Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 16



Para prajurit Arthorn berdiri di dalam lapangan Kota Radiata. Di hadapan mereka Calix, Apel, Linden dan beberapa orang penting dari kota Radiata berdiri dengan pakaian perang lengkap dengan senjata.


Apel mengenakan baju perang yang disiapkan Linden dengan mata tetap ditutup kain. Pakaian perangnya adalah baju besi yang sederhana berwarna perak dan di pinggangnya terselip sebilah pedang. Dia sebenarnya sama sekali tidak ingin mengenakan pakaian perang tersebut. Namun, Calix terus memaksanya mengenakan pakaian tersebut. Calix bahkan menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk menyakinkannya mengunakan baju perang tersebut.


"Para kastria Arthorn, aku, Calix Ethan Arthorn, mengucapkan terima kasih karena kesediaan kalian berperang bersamaku. Kita tidak akan mungkin membiarkan prajurit Ormund berbuat seenaknya di tanah kelahiran kita. Merebut dan menghancurkan apa yang kita miliki. Kita adalah bangsa dengan harga diri dan kehormatan tinggi. Kita tidak akan membiarkan mereka menghancurkan kita!!" teriak Calix dengan suara lantang sambil mencabut pedang yang diselipkan di pinggang.


Semua prajurit yang ada di sana mendengarkan setiap perkataan Calix, sang raja masa depan mereka dengan tenang.


"Penyihir agung Seraphin telah meramalkan ratusan tahun yang lalu, 'Pada suatu masa, kegelapan dan cahaya akan bertarung. Jika kegelapan menang maka kehancuranlah yang tersisa dan jika cahaya menang maka dunia akan damai sentosa'. Aku yakin yang dimaksud oleh ramalan itu adalah saat ini. Kita semua telah melihat kejamnya para prajurit Ormund, kita tidak bisa membiarkan mereka menang! Jika mereka menang kehancuranlah yang ada. Karena itu, pinjamkanlah kekuatan kalian semua. Kita semua bersama-sama menjadi cahaya dan mengalahkan mereka untuk melindungi milik kita yang berharga!" Mengangkat pedangnya ke atas, suara Calix terdengar oleh semua yang ada. "Untuk Arthorn yang jaya!!!"


"Untuk Arthorn yang jaya!" para prajurit Arthorn ikut berteriak sambil mengangkat senjata mereka. Semangat mereka sangat tinggi meskipun pertempuran yang ada tidak menguntungkan mereka.


Apel tidak mengatakan apapun. Seperti biasa, dia diam membisu mendengar apa yang dikatakan Calix, hanya saja, seulas senyum kecil terlukis di wajahnya, walau tidak ada seorangpun yang menyadarinya. Pidato Calix barusan, sungguh dia ingin tertawa saat mendengarnya.


Beberapa orang prajurit menuntun beberapa ekor kuda kepada Calix, Apel, Linden dan beberapa orang penting lainnya. Calix dengan lincah meloncat ke atas punggung kuda tersebut diikuti Linden dan yang lainnya. Namun, tidak untuk Apel, pemuda itu tetap berdiri di tempatnya.


Kuda yang dipersiapkan untuk Apel tiba-tiba meringkik dan berusaha melarikan diri saat berhadapan dengannya. Prajurit yang menuntun kuda tersebut berusaha menenangkannya. Namun, apapun yang dilakukannya sia-sia, kuda tersebut sama sekali tidak mau menuruti perintah.


"Apa yang terjadi?" tanya Calix pada prajurit tersebut dari atas kudanya.


"Saya tidak tahu, Yang mulia Pangeran, kuda ini tiba-tiba memberontak dan tidak mau menuruti perintah. Kelihatannya dia ketakutan akan sesuatu." Jawab prajurit tersebut kebingungan. Kuda ini adalah kuda yang jinak dan bersahabat, tidak pernah dia melihatnya seperti ini.


"Aku tidak perlu." Ujar Apel yang dari tadi diam membisu singkat. Tidak mempedulikan Calix, dia berjalan ke arah para prajurit di depannya yang telah bergerak keluar dari lapangan Kota Radiata.


"Apel!" panggil Calix ingin menghentikan Apel.


