
William tercegat di depan pintu dia tampak sedang memperhatikan keakraban Carlos dengan Angela, tidak masuk hanya berdiri di luar pintu mengamati kewat celah-celah kaca tipis terang yang bisa memperlihatkan bagian dalam ruangan hanya saja itu kotak kecil tidak sebesar ukuran pintu sesungguhnya.
"Baru sampai dan aku sudah di suguhi dengan pemandangan yang sedikit menyakitkan", gumamnya dalam hati,
"Ah sudah lah untuk apa aku terlalu cemburu padanya, ada hak apa aku? Aku jelas bukan siapa-siapanya sedangkan Carlos adalah atasannya dan mungkin saja itu hanya keakraban antara seorang atasan pada bawahannya dan juga sebaliknya", gumamnya lagi
Dengan langkah ragu William berusaha mendekati pintu berusaha mengumpulkan semua keberanian dalam dirinya, yah untuk apa takut toh tidak ada hantu di sini ya meski pun ada juga tidak akan terlihat kan?
Krekkk!
Akhirnga berhasil melawan semua rasa takut dalam dirinya, 'sudahku bilang aku tidak takut' gumamnya dalam hati, "Hai, ah Carlos kau juga sudah datang?", dengan ekspresi pura-pura William menyapa Carlos yang tengah duduk santai di sofa penunggu.
"Yah aku sudah datang, terima kasih sudah merepotkanmu untuk menunggu sekertaris pribadiku", ucap Carlos dengan menatap Angela, "Tidak perlu sungkan pada adikmu sendiri, sudah seharusnya aku membantu kakakku kan?", dengan senyum sumringahnya memperlihatkan deretan gigi rapi dan putih milik William.
"Baik. Karena William sudah datang mari kita pulanh sekarang, aku sudah gerah ada di sini", sungut Angela menunjukkan rasa gerahnya, "Wah ternyata kalian berdua menungguku ya. Ah aku jadi malu",tukas William sambil tersenyum-senyum.
"Sudah lah jangan banyak bicara lagi, lebih baik kita pulang sekarang", ajak Carlos, "Oke", Angela dan William membalas secara bersamaan.
"Kemana kita akan pergi?", tanya William setelah Carlos melajukan mobilnya ke jalan raya.
"Ke rumahku", jawabnya singkat.
"Rumahmu? Angela? Apa tidak mengantar Angela ke rumahnya lebih dulu", pertanyaan William membuatnya Carlos dan Angela saling pandang memalui kaca spion pengemudi,
"Ah aku tidak memberitahumu ya. Angela juga tinggal di rumahku sekarang", jelas Carlos, "Ya itu benar William", tambah Angela.
Hah tinggal berdua? Di rumah Carlos? Apa sebenarnya hubungan mereka? Sedekat itukah sampai harus tinggal berdua.
"Kamu jangan salah paham. Di rumahku tidak hanya kami berdua, masih ada pembantu-pembantu dan asisten rumah tangga lainnya yang tinggal di situ", Carlos seperti bisa membaca apa yang dipikirkan William sekarang.
"Ah syukur lah", batin William.
"Ada apa dengan wajahmu William? Seperti sedang gelisah", sesekali Carlos mencuri pandang ke arah William.
"Benarkah? Ah aku tidak apa-apa", memeriksa wajahnya.
"Kamu apa ingin ke rumahku atau aku antar kamu pulang ke apartementmu?", tanya Carlos
"Em ke rumahmu saja. Tidak masalahkan aku main ke rumahmu?", goda William. 'hanya ingin melihat seperti apa rupanya jika kalian tinggal bersama' batin William.
"Tentu saja tidak masalah, kalau begitu kita langsung ke rumahku saja", Carlos melajukan mobilnya dengan lebih laju dari tadi karena tadi konsentrasi Carlos terbagi antara berbicara dengan William dan menyetir mobil.
🌸🌸🌸
Lamborghini mewah terparkir dengan rapi di antara barisan mobil-mobil lainnya di lobi garasi dengan nuansa berwarna abu-abu cream itu, selain lamborghini masih banyak mobil-mobil mewah terparkirkan di dalam garasi yang luas, itu merupakan semua mobil koleksi milik Carlos hanya ada sesekali yang di gunakan bahkan ada yang hanya menjadi pelengkap koleksi tidak pernah di sentuh sama sekali.
Dan lamborghini hitam yang kini dia gunakan adalah yang paling dia sukai dan juga mobil pribadi kesukaannya.
Semenjak menjadi Direktur Carlos lebih sering meminta supir untuk mengantar jemputnya dari pada menyetir sendiri alasan hanya karena ingin menjaga image di depan karyawan. Kebiasaan hidup mewah menjadikan Carlos sebagai pria yang angkuh terhadap orang kecil terkadang bertindak kasar dan tidak berprikemanusiaan.
Sampai dia bertemu Angela wanita yang sangat sederhana mampu mengubah semua pemikiran tentang segala kemewahannya, kepribadian angkuhnya pun kini mulai berubah seiring waktu bersama Angela hampir semua tentangnya begitu lekat di hati Carlos.