Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 21



Seekor naga terbang di atas langit taman ini. Naga itu sangat besar, badannya dipenuhi sisik berwarna merah tua dengan sepasang sayap besar. Menggunakan cakarnya yang besar dan runcing, dia menghancurkan bangunan sekeliling mereka dengan buas.


"Iana! Apa yang terjadi?" tanya Peta sambil berlari mendekati seorang gadis berambut keriting coklat yang berdiri mematung di luar sebuah kandang binatang tidak jauh dari taman tersebut.


Iana, gadis bermata biru langit itu menatap Peta dengan wajah pucat pasi, "Aku tidak tahu. Saat aku masuk ke dalam kandang hewan, aku melihat semua binatang dan makhluk sihir yang ada ketakutan. Saat aku keluar untuk melaporkan keanehan tersebut, tiba-tiba naga ini tebang kemari dan menyerang."


Naga adalah makhluk sihir yang sangat kuat dan berbahaya, namun mereka tidak akan menyerang tanpa sebab. Tidak ada seorangpun yang berani memancing kemarahan naga, karena naga yang marah akan menyerang dan menghancurkan semua yang ada di sekelilingnya. Hanya saja, naga yang berada di hadapan mereka sekarang ini jelas kelihatan sangat marah.


"Mengapa ada naga di sini?" ujar Calix bingung sambil melihat naga tersebut.


"Aku tidak tahu, dan aku yakin tidak ada seorangpun di sini yang cukup bodoh untuk memancing kemarahan seekor naga." Jawab Iana cepat sambil melihat naga yang terus memporak-porandakan perguruan sihir Erfin dengan wajah penuh ketakutan.


Murid-murid yang berada di dalam perguruan sihir Erfin tidak hanya berdiam diri membiarkan naga ini menghancurkan tempat tinggal mereka. Mereka semua berusaha keras untuk menghentikan naga tersebut dan menyerangnya dengan sihir. Namun, sihir mereka sama sekali tidak melukai naga tersebut, malah naga tersebut bertambah marah dan semakin liar.


Terbang tinggi ke atas, naga itu kemudian menukik ke bawah menyerang para murid yang ada. Meskipun memiliki badan yang besar, gerakan naga tersebut sangat cepat. Tidak semua murid berhasil menghindari serangan tersebut, sebagian dari mereka terluka akibat serangan tersebut. Tidak berhenti di sana, naga itu kemudian menyemburkan api dari mulutnya dan membakar pohon-pohon yang ada di dalam taman sehingga keadaan yang sudah kacau menjadi semakin kacau.


Calix dan Peta juga turut membantu. Namun, mereka tetap saja tidak bisa menghentikan naga tersebut.


Naga itu terus menyemburkan api dari mulutnya, sebagian murid terpaksa berhenti menyerang dan menggunakan sihir mereka untuk memadamkan api yang telah menjalar ke mana-mana.


"Bagaimana kita bisa menghentikan naga yang sedang mengamuk ini?" tanya Calix panik. Dia merasa apa yang mereka lakukan sekarang sama sekali tidak dapat menyelesaikan masalah.


Semua yang ada di sana tidak bisa menjawab pertanyaan Calix, mereka sama sekali tidak tahu cara untuk menghentikan naga tersebut. Naga adalah makhluk sihir tingkat tinggi yang selalu menjadi musibah bagi manusia. Namun, tiba-tiba saja, naga tersebut berhenti menyerang dan menghancurkan sekeliling. Menolehkan kepalanya yang besar ke arah belakang, naga tersebut kembali terbang dan mendarat tidak jauh di hadapan seorang pemuda.


Calix dan Peta bisa melihat dengan jelas siapa pemuda tersebut. Dia tidak terkejut maupun takut sedikitpun meski naga itu berada di hadapannya. Berambut hitam dengan sebuah kain putih mengikat matanya—Apel.


"Apel?" ujar Calix dan Peta terkejut bercampur bingung dengan apa yang terjadi.


Naga itu mendengus menatap Apel sambil mencakar tanah tempatnya mendarat dengan kedua kukunya yang besar dan tajam. Kedua matanya menatap lekat pemuda itu, namun yang bersangkut sama sekali tidak bergeming—seakan yang ada di depannya bukanlah apa-apa.


Semua yang ada di sana menatap tidak mengerti apa yang terjadi, naga itu berhenti menyerang dan menghancurkan sekelilingnya. Mereka tahu, seekor naga yang sedang marah hanya akan menghancurkan sekelilingnya tanpa mempedulikan apapun. Namun, naga ini sekarang malah terbang dan mendarat di hadapan Apel, menatapnya tanpa melakukan apapun seakan ingin—menantangnya.


