Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 24



Seorang anak laki-laki berambut perak tertawa terbahak-bahak penuh kegembiraan. Sekelilingnya, tubuh orang-orang yang sudah tidak bernyawa tergeletak bersimbah darah, tidak peduli itu laki-laki, perempuan, anak kecil ataupun orang tua. Membalikkan badannya yang penuh darah, mata merah darahnya melihat seorang pria yang berdiri dengan badan gemetar. Mata merah darahnya berbinar gembira menatap pria itu seakan-akan menemukan mainannya yang hilang.


"K-kumohon, jangan bunuh aku..," terbata-bata, pria itu segera berlutut meminta ampun. Wajahnya penuh ketakutan dan air mata mengalir turun. "M-maafkan kami semua, jangan bunuh aku..."


Anak laki-laki itu sama sekali tidak mempedulikan apa yang dikatakan pria tersebut. Berlari mendekati pria itu, dia mengangkat tangan kanannya yang memiliki kuku panjang seperti cakar. Seulas senyum menyeringai memenuhi wajahnya—senyum yang kembali berubah menjadi tawa saat merasakan darah melumuri tangannya.


Bunuh!


Hancurkan!


Bunuh dan hancurkan!


Bunuh dan hancurkan semua yang ada!


Apel membuka matanya dan bernapas terengah-engah, keringat mengalir turun dari dahinya. Melihat sekeliling, dirinya masih berada dalam kamar Perguruan Sihir Erfin dengan Fedrick dan Calix yang tertidur nyenyak di sampingnya.


Menghapus keringat dengan tangannya yang gemetar, Apel menutup mata. "Mimpi buruk.. Itu hanyalah mimpi buruk..."


......................


Seorang gadis kecil berlari menyusuri hutan mencari seseorang. Dia bisa melihat sekelilingnya dengan baik berkat bantuan cahaya bulan di atas langit malam. Rambut emas panjangnya terbang tertiup angin malam saat dia berlari, dan mata hijaunya yang besar sama sekali tidak bisa menyembunyikan ketakutan yang ada. Rasa tidak tenang, takut dan kegelisahan memenuhi hatinya.


Gadis kecil itu mendengar suara tawa seseorang dari kejauhan. Dia kenal sekali dengan suara tawa itu—itu adalah suara tawa dari orang yang dicarinya. Tersenyum, dia segera berlari menuju sumber suara tawa. Semakin dekat dia dengan sumber suara tawa yang ada, dia sadar, suara tawa itu memang dikenalnya, namun tidak tahu kenapa juga terasa sangat aneh baginya.


Terus berlari sampai akhirnya tiba di tempat tujuannya, gadis kecil itu berhenti berlari dan melihat seorang anak laki-laki seusianya. Berdiri mendongak kepala menatap langit malam dengan penuh tawa, anak laki-laki itu memiliki rambut panjang berwarna perak. Bajunya yang terkoyak memperlihatkan dengan jelas tato yang memenuhi seluruh tubuhnya, sedangkan tangannya memiliki kuku yang panjang seperti cakar seekor binatang buas.


Gadis kecil itu sangat terkejut menatap anak laki-laki di depannya, matanya terbelalak. Dia hanya dapat berdiri tanpa gerak dalam diam hingga tanak laki-laki itu menyadari keberadaannya. Berhenti tetawa dan menurunkan kepalanya, anak laki-laki itu menatap gadis kecil tersebut.


Mata semerah darah dengan tato hitam yang memenuhi wajah.


"Apel..." Panggil gadis kecil tersebut pelan.


Bola mata anak laki-laki itu membesar karena terkejut begitu melihat gadis kecil tersebut. Mengangkat kedua tangan menutup wajahnya, dia berteriak keras."Jangan melihatku! Jangan melihatku!! Pergi! Pergi dari sini, Rue!!"


"Apel..." Panggil gadis kecil lagi dan berjalan mendekati anak laki-laki tersebut.


"Jangan mendekat! Pergi!! Tinggalkan aku sendirian, Rue!!" teriak anak laki-laki itu semakin panik begitu melihat gadis itu berjalan mendekatinya.


Gadis kecil itu tidak mempedulikan apa yang dikatakan anak laki-laki itu. Berjalan semakin cepat mendekat, dia mengulurkan tangan untuk menyentuhnya. Namun, saat tangan kecil tersebut hampir menyentuhnya, anak laki-laki itu meloncat mundur ke belakang dan berlari meninggalkan gadis itu.


"Tunggu! Apel, tunggu!!" teriak gadis kecil itu sambil berlari mengejar sang anak laki-laki. Tidak tahu mengapa, dia merasa dia perlu mengejar anak laki-laki itu atau dia akan kehilangannya untuk selamanya.


"Tunggu! Apel!!"


"Apel!!" teriak Rue membuka matanya.


