Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 41



Rue mengintip keluar dari belakang panggung. Matanya terbelalak begitu melihat lautan penonton yang memenuhi sekeliling panggung.


"A-apakah kau yakin akan menari dan bernyanyi di panggung itu, Rue?" tanya Mirthy pelan dengan wajah pucat.


"T-tentu saja, Mirthy." Jawab Rue terbata-bata. Ini adalah pertama kalinya dia melihat orang sebanyak ini, bohong jika dia tidak gugup


"B-baiklah, aku akan menonton dari tempat dudukku." Balas Mirthy pelan. Dia sangat kagum dengan keberanian Rue, dirinya tidak akan mungkin berani berdiri di atas panggung itu seorang diri dengan beribu-ribu pasang mata yang menatapnya.


"Terima kasih, Mirthy." Senyum Rue sambil memeluk Mirthy erat. Dia sungguh butuh penyemangat untuk berdiri dalam panggung, dan Mirthylah satu-satunya yang bisa memberiknnya sekarang.


Wajah Mirthy memerah. "I-iya, sama-sama Rue."


"Berikutnya adalah persembahan tarian dan nyanyian dari teman dekat Yang Mulia Putri Mirthy, Nona Rue." Suara sang pembawa acara terdengar bersamaan dengan dan suara tepuk tangan yang meriah.


"Itu giliranmu, Rue." Senyum Mirthy sambil melepaskan pelukan Rue.


Rue membalas senyum Mirthy. Menarik napas beberapa kali untuk menenangkan diri, dia kemudian membalikkan badan dan berjakan ke depan panggung.


Rue menggunakan pakaian berwarna putih yang dirancang khusus oleh para penjahit istana atas permintaan Mirthy. Pakaian itu sangat indah dan juga elegan. Rue tidak menggunakan perhiasan apapun, Mirthy memang bermaksud meminjamkan perhiasan-perhiasannya kepada Rue. Namun, dia menolaknya. Dia mengganti perhiasan-perhiaan yang seharusnya digunakannya dengan bunga dan bunga yang dipilihnya adalah bunga Rue—bunga kesukaan Apel yang memiliki nama sama dengannya.


Tidak ada seorangpun yang keberatan saat Rue mengganti perhiasan dengan bunga Rue. Mirthy dan juga para penjahit istana yang melihat Rue saat mencoba pakaian itu sama sekali tidak bisa mengatakan apapun. Mereka yakin sekali, siapapun yang melihatnya pasti akan mengira dia adalah seorang malaikat. Dia kelihatan luar biasa cantik dan polos seakan bukan berasal dari dunia ini.


Tepuk tangan ada berhenti seketika begitu Rue memasuki panggung. Semua orang yang melihatnya tidak bisa menyembunyikan ekspresi terpesona mereka saat melihat gadis cantik di atas panggung.


Perasaan gugup menghampiri Rue begitu dia melihat reaksi para penonton. Namun, dengan cepat dia menepis perasaan itu. Dia tidak boleh gagal, dia harus berhasil. Dia bernyanyi dan menari di sini demi Mirthy. Menarik napas, Rue mengangkat ujung bibir dan memasang senyum manis terbaiknya kepada para penonton.


Wajah para penonton memerah begitu melihat senyum manis Rue, tidak peduli itu laki-laki maupun perempuan, baik itu anak kecil, orang dewasa maupun orang tua.


Rue menolehkan kepala menatap para pemain alat musik yang ada di samping panggung dan menggangguk kepala. Para pemain alat musik itu mengerti apa maksud Rue, itu adalah aba-aba darinya untuk memainkan alat musik mereka. Tanpa membuang waktu lagi, mereka semua segera memainnkan alat musik mereka.


Mendengar suara musik yang mengalir di udara itu, Rue mengangkat tangannya dan mulai menari. Dengan langkahnya yang ringan, dia mulai menari dengan anggun dan indah.


