
Apel berdiri sendirian menatap laut di depannya. Langit malam membuat laut di depannya bagaikan kegelapan tak berujung. Suara ombak yang terdengar dan udara dingin yang berhembus membuatnya benar-benar terasa sendiran di dunia ini.
Rue tidak ada di sampingnya, dan dia tidak tahu di mana gadis itu berada sekarang, Apel sungguh merasa sangat frustasi sekarang. Jika saja waktu daat diputar kembali, maka, dia tidak akan meninggalkan Rue bersama Fedrick, Lara dan Esthel.
Apel tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika dia benar-benar kehilangan Rue. Di dunia ini, dia tidak memerlukan apapun selain Rue, sebab gadis itu adalah segalanya—satu-satunya cahaya dalam gelap hidupnya.
"Rue selalu memikirkanmu," suara Lara tiba-tiba terdengar memecahkan keheningan. Berjalan pelan, dia mendekati Apel dari belakang. "Bahkan dalam mimpi pun, dia terus memanggil namamu."
Apel hanya diam membisu, mata merahnya tetap menatap lurus laut gelap di depannya.
"Tidak seharipun dia tidak menyebut namamu semenjak kalian berpisah. Kau harus tahu itu."
Apel tidak tahu harus senang atau sedih saat mendengar ucapan Lara. Dia senang karena Rue tetap memikirkannya meskipun mereka terpisah. Namun, begitu memikirkan keberadaan gadis itu yang tidak diketahui, kesedihan dan ketakutan menyelimutinya.
Berdiri tegak di samping Apel, Lara ikut menatap laut gelap di depan dengan wajah tanpa ekspresi. "Besok, kami akan menuju Kota Ioreth, Ibukota dari kerajaan Hirrim. Kami berencana meminta bantuan pada Raja Hirrim untuk mencari Rue. Walau kami tidak tahu apakah mereka bersedia membantu atau ti—"
"Aku akan ikut dengan kalian." Potong Apel. Dia akan ikut dengan mereka menemui Raja Hirrim. Dia akan memaksa Raja Hirrim membantu mereka mencari Rue jika dia menolak. Asal bisa menemukan Rue, dia akan melakukan apa saja.
......................
Setelah matahari terbit, para anggota yang akan menuju Ibukota Ioreth berkumpul di depan sebuah kereta kuda. Mereka terdiri dari Apel, Fedrick, Lara, Calix, Regis, Mire dan Vin. Peta dan Van tetap tinggal di pesisir laut dan terus melanjutkan pencarian mereka.
Mire dan Vin menjalankan kereta kuda dengan kecepatan maksimal, sedangkan sisanya berada di dalam kereta kuda dan membahas rencana mereka.
"Kita memerlukan waktu sekitar seharian untuk mencapai ibukota Ioreth," jelas Calix sambil menatap peta di tangannya. "Sesampai di Ibukota Ioreth kita harus segera menghadap Raja Hirrim. Semoga dia mau membantu kita."
"Lebih baik kau berdoa para penjaga tidak meragukan identitas kita." Sela Lara tanpa ekspresi.
"Benar, semoga para penjaga tidak mempersulitkan kita." Tambah Fedrick. Para penjaga pasti tidak akan percaya pada mereka jika mereka tiba-tiba muncul di depan istana dan memperkenalkan diri sebagai pangeran dan putri kerajaan tetangga tanpa diikuti seorang pengawalpun.
"Ya, semoga saja mereka percaya..." Gumam Calix pelan sadar dengan apa yang dimaksud Fedrick dan Lara. Dirinya teringat bagaimana dulu Fedrick dan Lara mengalami kesulitan di Kota Radiata.
Apel dan Regis sama sekali tidak mengatakan apapun. Mereka berdua hanya diam membisu mendengar pembicaraan mereka.
Perjalanan mereka berjalan lancar. Saat malam telah tiba, mereka memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan besok pagi. Mereka membuat api unggun untuk menghangatkan badan mereka dari malam yang dingin ini.
"Kurasa besok siang kita sudah mencapai ibukota Ioreth." Ujar Mire.
"Benar. Jika kita tidak menemui masalah." Senyum Vin.
