
Apel terus berlari menyusuri kota untuk mencari Rue. Menfokuskan dirinya, dia berkonsentrasi penuh mencari aura keberadaan Rue. Tapi, mencari tanpa petunjuk dalam kota yang memiliki ratusan ribu penduduk bukanlah hal yang mudah—dia sama sekali tidak menemukannya. Apel sendiri sudah tidak ingat berapa lama dia mencari gadis itu. Malam semakin larut, jalan-jalan kota sudah tidak begitu ramai. Satu-satunya yang dia syukuri sekarang hanyalah kegelapan malam, sebab dengan begitu kemungkinan orang yang menyadari warna matanya akan lebih kecil.
"Aku melihat sendiri pria itu mengalahkan ketiga preman tersebut dan menyelamatkan gadis cantik itu. Perlu kau ketahui, gadis itu adalah wanita paling cantik yang pernah ku lihat. Rambutnya berwarna emas dan matanya berwarna hijau seperti emerald..." Cerita seorang pria kepada temannya saat berjalan melewati Apel.
Mendengar ucapan pria tersebut, Apel langsung membalikkan badan dan mencengkeram kerah baju pria tersebut. "Di mana gadis itu?"
Pria itu sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Apel. Kemarahan memenuhi dirinya, dan dia ingin memprotes akan sikap kurang ajar yang diterimanya. Namun, dia segera tertegun saat melihat mata Apel. Dalam kegelapan malam, mata merah darah pemuda itu bersinar penuh kemarahan. Kemarahan dalam hati berubah menjadi ketakutan. Dia tidak berani bergerak, begitu juga dengan temannya yang berada di samping. Pandangan mata Apel membuat mereka merasa sedang berhadapan dengan binatang buas yang dipenuhi kemarahan dan kegilaan.
"Aku tanya, di mana gadis itu?" ulang Apel lagi. Suaranya datar tanpa emosi penuh intimidasi dan cengkeraman tangannya di kerah baju pria itu semakin kuat.
"A-aku dengar, p-pria itu membawa gadis itu ke mansion walikota." Jawab pria tersebut terbata-bata dengan badan gemetar hebat.
Mendengar jawaban pria tersebut, Apel melepaskan cengkeraman tangannya. Membalikkan badan, dia berlari meninggalkan mereka menuju rumah walikota. Kedua Pria tersebut berdiri mematung dengan wajah pucat tidak mengerti apa yang baru saja mereka lalui.
Apel tidak mengalami kesulitan saat mencari mansion walikota, sebab mansion sang walikota Radiata yang sekaligus merupakan seorang Marquis adalah rumah terbesar yang ada di kota dan berada di pusat kota.
Tiba di depan mansion walikota, Apel berdiri mengkat kepala menatap pagar putih besar yang ada di depannya. Menutup mata, dia berusaha mencari aura keberadaan Rue, dan saat dia benar-benar menemukan aura tersebut di dalam, dia kembali membuka kedua mata merah darahnya.
Perasaan lega dirasakan Apel saat dia tahu dia telah menemukan Rue. Tapi, meski begitu, emosinya tetap tidak stabil. Marah dan takut yang berkecamuk dalam hati masih dirasakannya. Berusaha keras mengontrol dirinya, pemuda berambut hitam itu melangkah mendekati pintu gerbang mansion.
Dua orang prajurit yang menjaga pintu gerbang menyadari keberadaan Apel yang berjalan mendekat. Mengangkat tombak di tangan, mereka menghentikan pemuda tersebut, "Berhenti! Siapa kau? Orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk!" ujar salah satu penrajut itu keras.
Akan tetapi, Apel yang emosinya tidak begitu stabil sama sekali tidak peduli. Bergerak cepat, dia menangkap tangan prajurit tersebut dan membantingnya ke tanah. Prajurit satunya lagi sangat terkejut, dan tanpa memberikan kesampatan apapun, Apel menendangnya kuat sehingga terpental menabrak pintu pagar sampai terbuka.
