonh yang berada di pojok bus ini. Untung lah ada dua kursi yang kosonb jadi mereka tidak harus berdiri untuk menunggu tempat tujuan nya tiba.


Angela diam tanpa suara, sesekali melirik William yang duduk di sampingnya. William yang sedang memainlan ponselnya tidak sadar akan Angela yang berulang kali melirik kecil ke wajahnya sambil menyipit-nyipitkan matanya.


Em laki-laki ini terlihat masih begitu muda mungkin usianya sekarang masih 23 an terlihat dari wajahnya yang masih ceria dan omongannya yang begitu hangat. Tidak seperti Carlos wajah ceria pun tidak pernah selalu saja menampakkan diri dengan wajah yang dingin dan kata-kata seadanya saja. Sungguh menyebalkan jika harus mengingat pria satu itu. Angela mendengus kesal memikirkan nya


Tapi tidak bisa di bohongi, Angela mulai tertarik dengan Carlos dan mulai terbiasa dengan kehadirannya bahkan sikap dinginnya itulah yang membuat Angela seperti tertarik untuk berada di sisinya.


"Tidak! Aku bisa gila jika harus menjadi pasangan hidupnya". Angela menggeleng-gelengkan kepalanya terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kamu siapa nya kak Carlos?", ucap William setelah menempatkan diri dengan nyaman pada sebuah kursi yang berada di samping Angela, Angela yang mendengar ucapan William tiba-tiba beralih pandang ke arah jendela yang tertutup.