"Masalah? Memangnya kita bisa menemui masalah apa?" tanya Fedrick bingung.
Vin tertawa mendengar pertanyaan Fedrick "Masalah seperti menemui perampok di tengah perjalanan."
"Jangan menakuti Fedrick, Vin," memukul kepala Vin kuat, Mire membalikkan wajah menatap Fedrick sambil tersenyum. "Tidak apa-apa, Fedrick. Jika terjadi sesuatu dalam perjalanan kita, aku akan melindungimu."
"T-terima kasih..." Balas Fedrick pelan sambil memaksakan seulas senyum. Perasaan frustasi memenuhinya, dia tidak begitu lemah hingga membutuhkan perlindungan seorang wanita, kan?
"Hanya perampok yang sedang sial saja kalau berani menyerang kita." Tawa Calix sambil menggeleng kepala. Dengan anggota kelompok mereka sekarang ini, dia ragu para perampok akan selamat jika berani menghalangi perjalanan mereka. Terutama dengan kondisi Apel sekarang. Calix tahu, Apel ingin segera mencapai Ibukota Ioreth secepatnya. Meski kelihatan tenang, sebenarnya pemuda itu sama sekali tidak tenang, dia pasti tidak akan membiarkan siapapun menghalangi perjalangan mereka.
"Di mana kita sekarang?" tanya Lara kemudian sambil menatap peta yang ada di tangannya.
"Kita berada di bawah gunung berapi dekat kota Aureduil, kota yang hilang." Jawab Vin cepat.
"Kota yang hilang?" tanya Regis yang dari tadi diam.
"Kau tidak tahu, Regis?" ujar Fedrick terkejut, sebab kejadian menghilangnya kota tersebut adalah sesuatu yang sangat diperdebatkan hingga sekarang.
"Kota Aureduil adalah salah satu kota besar dan makmur di dalam Kerajaan Hirrim. Namun, tiba-tiba, pada suatu malam tiga belas tahun yang lalu, kota itu menghilang tanpa bekas berserta penduduknya." jelas Mire sambil tersenyum. Menatap Regis, dia menyukai anak berambut emas dan mata biru yang meskipun masih sangat kecil tapi sudah sangat tampan.
"Aku tidak bertanya padamu." Balas Regis dingin tidak peduli ekspresi terluka di wajah Mire.
"Semenjak kota itu menghilang, tanah bakas kota itu menjadi kering seperti kemarau panjang meskipun diguyur hujan, dan juga, tidak ada lagi tumbuhan yang bisa tumbuh di sana." Lanjut Calix menjelaskan, sedangkan Mire hanya bisa meratapi nasibnya yang tidak dipedulikan Regis.
"Mengapa?" tanya Regis lagi.
Regis hanya diam mendengar penjelasan Fedrick. Perlahan, dia menoleh menatap Apel yang berada di sampingnya "Kau tahu tentang kota itu, Kak Apel?'
"Iya, aku tahu." Balas Apel singkat. Wajahnya tidak berekspresi, kedua matanya menatap lurus api unggun yang menyala di depannya.
Kota Aureduil.
Pertanyaan Regis sungguh ironis bagi Apel. Di dunia ini, dirinyalah yang paling tahu akan kota kenyataan kota hilang tersebut.
......................
"Akhirnya kita sampai juga!" teriak Calix penuh suka cita di depan pintu ibukota Ioreth.
Sesuai perkataan Calix, mereka mencapai Ibukota Ioreth pada siang hari. Namun, mereka sangat terkejut begitu memasuki kota tersebut saat melihat rumah penduduk kota dan jalan penuh dengan hiasan bunga. Kota yang memang sudah ramai ini terlihat jelas bertambah ramai dan meriah dari pada biasanya.
"Aku ingat! Hari ini adalah hari perayaan besar di kerajaan Rohirrim. Pantas kota ini jadi meriah sekali." Senyum Calix mengingat perayaan terbesar menyambut musim panen di Kerajaan Hirrim yang sangat terkenal.
"Benar juga! Aku hampir melupakan hari perayaan ini." Senyum Vin sambil mengamati sekelilingnya yang penuh dengan stan makanan.
"Kita harus mengelilingi kota ini! Kita sama sekali tidak boleh ketinggalan perayaan ini." Tambah Mire gembira.
