The Man Is Mine

The Man Is Mine
Chapter 19



Ingin ku miliki tapi entah dia suka atau tidak. Perasaanku sudah berlabuh terlalu dalam kepadanya.


>Carlos Starbuck<


"Permisi, Nona Angela sudah boleh pulang sekarang", ucap perawat itu ketika masuk ke dalam ruangan Angela,


Suara berdecit pintu ruangan itu membuat Angela dan William sadar dari lamunannya, William berbalik menghadap sumber suara yang sedang berbicara dengan Angela. Ah syukur lah pikirnya, Angela juga mungkin tidak betah berlama-lama di rumah sakit.


Wajahnya saja dari tadi hanya bermasam tidak tampak senang atau mungkin juga karena Carlos tidak menemaninya di sini. William mencoba berpikir jauh sejauh yang dia bisa. Berpikir apa sebenarnya hubungan Angela dengan Carlos sang kakak.


Melihat wajah Angela yang selalu tersenyum ketika bertemu Carlos membuatnya merasakan bahwa hubungan merek tidak lah biasa.


"Benar kah? Bagus lah jika begitu. Aku juga tidak betah berlama-lama di sini. Sangat membosankan", wajah sumringah Angela


begitu bercahaya mendengar pernyataan suster tentang kepulangannya kali ini,


"Aku keluar mengurus administrasimu dulu Angela", ucap Carlos pada Angela, "Ah baiklah, maaf sudah merepotkan mu William", "Tidak usah sungkan",


William kemudian melangkah keluar dari ruangan Angela menuju tempat administrasi, dalam perjalanan dia masih tetap memikirkan apa yang sebenarnya hubungannya dengan Carlos. Hatinya sungguh merasa tidak tenang memikirkan hal itu.


"Angela! Ah kenapa wanita itu berhasil merasuki pikiranku", gumam William


"Permisi sus, saya ingin mengurus administrasi atas nama pasien Nona Angela", ucapnya pada sang perawat ketika sampai di depan sebuah meja resepsionis,


"Baik pak, silahkan tunggu sebentar saya buatkan notanya dulu, silahkan bapak menunggu sebentar", sambil mengarahkan tangan nya ke kursi tunggu,


Tampak para perawat itu tengah memperhatikan William, wajar saja karena wajah William memang tampan wanita mana saja maka akan luluh karena pesona wajahnya yang begitu manis tatapan mata hijau, dengan hidungnya yang mancung kulit seputih susu, bibirnya yang merah maron bahkan mengalahkan lipstik merk terkenal.


Senyum-senyum para perawat yang lalu lalang memperhatikan William yang tengah duduk, William menyandarkan kepalanya ke kursi berusaha menyantaikan dirinya, rasanya lelah seharian ini tidak beristirahat.


"Ka? Boleh minta foto?", seorang wanita muda menghampiri William yang sedang memejamkan matanya,


William tampak terkejut dengan kehadiran wanita itu dia hanya berusaha bersikap ramah terhadap orang lain.


"Ya boleh", jawab William, lalu satu dua foto di ambil oleh seorang wanita itu, wajahnya tampak terlihat senang karena sudah mendapatkan foto bersama pria tampan, batin wanita itu. Tampan sekali pria ini, apakah dia sudah punya pacar? Tapi dia di sini hanya sendiri tidak ada siapa pun yang datang menghampirinya, wah lihat senyumnya membuat hatiku benar-benar meleleh. Wanita itu bergumam dalam hatinya ada rasa berkecamuk ingin bertanya tapi di urungkannya.


"Terima kasih kak, aku permisi dulu ya", wanita itu melambaikan tangannya saat meninggalkan William, "Sama-sama", balas William di sertai senyum manisnya.


William kini seorang diri lagi, "Atas nama keluar nona Angela?", panggil sang perawat yang membuyarkan lamunan William, "Ya sus?", William berdiri menghampiri sumber suara yang memanggilnya.


Administrasi Angela telah di selesaikan William kini ia berjalan kembali menuju ruangan Angela. Berjalan santai menyisir panjangnya lorong rumah sakit, melewati beberapa ruangan, para penunggu pasien yang lalu lalang, semua yang melewati William tampaknya sedang memperhatikannya entah mungkin karena wajahnya yang mampu memikat hati para wanita.


"Bagaimana keadaanmu?", tanya Carlos tiba-tiba yang mengejutkan Angela. "Astaga, Carlos kamu mengagetkanku saja. Suster bilang aku sudah boleh pulang sekarang. William sedang mengurus administrasiku tunggu dia kembali kita pulang. Aku tidak nyamam berada di sini lama-lama", sambil mengusap-usap dadanya karena terkejut.


"Syukur lah kalau begitu. Em baiklah", Carlos mendekat ke arah Angela kemudian mengusap kepalanya dengan lembut, mampu membuat debaran jantung Angela memacu dengan cepat. Padahal ruangan ini ber AC tapi tetap saja sentuhan lembut Carlos mampu membuat seisi ruangan menjadi panas.


"Ah...kenapa rasanya begitu panas ya?", tanya Angela, "Panas? Aku tidak merasa kepanasan, bahkan rasanya ruangan ini sangat dingin", Carlos menerawang sekeliling ruangan. "Em mungkin hanya perasaanku saja", Angela menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan pipinya yang mungkin sudah memerah sekarang.