
"Carlos memang anak yang unik dari anak-anak lain seusia nya. Lihat lah di usia nya yang baru ke 10 tahun ini dia sudah mengerti dalam hal berbisnis, sungguh menakjubkan", seringai senyum terpapar jelas di wajah ayah Gracela.
Tatapan nya jatuh pada anak laki-laki yang sedang duduk manis di sebuah sofa, tepat di seberang gadis kecil 'Gracela', anak kecil laki-laki itu duduk dengan tenang tatapan nya fokus pada sebuah buku yang di pegang nya.
Perhatian gadis kecil itu juga fokus pada nya, semua orang menatap nya penuh kagum dan misteri. Seorang anak dengan usia yang terlalu dini sudah bersikeras untuk mempelajari apa arti bisnis, bahkan orang dewasa pun tahu itu adalah dunia yang sangat kejam.
Meski pun ada kebanggaan dalam diri setiap orang tentang anak itu, jelas wajah ayah Carlos memiliki sebuah kekhawatiran tersendiri, dia tahu itu bukan hal baik untuk saat ini.
"Kamu benar, anak itu selalu seperti itu setiap hari. Dia akan selalu menyibukkan diri nya dengan berbagai buku, dia akan marah pada ku jika tidak memberi nya buku yang dia mau. Aku sungguh menyerah pada permintaan anak itu", keluh Ayah Carlos.
Ayah Grace berusaha mendapatkan sedikit perhatian Carlos dengan berbicara lembut bahkan siapa pun yang mendengar nya akan terkesan bahwa dia seorang ayah yang sangat perhatian. "Carlos, temani lah Grace bermain sebentar, lihat lah dia sedari tadi hanya bisa memandangi mu membaca, dia seperti nya ingin bermain dengan mu. Sudahi dulu belajarnya kamu bisa melanjutkan nya nanti", bujuk nya lembut, mungkin mengalah kan lembut nya kapas kain sutra.
Carlos tak bergeming sedikit pun, untuk melihat ke arah Grace pun tidak. Dia tetap tenang, setenang air sungai tanpa ikan ikan di dalam nya. Grace yang melihat nya memasang wajah cemberut, tapi itu tidak cukup untuk menarik perhatian nya.
Grace berdiri dan pindah untuk duduk di samping Carlos saat diri nya berkata, "Hei! Apakah kamu tidak mau bermain dengan ku? Kamu hanya sibuk dengan dunia mu sendiri dari tadi. Kamu tidak menghormati kami sebagai tamu", wajah Grace terlihat lebih gelap karena marah, tapi segera di tepis nya dan menenangkan diri nya.
Ayah Carlos ikut andil dalam membujuk putra sulung nya, "Carlos, ayolah kenapa kamu terus seperti ini. Apa kamu tidak menghargai kedatangan Om Lu?", dengan harapan Carlos mau mendengar kata-kata nya kali ini.
"Baiklah", akhir nya Carlos menyerah, seraya memutar bola mata nya pasrah. Ingin sekali dia pergi dari mereka semua, sangat mengganggu. Hanya untuk tenang saja tidak bisa.
Wajah Gracela kembali bersinar cerah, akhirnya dia mau menemaniku. Aku akan gunakan kesempatan bagus ini untuk menarik perhatian nya, tentu saja itu tidak akan ku lewat kan...
"Yeee...Ayo kita main, Ayah, Om, aku main dulu ya", dengan sukacita Grace menarik tangan Carlos keluar dan menuju taman tempat bermain yang dia ingin kan.
Carlos mendengus kesal, dalam hati nya. Apa-apaan wanita ini, tidak sopan sekali menarik tangan ku seperti ini. Hanya bisa mengikuti nya dengan patuh, satu-satu nya cara agar dia tidak lebih mengganggu. Bertahan untuk sebentar lagi, hati nya meyakinkan diri nya.
"Main nya jangan jauh- jauh, ya!", teriak Ayah Carlos setelah memastikan kedua anak itu berjalan keluar.
Carlos hanya duduk sambil memandang ke arah jalan, rumah nya cukup untuk melihat jalanan, itu tidak membosankan bagi anak-anak lain seusia nya. Tapi berbeda dengan Carlos, dia lebih suka menghabis kan hari-hari nya dengan setumpuk buku-buku bisnis, dia lebih suka waktu nya di pakai untuk membaca bukan bermain.
Sedang adik nya hanya suka bermain, kerap mengganggu itu adalah hal yang paling di benci Carlos. Dia tidak suka di ganggu.
Ji melihat ke arah anak-anak bermain, memang bagi yang lain Carlos tampak senang, tapi bagi dia itu tidak lebih dari keterpaksaan.
Dia hanya mencoba untuk memenuhi keinginan orang lain, jelas bahwa dia tidak suka itu.
Ji tidak bodoh, dia melihat jauh ke dalam pikiran anak nya. Siapa yang lebih bisa memahami Carlos dari pada diri nya.
Anak itu tidak pernah suka keramaian, dia lebih suka mengurung diri di kamar atau perpustakaan pribadi nya, hanya untuk menghabiskan buku-buku untuk di baca.
Bahkan dia sendiri hampir tidak ingat kapan terakhir kali Carlos bermain dengan adik nya, William.
Dengan senyum yang terpaksa Ji menjawab, "Benar Lu, aku bahkan hampir lupa kapan terakhir anak itu bermain di luar rumah. Dia selalu mengurung diri di kamar atau perpustakaan ku. Sekarang melihat nya bermain aku sangat senang", ucap nya, jelas dalam suara nya ada sukacita namun tidak lebih sekedar singgah.
"Seperti nya dia menyukai Grace, lihat saja dia tidak keberatan untuk bermain dengan nya. Kita seharus nya menjodohkan anak kita Ji, aku yakin dewasa nanti mereka akan saling menyukai satu sama lain, dan kerja sama kita akan selalu berjalan", Lu mengatakan bahwa itu sebuah perjodohan untuk bisnis nya.
Bagaimana laki-laki ini tega memperalat darah daging nya sendiri untuk bisnis nya, tapi Ji cukup naif jika percaya kata-kata Lu saat itu. Dia hanya mengangguk dan tersenyum sebagai balasan.
"Kamu setuju?", kejar Lu meminta jawaban.
"Aku setuju, tapi itu akan berlaku jika Carlos menyetujui nya juga. Aku tidak akan mengambil hak nya untuk memilih pendamping hidup nya. Dia berhak atas kehidupan nya di masa depan", Ji sedikit menurunkan nada bicara nya dan menoleh untuk melihat putra nya.
...
Di sisi lain, putra kedua Ji 'William' tengah mengamati kakak nya bermain dengan anak perempuan yang tak lain adalah Grace.
Sebenar nya cukup sederhana, William menyukai gadis kecil itu sejak pertama dia melihatnya berkunjung ke rumah nya minggu lalu, dia dengan sengaja menunjukkan senyum sinis, terasa api cemburu mulai memenuhi kerangka mata nya bahkan darah di tubuh nya mendidih.
Sejak saat itu, William selalu menyimpan iri dan dendam pada Carlos. Carlos dapat memahami perasaan William melewati tatapan penuh kebencian dari adik nya. Dia bahkan tidak perlu penjelasan tentang apa itu, karena dia tahu William menyukai Grace.
Carlos merasa senang karena dia tidak harus ikut dalam hubungan aneh, tapi semakin mereka dewasa William selalu bertingkah kasar pada nya. Hanya karena masalah kecil, Carlos selalu menjadi bahan uji coba pukulan nya berkali-kali.