
"Tunggu di sini dan jangan kemana-mana. Aku akan segera kembali." Perintah Apel pada Rue saat telah berada dalam kamar dlsebuah penginapan kecil yang ditemukan mereka.
"Ehhh! Kau mau kemana Apel?" tanya Rue terkejut begitu mendengar perintah Apel.
"Aku mau menukar permata ini dengan Penna. Kita memerlukannya untuk bertahan hidup di luar hutan." Jawab Apel sambil mengeluarkan sekantong permata dari balik kantong tunik hitamnya. Penna adalah mata uang dunia ini.
"Penna? Aku tidak mengerti, Apel," balas Rue bingung, walau sesaat kemudian berubah menjadi terkejut karena dia mengenali batu permata di tangan Apel.. Ehh! Itukan batu yang kita temukan di dalam danau?"
"Benar." Jawab Apel singkat. Batu permata ditangannya adalah batu yang sering mereka temukan di dalam danau hutan terlarang. Rue sama sekali tidak mengetahui bahwa batu yang sering dipungutnya saat bermain di danau adalah batu permata yang sangat mahal harganya.
"Aku ikut, ya." pinta Rue sambil tersenyum. Dia masih ingin melihat kota Radiata ini, dan juga, dia sama sekali tidak ingin berada di dalam kamar yang asing ini sendirian.
"Tidak. Kau tidak akan ikut denganku, bodoh," tolak Apel tidak peduli dengan senyumbdi wajah Ruem Membalikkan badan, dia berjalan keluar dari kamar mereka dalam penginapan. "Tunggu aku disini."
Apel tidak menyukai pandangan yang diberikan setiap orang saat dia dan Rue berjalan di kota. Dengan mata yang ditutup kain, semua orang pasti akan mengira dirinya buta. Namun, saat mereka berjalan mencari penginapan, yang memandu jalan adalah dia, bukan Rue. Hal itu pasti terlihat sangat aneh di mata siapapun. Selain itu, alasan lain dia tidak ingin Rue ikut bersamanya di dalam kota ini adalah karena kecantikan gadis itu. Meski matanya ditutup, Apel bisa merasa jelas pandangan setiap orang tertuju pada Rue—terpesona akan kecantikannya.
Dirinya sangat egois, Apel tahu itu, Rue yang tidak pernah meninggalkan hutan terlarang selama ini pasti sangat tertarik melihat dunia luar. Tapi, dia tidak mengijinkannya, bahkan sesungguhnya kalau bisa, dia ingin menyembunyikan Rue dari siapapun seumur hidup mereka.
Rue yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya dapat menatap sosok Apel yang menghilang dari pandangan. Penuh kekesalan, dia memutuskan untuk tidur. Namun, dia sama sekali tidak bisa tidur. Seumurbhidupnya, ini adalah pertama kalinya dia memasuki kota. Dia sangat penasaran dan tertarik untuk melihat kota Radiata ini lebih banyak.
"Kalau aku bisa pulang sebelum Apel pulang, pasti tidak apa-apa" Ujarnya pada diri sendiri sambil tersenyum.
Dengan pikiran seperti itu, Rue bangkit dari tempat tidur dan bergegas keluar dari kamar. Dia berjalan keluar dari penginapan sambil tersenyum dan mulai menjelajahi Kota Radiata.
Mata hijau Rue berbinar-binar melihat sekelilingnya. Pemandangan kota benar-benar berbeda dengan hutan. Dia melihat banyak sekali benda-benda yang tidak pernah dilihat maupun dibayangkannya. Meski sudah menjelang malam, kota ini masih ramai.
Rue yang hanya menperhatikan sekeliling sama sekali tidak melihat ke depan, dan tanpa senggaja dia pun menabrak seseorang, "Aduh! Maafkan aku!" ujarnya meminta maaf sambil menundukkan kepala.
Saat mengangkat kembali kepala untuk melihat wajah orang yang ditabraknya, Rue menemukan tiga orang pemuda seusianya berdiri di depan.