"Jangan ribut, bodoh." Ujar Lara yang ada di samping Rue sambil memukul kepala gadis berambut emas tersebut.


"Aduh!" teriak Rue kesakitan. Kedua tangannya segera terangkat melindungi kepalanya, sedangkan kedua mata hijaunya menatap Lara kesal. "Lara, jangan memukulku dan memanggilku bodoh terus!"


"Aku akan berhenti memanggilmu 'Bodoh', jika kamu bisa berhenti bertingkah bodoh." Balas Lara tidak peduli.


Terdiam, Rue tidak tahu harus membalas apa, karena dia tahu, apapun yang dikatakannya tidak akan menang melawan Lara. Kejadian in bukanlah yang pertama dan juga terakhir. Menarik napas tidak ingin berdebat lagi dengan Lara, Rue menatap sekelilingnya. Mereka masih berada di dalam hutan tempat mereka beristirahat tadi. Sebagian dari perampok yang ada sudah tidur, hanya ada beberapa perampok yang masih terjaga. Mendongak kepala menatap langit malam, dia bertanya pelan. "Sudah berapa lama aku tertidur, Lara?"


Mendengar pertanyaan Rue, Lara hanya dapat mengernyitkan dahinya. Sepertinya Rur benar-benar lupa dengan apa yang terjadi. "Kau bukan tidur, bodoh. Tapi, pingsan."


"Pingsan?" tanya Rue bingung dan berusaha mengingat apa yang terjadi.


"Dasar bodoh," Lara mengalihkan pandangannya menatap api unggun di depan. "Coba kau ingat keributan yang kau lakukan."


"Ah! Lara! Apel! Apel!" teriak Rue panik sambil menarik lengan baju Lara. Dia sudah dapat mengingat apa yang terjadi sebelum dia kehilangan kesadaran.


"Bisakah kau berhenti memanggil nama cowok buta itu? Aku merasa sangat terganggu." Balas Lara kesal. Sejak berpisah dengan Apel, tidak ada seharipun nama pemuda itu tidak disebutkan oleh Rue.


Rue tidak mempedulikan apa yang dikatakan Lara. Menenangkan dirinya, dia yang sudah ingat dengan jelas apa yang terjadi sebelum dia pingsan akhirnya merasa tenang, sebab segala perasaan tidak tenang, ketakutan dan kegelisahan yang tiba-tiba melandanya telah menghilang—Apel baik-baik saja sekarang; dia tidak akan kehilangannya. Perlahan, seulas senyum memenuhi wajahnya.


"Kenapa kau tersenyum?" tanya Lara bingung begitu melihat senyum Rue. Gadis di sampingnya ini sungguh aneh, dia bisa tiba-tiba panik dan tersenyum ataupun tertawa sedetik kemudian.


"Tidak apa-apa, aku hanya senang karena sepertinya Apel sudah tidak apa-apa." Jawab Rue dengan senyum yang semakin melebar.


Lara tidak mengatakan apa-apa lagi, dia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Rue, dan juga, dia terlalu malas untuk mengerti.


Rue dan Lara memalingkan kepala mereka menatap sumber suara. Tidak jauh dari mereka, Mire, Vin dan Van berjalan mendekat dengan senyuk menyeringai di wajah.


"Apakah kalian mendapatkan informasi yang ku minta?" tanya Lara kepada mereka. Wajahnya datar seperti biasa, tidak ada ketakutan sedikitpun walau dia tahu yang ada di hadapannya adalah perampok.


Mire, Vin dan Van baru saja kembali dari kota terdekat untuk menjual beberapa barang jarahan mereka. Lara meminta mereka mencarikan informasi mengenai apa yang terjadi di Kota Radiata, walaupun mereka awalnya tidak mau. Namun, setelah menawarkan sejumlah uang di luar uang tebusan mereka berdua saat tiba di Kerajaan Catax untuk informasi itu, perampok itu akhirnya setuju.


"Perang itu dimenangkan kerajaan Arthorn. Prajurit Kerajaan Ormund mundur karena Komandan mereka dikalahkan oleh salah satu prajurit kerajaan Arthron, dan juga karena bala bantuan dari Kota Cirrion yang tiba tepat pada waktunya. Keadaan kota sekarang dalam siaga perang, kemungkinan besar Kerajaan Ormund akan kembali menyerang kota itu." Jawab Mire menjelaskan informasi yang didapatkannya.


"Begitu ya? Artinya Fedrick dan Kak Esthel berhasil mencapai Kota Cirrion tepat pada waktunya. Apakah ada informasi lainnya lagi?" tanya Lara lagi sambil menatap mereka.


"Tidak ada. Informasi lainnya hanyalah mengenai prajurit tidak dikenal dari Arthorn yang berhasil mengalahkan Komandan Kerajaan Ormund." Jawab Vin sambil mengangkat kedua bahunya.


"Prajurit tidak dikenal?" tanya Rue dan Lara bersamaan.


