
Fedrick, Calix dan Peta segera berlari ke arah anak itu dan berkeinginan menyelamatkannya. Tapi, para penduduk desa segera menangkap dan menghentikan gerakan mereka.
Saat api tersebut hampir menyentuh kaki anak itu, Apel yang dari tadi tidak bereaksi sedikitpun tiba-tiba melesat dengan kecepatan yang luar biasa ke arah anak itu. Meloncat ke atas dan mendarat di samping anak tersebut, dia menendang jauh ranting kering yang terbakar. Mencabut pedang sihir Shire yang ada di pinggang untuk memotong tali yang mengikat sang anak, kedua tangannya segera menangkap badan kecil yang hampir jatuh ke bawah.
Mata hijau anak kecil itu menatap tidak percaya dengan Apel yang menyelamatkannya, begitu juga dengan semua penduduk desa.
"Apa yang kau lakukan?!!" teriak penduduk desa itu penuh kemarahan.
Apel tidak mempedulikan teriakan penuh kemarahan penduduk desa. Dia menurunkan anak kecil itu dan bertanya padanya. "Kau tidak apa-apa?"
Anak kecil itu mengangkat kepalanya menatap Apel dan mengangguk cepat.
Melihat Apel yang tidak mempedulikan mereka, beberapa pria penduduk desa yang ada di sana segera berlari ke arahnya. Wajah mereka semua penuh kemarahan, sedangkan tangan terkepal kuat ingin menyerang.
Apel dengan mudah menghindar serangan dan mengalahkan mereka. Fedrick, Calix dan Peta juga tidak hanya tinggal diam membiarkan para penduduk desa itu menahan mereka. Dengan memanfaatkan kesempatan saat perhatian penduduk desa itu tersita pada Apel, mereka berhasil melepaskan diri dan mengalahkan penduduk yang menahan mereka.
Kemarahan penduduk desa semakin memuncak melihat apa yang terjadi. Mereka semua berlari maju untuk menyerang Apel dan anak kecil itu. Namum, dengan cepat Apel mengangkat tangan membuat lingkaran sihir sambil membacakan mantra. Sebuah pilar api besar dan tinggi muncul mengelilingi dia serta anak kecil tersebut.
Para penduduk desa yang melihat pilar api itu segera mengurungkn niat mereka dan mundur kebelakang. Ketakutan memenuhi hati mereka.
Sadar bahwa para penduduk desa tidak akan berani mendekati mereka lagi, Apel kemudian menolehka wajahnya pada anak kecil di sampingnya. Dia tahu, alasan mengapa dia menyelamatkan anak ini sampai dua kali, dan juga mengapa dia membiarkan anak ini tidur di sampingnya semalam—anak ini mengingatkannya pada sosok dirinya sendiri sebelum bertemu Rue.
"Siapa namamu?" tanya Apel.
"Regis." Jawab anak itu sambil menatap Apel bingung.
"Regis," panggil Apel dan mengulurkan tangan kananya. "Ikutlah denganku."
Mata Regis terbelalak karena terkejut begitu mendengar ajakan Apel. Sedetik kemudian, dia segera meloncat dengan penuh suka cita memeluk pemuda itu. Apel mengajaknya yang dibenci, ditakuti dan dijauhi oleh semua orang untuk ikut bersamanya?—meski terasa aneh karena mereka baru bertemu kemarin, dia tahu, Apel berbeda dengan semua orang. Sakit dan dingin dunianya, kelam dan kesepian yang ada—Apel mengerti semuanya. Pemuda ini tidak akan meninggalkannya seperti yang dilakukan orang-orang yang selama ini ditemuinya.
Apel membalas pelukan Regis. Dengan mudah dia mengangkat badan kecil itu dan mengendongnya. Membalikkan wajahnya menatap semua penduduk desa, dia mengeluarkan suaranya yang datar tanpa emosi. "Anak ini akan ikut denganku. Aku tidak akan berdiam diri jika kalian mencoba melukainya lagi."
Semua penduduk desa tiba-tiba merasakan ketakutan menyelimuti mereka begitu mendengar suara Apel. Suaranya memang terdengar datar tanpa emosi, tapi semuanya bisa merasakan keseriusan dan kengerian.
