
Arthur Vedric Hirrim, Raja Hirrim adalah seorang pria tampan berusia di pertengahan dua puluh tahun. Dia memiliki rambut berwarna hitam dan mata biru seperti adiknya, Mirthy. Wajahnya yang ramah tersenyum saat melihat Apel memasuki ruangannya.
"Selamat datang," sapa Arthur ramah. Duduk di meja kerjanya, dia menatap Apel yang berdiri di depannya penuh senyum. "Aku adalah Arthur Vedric Hirrim, Raja Hirrim. Senang berkenalan denganmu, Apel."
Apel yang telah menutup mata merah darahnya dengan kain putih menatap Raja Hirrim tanpa ekspresi. Keramahan Arthur tidak membuatnya kehilangan kewaspadaannya. Ada sesuatu yang aneh, mengapa Raja Hirrim mengundangnya seorang saja ke ruang kerja raja?
"Kau tidak perlu memasang kewaspadaan seperti itu, Apel." Tawa Arthur begitu melihat sikap Apel.
"Ada perlu apa anda memanggil hamba ini, Yang Mulia?" tanya Apel datar. Dia menggunakan bahasa sesopan mungkin karena tidak ingin menarik perhatian sekaligus berusaha mencari tahu apa niat Arthur.
Arthur tersenyum mendengar pertanyaan Apel. "Aku ingin berkenalan dengan mu, Apel."
"Anda seorang Raja, Yang Mulia," balas Apel tetap dengan suaranya yang datar. "Anda tidak perlu berkenalan dengan hamba yang merupakan seorang rakyat jelata."
Arthur kembali tertawa begitu mendengar ucapan Apel "Rakyat jelata? Benarkah kau seorang rakyat jelata, Apel?"
Apel tidak menjawab pertanyaan Arthur.
"Beberapa tahun yang lalu," senyum Arthur sambil menerawang mengingat sesuatu. "Seorang temanku datang menemuiku. Dia meminta bantuanku untuk mencarikan seseorang. Dia meminta bantuanku untuk mencarikan seorang anak laki-laki dengan mata berwarna merah darah."
Apel cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Arthur. Namun, dia tidak menunjukkan sedikitpun rasa terkejutnya. Wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi seperti biasanya.
"Dia mengatakan padaku, bahwa anak itu adalah miliknya yang berharga, dan dia sama sekali tidak mau kehilangannya," lanjut Arthur dan kembali menatap Apel penuh senyum. "Sebagai teman, aku berusaha membantunya. Namun, aku sama sekali tidak berhasil menemukan anak itu sampai hari ini. Kau tahu? Aku cukup terkejut saat melihat warna matamu itu, Apel."
"Anda salah orang," balas Apel tenang. Intonasi suaranya tidak berubah sedikitpun. "Hamba tidak mungkin kenal teman anda, Yang Mulia. Hamba bukan orang yang dicari teman anda."
"Begitu, ya? Maaf kalau aku salah." Gumam Arthur pelan. Wajahnya terlihat sangat kecewa, namun, Apel tahu sekali, itu hanya pura-pura.
"Tidak apa-apa. Boleh aku pergi sekarang?" Apel tidak bermaksud menlanjutkan pembicaraan dengan Arthur lebih lama lagi. Dia sudah cukup mendapatkan informasi yang dibutuhknnya—tempat ini tidak aman baginya dan Rue.
"Iya. Maaf kalau aku sudah menyita waktu mu." Arthur tersenyum dnan membiarkan Apel pergi.
Apel tidak mengatakan apapun lagi. Membalikkan badan, dia berjalan keluar dari ruang kerja Raja Hirrim. Namun, saat dia membuka pintu, suara Arthur kembali terdengar.
"Sampai ketemu lagi, Kucing hitam—Ah! Maaf, maksudku, sampai ketemu lagi, Apel."
......................
Berjalan menuju kamar Rue yang telah ditunjukkannya dengan gembira sebelum dia menghadap Raja Hirrim, Apel tahu, Raja Hirrim mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Dia dan Rue tidak bisa tinggal lebih lama lagi di tempat ini—tempat ini berbahaya.
Apel menghela napasnya, seandainya saja tadi dia tidak melepaskan kain yang menutup matanya mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. Namun, dia juga tahu itu tidak mungkin. Saat dia mendengar suara Rue, dia tidak bisa berpikir dan bertindak dengan kepala jernih lagi. Dia tidak bisa memikirkan apa-apa lagi pada saat itu, yang ada di dalam pikirannya hanya satu, yaitu; melihat Rue dengan matanya sendiri dan memastikan bahwa gadis itu benar-benar nyata, bukan ilusi.
Pintu kamar Rue tiba-tiba terbuka saat Apel tiba di depannya, dan dia merasakan seseorang memeluknya sambil tertawa. Dia tahu siapa yang memeluknya itu, aura, suara, bau, dan sentuhan dari orang yang sangat penting baginya—Rue.
"Lepaskan aku, bodoh." Perintah Apel dengan wajah tanpa ekspresi, walau sebenarnya dia sama sekali tidak ingin gadis itu melepaskan pelukannya.
"Apel, jangan panggil aku bodoh. Berapa kali sudah aku katakan, aku punya nama!" balas Rue kesal sambil melepaskan pelukannya.
"Bagaimana kau tahu itu Apel, Rue?" suara Calix terdengar dari dalam kamar Rue. "Padahal dia tidak bersuara sedikitpun."
"Tentu saja aku tahu, Kak Calix," jawab Rue membalikkan badan dan berjalan kembali ke dalam kamar. Senyum penuh kebanggaan memenuhi wajahnya. "Bagaimana mungkin aku tidak menyadari kehadiran Apel?"