Semua penonton yang ada menghela napas melihat tarian Rue. Tariannya yang begitu indah dengan mudah menarik perhatian semua orang yang ada. Dia pun mulai bernyanyi dengan suaranya yang jernih, indah dan lembut.


Wajahmulah satu-satunya yang ingin kulihat.


Apel terus berlari menerobos kerumunan lautan manusia di depannya, dia tidak mempedulikan protes orang-orang yang dilewatinya. Dengan indrabpendengarannya yang tajam, dia dapat mendengar dengan jelas suara yang sangat dikenalnya dari kejauhan. Suara yang jernih, indah dan lembut—suara Rue.


Suaramulah satu-satunya yang ingin kudengar.


Baumulah satu-satunya yang ingin kuhirup.


Sentuhanmulah satu-satunya yang ingin kurasakan.


Rue yang sedang bernyanyi dan menari tersenyum. Lagu ini adalah lagu yang dibuat dan dinyanyikannya untuk Mirthy. Namun, setiap kali dia menyanyikan lagu itu, wajah Apel pasti terbayang dengan jelas di dalam benaknya. Wajah pemuda yang menatapnya dengan lembut, suara yang selalu tenang, bau yang khas dan juga sentuhan yang hangat—Apel yang selama ini selalu ada untuknya.


Semakin dekat Apel dengan panggung, semakin jelas suara Rue terdengar. Dia tidak bisa menyembunyikan kelegaan dan kegembiraan yang kini memenuhi hatinya lagi saat mendengar suara itu. Jika Rue bisa bernyanyi dan menari di atas panggung itu, dia pasti baik-baik saja.


Aku merindukanmu.


Sungguh sangat merindukanmu.


Air mata Rue mengalir turun dari pipinya walau tidak ada seorangpun yang menyadarinya. Dia sangat merindukan Apel, semenjak mereka terpisah, tidak ada satu hari pun yang dilaluinya tanpa tidak memikirkannya. Tanpa Apel di sampingnya, dia selalu merasakan ada sesuatu yang kurang dan membuatnya merasa tidak utuh.


Terus berlari, Apel membuka kain putih yang menutup matanya, dia tidak mempedulikan pandangan orang-orang di sekeliling yang menatap mata mata merahnya dengan aneh. Dia terus berlari ke arah panggung itu.


Aku percaya janji kita.


Selamanya aku percaya padamu.


Rue tahu dan yakin sekali, Apel tidak akan pernah melanggar janjinya. Pemuda itu telah berjanji tidak akan kemana-mana padanya, karena itu, Apel pasti akan menemukannya.


Semua orang yang melihat tarian dan nyanyian Rue sama sekali tidak bisa memalingan mata darinya. Tarian dan suaranya begitu memesona. Namun, yang lebih mengagetkan, tiba-tiba saja, semua burung yang berada di sekitar lapangan terbang mendekatinya.


Terbang dengan rendah, burung-burung mengelilingi Rue seakan menemaninya menari. Tersenyum, Rue yang tidak terkejut meneruskan nyanyian dan tariannya.


Aku ingin melihat wajahmu.


Aku ingin mendengar suaramu.


Aku ingin menghirup baumu.


Aku ingin merasakan kehangatanmu.


Apel yang terus menerobos lautan manusia mengangkat wajahnya menatap panggung saat hampir mencapainya. Dia tahu, dia yakin, Rue pasti ada di sana.


Aku akan menunggu saat janji kita terpenuhi.


Aku percaya dengan janji kita.


Rue tersenyum dan menutup mata. Apel pasti akan menepati janjinya. Karena itu, dia akan menunggu dan menunggu,menunggu sampai mereka bertemu lagi.


Langkah kaki Apel terhenti. Melihat sosok yang sedang bernyanyi dan menari di atas panggung, dunia bagaikan berhenti baginya—Ruenya benar-benar ada di sana. Kebahagiaan dan kegembiraan tidak tertahan memenuhi hatinya. Dia ingin memanggil dan berlari memeluk gadis mungil tersebut.


