
Saat mencapai lapangan desa, Fedrick, Calix dan Peta melihat anak kecil berambut pirang itu diikat pada sebatang kayu. Ranting-ranting kering ditumpuk di sekeliling kakinya. Berdiam diri tanpa melawan, anak kecil itu tidak berteriak meminta tolong ataupun memohon penduduk desa ini untuk menghentikan niat mereka membakarnya hidup-hidup. Namun, mata hijaunya menatap sekelilingnya penuh ketakutan.
"Hentikan!!" teriak Calix keras saat melihat salah seorang penduduk desa ingin menyalakan api pada ranting kering di bawah kaki anak tersebut.
Para penduduk desa menolehkan wajahnya menatap sumber suara tersebut.
"Hentikan!" ulang Calix lagi. Matanya menatap penuh kemarahan para penduduk Desa Sangrath. "Mengapa kalian ingin membakar hidup-hidup anak itu?"
"Kalian yang merupakan orang luar, jangan ikut campur dengan urusan desa ini!" balas salah seorang penduduk desa itu penuh kemarahan. Tidak ada ketakutan di wajahnya meskipun yang akan mereka lakukan adalah sebuah kejahatan.
"Apa salah anak itu sehingga kalian mau membakarnya hidup-hidup?" tanya Fedrick sambil menatap semua penduduk desa ini. Dia berusaha mengontrol emosinya dan bertanya dengan tenang.
"Benar. Apapun kesalahan anak kecil itu, tidak bisa kah kalian menyelesaikannya tanpa melakukan hal mengerikan seperti ini?" tambah Peta yang berdiri di belakang mereka berdua.
"Kesalahan anak ini? Kalian yang orang luar mana tahu apa yang telah dilakukan anak ini?" tertawa penduduk desa itu menatap Fedrick, Calix dan Peta penuh kebencian. Mereka tidak tahu apa saja yang telah dialami Desa Sangrath ini sejak kedatangan anak ini—kepada anaknya.
"Memangnya apa kesalahan anak itu?" tanya Calix keras. Dia tidak mengeti, bagaimana bisa ada desa seperti ini di Kerajaan Arthorn?—tidakkah mereka tahu bahwa Kerajaan ini memiliki peraturan? Lalu, kesalahaan apa yang dilakukan anak itu hingga harus dihakimi seperti ini?
"Anak ini bukan berasal dari desa ini," jelas penduduk desa itu penuh kebencian. "Sebulan yang lalu anak ini tiba-tiba muncul di sini dan tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asalnya. Dia selalu diam membisu tidak pernah mengucapkan sepatah katapun. Awalnya kami merasa kasihan padanya, kami menerimanya, memberikannya tempat tinggal serta makanan. Sampai suatu hari, beberapa anak penduduk desa, termasuk putraku berkelahi dengannya. Saat kami memisahkan mereka, anak itu mengeluarkan suaranya untuk pertama kalinya, yaitu kalian akan mati!"
Fedrick, Calix dan Peta mendengar penjelasan penduduk desa tersebut dalam diam.
"Tahukah kalian apa yang terjadi dengan putraku dan teman-temannya yang berkelahi dengan anak tersebut saat itu?" tanya penduduk desa itu. Air mata mengalir turun, dan ksedihan memenuhi wajahnya. "Mereka benar-benar mati. Anakku dan teman-temannya itu mati dengan mengenaskan karena tenggelam di danau!!"
"Bukan hanya itu saja. Rumah penduduk desa tempat dia menumpang terbakar. Semua anggota keluarga itu mati kerena terperangkap dalam kebakaran kecuali anak itu. Tahu kah kalian? Sehari sebelum kejadian itu terjadi, anak itu mengatakan kepada seluruh anggota keluarga itu bahwa mereka akan mati." Tambah penduduk desa lainnya.
"Dia yang mengutuk mereka. Semenjak kedatangan anak ini, banyak ternak kami yang mati, dan juga, gagal panen kali ini—anak ini adalah pembawa kesialan, pembawa malapetaka!!"
"Benar!! Dia pembawa kemalangan dan kematian di desa kami ini!!"
"Dia mengutuk kami yang telah berbaik hati kepadanya!!"
Teriakan kemarahan penduduk desa memenuhi lanpangan desa. Fedrick, Calix dan Peta tahu, apapun yang dikatakan mereka, penduduk desa pasti ini tidak akan merubah pemikiran mereka. Musibah yang terus melanda desa ini telah menyebabkan penduduk desa ini menjadi sangat sedih, kecewa serta marah—dan untuk menenangkan hati mereka sendiri, mereka mengkambing hitamkan anak itu.