"Ahhhh!" teriak prajurit itu kesakitan.
Mendengar teriakan sang prajurit penjaga pintu gerbang, semua prajurit yang sedang berpatroli di dalam mansion walikota segera berlari menuju sumber keributan. Teriakan keras memenuhi mansion yang tadinya sunyi. "Penyusup!!"
Para prajutit yang tiba di tempat keributan segera mengelilingi Apel yang berjalan dengan pelan memasuki taman mansion. Mereka semua menghunuskan tombak ke arahnya, namun yang bersangkutan sama sekali tidak peduli, dia terus melangkah memasuki perkarangan menuju pintu mansion walikota tanpa takut.
"Berhenti! Jangan bergerak!!" teriak kapten dari para prajurit. Dia bisa merasakan keanehan dari pemuda di depannya. Namun, Apel tetap melangkah tidak peduli.
Melihat Apel yang tidak mempedulikan perintahnya, sang kapten tahu, mereka tidak boleh berdiam diri lagi. Dia tidak tahu siapa pemuda ini, dan dia serta pasukannya memiliki kewajiban melindungi mereka yang ada dalam mansion. Mengeratkan gengaman tangan pada tombaknya, dia berteriak keras. "Serang!!"
Para prajurit yang mengelilingi Apel dengan serentak maju untuk menyerang dengan tombak di tangan. Namun, Apel dengan lugas meloncat keatas menghindari serangan tersebut. Saat mendarat, dia menginjak ujung tombak para prajurit yang menyerangnya hingga tertekan ke bawah.
Para prajurit berusaha menarik kembali tombak mereka, tetapi mereka sama sekali tidak dapat melakukannya. Mereka merasa bahwa yang menginjak ujung tombak mereka sama sekali bukan manusia melaikan batu karang.
Apel yang berhasil menekan para prajurit kembali meloncat ke atas. Memutar badannya, dia menendang kepala semua prajurit yang mengelilinginya. Semua prajurit yang menerima tendangan tersebut terpental jatuh ke belakang, sebagian dari mereka pingsan dan sebagian lagi sama sekali tidak dapat bergerak.
Para prajurit yang tersisa sangat terkejut melihat apa yang terjadi. Tidak ada seorangpun yang berani maju menyerang Apel lagi. Pemuda yang ada dihadapan mereka terlalu kuat. Lalu, saat mereka menatap sepasang mata merah darah yang penuh kemarahan, dan kegilaan, ketakutan menyelimuti mereka semua. Pemuda di depan mereka tidak normal dan berbahaya.
Apel kembali berjalan maju, namun, baru beberapa langkah diambilnya, dari depan, dua bayanga melesat cepat ke arahnya dari bawah. Saat akan mencapai Apel, kedua bayangan tersebut timbul dari tanah dan berubah menjadi padat seperti kain untuk menangkapnya.
"Siapa kau? Apa maumu?" tanya Calix. Tidak ada senyum di wajahnya seperti biasa. Kedua mata birunya menatap tajam Apel.
Apel tidak menjawab pertanyaan Calix. Berlari maju, dia melesat dengan cepat menyerang Calix. Calix segera mengangkat tangan menahan serangan yang tertuju padanya, dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menggunakan sihir lagi—Apel terlalu cepat.
Menghindari semua serangan Apel, Calix tahu menyadari Apel bukanlah orang yang dapat dengan mudah dikalahkannya. Dia berusaha membalas serangan. Namun, serangannya sia-sia, sebab Apel dapat menghindarinya dengan baik.
Apel yang melawan Calix semakin lama semakin merasa marah. Pria di depannya cukup kuat, untuk mengalahkannya, dia akan membutuhkan waktu, dan masalahnya—dia tidak memiliki waktu. Rue ada dalam mansion ini, baik-baik saja atau terluka, dia tidak tahu. Jadi, bagaimana bisa dia masih di sini?