Fedrick, Calix dan Peta yang melihat apa yang terjadi tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejut mereka. Apel yang dingin dan tak berekspresi itu mengucapkan kalimat seperti itu untuk melindungi anak tersebut?
Memadamkan pilar api yang mengelilinginya dan Regis, Apel kemudian melangkah pelan melewati para penduduk desa yang segera membukakan jalan untuk mereka. Tidak ada seorangpun lagi yang berani menyerang ataupun mendekati mereka. Keringat dingin mengalir turun, semua penduduk desa hanya bisa berdiri di tempat tanpa bergerak sedikitpun lagi—pemuda di depan mereka ini sangat menakutkan.
Apel yang tidak mempedulikan apapun melangkah meninggalkan lapangan desa. Fedrick, Calix dan Peta yang tersadar segera berlari mengejarnya. "Tunggu, Apel!" teriak Calix kesal melihat pemuda itu kembali memgabaikan mereka.
Apel berjalan menuju penginapan dengan Regis yang digendongnya. Pemilik penginapan itu sangat terkejut begitu melihat mereka berdua. Namun, dia tidak mengatakan apapun.
"Bawakan aku pakaian dan makanan untuk anak ini!" Perintah Apel kepada pemilik penginapan dan kemudian menunjuk sebuah kereta kuda di sampingnya, "Dan aku akan membeli kereta kuda itu."
Melemparkan sesuatu pada pemilik penginapan, Apel berjalan menuju kereta kuda dan menurunkan Regis, sedangkan pemilik penginapan segera berlari ke dalam penginapan menyiapkan apa yang dimintanya setelah melihat apa yang dilempar Apel—sebuah batu permata rubi besar.
"Apel, tidak bisakah kau menunggu kami?!" tanya Calix kesal tiba-tiba dari belakang Apel. Bersama dengan Fedrick dan Peta, mereka berjalan ke arah pemuda bermbut hitam tersebut.
Apel tidak membalas.
"Kurasa Peta benar," setuju Fedrick dengan apa yang dikatakan Peta. "Tidak ada gunanya kita tinggal lebih lama di sini."
"T-tuan," panggil Pemilik penginapan yang berlari keluar dari dalam penginapan sambil membawakan makanan dan pakaian baru untuk Regis. Mendekati Apel penuh ketakutan, dia menyerahkan apa yang ada di tangannya pada pemuda tersebut. "I-ini, apa yang anda minta..."
Apel menerima makanan dan pakaian baru tersebut dan memberikannya pada Regis.
"Ayo, kita berangkat sekarang, Calix, Fedrick, Apel," ujar Peta yang telah selesai mengikat keempat kuda pada kereta kuda. "Kalian semua naik saja ke dalam, biar aku saja yang menjalankan kereta kuda ini."
Fedrick dan Calix menangguk kepala dan menaiki kereta kuda, begitu juga dengan Apel. Peta mencambuk keempat kuda dengan pelan dan memerintah mereka untuk berjalan. Diiringi tatapan tajam para penduduk, merekapun akhirnya meninggalkan desa tersebut. Peta yang menjadi kusir hanya dapat merasa sangat bersyukur karena tidak ada seorangpun yang menghentikan mereka.
Setelah meninggalkan desa Sangrath, mereka mengarahkan kereta kuda ke arah timur. Di dalam kereta kuda, Calix membuka sebuah peta untuk menentukan rute perjalanan mereka.
"Kita akan mengambil jalur laut dari kota Denethor. Jalur laut akan lebih cepat mencapai Kerajaan Catax dari pada jalur darat, dengan begitu kita pasti bisa mengejar mereka," jelas Calix sambil menatap peta yang ada. "—dan dari sini ke kota Denethor kita memerlukan waktu sekitar lima hari."
"Jadikan dalam tiga hari." Sela Apel tiba-tiba.
"Apa?? Itu tidak mungkin, Apel!" terkejut, Calix segera menoleh menatap Apel, bagitu juga dengan Fedrick, sebab, tidak mungkin mereka bisa menempuh perjalanan sejauh itu dalam waktu tiga hari.
