The Man Is Mine

The Man Is Mine
Chapter 26



Angela melangkah pelan melewati sisi William yang masih berdiri menatap punggung Grace yang berlalu, terus menatapnya hingga Grace menghilang dari pandangannya.


Sebenarnya William pernah menyukai wanita itu sampai suatu kabar ayahnya menetapkan keputusan bahwa Carlos harus menikah dengan Grace agar dapat menyelamatkan perusahaan ayahnya yang kini tengah di ambang kebangkrutan.


William saat itu benar-benar merasa terpukul dengan keputusan ayahnya, tapi karena William menghargai ayahnya dia tidak berani mengatakan apa pun alasan untuk menolak


pun tak pernah terucap.


Pelan-pelan William mulai melupakan Grace, meski pun William tahu orang yang di sukai Grace adalah kakaknya Carlos. Mulai saat itu William membenci kakaknya semua orang selalu memihak padanya bahkan wanita yang di sukainya juga menyukai kakaknya rasa benci kian bertambah bahkan kini rasa itu terus bertambah.


Dia benci pada orang yang memihak Carlos, tapi dia lebih benci Carlos.


"Carlos, bisa saja sekarang kamu mengambil semuanya dariku, tapi suatu saat aku akan mengambil itu semua kembali. Tunggu saja", gumam William pelan dengan nada sinis.


Angela yang sudah berada di atas tangga tetap dengan langkah pelannya namun pikirannya yang kosong membuat dirinya tak seimbang menginjak anak tangga. Kaki kanannya terpeleset di salah satu anak tangga, hampir saja terjatuh sampai tangan Angela reflex menangkap pegangan tangga yang terbuat dari kayu itu.


"Huh, hampir saja aku terjatuh", ucapnya pelan.


Dia sadar dirinya sedang melamun namun tidak jelas pasti apa yang sedang di lamunkannya. Carlos? Kenapa harus memikirkannya? Ah sudah lah kepalaku terasa sakit memikirkannya, Angela terus bergumam dalam hati.


Di sebuah bangku taman, Grace terus bersedu tangisannya tak kunjung berhenti dia terus memikirkan ucapan Carlos yang membuatnya benar-benar tersentak dan tak habis fikir bagaimana bisa Carlos lebih memilih wanita yang tidak jelas asal usulnya.


"William bilang dia hanya rekan kerja, mungkin saja hubungan mereka tak lebih dari itu atau mungkin Carlos sedang membuatku cemburu kalau benar dia berhasil melakukannya", Grace tersenyum namun tetap dengan air mata yang masih menetes di pipinya.


🌸🌸🌸


Rumah Carlos, Angela melangkah pelan memasuki kamar tidurnya. Menatap kosong, pikirannya masih terbayang-bayang dengan ucapan Carlos tadi. Angela beranjak dari lamunannya merebahkan dirinya di ranjang empuk itu. Wajahnya di benamkan dalam gulungan selimut berwarna biru, pikirannya terus meracau, bertanya-tanya apa maksud ucapan Carlos.


"Aku harus mencari penjelasan dari ucapannya, ya harus", Angela terduduk bangkit dari posisi telungkupnya.


Bergerak pelan menuju pintu, krek, pintu terbuka lebih dulu sebelum sempat Angela menarik gagang pintu. Terlihat sosok pria yang selalu mngganggu pikirannya muncul di depannha sekarang. Ya itu Carlos Starbuck.


"Ca..Carlos? Ada apa?", tanya Angela kaku.


"Aku hanya ingin bersamamu", sayup-sayup terdengar suara serak Carlos, jauh berbeda dari suara lantang nan kerasnya tadi.


"Bersamaku?", ulang Angela namun bertanya.


"Aku butuh seseorang sekarang dan aku rasa hanya kamu orang yang tepat untukku bersandar", Carlos melangkah masuk dan duduk di ujung ranjang.


Di susul Angela setelah menutup pintu memastikan tidak ada yang melihat kedatangan Carlos ke kamarnya. Karena itu akan menjadikan seisi rumah heboh.


"Angela, kemarilah duduk di sampingku", panggil Carlos sambil menepuk-nepuk ranjang di sampingnya untuk mengisyaratkan agar Angela duduk di sampingnya.


Sedikit ragu Angela berjalan mendekat pada Carlos dan duduk di sampingnya tepat di tempat dia menepukan tangannya.