The Man Is Mine

The Man Is Mine
Chapter 30



Hari berganti hari, minggu pun berlalu, bulan telah di lalui dengan banyak pekerjaan.


Angela tengah berdiri menghadap jendela kaca di ruangannya, dengan memegang beberapa berkas yang harus di urusnya.


"Berkas ini harus segera di tanda tangani Carlos secepatnya", ujarnya sambil membalik-balik lembar berkas di tangannya.


Ia beranjak menuju mejanya duduk dengan kepala dia sandarkan di kepala kursi empuk miliknya.


Tak lama pintu di ketuk seseorang.


Tok tok tok ( suara pintu kaca ruangan Angela di ketuk pelan dari luar )


"Masuk", ucap Angela tanpa menoler ke arah pintu.


"Begitu sibuk ya sampai tidak ada waktu untuk melihatku"


Dengan gerakan secepat kilat Angela menoleh ke arah sumber suara yang mengajaknya bicara.


Astaga, nafas Angela terkecat di lehernya terasa sulit untuk di hembuskan melalui hidung mancungnya.


"Pak Direktur", dengan sigap Angela berdiri dengan membungkukkan badannya membentuk setengah lingkaran sebagai tanda hormatnya terhadal atasanya itu.


"Ya! Bangun lah", Carlos mengisyaratkan dengan tangannya.


"Terima kasih Pak Direktur, tidak biasa anda langsung berkunjung ke ruangan saya. Apakah ada hal yang sangat penting", Angela kembali duduk di kursinya.


"Ah tidak, tidak. Aku hanya ingin melihatmu bekerja saja. Apakah tidak boleh?", ucap Carlos dan mendekat ke arah Angela.


"Hah?", Angela mengerutkan keningnya membuat bulu alis miliknya hampir menyatu.


"Lanjutkan saja pekerjaanmu", ucap Carlos semakin mendekatkan wajahnya hingga berjarak dekat dengan Angela.


"Ba..baik", jawab Angela gugup.


Jantungnya terasa berdegup kencang saat matanya bertemu dengan mata Carlos, tatapan tajam Carlos seakan menembus jantung Angela, hanya beberapa saat kemudain Angela kembali fokus dengan berkas di tangannya.


"Bagaimana jik hari ini kita makan siang bersama?", ucap Carlos lagi.


Tangan Angela yang sebelumnya lincah menulis beberapa kata tiba-tiba berhenti sesaat setelah mendengar ucapan Carlos.


Benarkah dia mengajakku makan bersama? ucapnya dalam hati.


"Bi..bisa, tapi...", Angela sengaja menjeda ucapannya. " Tapi ada berkas yang harus Bapak tanda tangani sekarang", sambil memperlihatkan berkas kepada Carlos.


"Ayolah, saya sudah lapar sekarang. Bisakah bicarakan pekerjaan nanti?", Carlos seperti anak kecil sekarang, meminta ibunya untuk membelikannya mainan.


"Baik baik", Angela kemudian membereskan meja dan menata berkas dengan rapi.


Carlos tersenyum melihat Angela yang menyetujui permintaanya kali ini. Sambil memperhatikan Angela yang sedang merapikan meja kerjanya.


🌸🌸🌸


Di sebuah cafe, Carlos dan Angela memilih tempat duduk yang lebih sepi.


"Pesan saja apa yang kamu mau, aku yanh traktir", kata Carlos sedikit menyombongkan diri.


"Benarkah", dengan wajah tersenyum Angela meraik buku meraih buku menu yang ada di depannya. "Apapun?", tanyanya lagi sambil melirik ke arah Carlos.


"Apapun", balas Carlos.


Dengan antusiasnya Angela kembali memilih beberapa makanan yang terdapat di dalam buku menu.


Kemudian Angela melambaikan tangan pada salah seorang pelayan untuk memesan makanan yang dia inginkan.


"Pelayan!", seru Angela memanggil pelayan.


Pelayan itu datang menghampiri meja Angela dan Carlos.


"Mau pesan apa mba dan masnya", kata pelayan itu sial dengan pena dan sebuah buku catatan kecil untuk mencatat pesanan pelanggan.


"Saya pesan ini, ini, ini juga dan ini. Ingat tanpa sayur ya", sambil menunjuk makanan yang ada di buku daftar menu.


"Kamu tidak pesan makanan?" tanya Angela menatap Carlos yang hanya memandang bingung ke arah Angela.


"Secangkir mocchacino"


"Hah? Kamu hanya pesan secangkir kopi. Katanya lapar kenapa gak pesan makanan? Kamu diet?", ucap Angela sedikit mengejek


"Aku tidak serakus kamu Angela", balas Carlos mengejek


Raut wajah Angela memasam memasanv wajah kesalnya yang sedikit kekanak-kanakan.