
Bagaimana pun penjelasan Tuan Ji untuk William dia tampak tidak sepenuh nya mendengar kan, sejak hari itu tiada hari tanpa iri.
Padahal, Tuan Ji selalu melakukan hal yang sama atas kedua putra nya, hanya karena Carlos lebih dulu lahir dari William maka dia sudah pasti menjadi tangan kedua setelah Ayah nya.
"Baik lah, karena ayah sudah berkata begitu. Tidak ada hak ku untuk menolak nya", lalu William pergi dari dari Ayah nya. Saat itu dia baru berusia belasan tahun, mungkin bagi Tuan Ji itu adalah hal yang wajar terjadi pada usia seperti mereka.
Namun, sedikit yang Tuan Ji pahami dari putra kedua nya, dia memiliki dendam sejak masih berusia 5 tahun pada Carlos...
...
Carlos bisa di bilang seorang anak yang sangat cerdas di usia nya yang masih remaja, dia lulusan terbaik bahkan lulus dengan cepat dari Universitas nya dari mahasiswa yang lain.
Semua orang kagum dengan pemikiran nya yang melebihi batas remaja biasa, tapi tak sedikit pula yang menaruh iri pada nya.
"Bos, lihat lah anak sombong itu. Hanya karena dia lulus lebih dulu dia menjadi sangat sombong, bahkan untuk menegur orang lain pun tidak. Aku sungguh muak melihat nya setiap hari seperti itu. Jika di ijinkan ingin rasa nya aku berdiri di depan nya dan memukul wajah sombong nya", kata Andre, di mata nya tersirat kan sebuah neraka yang sangat panas. Hanya sebuah tatapan mungkin sudah bisa membuat lubang pada setiap benda yang dia lihat.
"Sudah lah, kita harus bangga karena dia sudah keluar dari wilayah ini. Aku sudah tidak sabar menanti kan segerombolan wanita-wanita itu berpaling pada kita", tukas nya dengan senyum jahat. Luis.
"Hahaha kamu benar, bos. Aku juga tidak sabar menanti kan nya, lihat saja nanti para wanita-wanita itu akan mengelilingi kita...eh bos maksud nya", ucap nya tergagap. Seketika dia menatap bola hitam besar dari balik mata Luis.
Kamu hanya tidak sadar, Luis. Aku bahkan lebih tampan dan sempurna dari mu. Hanya karena kamu memiliki segala nya, maka aku akan jadi seperti anjing pesuruh mu. Sebenar nya aku jijik dengan tingkah mu tapi aku tahan, karena sebentar lagi kamu akan tahu apa itu seekor anjing yang menggigit tuan yang memberi nya makan.
"Bos, lebih baik kita pergi. Aku tidak tahan berada di lingkaran setan seperti ini. Bagaimana kalau kita menemui Freya, bukan kah kau selalu ingin bertemu dengan nya", tatapan nya seakan selalu siap menjadi penjilat sejati di bawah kaki Luis.
Pandangan Luis beralih ke arah Lucas, "Kau benar. Pimpin jalan", perintah Luis.
...
Freya selalu menjadi wanita populer di kampus, banyak pria yang ingin mengejar nya, termasuk Luis dan Lucas.
Tidak heran setiap hari nya Freya akan mendapat hadiah-hadiah yang di kirim kan untuk nya.
"Lily, apakah ini? Apa ini dari Carlos?", tanya nya. Mata nya berbinar menampakkan sebuah cahaya harapan. Gejolak nya tentang Carlos selalu muncul setiap saat, dia sangat menyukai laki-laki itu.
Lily menggeleng kan kepala nya dengan tidak bersemangat, "Sayang nya bukan, ini dari Luis", sambil membaca nama pengirim yang tertera di sebuah kartu ucapan kecil yang tergantung.
"Buang!", tak memiliki selera, wajah Freya kembali menggelap seakan akan terjadi badai besar dalam ruangan kelas nya.
"...", seandainya kamu tidak perlu menyuruh ku untuk membuang nya, aku lebih dari bersedia untuk menyimpan nya. Ya, Lily menyukai Luis tetapi dia tidak memiliki keberanian untuk mengatakan nya, satu yang dia tahu, Freya akan menghabisi nya.
Lily mengangguk dengan patuh, kemudian berjalan keluar kelas untuk membuang buket bunga indah di tangan nya. Sangat di sayang kan.
"Hei! Apa yang kamu lakukan dengan bunga ku? Kamu ingin membuang nya? Berani sekali kamu, itu bunga dari ku untuk Freya, mana dia, kenapa dia tidak menerima nya?", dari ujung karidor kelas Luis dengan berlari menghampiri Lily yang ingin membuang bunga di tangan nya.
"I..ini, Freya yang meminta nya", wajah nya tertunduk setelah merasa terkejut dengan teriakan Luis yang tiba-tiba.
"Aku di sini. Aku tidak suka dengan bunga mu, maka aku meminta nya untuk membuang nya. Luis, sudah berapa kali aku katakan berhenti untuk mengejar ku. Aku tidak menyukai mu, apakah kamu tidak mengerti bahasa manusia", Freya datang dari dalam menghampiri suara Luis yang memekakkan telinga nya, "Lily buang bunga itu dan kembali masuk ke kelas. Sebentar lagi kita akan belajar", perintah nya kepada Lily sebelum pergi kembali ke dalam kelas.
"Baik!", ucap Lily patuh.
"Kau...", wajah Luis menggelap, darah nya mendidih, dia tidak pernah mendapat perkataan kasar sebelum nya apalagi dari seorang wanita. Dia bersumpah akan membuat Freya berlutut karena memperlakukan nya seperti ini.
Kau..tunggu dan lihat saja, bagaimana aku akan membuat mu berlutut di hadapan ku, memohon untuk menerima diri mu yang rendah. Aku tidak akan membiarkan mu selalu bersikap kurang ajar pada ku. Freya, seharus nya kamu bersyukur aku bisa menyukai mu, itu sebuah kehormatan besar untuk mu.
Luis berbalik dan pergi, meninggalkan mereka. Hati nya benar-benar marah, setiap langkah adalah api yang berkobar dalam diri nya. Buku-buku tangan nya terlihat kepalan tinju nya semakin erat itu hampir membuat urat lengan nya putus karena terlalu menegang.
...
Carlos sudah siap dengan matang untuk menghadiri kelulusan nya yang akan segera di mulai. Dia berdiri di depan seluruh dosen dan para mahasiswa lain nya.
Ini adalah hari kelulusan nya, dia sudah berjuang keras untuk mendapatkan semua nya, dan hari ini semua terbayar kan. Di dalam hati nya sebuah senyuman muncul, tapi wajah nya adalah sosok yang begitu tenang. Emosi nya rumit, namun wajah nya tidak bisa terbaca.
Bahkan seorang dosen, seorang insinyur terhebat di universitas kota A tidak dapat memahami nya, selain diri nya sendiri.
"Apakah dia siap? Anak itu sangat memiliki ketenangan, bahkan aku tidak bisa yakin apa kah dia seorang murid atau seseorang seperti kita", kata salah seorang insinyur.
"Kamu benar, pak. Dia terlihat seperti ilmuwan yang siap untuk melakukan sebuah seminar untuk kita semua. Aku bangga dia berasal dari universitas dan bimbingan kita. Aku hampir menangis melihat seorang mahasiswa seperti dia ada di kota ini", jawab seorang Dosen bergelar Doctor.