Namun, melihat terus Rue yang begitu cantik dan bersinar di matanya, Apel seketika menyadari, betapa berbeda mereka berdua. Rue adalah penghuni dunia cahaya—cahaya paling menyilaukan di dunia ini sendiri, sedangkan dia—dia adalah keberadaan yang paling tabu di dunia.


Aku bernyanyi di hari paling indah ini.


Berdoa semoga sang Dewi mendengarkannya.


Membiarkan kita bertemu lagi.


Lagu yang dinyanyikannya sekarang, Rue tahu bukanlah doa untuk Mirthy seorang saja. Lagu ini juga merupakan doa untuk dirinya sendiri—doa dari sepenuh hatinya supaya bisa bertemu lagi dengan Apel.


Membalikkan badan dan membuka mata, Rue menghadap para penoton.


Karena kaulah ya—


Namun, nyanyian dan tarian Rue terhenti begitu dia melihat sosok seorang pemuda yang berdiri di dalam kerumunan orang tidak jauh di depannya. Pemuda berambut hitam dan bermata merah darah yang selalu dipikirkannya. Mengangkat kedua tangannya yang gemetar, Rue menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut sekaligus tidak percaya.


"Apel..." Panggil Rue pelan.


Semua penonton dan pemain alat musik merasakan keanehan begitu melihat Rue yang tiba-tiba berhenti bernyanyi dan menari. Kebingungan, mereka sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Musik yang mengalir di udara pun terhenti.


Rue tidak bergerak sedikitpun, kedua matanya terus menatap sosok Apel yang juga menatapnya. Mengikuti arah pandangan Rue, mata semua yang ada kemudian tertuju pada Apel.


Sedetik kemudian, Rue tiba-tiba berlari turun dari panggung. Menerobos kerumunan orang, dia berlari sekuat tenaganya ke arah Apel. Air mata mengalir menuruni pipinya, nyatakah ini?—atau dia sedang bermimpi?


Apel tetap tidak bergerak sedikitpun, dia hanya berdiri di tempatnya melihat berlari mendekatinya. Dia ingin menggerakkan kakinya dan berlari memeluknya. Namun, dia tidak bisa. Melihatnya, sekali lagi dia bertanya pada dirimya sendiri; bolehkah dirinya yang berlumuran darah dan terkutuk ini menyentuhnyanya yang begitu polos dan suci? Apakah dia pantas?


Kerumunan yang ada segera membuka jalan untuk Rue saat dia berada di depan mereka. Rue sendiri tidak mempedulikan apapun lagi, di matanya sekarang hanya ada Apel seorang. Karena itulah, dia tidak menyadari batu kecil yang ada di depan. Tersandung batu tersebut, dia terjatuh ke bawah.


Melihat Rue yang terjatuh, Apel sangat terkejut dan tanpa disadari, dia telah berlari ke arahnya sambil menerobos kerumunan yang juga segera membuka jalan untuknya.


Saat Rue yang terjatuh berusaha untuk bangkit, namun, sepasang tangan yang sangat dikenal tiba-tiba menyentuh kedua bahunya. "Kau tidak apa-apa, Rue?" tanya Apel khawatir.


Rue segera mengangkat kepala menatap sumber suara. Mata hijaunya bertemu dengan mata merah darah Apel yang berlutut di depan dan menatapnya penuh kekhawatiran. Dia bisa melihat wajahnya, dia bisa mendengar suaranya, dia bisa mencium baunya dan dia bisa merasakan sentuhannya.


Mengangkat kedua tangannya yang gemetar untuk menyentuh wajah Apel, air mata tidak berhenti mengalir turun dari mata Rue. Yang di depannya sekarang benar-benar Apel—dia telah menemukannya.


