
Bahkan setiap pulang ayahnya selalu melampiaskan amarahnya kepada Angela karena selalu kalah dalam bermain judi. "Ayah mabuk lagi? Ayah aku mohon berhenti lah bermain judi dan mabuk. Kita bisa hidup damai jika ayah tidak seperti ini", sambil terisak tangis Angela berusaha bicara pada ayahnya.
"Ah kamu tau apa anak kecil, seharusnya kamu tau balas budi kepada orang tua yanh sudah merawatmu ini bukan menasehati", balas ayahnya dengan caci makian yang membuat Angela semakin terpukul.
"Aku akan bekerja penuh jika ayah tidak melakukan hal-hal semacam ini lagi. Bisa yah?", dengan masih beruraian air mata Angela menarik tangan ayahnya,
"Ahhhhhhh. Pergi kamu aku tidak butuh kata-katamh itu yang aku butuhkan sekarang adalah uang. Uang. mengerti kamu", bentak ayah nya kemudian dia pergi keluar rumah.
Tak terasa air mata Angela menetes mengingat semua kehidupan masa lalu nya yang begitu suram dan menyakitkan, bahkan sekarang dia tidak tau dimana ayahnya berada sangat sulit untuk menemukan nya di kota besar yang sangat ramai ini.
Angela hanya bisa berdoa semoga ayah nya baik-baik saja di luaran sana. Kelak aku akan mencari mu ayah, tunggu saja hingga aku bisa memberimu uang yang banyak maka akan ku cukupi kehidupan mu dan keluarga kecil kita akan kembali normal lagi, ucapnya dalam hati.
"Heyyy, apa kamu menangis", tanya William melihat Angela yang tengah menggosok air matanya dengan lengan baju kemeja kerjanya. "Tidak, tidak. Aku hanya kelilipan debu saja", Angela memalingkan wajah nya lagi ke jendela bus. "Jelas-jelas sedang menangis malah mau membohongi ku seperti anak kecil saja", ujar William dalam hati.
Tak lama hujan berhenti, semua penumpang bus menghembuskan nafas lega dengan kembali berceloteh membuat suasana bus sangat ribut. "Apa yanh mereka ributkan? bukannya hanya hujan reda saja?", William tampak kesal dengan penumpang-penumpang yang berisik itu.
"Kalau bukan karena mobilku sedang di perbaiki, aku tidak akan mau naik bus seperti ini berdesak-desakan, mendengarkan celoteh tak jelas mereka, bahkan terjebak hujan di perjalanan. Sungguh nasibku sial hari ini", keluh William
"Sudah lah apa yang harus kamu sesali semua nya akan tetap seperti ini meski pun kamu menangis meminta keadaan di ulang", nasehat Angela,
Benar juga untuk apa aku marah dan mengeluh seperti ini, toh semuanya sudah terjadi jadi aku tidak bisa menyesali nya, dalam hati William. William kemudian hanya terdiam mendengar pernyataan Angela, tampak nya merasa benar dan diri nya sudah salah karena mengeluh pada keadaan yang sudah terjadi.
Setibanya di terminal William dan Angela turun dari bus kemudian melanjutkan perjalanan ke kantor Carlos yang berjarak tidak jauh dari terminal tempatnya turun.
"Kenapa kita harus jalan kaki? Apa kamu tidak lelah?", tanya William. "Lelah? Kita hanya duduk bukan berjalan dari tadi. Lagian kantor nya ada di seberang jalan ini untuk apa lagi harus naik kendaraan", tanpa menghiraukan William, Angela tetap berjalan.
"Hey bisakah kamu berjalan lebih lambat lagi? Jangan terlalu cepat", kejar William
Angela tak menghiraukan perkataan William dan terus berjalan sementara William setengaj berlari menyusul langkah kaki Angela yang berjalan begitu cepat mendahului nya.
