
"Wah ternyata kamu di sini benar-benar sukses, lihat saja semua hartamu ini. Pantas saja tidak ingin kembali ke rumah", William tampak celingak-celinguk memperhatikan sekitar rumah Carlos.
"Ini belum masuk rumah, apa lagi jika masuk. Em mungkin saja semua terbuat dari emas", William terkekeh kecil.
Ah hampir saja melupakan Angela. Di mana dia? Carlos kembali menghampiri mobilnya yang hampir dia tinggalkan jika tidak teringat dengan Angela yang tidak terlihat keluar dari mobil..
"Astaga, pantas saja tidak terlihat ternyata dia tertidur", gumam Carlos memutar bola matanya
Bangunkan atau tidak, batin Carlos bertanya-tanya. Tidak tega jika harus membangunkannya terlihat lelah di wajah Angela yang begitu polos tanpa sapuan kosmetik. Bibirnya terkatup rapat mengembangkan senyum kecil di ujung bibir entah sedang bermimpi apa kah dia, batin Carlos.
Tanpa berpikir panjang lagi Carlos langsung menggendong keluar Angela dari mobil menuju rumahnya. Berat juga'batin Carlos. Senyum kecil mengambang di bibir Carlos batinnya kini tengah berbicara berdebat dengan pikirannya.
Rasanya lucu saja bisa jatuh cinta dengan wanita yang tidak pernah mengurus dirinya sendiri, bahkan tak jelas dari keluarga mana, yang Carlos tahu adalah ayahnya Angela yang sudah menaruh Angela dalam kehidupannya.
Kejadian di malam itu masih teringat jelas dalam ingatan Carlos, di mana sanga Ayah Angela membuat paksa putrinya mabuk dan menidurkannya dengan Carlos.
Malam panjang yang di laluinya dengan seorang wanita tidak di kenalnya, berangsur-angsur menjalin sebuah hubungan kontrak hanya agar membuat ayah Angela senang.
Rasa simpati yang dari dulu tidak pernah ada kini muncul dalam sekejab setelah mendengar cerita dari Ayah Angela tentang kehidupan mereka yang sangat membutuhkan biaya besar untuk bertahan hidup.
Hingga kini hati Carlos terjerat dengan wanita yang sekarang ini ada di dalam pelukannya. Rasanya lucu bagaimana mungkin seoranh pria angkuh dengan jabatan yang penting di negaranya jatuh cinta dengan wanita yang bahkan mungkin tidak pernah di kenal dalam sisi apa pun.
Carlos melangkah masuk ke dalam rumahnya, di ikuti William di belakangnya.
"Baik tuan", turut sang pembantu,
"William kamu bisa gunakan kamar tamu jika ingin menginap di sini. Jika ada keperluan kamu bisa minta ke pembantu untuk menyiapkannya", tegur Carlos pada William yang tampaknya sedang bengong.
"Ahh... Baiklah", jawabnya singkat. William memilih untuk duduk di ruang tamu ingin rasanya membuang penatnya untuk bersantay dengan menonton tv terserahlah siaran apa pun yang sedang tayang.
Yang jelas kini pikirannya sedang benar-benar kacau, hatinya terasa sakit, melihat sang kakak dengan mesranya menggendong Angela di pelukannya meski pun dia tahu Angela tengah tertidur dan mungkin saja Carlos tidak tega untuk membangunkannya jadi harus menggendongnya masuk kamar.
Sekarang semuanya menjadi sunyi begitu juga dengan William setelah Carlos menaiki anak tangga untuk mengantar Angela ke kamarnya ya mungkin karena kamar Angela berada di atas, pikirnya.
"Kenapa aku terlihat seperti orang yang sangat menyedihkan di depannya?", William mengacak-acak rambutnya sehingga menjadi berhamburan tidak jelas.
"Maaf tuan, apakah ada yang bisa saya bantu?", pembantu itu datang tiba-tiba membuat William kaget di buatnya.
"Tidak ada. Aku hanya ingin sendiri sekarang"
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu. Jika tuan perlu sesuatu bisa panggil saya atau yang lainnya", pembantu itu kini pergi meninggalkan William, bukan karena tidak sopan tapi karena permintaan William yang ingin sendiri.
Setelah pembantu itu terlihat jauh dari pandangan William kini dia menyandarkan kepalanya ke kepala sofa yang sedang di dudukinya. Tangan William menutupi wajahnya berusaha membuat tenang dirinya sendiri.
"Aku seharusnya tidak menyukai wanita itu, bahkam seharusnya juga tidak secepat ini", hardinya pada dirinya sendiri.