
Api unggun yang mereka nyalakan membuat Rue, Fedrick dan Lara dapat melihat dengan jelas laba-laba raksasa tersebut. Ukuran badannya itu lima kali lipat lebih besar dibanding badan orang dewasa, berwarna coklat tua dengan delapan kaki besar yang penuh bulu. Empat mata besarnya yang berwana hijau terang tidak berkedip, lalu rahang mulut yang terbuka memperlihatkan gigi yang besar dan runcing serta air liur yang menetes ke bawah.
Mata Fedrick langsung memucat saat melihat air liur laba-laba tersebut jatuh mengenai rumput di bawahnya. Rumput tersebut langsung menguap dan mengeluarkan asap. "Air liurnya beracun."
Baik Apel, Rue, Fedrick maupun Lara tidak bergerak sedikit pun hingga sang laba-laba raksasa mengerakan kedelapan kaki dengan cepat ke arah mereka. Apel segera membopong Rue dan meloncat ke samping, begitu juga dengan Fedrick dan Lara.
Api unggun yang dinyalakan mereka langsung hancur berantakan karena ditabrak laba-laba tersebut. Kegelapan malam kembali memenyelimuti. Untungnya, cahaya bulan purnama di atas langit masih bisa membuat mereka melihat dengan baik.
Laba-laba tersebut membalikkan badan menghadap mereka berempat. Apel menurunkan Rue yang dibopongnya, "Jaga dia." perintahnya kepada Fedrick dan Lara.
Perintah Apel membuat Rue segera menarik lengan sang pemuda yang ingin melangkah ke depan menghadapi laba-laba raksasa. Meski tidak dapat melihat karena matanya tertutup kain, Apel tahu, wajah gadis berambut emas itu sekarang penuh ketakutan; tidak ingin dia menghadapi laba-laba tersebut.
Apel menghela napas dan menepuk pelan kepala Rue. "Tidak apa-apa, aku bisa menghadapi makhluk tersebut. "
Ucapan dan sikap Apel, membuat Rue sedikit tenang. Dirinya selalu mempercayai apa yang dikatakan pemuda berambut hitam itu. Jika Apel mengatakan dia bisa menghadapi laba-laba itu, maka dia benar-benar bisa mengalahkannya, kan? Sedikit ragu, tangannya yang menarik lengan Apel pun terlepas.
Tersenyum tipis, Apel kemudian membalikkan badan dan melangkah ke arah laba-laba raksasa.
Fedrick yang melihat Apel berencana menghadapi laba-laba tersebut segera menolehkan wajah menatap Lara. "Aku akan membantu Apel, Lara. Kau jaga Rue."
Tidak menunggu balasan Lara, Fedrick melangkah kaki mengejar pemuda berambut hitam di depan.
Apel yang mendengar ucapan Fedrick segera menyadari kehadiran pemuda berambut pirang yang kini telah berada di belakang, "Aku tidak membutuhkan bantuanmu, Mundur." perintahnya dengan suara datar.
Fedrick tersenyum pahit mendengar perintah Apel. Pemuda berambut hitam itu memang kuat, hanya saja, bagaimana mungkin dia membiarkannya menghadapi laba-laba raksasa di depan sendirian? Hubungan mereka memang bisa dikatakan aneh, mereka baru saling kenal, dan pemuda itupun sangat dingin serta tertutup. Tapi, mereka boleh dikatakan teman, kan?
Secara pribadi, Fedrick sebenarnya merasa Apel adalah orang yang berbahaya. Namun, dia juga tidak bisa menepis perasaan ingin mengenal dan berteman dengannya. Perasaan aneh yang dia sendiri juga tidak tahu dari mana datangnya.
Memberanikan diri dan menelan ludah, Fedrick tersenyum canggung. "Aku cuma ingin membantu kau; temanku. Itu tidak salah, kan?"
Apel tertegun mendengar ucapan Fedrick. Dia menoleh wajah menatap pemuda itu. Teman? Selama hidupnya, tidak pernah ada yang memanggilnya dengan sebutan; teman. Sekarang, pemuda yang baru dikenalnya ini sekarang memanggilnya teman?
"Terserah kau. Hanya saja, jangan mengangguku." Jawab Apel kemudian. Tidak peduli dengan Fedrick, dia mempercepat langkah kakinya dan berlari ke depan.
Ucapan Apel dengan segera membuat senyum canggung di wajah tampan Fedrick menjadi sebuah senyum lebar penuh kegembiraan. Perasaan gembira memenuhi hatinya saat dia sadar Apel tidak menyangkalnya saat dia memanggilnya; teman, "Aku tahu." Tawa Fedrick singkat dan tetap mengikuti Apel.
Apel membuat lingkaran sihir dan membaca mantra, pilar api muncul mengelilingi dirinya, Fedrick dan Laba-laba raksasa itu. Tujuannya hanya satu; mengamankan Rue yang berada diluar pilar api. Sedangkan Fedrick, pemuda itu membacakan sebuah mantra dan membuat lingkaran sihir berwarna biru kehijauan di depan tangannya. Jarum es yang muncul dari dalam lingkaran sihir tersebut melesat dengan cepat menuju laba-laba.