"Aku tidak peduli dengan perayaan apa ini. Kita kemari bukan untuk menikmati perayaan." Sela Apel tiba-tiba. Dia menoleh mata merah darahnya yang telah kembali ditutup kain putih seperti biasanya pada Calix, Mire dan Vin.
Calix, Mire dan Vin segera terdiam. Mereka merasa lebih baik tidak terbuai di dalam suasana kota ini sebelum apa tujuan mereka ke kota ini tercapai atau mereka akan celaka.
Menatap Apel, Mire dan Vin sama sekali tidak mengerti mengapa Apel menutup matanya. Namun, mereka juga tidak berani bertanya, mungkin dia hanya ingin menyembunyikan warna matanya yang tidak biasa.
"Ayo, kita pergi ke istana." Ujar Lara memimpin rombongan mereka yang baru saja menginjak kaki ke dalam Ibukota Ioreth.
Suasana kota yang ramai dan padat membuat mereka terpaksa berjalan kaki menuju istana Rohirrim. Saat mereka melewati lapangan di tengah kota, mereka bisa melihat dengan jelas sebuah panggung di depan mereka. Panggung besar itu kelihatan sangat kecil karena jarak mereka yang begitu jauh serta lautan para penduduk maupun turis yang mau menonton pertunjukkan.
"Panggung utama perayaan ini." Teriak Vin gembira begitu melihat panggung tersebut.
"Bisakah kita menonton sebentar saja pertunjukkan di panggung itu?" Pinta Mire penuh harap.
"Kurasa tidak apa kalau kita menonton sebentar," ujar Calix pelan sambil mengamati panggung di kejauhan tersebut. "Raja Hirim pasti juga berada di dalam lapangan ini menonton pertunjukkan."
Apel sama sekali tidak mengatakan apapun, sekali lagi, dia menoleh menatap mereka Calix, Mire dan Vin.
Merasakan tatapan Apel, mereka bertiga langsung terdiam kembali tidak berani bersuara sedikitpun.
"Idiot." Gumam Lara sambil menatap Calix, Mire dan Vin. Dia tidak mengerti, kenapa banyak sekali orang seperti ini disampingnya?
"Bodoh." Tambah Regis dengan wajah tanpa ekspresi.
Fedrick menggeleng kepala. "Kapan mereka baru bisa sadar, ya?"
Dengan matanya yang tertutup, Apel tidak bisa melihat lautan manusia di depan. Namun, dia bisa merasakan jelas aura ribuan orang yang berbeda-beda dalam lapangan. Melangkah kakinya, saat dia akan melewati lapangan, dia tiba-tiba berhenti.
Di kejauhan, Apel merasakan aura keberadaan seseorang yang sangat di kenalnya dalam ribuan aura yang memenuhi lapangan. Membalikkan badannya menghadap lapangan, dia mati-matian mengontrol emosinya yang berkecamuk dan mencari sumber aura tersebut.
"Ada apa, Apel?" tanya Fedrick begitu melihat sikap Apel.
"Ada apa, Kak Apel?" tanya Regis.
Apel tidak menjawab pertanyaan Fedrick dan Regis. Hal itu membuat semua anggota rombongan mereka berhenti bejalan dan menatapnya bingung.
Berlari cepat, Apel tiba-tiba melesat memasuki lapangan dan menerobos orang-orang yang mengerumuni panggung. Dia tidak mempedulikan teriakan Calix dan Fedrick yang penuh kepanikan di belakangnya, dia juga tidak peduli teriakan kemarahan lautan manusia tersebut.
Apel bisa merasakannya. Di kejauhan, di depannya ada aura yang sangat familiar baginya. Aura yang sangat berbeda dan hanya ada satu di dunia ini, aura yang lembut dan hangat bagaikan sinar matahari. Bagaimana mungkin dia bisa salah, aura ini adalah aura dari orang yang selalu menemaninya selama sepuluh tahun ini, aura dari orang yang paling penting baginya di dunia ini—aura dari orang yang terus dirindukannya sejak mereka terpisah.
"Berikutnya adalah persembahan tarian dan nyanyian dari teman dekat Yang Mulia Putri Mirthy, Nona Rue."
......................