The Man Is Mine

The Man Is Mine
Chapter 16



***Kadang yang membuat kita tidak semangat adalah orang terdekat kita sendiri. Itu karena kamu mempercayakan dirimu padanya bukan pada dirimu sendiri


🌸🌸🌸***


"William? ", Carlos memberikam isyarat bertanya akan kah William ingin memesan yang lain atau tidak,


Sebagai jawaban William hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak atas pertanyaan Carlos, lalu sibuk kembali dengan ponsel di tangannya.


"Ah itu saja", ucap nya kemudian pada sang pelayan.


"Baik. Mohon ditunggu sebentar", pelayan itu kemudian meninggalkan meja William dan Carlos untuk segera membuatkan pesanannya.


Tidak perlu waktu lama, pesanan yang di pesan tiba sungguh pelayanan yang sempurna pikir William.


"Dua gelas kopi mocchacino", pelayan tadi menaruh dua gelas kopi di depan Carlos dan William,


"Thank you", ucap William sambil menyunggingkan senyum manisnya pada pelayan wanita itu,


"Oh, your wellcame", balas sang pelayan ramah, tampak terlihat malu-malu lalu meninggalkan meja kedua pria itu kembali untuk bekerja,


"Apakah harus seperti itu bersikap pada semua wanita?", tanpa melihay ke wajah William Carlos berbicara,


"Yah tentu saja. Kita memang harus selalu ramah pada setiap orang", sambil membanggakan senyum manisnya William berkata,


"Cihhh", Carlos hanya mendecih kecil mendengar jawaban sang adiknya yang terlihat sedang mengamati sekeliling cafe,


"Oh iya. Kamu ke sini apakah hanya sendiri? Untuk apa? Atau jangan-jangan kamu utusan ayah lagi untuk memaksaku pulang dan menikah dengan Gracela", ujar Carlos menerka-nerka


"Tidak bisakah kita menikmati dulu kopi ini, baunya sangat harum pasti rasanya nikmat. Aku juga lelah baru tiba pagi ini dan harus berjalan seharian belum istirahat dan sekarang kamu tidak membiarkan ku menikmati hidangan mewah ini", ujar William mengalihkan pembicaraan,


"Kakak, aku ke sini bukan untuk hal itu. Aku tau kamu orang seperti apa jadi untuk apa aku bersusah-susah ke sini hanya untuk melakukan hal yang tidak berguna seperti itu", jelas William


"Benarkah? Lalu untuk apa kamu ke sini, bersama siapa kamu ke sini?", Carlos kembali bertanya,


"Tidak untuk apa-apa aku hanya ingin berlibur ke sini apakah tidak boleh? Tadinya Grace ingin ikut bersamaku ketika mendengar aku ingin mengunjungi kotamu, tapi aku tahu kamu pasti tidak akan sudi bertemu denganku jika aku bersama dengannya ke sini, jadi aku hanya pergi sendiri ke sini. Ayah dan Ibu pun tidak tahu menahu soal kepergian ku ke kota ini", dengan menyandarkan dirinya ke dinding sofa untuk mendapatkan posisi ternyaman,


"Em baiklah sementara aku mempercayai perkataanmu, kamu tinggal di mana sekarang. Satu lagi sejak kapan kamu mengenal Angela?", William berhenti memainkan ponselnya ketika mendengar nama Angela di sebutkan oleh Carlos, semakim penasaran saja dia dengan hubungan kakaknya bersama Angela,


"Hey hey kenapa memangnya jika aku mengenal Angela? Apakah ada masalah?", William mencoba mengorek-ngorek lebih dalam lagi hubungan Carlos dengan Angela,


"Tentu saja tidak masalah. Hanya saja di hari pertamamu kamu sudah mengenal Angela", Carlos berusaha membuat William tidak curiga dengan omongannya,


"Bukan kah Angela tadi sudah mengatakannya padamu, aku hanya tak sengaja menyelamatkannya dari kecelakaan itu. Dan sejak saat itu aku mengenalnya. Dan tamat", ujar William


"Tidak ada hal lain lagi?", Carlos masih penasaran tidak mungkin secepat itu untuk mengenal seseorang,


"Hey kakak. Sejak kapan kamu menjadi orang yang kepo dan seposesif ini? Kamu dulu selalu tidak ingin tahu tentang apa pun tapi sekarang seorang Angela mampu menjadikanmu pria yang kepo", William berbicara setengah mengolok,


"Maksud kamu? Aku hanya ingin tahu saja, wajarkan seorang kakak ingin mengetahui adiknya kenal dengan orang lain seperti apa orang itu, lalu apakah baik atau tidak. Hanya itu saja", Carlos menjadi panas dingin dengan pembicaraannya,


"Lalu bagaimana dengan Angela? Seperti apa dia? Dia baik atau tidak? Aku ingin mengenalnya lebih dalam lagi", William menopangkan tangannya ke meja dengan telapak tangan menopang dagu wajahnya yang lancip,


"Angela? Aku tidak tahu? Mungkin baik mungkin juga tidak. Mengenalnya lebih dalam bagaimana?", deg jantung Carlos berdetak ketika mendengar William berkata ingin mengenal Angela lebih dalam, buat apa?


"Ah sudah lah. Minumlah dulu nanti keburu dingin", William menyeruput gelas kecil di depannya, "Uhh benar saja rasanya nikmat, ternyata aku tidak salah pilih begitu pun dengan wanita", William berbicara dalam nada rendah namun mampu terdengar oleh Carlos,