Jarum es sihir Fedrick memang mengenai sasaran. Namun, tidak sedikitpun luka dihasilkan. Kulit laba-laba yang tebal membuat sihir pemuda berambut pirang itu sia-sia.
"Makhluk apa itu?" gumam Fedrick tidak percaya. Sihirnya memang tidak bisa dikatakan kuat, tapi setidaknya, dia percaya bisa melukai lawan.
"Itu adalah mahkluk sihir kuno yang berada di dalam hutan ini." Jelas Apel datar tiba-tiba.
"Hah? Apa maksudmu?" tanya Fedrick. Namun, Apel tidak menjawab, pemuda berambut hitam itu telah berlari maju menghadapi sang laba-laba.
Apel meloncat ke atas, sekali lagi, dia membuat lingkaran sihir berwarna merah dan membacakan mantra. Dari tangannya, muncul empat bola api besar. Dengan gesit, dia melemparkan bola api tersebut ke arah mata laba-laba.
Laba-laba tersebut mengeluarkan teriakan kesakitan. Bola api yang dilemparkan Apel cukup melukai makhluk sihir tersebut. Luka yang diterima matanya membuat laba-laba tersebut bergerak tidak menentu dan menerobos keluar dari pilar api yang ada.
Laba-laba itu kemudian berhenti bergerak dan mengeluarkan suara teriakan yang keras. Sebuah lingkaran sihir besar muncul di depan laba-laba tersebut. Sihir yang dibuatnya tersebut sangat cepat, baik Apel maupun Fedrick tidak memiliki kesempatan untuk menghentikannya.
Sebilah sihir pedang angin besar melesat menuju arah Apel dan Fedrick dari dalam lingkaran sihir. Fedrick berusaha menghindari. Namun, gerakannya terlalu lambat. Pasrah, dia pun menutup mata dan mempersiapkan diri untuk menerima serangan tersebut.
"Apel! Fedrick! Awas!!" teriak keras Rue memenuhi hutan.
Teriakkan Rue membuat Fedrick membuka mata. Apa yang kemudian dilihatnya membuat dia tertegun. Di depannya, Apel berdiri dengan sebuah dinding yang terbuat dari tanah melindungi mereka. Tidak dijelaskan pun, dia tahu, dinding tanah yang melindungi mereka adalah sihir pemuda berambut hitam tersebut.
Laba-laba yang mereka hadapi tiba-tiba membalikkan badan menghadap Rue dan Lara. Teriakkan gadis berambut emas tersebut barusan telah membuat makhluk sihir tersebut menyadari keberadaan mereka berdua.
Laba-laba itu kembali mengeluarkan suara keras, sebuah lingkaran sihir biru muncul kembali di depan badannya yang besar. Dari dalam lingkaran sihir, berpuluh-puluh jarum es besar melesat dengan cepat menuju arah Rue dan Lara.
Apel dan Fedrick sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Mengerakan kaki secepat yang dia bisa, Apel berlari ke arah Rue dan Lara. Sihir yang dibuat oleh laba-laba tersebut tidak mungkin dapat dihentikannya sekarang, dan tidak mungkin juga bisa dihindari kedua gadis.
"Rue!!" teriak Apel penuh kepanikan.
Lara tahu, jarum es yang menyerang mereka tidak mungkin bisa dihindari. Dia langsung memeluk Rue dengan erat untuk melindunginya. Namun, gadis berambut emas itu tiba-tiba melepaskan dirinya dari pelukan. Melangkah ke depan dengan mata tertutup, dia membuka lebar kedua tangan dan menjadikan dirinya sendiri sebagai perisai.
Mata Lara terbelalak saat melihat aksi Rue. Semua yang terjadi sangat cepat, dia tidak bisa mencegahnya. Namun, saat jarum-jarum es yang melesat dengan cepat itu akan mengenai tubuh Rue, cahaya putih yang bersinar terang tiba-tiba menyelimuti sang gadis.
Lara yang berdiri di belakang Rue melihat dengan jelas semua yang terjadi. Di depan Rue yang dibalut cahaya putih, ada sebuah dinding kasat mata yang melindungi sang gadis dari jarum-jarum es tersebut.
Jarum-jarum es itu berhenti di udara, retak dan kemudian hancur menjadi kepingan-kepingan kecil yang hilang dibawa angin.
Saat cahaya putih yang membalut seluruh badannya menghilang, Rue yang tidak sadar dengan apa yang terjadi membuka mata. Lalu, yang gadis berambut emas itu rasakan kemudian adalah pelukan hangat seseorang yang sangat erat.
"Rue, syukurlah, syukurlah kau tidak apa-apa." Guman Apel yang memeluk erat badan ramping Rue. Badan pemuda berambut hitam yang biasanya tenang kini bergetar hebat. Pelukan itu semakin erat dan erat, seakan dirinya akan kehilangan sang gadis jika dia melonggarkan pelukan.
