The Man Is Mine

The Man Is Mine
Chapter 17



***Jangan dulu ucapkan cinta sebelum kamu benar-benar mencintainya apa adanya, seutuhnya bukan sebutuhnya.


🌸🌸🌸***


William dan Carlos kembali ke Rumah Sakit untuk mengantarkan segelas kopi yang tadi di pesan oleh Angela.


Berjalan beriringan tanpa bersuara hanya diam menatap lurus ke depan, kemudian berbelok mengikuti arah ruangan yang tengah di isi oleh Angela.


Kedua pria itu berhenti tepat di depan pintu yang bertuliskan "Ruangan Mawar 2", kemudian Carlos maju selangkah dan menggerakkan tangannya ke pintu kemudian mengetoknya dengan keras.


Sebenarnya bisa saja dia langsung masuk tanpa mengetok terlebih dahulu tapi dia takut Angela merasa terganggu karena sedang melakukan sesuatu.


Tok tok tok


Suara pintu yang di ketuk dari luar mengagetkan Angela yang tengah serius membaca majalah di tangannya. Hampir saja dia mengeluarkan suara khasnya karena terkejut, jantungnya mamacu begitu cepat.


Angela memiliki kebiasaan aneh yang jika sedang serius kemudian mendengar suara yang begitu tiba-tiba di sebuah keheningan maka dia akan mengeluarkan suara yang keras.


Tapi untung saja kali ini tidak terjadi, Angela keburu menutup mulutnya menggunakan tangannya sehingga tak menimbulkan suara keras.


"Huh, hampir saja aku berteriak karena terkejut", Angela mendengus sambil mengusap-usal dadanya, "Masuk!", ujar Angela


Kemudian dari balik pintu masuk dua orang pria yang salah satunya begitu di kenal Angela, ya Direktur tempat dia bekerja sekarang Carlos Starbuck dan William Starbuck dua bersaudara namun berbeda sikap.


Meski pun bersaudara Carlos tak pernah sekali pun terlihat akrab dengan adiknya, berbicara pun hanya seperlunya dan William sangat mengerti akan sikap kakak nya itu.


"Ah ternyata kalian", Angela menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan lewat mulutnya, "Iya kami, kamu kira siapa lagi. Apakah malaikat yang datang menjemputmu?", tanya William bercanda kemudian tertawa,


"Eh kok ngomong gitu sih", Angela menunjukkan wajah kesalnya, "Maaf-maaf aku hanya bercanda saja. Lihat wajahmu terlihat jelek jika cemberut seperti itu", sambil memperagakan wajah Angela yang tengah merajuk,


"Kamu...", Angela mendengus kesal melipat kedua tangannya di dadanya, "Sudah, sudah. Begitu saja kalian bertengkar seperti anak kecil saja", Carlos berjalan ke arah Angela kemudian menaruh segelas kopi pesanan Angela tadi,


"Nih pesenan kamu, di habisin. Nanti kalau dokter lihat kamu di marahin", ucapnya pada Angela, "Wah, terimakasih", Angela tersenyum sumringah begitu senang karena mendapatkan apa yang dia mau sejak tadi,


"Heh!", Carlos memutar bola matanya mendengar perkataan Angela, "Oh ya, aku akan kembali ke kantor. Setengah jam lagi ada rapat pemegang saham, karena kamu tidak bisa hadir maka aku akan memberikanmu kompensasi tapi hanya untuk kali ini lain kali tidak lagi", tanpaemdengar jawaban Angela, Carlos berjalan keluar seletah meletakkan gelas kopi di meja samping tempat tidur Angela,


"Baiklah, kamu hati-hati...", Carlos keburu keluar entah dia mendengar ucapan Angela atau tidak, "Dasar belum selesai bicara sudah main tinggal pergi", geutu Angela kesal,


Angela bangun dan meraih gelas yang berisikan kopi kesukannya itu di atas meja. Sambil menyeruput segelas kopinya Angela tidak sadar bahwa masih ada satu orang berdiri tengah memandanginya dari sofa tempatnya duduk.


"Eh,William", Angela menghentikam aktivitas minumnya setelah menyadari ada William yang sedang duduk dan memperhatikannya. "Ya?", jawab William mengernyitkan alisnya, Angela menaruh kembali gelas kopinya yang sudah dia minum setengahnya.


"Kamu tidak ikut dia?", tanya Angela membenarkan posisinya menjadi duduk dengan bersandarkan bantal, "Ah untuk apa aku ikut, bukannya dia akan rapat jika aku ikut aku bisa jadi apa di sana tidak mungkin aku menunggunya di luar selama beberapa jam kan?", William kemudian beridiri menuju jendela yang terbuka tirainya dengan kedua tangan di masukkan ke dalam kantonh celananya,


Mata Angela mengikuti langkah kaki William hanya melihat dari balik punggung William yang tengah berdiri menghadap jendela yang langsung berhadapan dengan pemandangan tengah kota yang ramai dan penuh dwngan gedung-gedung tinggi.