Apel mengikuti Rue memasuki kamar. Dia telah tahu bahwa gadis itu tidak sendirian. Dia telah merasakan Fedrick, Lara, Calix, Regis dan Mirthy dalam kamar saat berjalan mendekati kamar ini. "Ada perlu apa kalian di sini?" tanyanya datar.
Apel tidak menjawab.
Calix yang tahu Apel tidak akan menjawab, tapi dia tidak peduli. "Jangan begitu, Apel. Yang rindu pada Rue bukan kau seorang saja."
"Eh! Kau merindukan aku, Apel?" tanya Rue terkejut. Menatap Apel, matanya berbinar-binar penuh harapan menantikan jawaban.
Apel tetap diam membisu tidak mengatakan sepatah katapun.
"Dia tidak akan mengakuinya, bodoh," sela Lara tiba-tiba. "Bukankah sikapnya sudah cukup membuktikan?"
Medengar ucapan Lara, Apel menoleh wajahnya pada gadis bermata hitam tersebut. Namun, Lara tidak mempedulikannya.
"Aku juga, Apel," penuh kegembiraan, Rue kembali memeluk Apel dengan erat. "Aku juga sangat merindukanmu."
Apel tertegun sejenak dengan ucapan Rue. Seulas senyum kecil kemudian memenuhi wajahnya. Mengangkat kedua tangan, dia membalas pelukan Rue tanpa mempedulikan pandangan siapapun. Kata Lara memang tidak salah, sikapnya sekarang benar berbeda dengan sikapnya pada biasanya, tapi dia tidak bisa menghentikan dirinya. Dia ingin terus menyentuh Rue—untuk menenangkan dirinya bahwa gadis itu memang ada di sampingnya.
Calix dan Mirthy tersenyum begitu melihat adegan tersebut, sedangkan Lara dan Regis hanya menatap mereka dengan wajah tanpa ekspresi. Hanya Fedrick yang tersenyum pahit. Lucukah jika dia merasa kecewa saat melihat adegan tersebut?—karena dia berharap, dialah yang dipeluk Rue, bukan Apel.
"Kau tidak akan bisa masuk ke tengah mereka berdua, Fedrick." Suara Lara yang berada di samping Fedrick terdengar. Dia berbicara pelan dengan maksud tidak ada seorangpun yang mendengarnya kecuali Fedrick.
"Aku tahu, Lara." Balas Fedrick pelan. Maksud ucapan Lara, dia mengerti. Melihat hubungan Apel dan Rue, dia tahu tidak ada celah baginya untuk masuk ke tengah-tengah mereka. Mata Apel saat menatap Rue dan mata Rue saat menatap Apel sudah cukup membuktikan ikatan di antara mereka berdua.
"Bodoh," panggil Apel yang memeluk erat Rue. "Kau akan mendengar apapun yang aku katakan, kan?"
Rue mengangguk kepala. Dia tidak mengoreksi panggilan Apel saat memanggilnya bodoh seperti biasanya. Kegembiraan dan Kebahagiaan saat mengetahui Apel juga merindukannya membuatnya dapat memaafkan pemuda itu kali ini.
"Bagus. Ayo, kita pergi dari kota ini sekarang juga."
Semua yang ada di sana sangat terkejut begitu mendengar ucapan Apel, termasuk Rue yang berada di dalam pelukannya.
"Eh!?" Teriak Rue terkejut sambil melepaskan pelukannya.
"Apa makasudmu, Apel?" tanya Fedrick dan Calix bersamaan karena terkejut. Sedangkan Lara dan Mirthy meskipun diam, tetap tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejut di wajah mereka.
"Kita pergi dari kota ini sekarang juga," ulang Apel sambil menatap Rue. Tidak peduli pada Fedrick, Lara, Calix dan Mirthy, dia kemudian menoleh pada Regis "Ayo Regis, kita pergi dari sini."
Regis cukup terkejut dengan apa yang diucapkan Apel. Namun, dia tidak bertanya apa-apa. Bangkit dari tempat duduknya, dia berjalan mendekati pemuda itu. Ke mana mereka akan pergi, dia tidak peduli, asal bisa bersama orang yang menyelamatkannya selalu.
Apel menepuk kepala Regis pelan. Membawa Regis mungkin beresiko, tapi itu lebih baik. Jika dia bersama dengan Rue saja, mereka akan terlihat sangat mencolok. Seorang pemuda buta dan seorang gadis cantik melakukan perjalanan bersama—itu akan menarik perhatian semua orang. Tapi, jika ditambah Regis, mereka bisa berpura-pura menjadi kakak-adik yang melakukan perjalanan untuk mengunjungi kerabat. Warna rambut dan mata Regis dan Rue yang mirip cukup mendukung, terlebih lagi, Regis cukup dapat diandalkan karena memiliki sifat dewasa yang tidak sesuai usianya.
"Apel, apa maksud ucapanmu barusan?" tanya Rue panik. Namun, Apel tidak mempedulikan apa yang dikatakannya. Menggengam tangan Rue, dia menariknya dan berjalan keluar dari kamar diikuti Regis dari belakang.
"Apel, tunggu!!" panggil Calix panik.
Namun, Apel yang berjalan tiba-tiba berhenti. Menatap arah pintu yang tertutup rapat, dia berdecak pelan membuat bingung semua yang ada.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka dari luar dengan keras. Sekitar dua puluh orang prajurit berjalan masuk ke dalam kamar itu sambil menghunuskan tombak ke arah mereka "Atas perintah Yang Mulia, semua yang ada di sini ditahan."
......................