Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 39



"Mire! Vin, Van dan yang lainnya sudah kembali!" Teriak salah seorang perampok anggota Mire saat melihat kapal mereka telah kembali dari laut.


Mire dan Lara yang berada di dalam sebuah tenda di samping laut segera berlari keluar. Mereka berdua berdoa di dalam hati semoga Vin, Van dan yang lainnya telah berhasil menemukan Rue.


Semenjak Rue terpisah, mereka menghentikan perjalanan menuju Kerajaan Catax. Mereka semua berusaha mencarinya dengan mendirikan tenda di samping laut dan membagi semua anggota mereka menjadi dua kelompok. Kelompok Vin dan Van mencari Rue di atas laut dengan kapal, sedangkan kelompok Lara dan Mire mencari Rue di pesisir laut karena ada kemungkinan Rue telah terdampar di daratan. Namun, sampai sekarang, mereka sama sekali tidak menemukan sedikitpun petunjuk mengenai keberadaannya.


"Eh! Kapal siapa itu?" ujar Mire saat melihat kapal Silphi yang berlayar di samping kapal mereka.


"Itu kapal perang Silphi dari Kerajaan Arthorn." Balas Lara dengan wajah tanpa ekspresi.


"Eh? Apa??" teriak Mire terkejut.


Lara tidak mempedulikan Mire, melihat kapal Silphi, dia tahu Apel, Fedrick dan Calix pasti berada di dalamnya. Kapal perang Silphi bukanlah kapal yang dapat digunakan sembarangan orang, selain Ratu Arthon, hanya Calix, sang pangeran satu-satunya Kerajaan Arthon yang dapat menggunakannya. Lara memang tidak tahu bagaimana cara mereka bisa sampai di sini, mengingat tidak ada informasi yang bocor tentang dirinya dan Rue yang disekap perampok. Tapi, baginya sekarang, itu tidak penting, yang penting adalah; apakah mereka telah menemukan Rue?


Saat kapal mereka telah berlabuh, Apel, Fedrick, Calix dan Peta meloncat turun dari kapal. Mereka berjalan mendekati Lara dan Mire diiikuti Vin dan Kitsumene dari belakang mereka.


"Lara! Syukurlah kau tidak apa-apa." Fedrick tersenyum gembira begitu melihat Lara. Perasaan lega memenuhi hatinya saat melihat kondisi gadis itu yang mengalami luka sedikitpun.


"Benar! Susah sekali untuk mencari mu, Lara." Tambah Calix sambil bernapas lega.


"Cukup basa-basinya Fedrick dan kau juga, Bayangan," potong Lara tidak peduli. Matanya menatap lurus mereka yang berdiri di depan. "Aku rasa kalian sudah tahu apa yang terjadi."


Fedrick dan Calix terdiam begitu mendengar ucapan Lara.


"Apakah kalian menemukannya?" tanya Apel tiba-tiba.


Lara mengangkat kepala menatap Apel. Suara dan sikap pemuda itu memang terlihat sangat tenang. Namun, dia bisa melihat dengan jelas kemarahan dan juga kekhawatiran di dalam bola mata merah darahnya yang tidak tertutup kain putih lagi. "Tidak. Kami tidak berhasil menemukannya."


Mire, Vin dan Van tidak mengatakan apapun. Mereka hanya diam mendengar pembicaraan Apel dan yang lainnya.


"Mire, Vin dan Van, sepertinya kita harus berbicara." Ujar Peta tiba-tiba dari belakang ketiga perampok tersebut.


"Apa yang perlu kita bicarakan, Ketua?" tanya Vin dengan wajah tersenyum.


"Benar, tidak ada yang perlu kita bicarakan, Ketua," Tambah Van cepat dan menoleh menatap Mire. "Benarkan, Mire?"


Mire tidak menjawab pertanyaan Van, atau lebih tepatnya dia tidak mendengar pertanyaan itu. Dia terlalu sibuk menatap ketiga laki-laki di depannya sekarang. Wajah tampan Apel, Fedrick dan Calix benar-benar membuatnya yang memang menyukai cowok tampan terpesona. Dia menatap wajah Calix dan Fedrick tanpa berkedip. Saat dia mendengar nama Fedrick dan Calix dari mulut Lara, dia tahu sekali siapa mereka berdua. Mereka pasti merupakan Pangeran dari Crussader dan Arthorn. Tapi, saat dia menatap wajah Apel, dia menahan napasnya. Pemuda dengan mata berwarna merah darah yang tidak lazim ini benar-benar tampan.


"Sepertinya dia tidak mendengar pertanyaanmu, Van." Tawa Van melihat reaksi Mire.


"Kau benar sekali, Vin." Senyum Vin.


"Ini bukan saatnya kalian tertawa seperti ini..." Ujar Peta dengan wajah putus asa. Dia benar-benar tidak mengerti ketiga temannya ini. Mereka masih saja bisa bersikap seperti tidak terjadi apa-apa dalam keadaan yang begini membahayakan hidup mereka. Apakah mereka tidak sadar akan kejahatan mereka yang menyandera Putri dari Kerajaan Catax telah terbongkar?