"Aduh! Sakit sekali, sepetinya lenganku retak," ujar pemuda yang ditabrak Rue sambil meringis kesakitan. "Kau harus bertanggung jawab."
"Ehh! Tidak mungkin!" teriak Rue terkejut. Dia merasa dirinya tidak mungkin melukai pemuda itu, sebab dia sama sekali tidak menabraknya dengan kuat.
Ketiga pemuda tersebut tersenyum menyeringai melihat ekspresi wajah Rue. Mereka telah mengincar gadis itu sejak pertama kali melihatnya. Kecantikannya yang langka membuat mereka membayangkan betapa menyenangkannya saat mereka bermain nanti.
Salah satu dari pemuda tersebut menarik kasar lengan Rue. "Ayo, ikut kami."
Rue yang tidak tahu apa-apa bisa merasakan niat jahat dari ketiga pemuda di depannya itu. Ketakutan menyelimuti hatinya. Dia sama sekali tidak mau mengikuti mereka. "Lepaskan aku!" teriaknya keras.
Mendengar teriakan Rue, ketiga pemuda tersebut tertawa terbahak-bahak. Tidak ada perasaan takut sedikitpun di wajah mereka meski mereka kini berada di tengah kota dengan para penduduk yang berlalu-lalang.
"Tolong!" teriak Rue meminta pertolongan. Mata hijaunya yang panik menatap penduduk kota di sekelilingnya.
Para penduduk kota yang berada di sekeliling Rue segera membuang muka, berpura-pura tidak melihat apa yang terjadi. Mereka semua tidak mau mendapat masalah, sebab ketiga orang yang dihadapi Rue sekarang adalah preman yang paling ditakuti di kota ini.
Melihat tidak ada yang menolongnya, Rue semakin panik dan berusaha untuk melepaskan lengannya yang di tarik oleh salah satu preman. Namun, gengaman preman tersebut sangat kuat. Dia sama sekali tidak mampu untuk melawannya. Saat ketakutan dalam hatinya tidak tertahan lagi, dia menutup matanya dan berteriak keras. "Apel!!!"
Sebuah batu kecil tiba-tiba melesat cepat mengenai tangan preman yang menarik lengan Rue. Preman tersebut berteriak kesakitan dan melepaskan gengamannya.
Bersamaan, baik Rue maupun ketiga preman tersebut langsung menoleh menatap arah datangnya batu kecil tersebut.
Tidak jauh dari Rue dan ketiga preman tersebut, seorang pria tampan tersenyum kepada mereka. Usianya terlihat di awal dua puluhan, dan badannya tinggi tegap dengan rambut hitam serta mata biru.
"Bisakah kalian melepaskan gadis itu? sepertinya dia tidak ingin ikut dengan kalian." ujar pria tersebut dengan senyum yang tidak kunjung menghilang dari wajahnya.
"Kurang ajar!" teriak preman yang tangannya terlempar batu penuh kemarahan. Berlari mendekati pria itu, dia mengangakat tangan menyerang diikuti kedua temannya.
Pria tersebut tetap tersenyum melihat ketiga preman yang berlari menyerangnya. Tidak ada perasaan takut sedikitpun dalam hatinya meskipun lawannya lebih banyak.
Menggerakkan badannya, pria itu dengan mudah menghindari serangan ketiga preman. Salah satu preman yang merasa lawan mereka bukanlah orang biasa segera mengeluarkan sebuah pedang kecil dari pinggangnya untuk menyerangnya. Namun, dengan mudah, pria tersebut menendang tangan preman yang mengengam pedang dengan kaki kirinya.
Melambung tinggi pedang tersebut pun melayang ke atas. Tanpa memberikan kesempatan, pria tersebut memutar badan dan kembali menendang sang preman dengan kaki kanannya hingga terhempas jatuh ke belakang. Meloncat ke atas menangkap pedang kecil tersebut, dengan akurat, dia melemparnya tepat di samping wajah sang preman. Seketika wajah preman tersebut memucat karena ketakutan.