Apel membalikkan kepala ke belakang menatap Calix. "Aku bukan bawahanmu dan aku telah mengatakan dengan jelas aku bukan membantumu, aku hanya ingin secepatnya meninggalkan kota ini."


Calix tidak bisa mengatakan apapun begitu mendengar ucapan Apel. Dia tidak berusaha menghentikannya lagi. Karena dia tahu, itu akan sia-sia. Apel benar, mereka bukanlah atasan dan bawahan, bahkan temanpun bukan. Pemuda itu bersedia membantu sekarang sudah merupakan sesuatu yang patut disyukurinya.


Menghela napas, Calix kemudian menarik kekang kudanya. Dia juga harus segera bergerak keluar dari lapangan ini. Namun, kuda yang dinaikinya tidak mau bergerak. Kebingungan dia melihat kuda tersebut dan menemukannya—ketakutan. Bukan hanya kudanya, bahkan kuda yang dinaiki Linden dan yang lainnya juga berada dalam kondisi yang sama.


"Ada apa ini?" tanya Calix bingung pada prajurit yang menuntun kuda.


Prajurit itu tidak menjawab. Wajahnya pucat pasi sebab dia benar tidak tahu apa yang terjadi pada kuda-kuda tersebut.


Mengangkat tangan membelai lembut surai kudanya, Calix berusaha menangkan kuda yang ketakutan tersebut. Lalu, dia tersadar, semua kuda yang ketakutan tersebut tepaku menatap sesuatu. Mengikuti arah tatapan semua kuda yang ada, dia melihat—Apel.


Apel bergabung dengan para prajurit yang berjalan kaki keluar dari lapangan meninggalkan Calix. Dia bisa merasakan pandangan semua orang yang terarah padanya, dan sepertinya dia mengabaikannya.


Selama perjalanan mereka keluar dari kota Radiata, para prajurit di samping Apel menatapnya dengan penuh tanda tanya. Mereka telah melihat dia berdiri di samping Calix di lapangan tadi, dan kelihatannya, dia sama sekali bukan prajurit biasa. Namun, mengapa dia bergabung dengan mereka dan berjalan kaki keluar? Mengapa dia menutup matanya dengan kain? Apa dia buta?—tapi, meski penuh pertanyaan, tidak ada seorangpun yang berani bertanya.


Pasukan Arthorn berjalan keluar dari pintu Kota Radiata dan menuju arah Timur. Sekitar sepuluh kilometer di hadapan mereka, pasukan prajurit Ormund telah menunggu.


Jumlah pasukan kedua pihak cukup berbeda, pasukan Ormund terlihat jelas lebih banyak daripada pasukan Arthorn. Saat berhadapan, kedua pihak sama sekali tidak bergerak, mereka semua berdiri diam menunggu aba-aba dari pemimpin mereka.


Tiba-tiba dari pasukan Ormund, seseorang pria muda berusia sekitar dua puluh tahun yang duduk di atas kuda maju ke depan. Rambut coklat sepanjang pundaknya terbang tertiup angin, mata birunya menatap pasukan Arthorn dengan mata berbinar bahagia. Sekilas wajah pria itu mirip sekali dengan wanita. Namun pakaian perangnya cukup membuktikan dia adalah seorang pria.


"Aku adalah Reth, Komandan dari pasukan Ormumd," ujar pria itu sambil tersenyum "Kalau aku adalah kalian, aku tidak akan menyerang. Aku akan menyerah dengan segera karena aku tahu, tidak mungkin bisa menang dalam pertempuran ini."


Mendengar ucapan Reth, Calix tmaju ke depan. Kuda yang dinaikinya tidak ketakutan seperti tadi lagi dan mau menuruti perintahnya, "Menang atau kalah sama sekali belum bisa ditentukan. Menyerah sebelum mencoba adalah perbuatan bodoh." balasnya sambil tersenyum.


"Oh, anda adalah Yang Mulia Pangeran Calix, bukan? Anda setampan yang kudengar. Kalau saja anda bukan musuhku, hamba akan dengan senang hati menjadikan anda pacar." Tawa Reth sambil menatap Calix dengan kedua matanya yang berbinar penuh keterarikan.