Menundukkan kepala ke bawah begitu mendengar ucapan para penduduk desa yang terus menyalahkan semua musibah kepadanya, anak kecil itu tidak mengatakan sepatah katapun untuk membela dirinya. Karena dia sadar, apapun yang dikatakannya tidak akan berguna. Memang benar, dia mengatakan pada anak penduduk desa dan keluarga tempat dia tinggal, bahwa mereka akan mati. Tapi, itu bukan karena dia mengutuk mereka seperti apa yang dikatakan penduduk desa.
Anak kecil itu menutup mata dan berharap dia bisa menulikan telinganya. Dia memiliki suatu kemampuan yang tidak pernah diceritakannya kepada siapapun. Dia bisa melihat kematian seseorang melalui mimpi. Saat memimpikan kematian seseorang yang dikenalnya, dia akan berusaha untuk memberitahu orang yang bersangkutan. Namun, tidak pernah ada orang yang mempercayainya. Setelah apa yang dikatakannya terbukti, dia akan dianggab sebagai penyebab kematian orang itu. Dia akan ditakuti, dibenci, dan dijauhi.
Menghela napas, anak kecil itu kembali membuka mata dan menengadah kepala ke atas langit biru di atas. Jika hidupnya memang harus berakhir di sini, maka dia akan menghadapinya dengan tabah. Dia sudah biasa dibenci dan dijauhi selama hidupnya—mungkin mati merupakan yang terbaik untuknya.
Menurunkan kepalanya ke bawah lagi, mata hijau anak kecil itu tanpa sengaja menangkap sosok Apel yang tidak tahu sejak kapan berada di belakang Fedrick, Calix dan Peta.
Seulas senyum kecil memenuhi wajahnya. Aneh sekali, dia tidak mengenal pemuda itu, dan mereka juga baru bertemu dua kali dengannya. Meskipun, dia bisa merasakan sesuatu yang gelap dan mengerikan pada pemuda itu, dia juga merasakan kenyamanan saat berada di sampingnya. Kenapa dia bisa merasa seperti itu? —tapi, dia akan mati tidak lama lagi, tidak ada gunanya lagi dia memikirkan semua itu.
Apel yang baru saja memasuki lapangan desa itu tahu mata hijau anak itu menatapnya. Telinganya bisa mendengar jelas teriakan penuh kemarahan para penduduk desa yang tidak berkesudahan.
"Jika anak itu mati, desa kami pasti akan terbebas dari semua musibah ini!"
"Benar!! Karena itulah kami harus membakarnya!! Dia harus mati!!"
"Bakar!! Bakar!!!"
"Bakar anak pembawa petaka itu!!"
Suara teriakan kemarahan dan kebencian—penghakiman terhadap seorang anak kecil tanpa dasar, Apel yang berada di sana mau tidak mau teringat akan sesuatu yang ingin dilupakannya selama ini.
"Bunuh anak itu!!"
"Jangan biarkan dia hidup!!"
Dalam kegelapan malam, seorang anak kecil berambut hitam berlari menyusuri sebuah gang kecil, mati-matian dia berusaha menghindari beberapa orang dewasa yang mengejarnya sambil membawa pedang di tangan. Mata merah darahnya melihat sekelilingnya penuh kepanikan, berusaha mencari jalan untuk menyelamatkan diri.
Anak kecil itu sudah sangat lelah. Namun, para orang dewasa di belakangnya tidak mau melepaskannya. Terus berlari menyusuri gang sempit itu, dia tidak menduga, ternyata di ujung gang itu, beberapa orang pria dewasa lainnya telah menunggunya dengan pedang di tangan. Senyum menyeringai memenuhi wajah mereka semua
Membalikkan badannya, anak kecil itu berusaha mencari jalan lain untuk meloloskan diri. Tapi, sudah terlambat. Dia tidak menemukan jalan untuk kabur lagi, dia telah terkepung.
"Kau tidak bisa melarikan lagi, dasar setan bermata merah." Ujar salah satu pria itu dan menangkapnya.
Anak itu diseret paksa oleh para pria dewasa itu ke sebuah lapangan besar terbuka. Di sana, ratusan orang telah berkumpul dengan api obor di tangan menerangi malam yang gelap. Mereka mengikatnya pada sebatang kayu dan menyalakan api pada kayu kering di sekelilingnya. Anak kecil itu berteriak kesakitan. Namun, orang sekelilingnya tidak mempedulikannya.
"Hentikan!!!" teriak Fedrick, Calix dan Peta tiba-tiba menyadarkan Apel dari pikirannya. Walau tidak bisa melihat, indra penciumannya yang tajam bisa menghirup jelas bau ranting kering yang terbakar—para penduduk desa telah menyalakan api di bawah kaki anak kecil itu.
......................