The Man Is Mine

The Man Is Mine
Chapter 36



Di kediaman keluarga Starbuck,


Tampak seorang laki-laki tua mungkin usia nya sekitar 50 an, sedang duduk di kursi kerja nya saat itu. Sambil mengurut kepala nya yang terasa pusing dan sakit, terlihat jelas di raut wajah nya dia sedang merasa lelah.


Seorang pimpinan di perusahaan Dozim, di Inggris. Ayah Carlos, kini perusahaan nya sedang di ambang kebangrutan karena sudah di tipu oleh pengusaha asing yang berniat membeli saham milik nya.


Ketika suara dering telpon kantor nya berbunyi membuyar kan lamunan nya. "Hallo, ada apa?", ucap nya setelah mengangkat telpon itu.


"Pak direktur, ada yang ingin bertemu dengan Anda, dia bilang dia wakil dari anak perusahaan Distraon", jawab suara dari seberang telpon.


"Kata kan aku sedang sibuk sekarang, tidak bisa di ganggu", balas nya sambil tangan nya memijat dahi nya yang terasa sakit.


"Baik pak", kata suara itu lalu memberi tahu kepada orang yang ingin bertemu dengan nya, "Maaf pak, dia bilang dia ada urusan penting yang ingin di bicara kan", lanjut nya lagi setelah mendapat jawaban dari orang tersebut.


"Baiklah suruh dia masuk", kata John akhir nya menyerah tak ingin berdebat lagi.


"Baik pak", telpon kemudian berakhir.


"Silah kan Anda ke ruangan pak direktur", kata nya lagi pada orang itu.


"Anak perusahaan Distraon, ada perlu apa ingin bertemu dengan ku?", John terlihat sedang memain kam jari telunjuk nya di atas meja hingga menghasil kam bunyi yang berirama.


Terdengar suara pintu di ketuk dari luar sesaat setelah suara John yang mempersilah kan sang tamu nya masuk.


"Masuk", ucap nya sambil memutar kursi nya menghadap pintu.


Masuk lah seorang pria muda terlihat lebih muda 20 tahun dari nya, terlihat berwibawa dan tangguh mungkin juga cerdas. John menerawang setiap jengkal tubuh pria yang masuk ke ruangan nya itu.


"Terima kasih sudah mau menerima kedatangan saya pak direktur", pria itu menunduk sebagai tanda hormat nya.


"Ya, langsung saja ada urusan penting apa sampai perusahaan mengirim mu ke perusahaan ku ini?", tanya John to the point.


"Baik jika Anda terburu-buru akan saya jelas kan nya dengan Anda. Pemilik perusahaan Distaon ingin mengajak Anda bekerja sama, kami tahu sekarang Perushaan Anda sedang dalam masa kritis ini merupakan peluang besar bagi Anda perusahaan kami dapat menutupi sedikit kesulitan perusahaan Anda, jadi bagaimana apakah Anda tertarik?", jelas laki-laki muda itu kepada John.


"Kerja sama? Kerja sama seperti apa yang kamu maksud kan?", kata John bertanya.


"Kami tahu bahwa kini perusahaan yang Anda pimpin sudah di tipu oleh perusahaan asing bukan dan berita nya kini sudah tersebar luas, publik kini tahu perusahaan Anda bangkrut dan banyak sekali perusahaan-perusahaan kecil yang memanfaat kan situasi ini untuk menaik kan famor perusahaan nya dan Anda tahu apa itu? Anda akan semakin jatuh, bukan kah perusahaan Anda ini adalah perusahaan besar bahkan saingan berat bagi orang-orang kecil seperti kami ini tapi bagaimana sekarang? Anda bukan lah apa-apa di mata mereka Anda sekarang terlihat lemah, bagaimana cara Anda menyelesai kan masalah Anda sedang kan keuangan Anda kini sudah semakin susah. Tapi seperti nya Anda bukan orang yang mudah menyerah bukan? Anda pasti sedang memikir kan cara untuk bangkit dari terpuruk nya keadaan sekarang. Bagaimana dengan tawaran saya tadi? Apakah Anda setuju, saya harap Anda bisa memikir kan nya dengan bijak. Tidak perlu jawab sekarang jika memang Anda masih ragu. Silah kan hubungi perusahaan jika Anda sudah setuju, saya permisi dulu", pria itu menyerah kan sebuah kartu nama sebelum kemudian berbalik meninggal kan John yang masih diam terpaku di tempat duduk nya.