Calix diam membisu mendengar ucapan Reth. Pertama kali juga dalam hidupnya, dia bertemu dengan orang yang berani berkata seperti itu kepadanya. Namun, tidak untuk Linden dan yang lainnya, kemarahan terlihat jelas di wajah mereka melihat sikap kurang ajar komandan musuh.


Berhenti tertawa, Reth tersenyum sedih. "Namun, sayang sekali. Kau akan mati disini." Mencabut pedang yang ada di pinggangnya, dia mengarahkannya pada Calix, "Serang!" perintahnya.


Mendengar perintah Reth, semua prajurit Ormund bergerak maju untuk menyerang pasukan Arthorn.


Calix juga tidak menyiakan waktu yang ada. Dia segera mencabut pedangnya dan berteriak. "Serang!"


Suara derap kuda dan langkah kaki memenuhi udara, dalam beberapa menit kemudian, kedua pasukan telah beradu. Suara dentingan senjata yang bertemu, mantra-mantra sihir yang dibacakan, bunyi panah yang dilepaskan dan juga teriakan-teriakan kesakitan serta—kematian.


Apel yang kini berada di tengah medan pertempuran tidak bergerak. Telinganya mendengar dengan jelas apa yang terjadi, dan hidung dapat mencium bau darah yang dibencinya. Mengapa dia bersedia berpartisipasi dalam perang ini?—seharusnya dia tidak ikut campur lagi.


Manusia itu makhluk yang egois. Demi melindungi apa yang penting bagi mereka, apapun akan mereka lakukan, begitu juga denganku.


Jawaban yang diberikan Calix padanya terlintas dalam pikiran Apel. Egois demi melindungi apa yang penting bagi mereka. Alasan kenapa dia mau berpartisipasi tidak lain adalah untuk mendapatkan jawaban akan apakah dirinya juga mirip dengan manusia yang egois seperti itu?—melakukan apapun untuk melindungi apa yang paling berharga baginya. Tapi, Apel tidak menemukan jawaban dari pertanyaannya. Mungkin karena pada dasarnya keadaan tidak sama, sebab sesuatu yang paling ingin dilindunginya adalah sesuatu yang tidak seharusnya dia miliki.


Apel kemudian merasakan beberapa orang mendekatinya. Dia bisa merasakan jelas aura dan nafsu membunuh dari mereka. Tanpa memberikan kesempatan pada mereka, dia bergerak menyerang mereka.


Para prajurit Ormund yang mendekati Apel sama sekali tidak menyangka pemuda itu akan menyerang mereka secara tiba-tiba. Mata Apel yang tertutup kain membuat mereka berpikir dia sama tidak dapat melihat. Mereka mengira Kerajaan Arthorn sangat kekurangan pasukan sehingga orang buta pun ikut dalam perang ini.


Apel dengan mudah mengalahkan prajurit-prajurit tersebut, namun, dia sama sekali tidak membunuh mereka. Dia tidak mencabut pedangnya, dia menyerang mereka semua dengan tangan kosong. Begitu melihat temannya dikalahkan, beberapa prajurit Ormund kembali maju menghadapi pemuda berambut hitam itu.


Di lain pihak, Calix bertarung melawan Reth. Calix menangkis serangan pedang Reth dan berusaha membalasnya. Mengunakan pedangnya melukai kaki kuda komandan Ormund, Calix berhasil membuat kuda tersebut kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke tanah.


Calix meloncat dari punggung kudanya. Dia tahu, dirinya tidak mungkin dapat menghindari sihir tersebut jika dia tetap berada di punggung kuda. Tapi, itu juga tidak berarti dia akan berdiam diri membiarkan Reth mengunakan sihir. Saat mendarat di atas tanah, dia mengangkat tangannya membuat Lingkaran sihir berwarna abu-abu dan membacakan mantra. Dari dalam lingkaran sihirnya, pedang bayangan melesat menyerang lawannya.


Reth menghindari serangan sihir Calix dengan meloncat ke samping. Namun, pedang bayangan tersebut mengikutinya. Kembali membuat sebuah lingkaran sihir berwarna coklat dan menbacakan mantra, tanah di depannya tiba-tiba melonjak naik menjadi sebuah dinding tanah menghentikan pedang bayangan.


