
***Jika kamu menemukan ada yang berbeda padanya, itu semua karena dirimu. Kamulah yang membuatnya berubah*.
"Hem baiklah. Tapi boleh aku nitip sesuatu? ", cegat Angela sebelum Carlos dan William berjalan keluar,
"Ya boleh. Kamu mau apa?", balas Carlos,
"Em aku hanya ingin segelas mocchacino hangat. Bolehkan? ", Angela seperti anak kecil saat itu memelas untuk di belikan sebuah mainan yanh diinginkannya,
"Tapi apa boleh, lihat kamu sekarang sedang di rumah sakit. Seorang pasien tidak boleh memakan dan minum minuman yang bukan sesuai anjuran", jelas William
"Benar kata William Angela, lebih baik kamu memakan apa yang di berikan rumah sakit. Demi kesembuhanmu", Carlos menambahkan pendapat William,
"Aku hanya ingin minum itu sekarang, baiklah kalau kalian tidak mau membelikannya. Aku akan beli sendiri", Angela ingin berdiri meninggalkan ranjang tempatnya berbaring,
"Eh eh mau kemana kamu. Kamu tetap di sini jangan kemana-mana. Baik lah kamu tunggu di sini aku akan membelikannya untukmu", Carlos menahan lengan Angela agar dia tidak bangun dari tidurnya Carlos menyerah dan mengiyakan kemauan Angela,
"Benar kah? Terima kasih tuan Carlos yang baik hati", puji Angela dengan senyum manisnya,
"Baik saat ada maunya saja. Dasar wanita licik", Carlos langsunh berbalik dan berjalan keluar bersama William,
"Biar....! ", Angela menjulurkan lidahnya
William yang melihat tingkah kakak dan Angela menjadi heran. Jika hanya sebatas hubungan kerja tidak mungkin seakrab ini, bahkam perhatian Carlos tidak terlihat biasa ada sesuatu yang mengganjal di antara mereka berdua. William mencoba mengorek kebenaran tentang hubungan Angela dan Carlos kakaknya.
"Mesra sekali sih berdua", olok William setelah keluar dari ruangan Angela,
"Apaan sih kamu. Biasa saja, aku hanya ingin berbuat baik pada karyawanku yang sedang mengalami kecelakaan. Aku sebagai Direktur bertanggung jawab penuh atas keselamatan para karyawanku", Carlos mencoba mengelak dengan jawaban yang mungkin semua orang tau itu,
"Iya iya, terserah apa katamu. Tapi beneran hanya sebatas hubungan kerja kan? ", tanya William masih penasaran,
"Ya seperti itulah", jawab Carlos,
Carlos yang melihat tingkah adiknya seperti bahagia mendengar pernyataanya merasa resah tentu saja dia takut kalau-kalau William juga menyukai Angela. Dia tidak ingin berebut seorang wanita apa lagi dengan saudaranya sendiri.
Tapi tidak mungkin juga Carlos harus selalu mengalah ini tentang perasaan mungkin selama ini dia selalu mengalah bahkan untuk warisan keluarganya dia tidak ingin merebutnya dari William tapi tidak untuk sebuah cinta.
Carlos merasa cintanya harus diperjuangkan dia tidak akam mengalah lagi meski pun itu adiknya sendiri.
🌸🌸🌸
Mereka berdua sampai pada sebuah Cafe kecil namun terkesan mewah dan cocok untuk tempat bersantai saat pulang kerja atau pun hari libur weekend di sini merupakan hal yang menyenangkan.
Pengunjungnya tak pernah sepi tapi tak begitu ramai juga hanya saja tempat itu selalu di kunjungi setiap muda mudi untuk sekedar bersenda gurau dengan kekasihnya atau pun reuni sekolah mereka dengan teman-temannya.
Tema cafe ini sangat cocok untuk kalangan anak muda jaman sekarang jadi itu lah yang membuat mereka lebih memilih tempat ini di banding tempat wisata lainnya.
Makanan yang di sediakan tak banyak yang jelas mereka menyediakan berbagai jenis kopi dan minuman lainnya kalau makanan mungkin hanya makanan pendamping bukan makanan berat seperti di restoran lainnya.
Harus di akui kopi di cafe itu sangat enak untuk setiap rasa. Terutama kopi mocchacino rasanya begitu nikmat dengan taburan moccha di atasnya, hiasan yang mereka bentuk menambah kesan pada kopi itu. Sangat cocok untuk menjadi pilihan utama di cafe itu.
"Kamu pesan lah sesuatu", sambil menunjukkan buku menu pada meja lepada William,
"Em baiklah, aku... ah aku pesan kopi mocchacino saja ingin tau rasanya apakah enak sehingga membuat Angela bersikeras untuk membelinya", sambil menunjuk pada menu yang bertulisan mochhacino,
"Mau pesan apa mas?", tanya seorang pelayan pria dengan memegang sebuah buku kecil di tangan kiri dan sebuah pena di tangan kirinya,
"Ah ini.. pesan mocchacino dua", ucap Carlos lalu menunjukkan menunya,
"Baiklah dua gelas mocchacino segera di buatkan, mohon tunggu sebentar. Apa ada lagi yang ingin anda pesan?", tanya pelayan itu,
"William**?"