"Aku tidak peduli!" balas Apel setengah berteriak. "Mau melanjutkan perjalanan ini tanpa istirahat atau bagaimana? Aku tidak peduli! Kita harus mencapai Kota Pelabuhan Deneothor dalam tiga hari!"
Apel merasa sangat frustasi walau dia tidak menunjukkannya. Dia tidak menyukai perjalanan mereka yang menurutnya sangat lambat dan terus mendapat masalah. Rue akan semakin jauh darinya jika perjalanan mereka masih begini lambat. Sejujurnya, dia ingin sekali meninggalkan Fedrick, Calix dan Peta untuk mencari Rue. Dia yakin, perjalanannya akan lebih cepat jika dia hanya sendiri. Tapi—dia tidak bisa. Dia memerlukan mereka untuk mendapatkan informasi keberadaan Rue, dan juga dia tidak bisa meninggalkan Regis begitu saja. Dia telah mengajak anak ini untuk ikut bersamanya—dia memiliki tangung jawab kepadanya.
Calix terdiam. Ada sedikit ketakutan dirasakannya begitu melihat sikap Apel. Mata pemuda itu memang tidak terlihat. Tapi, dia tahu, dibalik kain putih yang menutup matanya, sepasang mata berwarna merah darah sedang menatap tajam dirinya. Menarik napas, dia hanya dapat menyetujui keinginan Apel. "Baiklah.."
Fedrick dan Regis yang berada di samping Apel dan Calix tidak mengatakan apapun. Mereka hanya diam melihat mereka berdua. Baik Apel maupun Calix tidak mengatakan apapun lagi, sehingga suasana di dalam kereta kuda ini menjadi sangat sunyi sekaligus canggung.
Regis yang bisa merasakan suasana hati Apel yang tidak baik, kemudian mengeluarkan suara memecahkan keheningan yang ada. "Kau tidak apa-apa, Kak Apel?"
Apel memang tidak memperkenalkan dirinya kepada Regis, tapi, dari pembicaraan mereka barusan, dia telah mendapatkan informasi yang cukup akan siapa yang ada di hadapannya dan ke mana mereka akan pergi.
"Aku tidak apa-apa, Regis," jawab Apel sambil menepuk kepala Regis. "Tidak perlu khawatir."
"Benar, Regis. Kau tidak perlu khawatir." Tambah Calix sambil tersenyum, berusaha untuk mencairkan suasana canggung yang ada.
Regis menoleh menatap Calix sejenak dan kemudian membuang muka. "Aku tidak bertanya padamu," ujarnya ketus. "Jangan sok akrab denganku."
Calix kembali terdiam. Tertegun, dia seakan tidak dapat percaya dengan apa yang terjadi. Kenapa sikap dan cara bicara anak ini mirip sekali dengan Apel?
Apel tetap tidak mengatakan sepatah katapun, tapi tangan kanannya terangkat menepuk pelan kepala Regis seakan sedang memujinya.
Fedrick yang melihat tidak dapat menahan tawanya. Dia tahu, dia tidak seharusnya tertawa, tapi ekspresi tertegun di wajah Calix sekarang benar-benar mengundang tawanya. Bagi Calix yang merupakan Pangeran satu-satunya Kerajaan Arthorn, dia pasti tidak pernah menyangka akan menemukan seorang lagi yang bersikap seperti ini padanya selain Apel.
Calix yang mendengar tawa Fedrick hanya bisa menggerutu dan menghela napas. Dia bukan orang yang kecil hati hingga tidak bisa menerima seorang lagi yang memiliki sikap seperti ini, terlebih lagi, Regis adalah seorang anak kecil yang baru saja mengalami kejadian menakutkan.
Kecanggungan dalam kereta kuda seketika mencair, dan Fedrick serta Calix sangat bersyukur untuk itu. Keberadaan Regis yang tiba-tiba ini mungkin akan cukup membantu, sebab melihat sikap Apel terhadapnya, mereka berdua merasa pemuda itu memiliki sisi yang cukup bersahabat kepada anak kecil itu—setidaknya dia menjawab saat ditanya, bukan?
......................