Calix melihat Reth dengan mata penuh waspada. Lawannya bukanlah lawan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dia mengakui, Reth adalah musuh yang cukup kuat dan berbahaya.


Reth sekali lagi kembali membuat sebuah lingkaran sihir berwarna biru dihadapannya dna membacakan mantra sihir. Dari dalam lingkaran sihir tersebut, muncul air yang melesat dengan cepat bagaikan tombak kearah Calix.


Reth adalah seorang penyihir yang kuat, dia bisa melakukan sihir dalam waktu yang singkat. Namun, Calix juga merupakan seorang penyihir yang tidak kalah kuat. Dia segera membuat sebuah lingkaran sihir berwarna merah dn membacakan mantra sihir. Dari dalam lingkaran sihir tersebut, api melesat cepat menuju arah sihir Reth.


Duar!


Suara ledakan keras terdengar saat kedua sihir itu beradu. Berkonsentrasi penuh, mereka berdua berusaha untuk mengungguli sihir lawan. Calix sama sekali tidak memperhatikan sekelilingnya, karena itu, dia tidak bisa menghindari panah yang dilepaskan salah seorang prajurit Ormund tidak juah dari


Panah tersebut menancap tepat di pundak kanan Calix dan mengakibatkan dirinya kehilangan konsentrasi. Hasilnya, sihir Reth menang dan dengan cepat melesat kearah Calix serta menghempaskannya ke belakang.


Berusaha bangkit secapatnya, Calix tidak mempedulikan luka yang diterimanya. Namun, sedetik kemudian, pedang Reth telah berada di samping lehernya.


"Aku sebenarnya tidak begitu suka karena pertarungan kita terganggu. Tapi, bagaimana pun juga, hambaharus cepat menaklukkan kota Radiata, karena itu—" senyum Reth sambil mengangkat pedangnya. "Maaf."


Calix menutup matanya. Dia tahu, dia tidak mungkin bisa menghindari pedang Reth. Wajah Esthel yang sedang tertawa terlintas dipikirannya, apakah dia tidak bisa melihat tawa itu lagi?


Tiba-tiba, sebuah pedang melesat dengan cepat mengenai pedang Reth dan menghentikan aksinya. Terlepas dari gengaman tangan, pedang itu melayang jatuh kebelakang.


Calix dan Reth menoleh ke arah datangnya pedang tersebut bersamaan. Tidak jauh dari mereka, mereka melihat Apel berdiri tegak dengan matanya yang tertutup kain.


Tanpa menyiakan waktu yang ada, Apel bergerak menyerang Reth. Reth cukup terkejut dengan kecepatan gerak pemuda itu, dalam beberapa detik saja dia telah berada di sampingnya.


Apel tidak mengunakan senjata untuk menyerang Reth, dia menyerangnya dengan tangan kosong. Reth yang berusaha menghindari serangan Apel cukup terkejut. Pemuda ini bukan musuh yang bisa diremehkan, dan terlebih lagi, ada perasaan aneh saat dia melihatnya. Perasaan yang sangat menganggu karena instingnya memberitahu—bahaya.


Meloncat kebelakang dan membuat jarak yang cukup jauh, Reth menatap Apel penuh kewaspadaan. Apa yang ada di depannya itu? Mengatur napas dan mengendalikan dirinya, dia bertanya, "Kau—kau itu apa?"


Apel tidak menjawab pertanyaan Reth. Komandan Ormund tersebut sepertinya menyadari kejanggalan dari dirinya. Itu bukanlah sesuatu yang aneh, sebab Apel sendiri tahu jati diri sesungguhnya dari musuh.


Melihat Apel tidak menjawab, Reth yang terus merasakan bahaya segeran membuat lingkaran sihir berwarna merah dan membacakan mantra. Hanya saja kali ini, ukuran lingkaran sihirnya sangat luar biasa, di mana mencapai sekitar delapan meter.


Calix sangat terkejut melihat ukuran lingkaran sihir tersebut. Tidak pernah dia melihat ataupun mendengar adanya penyihir sekuat ini di kerajaan Ormund.


Dari dalam lingkaran sihir Reth, api melesat ke arah Apel. Besar dan memiliki kecepatan luar biasa, semua yang ada di sekitar mereka berhenti bertarung melihatnya.


