The Man Is Mine

The Man Is Mine
Chapter 38



Pukul 8.45


15 menit lagi pesawat yang akan di tumpangi oleh Carlos tiba dan itu tanda nya dia akan meninggal kan negara nya sebentar lagi. Angela masih duduk di kursi tunggu untuk mengantar kepergian Carlos. Wajah nya terlihat sedikit sedih ah bukan sedih tapi seperti tidak rela untuk berpisah dengan Carlos.


"Hei! Kenapa wajah mu terlihat sedih? Jangan bilang kamu tidak rela aku pergi jauh ya? Ini minuman untuk mu.", tanya Carlos usai kembali dari mengurus berkas nya di loket.


Carlos dengan segera menyodor kan segelas minuman kepada Angela.


"Ah...Ti..tidak kok biasa saja. Saya hanya kurang tidur tadi malam jadi terasa sedikit lelah", ujar Angela sedikit salah tingkah, tangan nya membenar kan uraian rambut yang terjatuh di pelepis mata nya.


"Oh begitu ya!", tanggap Carlos di sertai senyuman manis nya.


Angela menunduk kan kepala nya mengalih kan pandangan dari tatapan Carlos yang membuat nya jadi salah tingkah.


"Mohon perhatian kepada seluruh penumpang untuk segera memasuki pesawat yang telah di sediakan, atas perhatian nya kami ucap kan terima kasih", suara pengeras itu terdengar begitu jelas di telinga setiap calon penumpang atau pun pengantar penumpang, menggema di setiap sisi ruangan.


Angela menghela nafas nya ketika mendengar suara itu.


(Hmm...sebentar lagi Carlos akaj berangkat), ujar nya berbicara di dalam hati.


"Aku akan berangkat sekarang dan kamu bisa kembali, tidak perlu mengantar ku ke luar", sambil mengambil tarikan koper yang di pegang oleh Angela.


"Baik lah kalau begitu. Anda hati hati, jika memerlukan bantuan apa pun segera huhungi saya", usai berbicara Angela meninggal kan Carlos.


Carlos menatap punggung Angela yang mulai terlihat menjauh dari pandangan nya, dia pun merasakan hal yang sama, rasa nya tidak ingin berpisah dengan wanita itu ingin selalu berada di dekat nya, sangat nyaman dan mampu membuat nya tenang.


"Ku harap kamu juga baik baik saja selama aku tidak berada di dekat mu", lirih Carlos pelan.


Carlos mulai berjalan menujur pesawat yang akan dia tumpangi.


Sebelum masuk masih sempat Carlos memperhatikan sekitar nya mencoba mencari keberadaan Angela. Sedang Angela mengintip dari kejauhan sebelum Carlos menghilang dari pandangan nya.


Ayah Carlos hanya duduk merenungi nasib nya sekarang yang di ambang kehancuran.


"Ayah!", seru Carlos


Ayah nya memaling kan wajah menghadap suara yang memanggil nya ayah tersebut, mata nya yang sudah mulai kabur sulit untuk menangkap bayangan yang jauh dari nya. Tangan nya kini sedang mencari alat bantu lihat nya, kacamata kotak kecil yang sesuai dengan jarak lihat dan kecocokan di mata nya.


Perlahan bayangan itu semakin jelas sosok Carlos yang berdiri di ambang pintu kantor nya kini sudah benar benar terlihat oleh nya, sesekali dia mengedip kan mata karena dia tidak ingin itu hanya halusinasi nya saja karena terlalu merindukan anak sulung nya itu.


"Carlos? Anak ku?", masih dengan wajah yang kurang percaya.


Kini dia bangkit dari tempat duduk nya berusaha mengejar putra sulung nya itu, dan berharap ini bukan lah mimpi.


"Ini benar kamu, Carlos? Ayah sedang tidak berhalusinasi, kan?", ia memeluk putra nya dengan sangat erat.


Tangan nya menepuk nepuk pundak Carlos yang gagah dan tegap. Carlos masih enggan membalas pelukan ayah nya, tapi perlahan tangan nya bergerak, kini sudah mantap mereka saling berpelukan, dua orang yang selama ini selalu berpisah jarak dan karena ada nya kesalah pahaman dalam keluarga hubungan mereka tak pernah baik.


Tapi itu bukan berarti mampu memisah kan seorang ayah dari putra nya, hanya saja Carlos kali ini bukan untuk menuruti keinginan ayah nya untuk menikah dengan Grace tetapi hanya untuk membantu nya menyokong perusahaan agar keluar dari keadaan darurat ini.


Sebelum masuk ke dalam perusahaan ayah nya, Carlos sempat melihat puluhan karyawan yang berdiri berjajar dengan membawa spanduk dan segala macam tulisan tuntutan terhadap ayah nya. Carlos yakin ayah nya sekarang benar benar sedang dalam keadaan sulit dan dia sebagai putra nya sangat wajib untuk membantu dan melupakan masalah yang lalu.


"Ayah, ini aku benar benar Carlos, putra mu", Carlos berusaha menenangkan ayah nya.


"Ayah sangat merindukan mu, nak. Kenapa kamu tidak pernah datang untuk mengunjungi ku? Apakah kamu masih marah tentang masalah tempo lalu? Ayah sungguh...", terdiam sejenak,


"Ayah, sudah lah jangan menambah masalah mu lagi, aku ke sini bukan untuk masalah itu, aku ke sini untuk membantu mu keluar dari masalah perusahaan ini, jadi mari kita bicara kan masala perusahaan bukan masalah lain.", Carlos memotong ucapan ayah nya.