Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 12



Apel berdiri menyandarkan badan pada tembok rumah penduduk di tengah kota Radiata. Meski matanya tertutup kain, dia bisa merasakan jelas apa yang terjadi di depannya itu sekaan di bisa melihat melalui indra pendengaran, penciuman dan juga kemampuan membaca aura.


Kota Radiata memang berhasil memukul mundur pasukan kerajaan Ormund yang menyerang kota. Namun, itu tidak berarti mereka bisa menghindari korban jiwa. Suara tangisan terdengar di mana-mana, tanggisan bagi mereka yang kehilangan orang tua, anak, kekasih maupun teman. Untungnya, keadaan kacau cukup terkendalikan berkat Calix dan Linden yang berusaha semampu mereka meberikan perintah apa yang harus dilakukan serta menolong mereka yang terluka.


Apel tidak menyukai suasana di sekelilingnya. Tanggisan-tanggisan kehilangan dan bau darah yang ada di sekeliling mau tidak mau mengingatkan dirinya pada masa lalu yang ingin dilupakan—masa lalunya yang gelap, kelam dan; brutal.


Satu-satunya yang disyukuri Apel sekarang adalah Rue tidak berada di sini. Dia tidak ingin memperlihat pemandangan di depannya kepada gadis itu. Rue terlalu rapuh untuk melihat pemandangan yang berada di depannya sekarang ini.


"Rupanya kau di sini, Apel." Suara seseorang tiba-tiba terdengar, dan tanpa melihat, Apel tahu siapa yang itu—Calix.


Apel tidak menjawab, dia bahkan tidak memberikan reaksi sedikitpun seakan tidak mendengarnya.


Calix tersenyum melihat Apel, dia tahu, pemuda itu mendengarnya, tapi bertingkah seakan tidak. Apel adalah orang teraneh yang pernah dia temui. Meski tahu dirinya adalah raja masa depan kerajaan Arthorn, Apel tetap terlihat tidak peduli. Tidak seperti Rue yang polos dan tidak tahu apa-apa seperti anak kecil, Apel adalah pribadi yang tidak dapat ditebak dan juga—berbahaya.


Tapi, meski begitu, Calix sangat berterima kasih dengan apa yang telah dilakukan Apel. Pemuda itu telah menolong mereka mempertahankan kota ini walau dia bukan berasal dari kota ini, dan terlebih lagi, Apel telah menyelamatkan dirinya.


"Kurasa kau perlu makan. Kau belum makan apapun sejak semalam, kan? Linden telah menyiapkan makanan di rumahnya. Ayo kita ke sana bersama-sama." Ajak Calix tersenyum.


Apel tetap diam membisu tidak menjawab pertanyaan Calix. Sebenarnya, dia ingin menolak. Namun, Calix benar, dia sama sekali tidak memakan apapun sejak kemarin. Berdiri tegak, tanpa menoleh pada Calix, dia berjalan melewatinya.


Calix yang tertegun bercampur bingung segera membalikkan badan. Namun, melihat arah yang dituju Apel adalah menuju mansion walikota Radiata, dia tidak bisa menyembunyikan tawanya. Seumur hidupnya, ini benar-benar pertama kalinya dia diabaikan sepenuhnya. Berlari mengejar Apel, Calix tidak dapat menghentikan tawanya. "Tunggu aku, Apel."


Calix tidak mempermasalahkan Apel yang tidak membalasnya, dan dia juga sudah terbiasa dengan sifat serta sikap itu. Berjalan disamping sambil menatap wajah pemuda tersebut, kain putih yang menutupi mata Apel merebut perhatiannya. Sejujurnya, dia bisa merasa pemuda itu menutup mata karena warna matanya yang tidak normal. Tapi, kenapa?


"Mengapa kau menutup matamu, Apel?" tanya Calix penasaran. Dia tahu pemuda itu tidak akan menjawab, tapi dia ingin mencoba keberuntungannya.


Tidak ada jawaban.