Tidak ada perubahan sedikitpun di wajah Apel melihat sihir Reth. Mengangkat tangan, sebuah lingkaran sihir berukuran biasa berwarna biru keungguan muncul di hadapannya. Menbacakan mantra, dari dalam lingkaran sihir, air yang di kelilingi listrik melesat keluar. Sihir yang dilakukan Apel adalah sihir gabungan dari sihir air dan sihir petir.


Duar!


Kedua sihir bertemu menghasilkan suara ledakan memekakkan telinga. Tanah bergetar hebat dan angin berhembus kencang membawakah asap debu, baik prajurit Arthon maupun Ormund berusaha menjaga keseimbangan mereka.


Para prajurit Ormund tersenyum gembira, sedangkan kegelisahan memenuhi hati aprajurit Arthorn. Ukuran kedua sihir sama sekali tidak sebanding. Bagaimana mereka dapat melawan penyihir sekuat komandan Ormund?


"Ahhh!!" suara teriakan kesakitan seseorang tiba-tiba terdengar, dan semua yang ada sama sekali tidak dapat mempercayai apa yang terjadi, sebab pemilik suara itu bukanlah Apel, melainkan—Reth.


Saat asap debu ledakan telah menghilang, parajurit Arthorn maupun Ormund bisa melihat Reth yang terhempas jatuh ke belakang berteriak dengan luka bakar diseluruh tubuh, dan Apel yang berdiri tegap tanpa luka sedikitpun. Sihir Apel yang menang?—bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Jelas sekali tadi terlihat perbedaan sihir mereka berdua.


Reth yang berteriak kesakitan segera menggunakan sihir penyembuh untuk mengobati lukanya. Lukanya tidak sembuh sepenuhnya, tapi setidaknya nyawanya tidak berada dalam bahaya.


Calix yang tidak membuang kesempatan yang ada segera berlari mendekati Reth. Menghunuskan pedangnya pada komandan musuh, dia menatapnya tajam."Perintahkan pasukanmu mundur, sekarang juga!"


Mendengar ucapan Calix, Reth yang tidak dapat melawan lagi tertawa lemah dan berkata dengan pelan. "K-kau pikir aku akan memerintahkan pasukanku untuk mundur? Pasukan kalian sangat sedikit dibanding kami, dan meski aku kalah tidak berarti kami kalah."


Calix tahu apa yang dikatakan Reth benar. Apel memang berhasil mengalahkan Reth, komandan pasukan Ormund. Tapi, pasukan Arthorn jelas terdesak oleh pasukan Ormund.


Tertawa keras, Reth berteriak keras. "Prajurit Ormund, meskipun aku komandan kalian mati, kalian tidak boleh mundur! Kalian pasti akan menang!"


Mendengar teriakan Reth, semangat pasukan Ormund tidak menurun sedikitpun meski komandan mereka telah kalah. Mulai menyerang lagi, mereka semua percaya mereka akan menang.


Calix kebingungan melihat apa yang terjadi. Sejak awal, dia sadar dengan sepenuhnya bahwa perang ini sulit mereka menangkan karena jumlah mereka yang tidak seimbang, karena itu, dia mengincar Reth selaku komandan musuh. Jika komandan musuh dikalahkan, maka pasukan musuh pasti akan terpecah. Tapi, sepertinya dia telah salah predeksi. Jika keadaan ini terus berlanjut, Arthorn jelas akan kalah.


Tiba-tiba Calix merasakan tanah tempatnya berpijak bergetar. Suaranderap kuda dan langkah kaki terdengar dengan jelas. Menoleh menatap arah sumber suara dari arah barat medan perang, dia melihat sejumlah besar pasukan mendekat ke arah mereka.


Seulas senyum segera memenuhi wajah tampan Calix. Menoleh wajahnya kembali kepada Reth, dia tertawa. "Sepertinya kalian tidak akan menang."


Pasukan yang mendekat tersebut membawa bendera kerajaan Arthorn, dan dari arah datangnya pasukan tersebut, Calix tahu pasukan tersebut berasal dari Kota Cirrion. Esther dan yang lainnya berhasil meminta bala bantuan tepat pada waktunya.


......................