The Man Is Mine

The Man Is Mine
Chapter 22



Carlos kini telah sampai di depan pintu kamar Angela dengan logo kupu-kupu dan berwarna biru muda tampak seperti kupu-kupu yang sedang terbang tinggi di awan.


"Berat juga kamu Angela", bisiknya pelan


Carlos menggunakan kakinya untuk membuka pintu kamar Angela, karena jelas susah menggunakan tangannya yang sedang menggendong Angela.


"Ah berat sekali", ujarnya merasa sakit pada kedua tangannya yang menopang tubuh Angela selama perjalanan ke kamarnya.


Setelah menaruh Angela di atas ranjang, Carlos membenarkan posisinya, melepas sepasang sepatu hak yang masih terpasang di kaki mulus milik Angela, dan menarik selimut sampai menutupi dada Angela. Tak lupa Carlos menempatkan tangan kiri Angela dengan posisi di atas perutnya dan tangan kanan di biarkan lurus ke samping tubuhnya.


Padahal sudah saatnya untuk makan malam tapi tidak tega untuk membangunkan Angela, Carlos membiarkan Angela istirahat dengan tenang hari ini. Lalu Carlos perlahan berjalan keluar dari kamar Angela.


"Apakah aku harus membangunkannya untuk makan? Atau ku biarkan saja dia tidur", jentik-jentik jari telunjuknya di dagu lancip miliknya menandakan sedang berpikir,


"Ah sudah lah lebih baik aku biarkan saja dia tidur, toh kalau lapar dia bisa bangun sendiri", tambahnya


Carlos beranjak dari kamarnya menuju pintu untuk keluar kamar.


Dari atas tampak seorang pria dan wanita tengah duduk di meja makan. Wanita? Siapa dia? Jelas itu bukan gaya Angela dan mana mungkin Angela karena dia tengah tidur di kamarnya. Carlos menyipitkan matanya berusaha mengenali wanita yang kini tengah duduk bersama William dalam satu meja makan.


Apakah wanita yang di undang William untuk makan malam bersama? Tapi kenapa harus di rumahku? William ini benar-benar tidak menghormatiku sebagai tuan rumah di sini? Berbagai pertanyaan muncul di pikiran Carlos sehingga membuatnya jengkel dengan sikap William yang menurutnya tidak sopan.


"Permisi tuan Carlos", sapa sang ART sebelum Carlos sampai di lantai bawah, "Itu..Ada wanita yang mencari tuan, saya sudah bilang untuk bertanya kepada tuan terlebih dahulu untuk membolehkan dia masuk atau tidak tapi wanita itu berkata bahwa dia adalah tunangan tuan Carlos, lantas saya tidak berani membantah perkataanya dan membiarkan dia masuk ke dalam rumah bahkan dia ingin ikut makan malam bersama", jelasnya,


"Tunanganku? Bukan kah kalian semua tahu aku tidak pernah memiliki tunangan. Kenapa masih lancang membiarkan orang asing masuk ke rumahku", bentaknya pada sang art namun sangat pelan berusaha untuk membuat mereka tidak melihat kehadiran Carlos.


"Maafkan saya tuan, saya salah. Wanita itu bersikeras ingin masuk. Saya tidak bisa berbuat apa-apa tuan. Sekali lagi maafkan saya tuan", art itu memohon agar Carlos memaafkannya,


"Ah sudah lah, kamu pergi saja ke belakang. Kerja kan pekerjaanmu. Biar dia saya yang urus", perintahnya,


"Baik tuan", dengan wajah menunduk karena merasa bersalah art itu segera pamit untuk kembali bekerja,


"Siapa sebenarnya wanita itu, lancang sekali dia mengaku sebagai tunanganku", dengan nada marah


Membuat dia menjadi perhatian oleh seisi rumah sekarang. Carlos berjalan santay sambil menepuk-nepuk tangan, sengaja ingin membuat sebuah kehebohan karena wanita yang datang tanpa di undang itu.


"Carlos, untuk apa kamu melakukan itu. Lihat banyak yang memperhatikanmu", William angkat bicara


"Biar lah. Biar mereka tahu ada seorang wanita cantik sedang bertamu di rumahku", ucapnya sambil tertawa kecil. Seperti sedang mengejek.


"Oh Carlos, lama tidak berjumpa dan kamu menjadi lebih tampan saja", kata wanita itu dengan nada bicara yang setengah menggoda,


"Ah jelas sekali, aku memang tampan sejak lahir", balas Carlos berusaha melayani bicara watita itu, "Sampai-sampai ada wanita yang berani datang ke rumahku dan mengaku-ngaku sebagai tunanganku", tambahnya lagi


"Aku memang tunanganmu Carlos, aku tidak mengada-ngada", ucap wanita itu


"Hey, sejak kapan aku bertunangan denganmu bahkan aku tidak mengenalimu bagaimana bisa aku bertunangan dengan orang yang tidak aku kenali"


"Apa katamu? Kamu tidak mengenaliku? Carlos aku kesini untuk mengunjungimu dan lihat seperti ini kah sambutanmu terhadap tunanganmu", dengan wajah sedih yang di buat-buat


"Aku tidak perlu di kunjungi siapa pun. Dan ingat sekali lagi aku bukan tunanganmu" dengan ekpsresi marah Meninggalkan wanita itu.


William hanya terpaku diam menyaksikan kejadian di depan matanya, bagaimana bisa Carlos memperlakukan wanita dengan kasar seperti itu, batin William.


Meski pun wanita itu masih dengan sedih yang dibuat-buatnya tidak berhasil menarik perhatian Carlos untuk kembali. Carlos masuk ke dalam kamarnya, mencari sebuah handphone miliknya.


Mencari nomor yang ingin di tujunya. Setelah beberapa detik berdering kemudian orang di seberang telepon menjawab panggilan Carlos.


Tanpa mengucapkan salam atau sekedar basi basi bertanya kabar Carlos malaj langsung memaki orang yang berada di seberang telponnya.


"Ayah, tidak bisa kah kamu berhenti untuk mengatur kehidupanku. Aku tidak suka di perlakukan seperti anak kecil seperti ini. Tunangan? Tunangan macam apa yang kamu maksud? Ini jelas-jelas hanya sepihak aku tidak pernah mengiyakan untuk bertunangan dengan siapa pun. Jika kamu tidak membatalkannya jangan salahkan aku jika bertindak tidak sopan padamu", tut tut Carlos langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari orang yang di anggap nya ayah itu.


Hati Carlos kini sedang di penuhi amarah, sangat marah dengan sikap ayahnya yang tidak pernah berubah sedikit pun.