Saat pria tersebut mendarat, kedua preman yang tersisa kembali menyerangnya. Mereka yakin mereka masih dapat menang karena menang jumlah. Namun, sekali lagi, pria tersebut menghindar serangan. Lalu, dengan sigab, dia menangkap lengan salah satu preman tersebut dan menbantingnya ke tanah.
Preman satunya lagi berdiri mematung melihat apa yang terjadi. Wajahnya memucat karena ketakutan. Pria ini terlalu kuat, mereka sama sekali tidak mampu mengalahkannya.
"Pergilah dari sini dan jangan berani menganggu orang lagi." Ujar pria tersebut masih tetap dengan senyumbdi wajahnya. Namun tidak untuk mata birunya yang tajam penuh peringatan.
Preman tersebut segera berlari meninggalkan pria itu diikuti kedua temannya. Mereka tidak berani melawan lagi, pria itu terlalu kuat.
Melihat ketiga preman yang telah menghilang dari pandangan, pria tersebut berjalan ke arah Rue yang sejak tadi tidak bergerak sedikitpun, "Kau tidak apa-apa?" tanyanya pelan.
"Aku tidak apa-apa," jawab Rue cepat. Ketakutan telah menghilang di wajahnya digantikan seulas senyum."Terima kasih."
Melihat senyum Rue, pria tersebut ikut tersenyum "Syukurlah. Oh iya! Namaku Calix. Namamu?"
"Rue." Balas Rue cepat. Meski baru bertemu, tidak tahu mengapa dia merasa cukup nyaman dengan Calix, mungkin karena senyum, sifat bersahabat dan juga kenyataan pria itu baru saja menolongnya.
"Calix!!!!" teriak seseorang mengejutkan Rue dan Calix tiba-tiba.
Rue dan Calix segera menoleh menatap arah datangnya suara tersebut. Seorang wanita cantik seusia Calix dengan rambut merah sebahu dan mata biru berjalan ke arah mereka mendekati mereka. Berbeda dengam Calix yang penuh senyum, kemarahan terlihat jelas di wajahnya.
"Esthel!" panggil Calix begitu melihat wanita itu. Tidak ada perubahan sedikitpun di wajahnya meski Esthel terlihat penuh kemarahan.
Tiba di depan Calix, Esthel langsung mengangkat tangan kanannya untuk meninju wajah Calix. "Ku bilang, jangan mencari masalah di kota."
Rue sangat terkejut melihat apa yang dilakukan Esthel. Tidak bergerak, dia mematung tidak tahu harus berbuat apa.
Esthel yang bersiap untuk melancarkan tinjunya lagi segera berhenti begitu mendengar ucapan Calix. Mengarahkan pandangan matanya kepada Rue, seketika wajah Rue langsung memucat karena ketakutan.
Sadar akan ketakutan Rue, Esthel kemudian tertawa dan menurunkan tinjunya. "Maaf, aku sama sekali tidak bertujuan menakutimu."
"Siapapun yang melihatmu pasti akan ketakutan." Sela Calix yang ada disamping pelan.
"Apa katamu? Ulangi sekali lagi kalau berani!" balas Esthel, mata birunya berkilat menatap Calix tajam.
Calix diam membisu dan membuang mukanya. Dia tidak berani memancing emosi Esthel lagi, sebab dia tidak tahu apa yang akan dilakukan wanita bermbut merah itu jika kemarahannya benar-benar memuncak.
Esthel sama sekali tidak mempedulikan Calix, kembali menatap Rue, kedua tangannya terangkat memegang pundak gadis berambut emas itu. "Gadis secantik kamu lebih baik tidak berkeliaran di kota ini menjelang malam hari. Di mana rumahmu? Kami akan mengantarmu pulang."