"Hey, Apel," panggil Calix. Dia bertanya lagi dengan topik pembicaraan lain. "Kenapa kau tidak menggunakan sihir saat melawan prajurit Ormund semalam?"


Calix mengingat kembali kejadian semalam, Apel tidak menggunakan sihirnya saat melawan prajurit Ormund, kecuali saat dia menolongnya dari penyihir yang menyerangnya. Apel merupakan seorang petarung yang luar biasa kuat walau tanpa sihir. Namun, dia juga tahu, bakat dan kekuatan sihir yang dimilikinya jauh lebih luar biasa. Saat mereka bertarung pada pertemuan pertama, Apel hampir menyerangnya dengan sihir. Sihir yang saat itu digunakan oleh pemuda itu merupakan sihir yang tidak pernah dilihatnya, dan Calix tahu, sihir saat itu adalah sihir yang kuat dan berbahaya.


Apel merupakan orang yang sangat aneh bagi Calix. Pemuda itu tidak terlihat seperti orang yang bersahabat dan baik hati. Namun, dia tahu, Apel tidak membunuh para prajurit Ormund yang menyerangnya. Pemuda itu hanya memukul para prajurit itu hingga pingsan saat pertempuran.


Menatap terus Apel yang masih tidak mempedulikannya, Calix tidak bertanya lagi, sepertinya pemuda itu tidak akan menjawab pertanyaannya tidak peduli apa yang dilakukannya.


Saat mereka berdua mencapai mansion walikota Radiata para prajurit penjaga mempersilakan mereka masuk. Seorang pelayan mengantarkan mereka ke ruang makan. Makanan telah tersajikan di atas meja, dan baik Apel maupun Calix menyantap makanan yang tersedia dalam keheningan.


Selesai makan, Apel berjalan keluar meninggalkan mansion tersebut tidak peduli dengan apapun, sedangkan Calix, dia mengikuti rapat yang diadakan dalam mansion.


Berjalan menghindari pusat kota atau lebih tepatnya menghindari keramaian, Apel merasa muak. Dia tidak ingin mencium bau darah ataupun mendengar tanggisan dari penduduk kota Radiata. Dia kemudian menemukan sebuah taman yang terletak di pinggir kota. Taman tersebut sangat sepi dan sunyi. Mengingat apa yang baru saja terjadi di kota ini, tidak mungkin akan ada orang yang datang kemari kecuali dirinyam


Taman tersebut cukup besar dan terdapat banyak sekali pohon oak yang tumbuh dengan baik di dalamnya. Apel memanjat salah satu pohon itu dan duduk di atas dahannya. Melepaskan kain yang mengikat matanya, mata merahnya menatap ke arah timur di mana kota Cirrion berada.


Bagaimana keadaan Rue sekarang? Apa yang sedang dilakukannya sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus saja berputar dalam pikirannya. Sejak mereka bertemu, Apel tidak pernah terpisah dengan Rue seperti ini. Rue selalu berada di sampingnya, tertawa dan tersenyum kepadanya.


Apel menghela napas putus asa. Mereka baru saja terpisah sebentar dan dia telah sangat merindukannya. Menutup mata, dia hanya dapat memanggil namanya pelan. "Rue..."


......................


Rue memalingkan wajahnya menghadap belakang. Berhenti bergerak, mata hijaunya menatap lurus ke belakang seakan sedang memastikan sesuatu.


"Ada apa, Rue?" tanya Esthel yang berjalan di samping Rue."


"Tidak apa-apa," jawab Rue. Kedua mata hijaunya masih terpaku ke belakang. "Aku hanya merasa sepertinya ada yang memanggilku."


"Itu cuma perasaanmu saja, bodoh." Balas Lara sambil mengigit apel yang ada di tangannya.


Lara tidak mempedulikan Rue. Terus berjalan, dia mengunyah apel di dalam mulutnya. Mereka telah berjalan cukup lama dan melewati gunung Bold. Perjalanan mereka sangat lancar, dan jika ada yang aneh dari perjalanan mereka, maka itu tidak lain adalah binatang-binatang yang mengikuti Rue.


