
"Oh ya, kamu belum kenal Angela kan Grace. Kenalin dia Angela. Pacar aku", dengan nada tenang Carlos memperkenalkan Angela kepada Grace.
Mata Angela terbelalak mendengar pernyataan Carlos barusan membuatnya tersentak kaget dan hampir saja tersedak, dengan segera Angela mengambil segelas air putih dan meminumnya.
"Apa kamu bilang? Dia pacar kamu? Ga salah nih, ini jelas bukan selera kamu Carlos. Kamu pasti bohong kan, aku jauh-jauh dari Inggris ke sini buat nemuin kamu dan bicarain masalah pernikahan kita", Grace tampak sedang menahan marah yang mulai bergejolak di hatinya mendengar ucapan Carlos.
"Pernikahan? Siapa yang mau nikah sama kamu? Bukannya aku sudah bilang itu cuma rencana keluarga dan aku tidak pernah menyetujuinya sejak awal. Jadi, kamu jangan pernah mimpi buat nikah sama aku. Karena aku sekarang sudah punya pilihan sendiri", ucapan Carlos sekali lagi membuat suapan Angela tertahan di tangannya tanpa masuk ke dalam mulutnya.
William juga tampak kaget dengan pernyataan Carlos. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu, barusan tadi siang dia bilang bahwa Angela adalah rekan kerjanya dan sekarang malah beda lagi. William mencoba diam dan tidak menganggap serius ucapan Carlos berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya untuk membuat Grace marah dan membatalkan pernikahannya.
"Carlos, bukan kah tadi siang kamu bilang Angela hanya rekan kerjamu dan kenapa sekarang malah jadi pacar? Kamu sedang bercanda kan?", William akhirnya angkat bicara karena hatinya begitu sakit mendengar ucapan kakaknya barusan.
"Yah dia memang rekan kerjaku sekaligus pacarku. Kamu kenapa malah ikut-ikutan membela Grace, apa jangan-jangan ini semua juga termasuk rencana kamu. Kamu sudah berbohong padaku", Carlos terlihat marah, dia berdiri kemudian mendekati William.
"Ya aku memang berbohong soal keberangkatanku dan kedatanganku ke sini. Aku hanya ingin membantu Grace untuk menemuimu. Ini juga merupakan kemauan papah, kamu lupa soap perjodohanmu dengan Grace? Itu adalah kesepakatan dua keluarga kamu gak boleh seenaknya main batalin gitu aja, kamu kira Grace ini apa?", William membalas ucapan Carlos tak jauh lebih tegas dan garang.
Mata Carlos menbelalak, hidungnya kembang kempis mendengar pernyataan William. Dia sudah membohongi Carlos, bodohnya dia malah mempercayai ucapan William yang begitu meyakinkannya tadi.
Angela hanya terdiam, sesekali menyuap nasi goreng yang belum habis di makannya. Kenapa kejadian ini terjadi padanya, dia harus terlibat dengan keluarga orang kaya seperti ini. Batin Angela kini sedang berkecamuk dengan pendapat masing-masing, pikirannya kosong, pandangannya kini lurus ke depan entah sedang menatap apa dan sedang melamunkan apa. Angela hanya diam tanpa berbicara untuk meluruskan kejadian yang sedang terjadi.
Begitu juga Grace, kini air mata Grace menetes di pipi putihnya, memperlihatkannya jatuh ke meja makan. Mata dan hidung Grace memerah, tidak habis pikir dengan ucapan Carlos barusan. Dia anggap apa Grace main berikan kepada William. Grace membenamkan wajahnya di telapak tangannya membiarkan keheningan tercipta, hanya terdengar suara sesengguk tangisan Grace.
Angela terdiam menghentikan acara makannya laparnya kini telah hilang mendengar ucapan Carlos yang tak pernah terduga sebelumnya. Pilihannya? Angela? Masihh tak habis pikir kenapa Carlos mengucapkan kalimat yang bisa saja melukai hati Grace. Jika di bedakan Angela bukan apa-apa di banding Kecantikan Grace.
"Puas kamu membuat hubunganku hancur", ucap Grace tiba-tiba, kemudian dia bangkit dan berdiri segera melangkah keluar dari rumah Carlos.
William berdiri mengejar langkah Grace, "Grace, hey hey untuk apa kamu pergi? Dan kamu tidak seharusnya memarahi Angela, dia tidak tahu apa-apa soal ini"
"Kamu juga membelanya. Jelas-jelas dia yang salah, mungkin saja dia sudah memberikan obat sampai-sampai Carlos mengatakan itu padaku. Kamu tidak akan tahu betapa sakitnya hatiku sekarang, aku ingin pergi. Kamu jangan halangi langkahku", Grace melangkah keluar, tanpa mengabaikan ucapan William.
"Grace? Grace?", panggilnya tanpa mendapatkan jawaban dari Grace.
Kamu juga mungkin tidak tahu Grace aku juga merasakan sakit hati yang sama dengamu. Ujar William dalam hatinya.