Lampu hijau untuk pejalan kaki telah menyala, tanpa menoleh ke kiri kanan Angela langsung saja menyeberangi jalan itu. Tampak dari jauh sebuah mobil berkendara dengan cepat terlihat sedang terburu-buru tanpa berhenti di lampu merah.
Suara klakson mobil (Tiiiitttttt tiiiiitttttt)
"Angela awas!", teriak William kemudian berlari ke arah Angela dan menarik tubuh nya
Tubuh Angela mendekap di dada bidang William, gemetar terasa, Angela terlihat gugup dan takut hampir saja dia di tabrak oleh mobil jika bukan karena William yang menolongnya mungkin saja Angela sekarang sudah terkapar di tengah jalan dengan bersimbah darah.
Keadaan terlihat mencekam dalam sekejab, banyak orang mulai memperhatikan dan memperbincangkan kejadian tersebut.
Tiba-tiba suhu tubuh Angela memanas, getaran begitu hebat terasa, tubuh Angela terkulai lemas dalam pelukan William, pandangan matanya mulai gelap, seketika itu juga Angela pingsan di pelukan William.
"Hallo, cepat kamu bawa mobil saya ke sini", ucap nya dari telpon
"Baik pak William",
Kemudian William menutup telpon nya dan kembali memasukan ke dalam kantong celananya. Wajah nya tampak cemas melihat keadaan Angela yang tak sadarkan diri sekarang.
"Ayolah bangun Angela!", gumam nya sambil mengelus lembut pipi Angela
🌸🌸🌸
William telah tiba di sebuah rumah sakit dan segera mengangkat masuk Angela. Angela di bawa dengan sebuah kasur yang kemudian di dorong oleh beberapa perawat William berada tepat di ujung kasur itu sembari juga mendorong nya.
Sampai pada ruangan IGD William di cegat oleh seorang perawat dan mengatakan "Maaf pak, harap bapak menunggu di luar", lantas perawat iru masuk dan menutup pintu meninggalkan William di luar seorang diri.
"Lakukan yang terbaik sus", ucapnya kemudian mengalah untuk tidak masuk.
William menunggu di kursi tunggu berada di depan ruang IGD, sambil menunggu dokter keluat dan memberitahukan keadaan Angela sekarang.
William terlihat tampak khawatir dengan Angela, entah itu karena hal apa yang bisa membuatnya merasa khawatir pada orang yang baru di kenalnya, meski pun seoranh wanita karena William bukan termasuk pria berhidunh belang atau pun bermata keranjang seperti pria-pria lain yang akan tergiur karena kecantikan luar.
Menurut hati kecilnya Angela memiliki daya tarik tersendiri yang sulit untuk di jelaskan, yang jelas dia orang yang asik dan sangat nyaman ketika berada di dekatnya.
"Ah, apa yang aku pikirkan", William menggelengkan kepalanya,
"Keluarga dari nona Angela?",panggil seorang perawat keluar dari ruang IGD
"Em, saya sus", ucap William enggan,
"Apakah anda keluarga nya? Karena saya ingin memberitahukan keadaan nona Angela dengan keluarganya", ucap sanh perawat
"Iya saya sepupu jauh nya, bisa di bilang saya keluarganya juga. Bagaimana dengan keadaan nya sus? Apakah dia baik-baik saja? Tidak terjadi apa-apa kan pada nya?", pertanyaan beruntun keluar dari mulut William
"Benarkah? baiklah.Keadaan nona Angela sekarang baik-baik saja. Dia hanya mengalami shok, istirahat selama 2 hari mungkin akam pulih kembali", jelas nya,
"Ah, syukur lah. Terima kasih sus", ucap Willi sambil mengelus dada nya lega,
"Baiklah saya permisi dulu, Anda bisa masuk untuk menjenguk nya tapi ingat jangan mengganggu pasien sedang istirahat", ucap perawat kemudian pergi meninggalkan William.