Lara, Esthel dan juga Fedrick yang memiliki sihir pengendali binatang tidak akan pernah mempercayai apa yang terjadi jika tidak melihat dengan mata kepala mereka sendiri. Binatang-binatang liar yang mengikuti Rue tidak hanya mengajak gadis itu bermain, saat menyadari dia kelaparan, mereka berlomba-lomba membawakan makanan berupa buah-buahan dalam gunung, dan melihat Rue yang tertawa gembira menerimanya, sepertinya ini bukanlah pertama kalinya. Bahkan, saat mereka berhasil keluar dari gunung Bold, para binatang itu menarik gadis itu dan terlihat jelas tidak ingin dia meninggalkan gunung. Kebingungan sempat terjadi, tapi setelah Rue dengan lembut dan penuh senyum mengucapkan terima kasih serta selama tinggal pada para binatang tersebut, mereka tidak lagi mengikuti.


Baik Fedrick, Lara maupun Esthel sadar, apa yang terjadi bukanlah sihir. Para binatang itu tidak bergerak karena pengaruh sihir, melainkan kemauan mereka sendiri. Hanya saja, mereka tidak mengerti, bagaimana ini bisa terjadi—Rue benar penuh dengan teka-teki.


"Ahh," gumam Rue sambil tersenyum menatap sekeliling yang penuh dengan pohon. "Tempat ini mengingatkan aku pada hutan tempat tinggalku dan Apel."


Fedrick hanya tersenyum mendengar ucapan Rue. Namun, tidak untuk Lara. Gadis berambut hitam itu membalasnya dengan ketus. "Tempat ini berbeda dengan hutan terlarang tempat tinggal kalian, bodoh ."


"Hutan terlarang? Kau tinggal di hutan terlarang?" tanya Esthel terkejut. Dia menatap tidak percaya pada Rue.


"Kak Estel, kau salah paham," ujar Rue cepat penuh kepanikan, "Hutan itu sama sekali tidak berbahaya seperti yang kalian dengar. Hutan itu sama sekali tidak terdapat jebakan sihir kuno dan makhluk sih..." penjelasan Rue terhenti dengan sendirinya saat dia teringat akan laba-laba raksasa yang mereka hadapi saat ingin keluar dari hutan tersebut.


"Hutan itu berbahaya," sela Lara lagi. Dia menoleh menatap Rue dengan wajahnya yang datar. "Walau aku tidak mengerti bagaimana kalian bisa hidup di sana selama ini tanpa menghadapi makhluk seperti itu."


Rue berpikir kembali. Apa yang dikatakan Lara memang benar, hanya saja, bertahun-tahun hidup dalam hutan tersebut, dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan makhluk sihir sebelumnya. Tapi, dipikir-pikir lagi, dia jarang menjelajahi hutan tersebut. Apel tidak pernah mengijinkannya berjalan jauh dari gua mereka tinggal, dan selama mereka hidup di hutan, pemuda itulah yang mencarikan makanan.


Kebingungan muncul dalam hati Rue, dia ingat jelas, saat Apel berhadapan dengan laba-laba raksasa, pemuda itu sama sekali tidak takut ataupun terkejut, seakan-akan itu bukan pertama kalinya dia berhadapan dengan makhluk seperti itu.


Menghela napas, Rue merasa kepalanya sangat sakit. Dia sama sekali tidak menemukan jawaban dari kebingungan yang ada dalam pikirannya. Tidak mau berpikir lagi, dia memutuskan untuk bertanya pada Apel saja saat mereka bertemu nanti.


"Aku hanya bersyukur," suara Fedrick kemudian terdengar dan membuat Rue menoleh menatapnya. "Hutan tempat kita berada sekarang ini tidak berbahaya seperti hutan terlarang. Semoga kita segera mencapai kota Cirrion, dan juga, semoga Apel cepat menyusul kita. Benarkan, Rue?" tanyannya sambil tersenyum.


Fedrick mengubah topik pembicaraan karena dia bisa melihat kebingungan di wajah Rue Tidak tahu mengapa, dia tidak ingin gadis itu berekspresi seperti itu—dia lebih menyukai wajah cantik itu selalu tersenyum bebas seperti biasanya.