"Iya. informasi yang kami dengar mengatakan prajurit yang mengalahkan Komandan Kerajaan Ormund adalah seorang prajurit baru yang direkrut oleh Pangeran Calix. Prajurit itu sangat kuat, dan yang membuatnya jadi pusat perhatian adalah karena diakatanya dia; buta." Jelas Van sambil duduk di depan Rue dan Lara.


"Buta?" tanya Rue dan Lara bersamaan sekali lagi.


Van mengangguk kepala. "Iya—buta. Katanya dia menutup kedua matanya dengan kain, tapi bisa bergerak bebas dan mengalahkan musuh dengan cepat."


"Dia tidak buta!!" teriak Rue penuh semangat. Senyum dan tawa lebar memenuhi wajahnya. "Tidak salah lagi, itu pasti Apel!!"


"Apel, Apel dan Apel," sela Mire tiba-tiba, wajahnya tidak menyembunyikan perasaan kesalnya. "Aku sudah muak mendengar nama yang terus kau panggil itu. Bisakah kau berhenti menyebutkan nama itu?—kau akan membuatku membenci buah apel."


"Aku sependapat denganmu." Tambah Lara dengan wajah tanpa ekpresi.


Rue tidak mempedulikan apa yang dikatakan Lara dan Mire. Menatap Mire tanpa takut, dia membalas. "Aku tidak akan mungkin berhenti menyebutkan nama Apel. Apa hakmu menyuruhku berhenti, Bibi?"


"Bibi??" ujar semua yang ada disana bersamaan menatap Rue.


"Iya, Bibi," ulang Rue tidak takut. "Kau terus-terus saja memerintahku dan yang lainnya. Kau benar-benar seperti seorang Bibi yang cerewet."


"Beraninya kau memanggilku seperti itu!" teriak Mire penuh kemarahan. "Aku baru berusia dua puluh tahun, tahu?!"


"Hmn," sela Vin yang ada di samping Mire serius. "Kurasa kau benar. Mire memang seperti seorang Bibi di pasar yang suka memerintah dan cerewet tidak tertolong."


"Benar," setuju Van sambil memukul pahanya. Senyum lebar memenuhi wajah. "Aku setuju. Sejak dulu kau selalu cerewet. Bayangkan Peta yang begitu sabar saja kadang tidak tahan."


"Kalian juga berpikir begitu?" tanya Rue gembira. Kedua mata hijaunya berbinar indah tanpa perasaan takut sedikitpun.


Vin dan Van mengangguk kepala mereka.


"Beraninya kalian berdua!" teriak Mire lagi. Kmarahan yang berusaha ditahan membuat wajahnya menjadi merah sedangkan kedua matanya menatap Vin dan Van tajam secara bergantian.


"Bibi, wajahmu kelihatan menakutkan sekali," sela Rue sambil menatap Mire. "Kalau seperti itu—kau kelihatan seperti setan saja..."


"Apa katamu!" hardik Mire menolehkan mata menatap tajam Rue.


"Benar, sekali Rue—aku setuju." Tawa Vin keras, sedangkan Van mengangguk-angguk kepala tanda setuju.


"Terima kasih." Senyum Rue gembira.


Mire tidak mempedulikan Vin dan Van lagi, melangkah cepat, dia mendekati Rue yang dengan segera berhenti tersenyum dan berdiri.


Melihat Mire yang mendekatinya, Rue merasakan pasti akan terjadi sesuatu yang buruk jika dia berdiam diri saja. Karena itu, dia segera berlari meghindari sambil berteriak. "Maaf! Maaf, aku tidak bermaksud berkata seperti itu. Maafkan aku, Bibi!"


"Jangan panggil aku Bibi!" teriak Mire mengejar Rue.


Vin dan Van tertawa melihat apa yang terjadi, mereka sama sekali tidak bermaksud menghentikan Mire. Jarang sekali mereka melihat pemandangan di mana Mire kehilangan kendali seperti ini.


Lara yang melihat Rue berlari ke sana ke mari menghindari Mire tidak mengatakan apa-apa. Ada perasaan bingung menyelimuti dirinya, Rie benar-benar merupakan gadis yang sangat aneh. Sikapnya yang polos dan kadang kelihatan seperti orang bodoh itu tidak tahu kenapa sama sekali tidak bisa dibenci oleh orang yang mengenalnya maupun orang yang baru mengenalnya. Dia memiliki sebuah daya tarik yang akan membuat siapapun merasa nyaman disampingnya. Mire yang mengejarnya, serta Vin dan Van yang tertawa melihatnya sama sekali tidak kelihatan sebagai orang yang menyanderanya, mereka malah kelihatan seperti; teman.


"Lara, selamatkan aku!" teriak Rue menatap penuh permohonan pada Lara.


"Diamlah, bodoh," balas Lara tidak peduli. "Aku ingin tidur."


......................