Melingkarkan kedua tangannya pada leher Apel, Rue segera memeluknya erat. Kebahagiaan memenuhi hatinya, "Apel, Apel, Apel, Apel..." Ada banyak yang ingin ditanyakan Rue. Namun, semua pertanyaan itu tidak teriucapkan olehnya. Satu-satunya yang mampu diucapkannya sekarang hanyalah nama Apel. Karena itulah, dia terus menyebutkan nama itu seakan itulah adalah satu-satunya kata yang dikenalnya di dunia ini. "Apel..."


Apel yang tiba-tiba dipeluk Rue sangat terkejut. Sama seperti sembilan tahun yang lalu, Rue tetap memeluk dirinya ini meskipun telah mengetahui dan melihat wujud sebenarnya yang menjijikkan dan terkutuk. Dalam mata hijau tersebut, dirinya tidak penah jijik ataupun kotor. Bagi Rue, dirinya hanyalah—Apel.


Perasaan bahagia memenuhi hati Apel, walau dia tidak tahu, apakah dirinya diperbolehkan merasakannya. Tapi, dalam pelukan Rue, dia bisa mendengar suaranya, mecium baunya yang khas serta merasakan satu-satunya kehangatan dal hidupnya. Perlahan, rasa ragu untuk menyentuh, kegelisahan dan ketakutan yang ada dalam hati pun menghilang tanpa bekas.


Mendorong Rue dengan pelan untuk melepakan pelukannya yang erat, Apel mengangkat kedua tangannya memegang wajah Rue. Menatap wajahnya, dia menghapus air matanya lembut.


Rue tersenyum bahagia merasakan kehangatan tangan Apel yang menghapus air matanya. Tersenyum, dia memberikan senyum terbaik yang dimilikinya.


Melihat senyum Rue, Apel tertawa. Menempelkan dahinya pada dahi Rue, dia menutup mata menikmati kebersamaan mereka. "Pilihlah salah satu—mau menangis atau tersenyum, bodoh."


Melihat tawa dan mendengar ucapan Apel, Rue tidak bisa membendung perasaan bahagia dan gembira di dalam hatinya lagi. Ikut tertawa, sekali lagi, dia kembali memeluk pemuda itu dengan erat.


Apel mengangkat tangannya membalas pelukan Rue dan tersenyum. Tersenyum dari dalam lubuk hatinya terdalam. Andai waktu bisa terhenti, maka dia akan sangat berharap saat-saat ini akan berhenti untuk selamanya. "Jangan menagis lagi. Jangan menagis lagi, Rue. Tersenyumlah, tertawalah—aku ada di sini dan tidak akan ke mana-mana lagi..."


Rue mengangguk kepala dalam pelukan yang ada. Kehangatan yang memenuhinya membuat dia merasa sangat aman, tenang dan damai. Tempat terdamai dan teraman baginya di dunia ini adalah dalam pelukan Apel.


Apel dan Rue yang bersuka cita akan pertemuan mereka sama sekali tidak mempedulikan orang-orang di sekeliling yang menatap mereka. Bagi mereka berdua, tidak ada yang lebih penting dari kebersamaan mereka ini.


Fedrick, Lara, Calix, Regis, Mire dan Vin yang berhasil menyusul Apel dengan susah payah setelah menerobos kerumunan manusia sangat terkejut melihat pemandangan di depan mereka, yakni, Apel dan Rue yang berpelukan erat sambil berlutut.


Fedrick, Lara dan Calix tersenyum melihat itu, walau Fedrick juga merasakan hatinya cukup sakit saat melihat adegan tersebut. Regis yang pertama kali melihat Rue, menatap wajah gadis itu dengan penasaran. Sedangkan untuk Mire dan Vin yang melihat Apel tersenyum sambil memeluk Rue hanya bisa tertegun—mereka tidak menyangka ternyata Apel bisa berwajah seperti itu.


......................