Meloncat ke belakang, Apel mengambil jarak yang cukup jauh dari Calix Menatap pria itu, dia mengangkat tangan kanannya, sebuah lingkaran sihir hitam besar muncul dihadapannya.
Calix cukup terkejut dengan Apel yang tiba-tiba menggunkan sihir. Ukuran lingkaran sihir itu cukup besar, dan meski dia tidak tahu sihir apa yang dilakukan pemuda itu, instingnya terus mengatakan sihir tersebut adalah sihir yang sangat berbahaya.
"Apel?" suara pelan seorang wanita tiba-tiba terdengar memecahkan keheningan yang ada.
Apel dan Calix secara reflek melihat ke arah datangnya suara tersebut. Tidak jauh dari mereka, Rue, Fedrick, Lara dan Esthel berdiri menatap mereka.
"Apel?" panggil Rue lagi. Dia mengedipkan matanya beberapa kali seakan berusaha menyakinkan diri yang dilihatnya bukan ilusi.
Apel segera menurunkan tangannya. Lingkaran sihir yang dibuatnya pun menghilang. Berlari cepat sebisanya menuju Rue, dia langsung memeluk gadis itu erat. Menarik napas dan merasakan kehangatan badan tersebut, kemarahan dan ketakutan dalam dirinya mulai menghilang—dia sudah menemukan Rue.
Rue balas memeluk Apel. Air mata mengalir turun dengan deras dari matanya. Namun, wajahnya tersenyum. Apel yang memeluknya nyata bukan ilusi. Dia merasa sangat lega akhirnya bisa bertemu lagi dengan pemuda berambut hitam tersebut.
Saat dirinya sudah tenang, Apel kemudian melepaskan pelukannya. Kedua mata merah darahnya menatap Rue yang tersenyum penuh kemarahan. Dengan suara keras, dia membentak gadis itu. "Aku menyuruhmu menunggu di penginapan, kenapa kau tidak mendengarkan kata-kataku!"
Mendengar bentakkan Apel, senyum di wajah Rue menghilang, "M-maaf, maafkan aku, Apel..." Ujarnya penuh ketakutan. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi, ini pertama kalinya dia melihat pemuda itu semanrah ini.
"Hei," sela Calix yang berjalan mendekat dan melihat interaksi antara Apel dan Rue. "Kau tidak perlu sekeras itu kepadanya, kan?"
Apel memalingkan wajah melihat Calix.. Mata merah darahnya menatap tajam pria itu memberikan peringatan untuk tidak ikut campur urusan mereka.
Calix menelan ludah dan tidak mengatakan apapun lagi. Dia menatap Apel, dan yang pertama kali terlintas dalam pikirannya adalah betapa nama itu tidak cocok dengan pemuda itu. Apel? Buah Apel untuk nama pemuda berbahaya itu? Lalu yang kedua adalah warna matanya yang aneh. Tidak pernah dia melihat bola mata merah seperti itu selama ini—seperti darah.
"Maaf, maaf, maafkan aku, Apel. Aku tidak akan pernah mengabaikan kata-katamu lagi." terus meminta maaf dengan wajah penuh air mata, Rue mengengam erat baju Apel. Dia takut jika pemuda itu marah dan tidak mau bersamanya lagi.
Melihat air mata di wajah Rue yang tidak berhenti serta ketakutannya, Apel kembali menghela napas. Wajah menangis dan ketakutan Rue adalah hal yang paling tidak disukainnya. Mengangkat tangan kanannya, dia menghapus air mata yang ada. "Bagus kalau begitu. Jangan menangis lagi."
Mendengar ucapan Apel, air mata Rue bukannya berhenti, malah sebaliknya mengalir turun semakin deras. Mengangkat tangan, dia kembali memeluk pemuda itu dengan erat. "Maaf, maaf, maafkan aku..."
......................