Mata hijau Rue bertemu dengan mata biru Esthel, dan Rue bisa melihat tidak ada kemarahan di wajah itu melainkan hanyabada kekhawatiran. Ketakutan yang dirasakannya segera menghilang, wanita dia depannya bukanlah orang yang menakutkan.
Perlahan, seulas senyum menghiasi wajah Rue. "Terima kasih. Rumahku tidak berada di kota ini. Aku menginap di penginapan."
"Penginapan ya? Di mana penginapan tempat kamu menginap. Kami akan mengantarmu." Esthel ikut tersenyum begitu melihat senyum Rue.
Mendengar pertanyaan Esthel, Rue tiba-tiba sadar. Senyum di wajahnya menghilang dan wajahnya memucat. Ketakutan sekali lagi memenuhi dirinya, sebab,. da sama sekali tidak ingat nama penginapan dan juga arah menuju penginapannya. "A-aku tidak tahu...."
......................
Apel berjalan memasuki kamar sewanya dan Rue di dalam penginapan. Namun, dia sangat terkejut saat tidak menemukan Rue. Tanpa berpikir apa-apa lagi, dia berlari keluar dari kamar dan bertanya kepada pemilik penginapan, di mana Rue berada.
"Gadis itu keluar dari penginpan tidak lama setelah kamu keluar. Ku pikir dia pergi mencarimu." Jelas pemilik penginapan.
Mendengar jawaban pemilik penginapan, Apel melesat keluar dari penginapan untuk mencari Rue. Hari telah gelap dan dia sama sekali tidak tahu di mana gadis itu berada. Ketakutan luar biasa menyelimuti hatinya, Rue sama sekali tidak mengetahui apa-apa mengenai kehidupan di luar hutan, apapun bisa terjadi pada dirinya.
Sambil berlari, Apel membuka kain yang mengikat matanya. Dia tidak mempedulikan apapun lagi, dia tidak takut jika ada orang yang memperhatikan matanya. Yang ada di dalam pikirannya sekarang hanya satu, yaitu; menemukan Rue.
......................
Rue menatap bangunan besar dan megah dihadapannya tanpa gerak. Kedua matanya terbelalak dan mulutnya terbuka, ini adalah pertama kalinya dia melihat bangunan seindah ini. Dia tidak menemukan kata untuk menjelaskan apa yang dilihatnya sekarang. "Apakah ini rumah kalian Kak Calix, Kak Esthel?" tanyanya takjud.
"Bukan. Ini adalah rumah kenalanku." Jawab Calix sambil tersenyum.
"Ayo kita masuk, Rue." ajak Esthel sambil menarik tangan Rue dan membimbingnya memasuki mansion megah di depan mereka .
Rue yang mengikuti Calix dan Esther tidak bisa menyembunyikan perasaan terpesonanya saat melihat isi mansion tersebut. Dari taman dengan bunga yang bermekar indah, bangunan elegan dan artistik, hingga perabotan indah yang menghiasinya. Terkagum-kagum, mata hijaunya tidak berkedip menatap sekeliling.
Calix dan Esthel yang melihat reaksi Rue tidak dapat menyembunyikan senyum mereka. Bagaikan anak kecil, gadis cantik itu membuat mereka ingin memanjakan dan sekaligus melindunginya.
Seorang pelayan berlari mendekati Rue, Calix, dan Esther. Menundukkan punggung dengan sopan, dia menyambut mereka. "Selamat datang, Yang Mulia Putra Mahkota Calix, Putri Esthel. Tuan Linden telah menunggu anda berdua di ruang tamu."
Mendengar ucapan pelayan tersebut, Calix tersenyum. "Bagus, Ayo Rue! Akan aku kenalkan kamu pada temanku."
"Eh!" seru Rue bingung, dan belum emoat mengatakan sepatah katapun, dia sudah ditarik oleh Calix menuju ruang tamu diikuti Esthel yang menggeleng kepala dari belakang.