Mire, Vin dan Van tidak mempedulikan apa yang diucapkan Peta. Namun, Apel tiba-tiba Apel menolehkan kepala menatap mereka bertiga. Tawa Vin dan Vanme langsung terhenti seketika, sedangkan Mire yang dari tadi menatap wajah Apel segera tersenyum sebaik mungkin. Dia sangat senang karena pemuda tersebut akhirnya menyadari keberadaan dirinya.


Apel tidak mengatakan apapun, namun, mata merah darahnya yang menatap tajam Mire, Vin dan Van seketika membuat mereka merasa takut. Pemuda tersebut terlihat normal namun sekaligus tidak. Insting mereka menyampaikan bahwa pemuda itu adalah orang yang sangat berbahaya.


"Siapa pemuda itu?" tanya Mire pada Vin dengan suara pelan saat pandangan mata Apel tidak lagi tertuju pada mereka.


"Eh?" Mire terkejut mendengar jawaban Vin. Itukah Apel?—pemuda yang tidak kunjung berhenti disebutkan Rue sepanjang perjalanan?


......................


Setelah mengetahui apa yang terjadi kepada Rue. Apel, Fedrick, Calix dan juga Peta memutuskan untuk bergabung dengan para perampok yang mencari Rue. Ikut mendirikan tenda di samping tenda para perampok, mereka juga melakukan pencarian di laut maupun pesisir laut. Namun, mereka tetap tidak menemukan Rue maupun petunjuk keberadaannya. Mereka telah melakukan pencarian sehari penuh, jika ditambah dengan pencarian Lara dan para perampok sebelumnya, maka pencarian telah berlangsung selama empat hari.


"Mungkin Rue telah diselamatkan oleh orang lain." Ujar Calix memberikan pendapat.


Mereka semua berkumpul di dalam sebuah tenda untuk membahas dan menyusun langkah yang akan diambil. Matahari telah terbenam dan pencarian mereka akan segera memasuki hari kelima.


"Kami telah mencari di semua desa yang ada di pesisir laut. Namun, sama sekali tidak ada petunjuk tentangnya." Jawab Mire cepat.


"Bagaimana dengan kapal-kapal lain yang tengah berlayarkan?" tanya Peta.


"Nihil," jawab Vin sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kami tidak menerima informasi mengenai penyelamatan seorang gadis di tengah laut. "


"Apakah kalian yakin?" tanya Fedrick ragu.


"Kami yakin. Informasi kami tidak pernah salah." Ujar Van penuh keyakinan. Meski mereka adalah perampok, mereka memiliki jaringan informasi tersendiri yang sangat terpecaya.


"Kalau begitu di mana sebenarnya Rue sekarang?" gumam Calix bingung sambil menghela napas.


Apel, Lara dan Regis tidak mengatakan apapun, Mereka hanya diam mendengar pembicaraan mereka. Tiba-tiba, Apel merasakan seseorang menyentuhnya.


"Kau baik-baik saja, Kak Apel?" tanya Regis pelan. Regis sesungguhnya sangat menghawatirkan Apel sekarang, pemuda itu tidak seperti dirinya yang biasa semenjak mengetahui Rue menghilang.


"Aku baik-baik saja, Regis." Jawab Apel sambil menepuk kepala Regis.


Regis tahu, Apel berbohong. Semua orang yang melihat Apel sekarang pasti tahu, dia sama sekali tidak baik-baik saja. Meski wajahnya tetap tanpa ekspresi sepanjang hari, dia tetap saja tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang ada.


"Kurasa kita harus menyusun langkah pencarian kita selanjutnya dengan cara lain," apa yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil, karena itu Calix tahu, mereka harus mengubah cara pencarian mereka. "Kita tidak bisa seperti ini terus."


Semua yang mendengar ucapan Calix mengangguk setuju.


Apel tidak mempedulikan apa yang dikatakan Calix. Dia tidak berniat mendengar mereka membahas bagaimana metode pencarian. Daripada berdiam diri sekarang, mungkin akan lebih baik dia mencarinya dengan caranya tersendiri. Membalikkan badannya, Apel kemudian berjalan keluar dari tenda. Dia tidak mempedulikan Calix yang memanggilnya sedikitpun.


Mire yang melihat Apel berjalan keluar menghela napas penub kekaguman, "Aku mengerti sekarang, kenapa Rue ingin sekali cepat-cepat bertemu dengan Apel." Ujarnya pelan.


"Menurutmu kenapa?" tanya Van kebingungan.


"Karena Apel sangat tampan!" puji Mire penuh semangat menjawab pertanyaan Van. "Rue pasti takut dia akan direbut wanita lain jika dia tidak ada disampingnya!"


Semua yang mendengar jawaban Mire terdiam. Fedrick, Calix dan Peta mengakui, Apel itu sebenarnya memang sangat tampan, tapi ketampanannya selama ini tersembunyi karena dia selalu menutup matanya dengan kain putih. Hanya saja, mereka ragu, apakah Mire masih akan berkata dan menatap Apel penuh pujaan jika melihat kegilaannya saat melawan naga di Perguruan Sihir Erfin dan juga terutama—para perampok di gunung Bold?


......................