"A-apel," Rue kebingungan. Namun, tiba-tiba saja, rasa kelelahan yang luar biasa menyerangnya. Matanya terasa sangat berat, dan dia kehilangan tenaga. " A-apel, a-apa yang—"
"Tidak apa-apa, Rue," bisik Apel pelan di telinga Rue. "Tidurlah, saat kau sadar semuanya akan berakhir."
Mendengar ucapan Apel, Rue menutup mata. Kehangatan pelukan pemuda berambut hitam itu membuat dirinya merasa sangat nyaman dan damai. Lalu, jika Apel berkata semuanya akan berakhir, maka, semuanya pasti benar-benar akan berakhir. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Menyerahkan kesadarannya pada kegelapan, gadis cantik itu tertidur dengan senyum di wajah.
Fedrick dan Lara berdiri diam di tempat melihat apa yang baru saja terjadi. Dari reaksi Apel, mereka berdua tahu, yang barusan menghentikan sihir laba-laba itu bukanlah pemuda itu, melainkan; Rue.
Merasakan Rue yang telah tertidur, Apel kemudian melepaskan pelukannya. Membaringkan gadis itu di atas tanah dengan pelan, pemuda itu membalikkan badan menghadap laba-laba raksasa. Kemarahan yang sangat luar biasa memenuhi hatinya.
"Kurang ajar! Beraninya kau!" teriak Apel penuh kemarahan. Bergerak cepat, dia menyerang laba-laba tersebut.
Pilar api tiba-tiba muncul mengelilingi laba-laba raksasa. Fedrick dan Lara yang melihat pilar api tersebut sangat terkejut, mereka tidak melihat siapapun diantara mereka yang membuat lingkaran sihir dan membacakan mantra. Mata mereka berdua kemudian tertuju pada Apel yang bergerak cepat ke arah laba-laba raksasa. Mungkinkah pemuda itulah yang menciptakan pilar api itu?—tapi, tidak mungkin ada orang yang bisa menggunkan sihir tanpa lingkaran dan mantra sihir.
Pilar api yang mengelilingi laba-laba raksasa kali ini lebih besar sehingga makhluk sihir itu tidak bisa menerobosnya. Penuh kemarahan, laba-laba itu kembali menggunakan sihir angin untuk menyerang saat menyadari kehadiran Apel yang mendekatinya.
Apel dengan lincah melompat menghindar. Kemarahan yang ada dalam dirinya membuat dia gelap mata. Dirinya tidak akan pernah memaafkan siapapun yang berani menyerang Rue.
Mendarat, Apel dengan kecepatan penuh kembali melesat ke arah laba-laba raksasa. Kecepatan geraknya yang luar biasa membuat Fedrick dan Lara takjud sekali lagi, namun perasaan takjud itu berubah menjadi takut saat melihat pemuda itu mengangkat tangan kanannya untuk menusuk kembali salah satu mata laba-laba.
Laba-laba kembali berteriak kesakitan, namun, Apel yang kini berada di atas kepalanya tidak peduli. Mencabut tangannya, dia meloncat ke atas. Menggerakkan tangan kanannya, dari belakangnya, berpuluh-puluh jarum es muncul dan melesat menyerang.
Laba-laba raksasa tersebut tidak bisa berbuat apa saat jarum es itu menancap semua kakinya. Teriakan kesakitan kembali terdengar dalam hutan yang sunyi ini. Makhluk sihir itu ingin melarikan diri, namun, geraknnya kini telah terkunci.
Apel yang telah berhasil mendesak laba-laba raksasa mendarat di atas tanah. Wajahnya datar, namun mata emasnya yang tertutup kain menatap penuh kemarahan. Mengangkat kedua tangannya, ssebuah lingkaran sihir besar berwarna hitam besar muncul di depannya. Ukuran lingkaran sihir itu sangat besar, seukuran dengan badan laba-laba raksasa tersebut.
Dari dalam lingkaran sihir itu melesat keluar cahaya-cahaya hitam menuju laba-laba tersebut dengan cepat. Saat cahaya hitam tersebut menyentuh makhluk sihir tersebut, teriak kesakitan melengking memenuhl hutan.
Fedrick dan Lara sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihat mereka sekarang. Badan laba-laba yang terkena sihir Apel tiba-tiba menghitam, membusuk dan—hancur. Sihir yang digunakan oleh pemuda berambut hitam itu adalah sihir yang tidak pernah mereka dengar maupun mereka bayangkan ada; sihir yang sangat menakutkan dan juga kejam.
Apel kemudian memadamkan pilar api yang dibuatnya. Laba-laba raksasa itu tidak bisa bergerak lagi, sebagian besar badannya telah hancur karena sihir Apel. Berjalan mendekati kepala laba-laba dengan pelan, pemuda berambut hitam itu tidak memperlihatkan reaksi apapun, tetap tenang dan dingin.
Berhenti di depan laba-laba yang tak berdaya itu, Apel mengibas tangan kanannya. Sihir pedang angin muncul dan menghancurkan kepala makhluk sihir raksasa tersebut.
......................