Calix yang sudah sangat familiar dengan mnsion ini tidak membutuhkan siapapun membimbingnya ke ruang tamu. Membuka pintu ruang tamu, dia berterik keras sambil tertawa. "Semuanya! Kemarilah! Ku perkenalkan pada kalian teman baruku!"
Mendengar teriakan Calix, tiga sosok yang tadinya duduk di kursi segera berdiri karena terkejut. Spontan, mereka langsung menatap arah pintu yang terbuka.
Saat Rue melihat ketiga orang teman Calix, mata hijaunya langsung terbelalak karena terkejut. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang, sebab dia mengenal dua orang dari tiga teman Calix, yakni; Fedrick dan Lara.
Fedrick sangat terkejut melihat Rue, begitu juga dengan Lara. Tidak bergerak, mereka berdua menatap gadis berambut emas yang mata sekarang mulai berkaca-kaca.
"L-lara? Fedrick?" Panggil Rue terbata-bata. Air mata yang ditahannya segera mengalir turun tidak tertahan. Perasaan gembira dan lega memenuhi hatinya melihat wajah orang yang dikenalnya.
"Kau kenal mereka, Rue?" tanya Calix kebingunggan melihat reaksi Rue, Fedrick dan juga Lara.
"Lara!!" Teriak Rue keras. Tidak peduli sekelilingnya, dia langsung berlari dengan wajah berurai air mata memeluk Lara.
Lara yang masih belum tersadar dari perasaan tekejutnya tidak bergerak dan membiarkan Rue yang menangis keras memeluknya erat. "Lara!! Aku rindu sekali denganmu!!"
Lara menatap Rue, dan menghela napas. Dia ingin bertanya bagaimana Rue bisa berada di sini bersama Calix dan Esthel, tapi melihat sikap dan air mata gadis itu, dia mengurungkan niatnya. Perlahan, gadis berambut hitam itu mengangkat tangan membalas pelukan yang ada dan berusaha menenangkannya. "Jangan menangis, bodoh."
Lara sama sekali tidak mengerti kenapa dia yang baru mengenal Rue beberapa hari yang lalu bisa bersikap seperti ini padanya. Dia benar-benar bukan tipe orang yang akan menghibur orang lain, tapi kepada Rue, dia tidal dapat menghentikan dirinya.
Rue mengangguk kepala dalam pelukan Lara. Berusaha menenangkan diri, dia yang tidak melepaskan pelukannya membuka mata dan menatap Fedrick yang ada di samping," Senang bertemu denganmu lagi, Fedrick." senyumnya manis.
Melihat senyum Rue, Fedrick segera tersadar dari perasaan tertegunnya. Seketika, wajahnya memerah "Eh?—ya! Senang bertemu denganmu lagi, Rue."
"Kalian saling kenal, ya?" tanya Calix menyela. Dia menatap Rue, Fedrick dan Lara bingung.
Fedrick mengangguk kepala menjawab pertanyaan Calix. Menatap Rue lagi, dia yang tidak menemukan sosok pemuda berambut hitam disampingnya bertanya, "Rue, kau sendirian?—di mana Apel?"
Mendengar pertanyaan Fedrick senyum di wajah Rue menghilang. Air mata yang tadinya berhasil dia kendalikan kembali mengalir turun."A-aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak tahu Apel berada di mana sekarang..."
Rue benar tidak tahu di mana Apel sekarang. Dia tahu, pemuda itu pasti sedang mencarinya sekarang. Perasaan takut memenuhi hatinya, tidak seharusnya dia melanggar perintah Apel—bagaimana kalau dia tidak akan bertemu lagi dengannya?
Keheningan memenuhi ruang tamu begitu mereka mendengar jawaban Rue. Namun, tiba-tiba suara keributan terdengar dari luar. Suara perajurit dari taman terdengar kuat. "Penyusup!!!"
Mendengar teriakan para penjaga, Calix langsusng berlari keluar dari ruang tamu tersebut diikuti yang lainnya.
.....................