Senyum lebar menghiasi wajah cantik Rue mendengar pertanyaan Fedrick. Dia mengangguk kepala cepat. Fedrick benar, dia ingin segera mencapai Kota Cirrion, sebab dia merasa semakin cepat dia mencapai Kota Cirrons semakin cepat pula dia akan bertemu dengan Apel.


Penuh semangat, Rue berlari maju ke depan. Tertawa, dia membalikkan badannya menghadap Fedrick, Lara dan Esthel. Kedua mata hijaunya berbinar gembira. "Kita harus ce—Ahhh!!" tawa Rue berubah menjadi terikan. Dari dalam tanah tempat dia berdiri, sebuah jaring besar tiba-tiba muncul menangkap dan mengantungnya di atas pohon.


Fedrick, Lara serta Esthel sangat terkejut melihat apa yang terjadi. Belum sempat mereka melakukan sesuatu, dari balik pohon sekeliling mereka sekitar dua belas pria melangkah keluar. Mereka semua tersenyum menyeringai dengan mata yang penuh niat jahat. Pakaian mereka kotor dan berantakan dengan sebilah pedang terselip di pinggang.


"Siapa kalian?" tanya Fedrick waspada.


"Kau ingin tahu kami siapa?" tawa salah satu dari mereka. "Kami adalah perampok."


Fedrick, Lara dan Esthel sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan mereka. Daerah sekitar gunung Bold bukanlah tempat yang rawan dengan perampok. Mengapa ada perampok di sini?—dan juga, kenapa harus pada saat mereka harus mencapai kota Cirrion secepatnya?


"Sepertinya harga kalian akan sangat tinggi di pasar budak," ujar perampok itu lagi sambil menatap Fedrick, Lara dan Esthel. Wajah mereka yang rupawan bukanlah sesuatu yang bisa mereka temukan setiap hari. Tertawa, dia memerintah para perampok lainnyam "Tangkap mereka!"


Sepuluh orang dari perampok tersebut berjalan mendekati Fedrick, Lara dan Esthel. Tanpa membuang waktu, Fedrick dan Lara membuat limgkaran sihir dan membaca mantra sihir. Jarum es meleset dari dalam lingkaran sihir dan menyerang para perampok.


Para perampok itu sangat terkejut dengan sihir Fedrick dan Lara. Namun, mereka semua berhasil menghindari serangan tersebut dengan meloncat ke samping.


"Mereka bisa sihir," ujar salah satu dari mereka."Hati-hati!!"


Mencabut pedang di pinggang mereka, para perampok mengelilingi Fedrick, Lara dan Esthel penuh kewaspadaan. Salah satu perampok itu kemudian maju menyerang mereka diikuti yang lainnya. Fedrick, Lara dan Esthel menghindari serangan dan berusaha membalas serangan yang terarah pada mereka. Namun, melawan perampok yang menggunakan pedang dengan tangan kosong tidaklah mudah. Jumlah mereka tidak seimbang, dan juga mereka bertiga tidak bisa menggunakan sihir karena para perampok tersebut sama sekali tidak memberikan mereka kesempatan untuk membuat lingkaran sihir dan membacakan mantra.


Saat Fedrick, Lara dan Esthel menghadapi keenam perampok tersebut, dua perampok yang tersisa menurunkan Rue dari atas pohon. Mereka sangat terkejut saat melihat gadis berambut emas itu, meski ketakutan, kecantikan di wajahnya tidakbberkutang sedikitpun. Senyum lebar memenuhi wajah mereka berdua, ketua mereka pasti akan sangat gembira dengan hasil tangkapan mereka kali ini.


Rue yang ketakutan tidak berdaya melawan kedua perampok tersebut. Salah satu perampok kemudian memukul leher belakangnya dengan tangan. Seketika pandangannya menjadi gelap, wajah Apel terlintas dalam pikiran sebelum dia kehilangan kesadaran.


......................