Membuka mulutnya, naga tersebut tiba-tiba menyemburkan api menyerang Apel. Apel dengan lincah meloncat menghindari semburan api tersebut, dan melihat itu, naga yang sama sekali tidak mau memberikan kesempatan kepada pemuda itu untuk menghindari serangan segera menggunakan ekornya yang panjang untuk menyerang. Namun, sekali lagi, Apel berhasil menghindar dan meloncat ke atas salah satu dahan pohon yang tidak terbakar dalam taman.


Menggeram penuh kemarahan, naga yang penuh kemarahan tersebut kembali terbang menyerang Apel.


Semua yang ada dalam taman tidak bergerak sedikitpun melihat apa yang terjadi. Mereka terkejut, bingung tidak mengerti; mengapa naga itu sekarang hanya menyerang Apel?—dia sama sekali tidak mempedulikan mereka yang sejak tadi menyerangnya. Di mata naga itu sekarang sepertinya hanya ada pemuda tersebut.


Sementara itu, Fedrick yang berada dalam kamarnya sama sekali tidak bisa berdiam diri. Dia tahu, telah terjadi sesuatu di dalam perguruan ini. Memaksakan dirinya untuk keluar dari kamar dan berjalan menuju arah sumber keributan, matanya terbelalak karena terkejut melihat apa yang ada dihadapannya—Apel sedang melawan seekor naga?


Apel yang ada di atas dahan pohon kembali meloncat menghindari naga tersebut dan mendarat di tanah. Mengangkat kepalanya ke atas, dia melihat naga tersebut membalikkan badannya yang besar dan kembali menyemburkan api dari mulutnya.


Mengangkat tangannya membuat lingkaran sihir berwarna biru besar dan membacakan sebuah mantra, Apel berkonsentrasi penuh. Gelombang air melesat keluar dari lingkaran sihir tersebut dan melesat cepat bertabrakkan dengan api yang disemburkan naga.


Saling berusaha untuk mendominasi, pada akhir sihir Apel lebih unggul. Penuh kemarahan, naga tersebut berhenti menyemburkan api dan terbang menghindari. Namun, Apel tidak memberikan kesempatan kepada lawannya. Kembali membuat lingkaran sihir berwarna hijau besar dan membaca mantra sihir, beribu-ribu pedang angin meluncur menyerang.


Naga tersebut bergerak menghindari sihir Apel. Hanya saja, tidak semua sihir angin tersebut berhasil dihindarinya. Sihir angin tersebut berhasil melukainya meskipun tidak parah. Meraung penuh kemarahan, sebuah lingkaran sihir merah muncul di hadapan naga tersebut. Dari dalam lingkaran sihir tersebut bola api besar melesat ke arah Apel.


Apel kembali membuat lingkaran sihir berwarna coklat dan membacakan mantra. Tanah di sekelilingnya tiba-tiba melonjak naik tinggi menjadi sebuah dinding keras dan tebal melindunginya.


Sekali lagi semua murid perguruan sihir Erfin tidak mempercayai apa yang mereka lihat. Penyihir sekuat apapun tidak mungkin mampu menghadapi seekor naga seorang diri. Namun, Apel seorang diri mampu menghadapi naga tersebut. Calix juga sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia hanya bisa berdiri mematung melihat petarungan di depannya. Dia sudah tahu, Apel merupakan seorang penyihir yang sangat kuat, tapi tidak menyangkanya sekuat ini.


Melihat Apel yang sama sekali tidak terluka, Naga tersebut kembali meraung penuh kemarahan. Sebuah lingkaran sihir besar berwarna merah kebiruan muncul di hadapannya, api biru melesat keluar dari dalam lingkaran sihir tersebut.


Apel tahu, sihir naga itu berbahaya dan tidak dapat dihentikan dengan mudah, karena itu, dia meloncat menghindar. Namun, diluar predeksinya, sihir api tersebut mengejarnya. Meloncat menghindar lagi, Apel berusaha mengelak, karena itu, dia terlambat menyadari keberadaan naga yang telah terbang mendekatinya.


Saat Apel sadar akan keberadaan naga tersebut, naga itu telah berada sangat dekat dengannya. Membuka mulut dan memamerkan taringnya yang tajam, dia berusaha untuk mengigit Apel.


Memutar badannya yang ada di udara meghindari mulut naga, Apel tahu, tidak memungkinkan lagi bagi dirinya menghindari sihir api biru yang mengejarnya. Dalam waktu singkat yang ada, dia segera membuat lingkaran sihir berwarna biru dan membacakan mantra. Dinding air muncul dan membungkus dirinya bagaikan sebuah perisai.


Dinding air yang dibuat Apel tidak berhasil menghentikan sihir api naga itu. Terhempas ke belakang, badan Apel jatuh ke atas tanah tifak jauh dari tempat di mana pedang dan sihir Shire yang tertancap. Seluruh badan Apel mengalami luka bakar akibat sihir api naga. Namun, berkat dinding air yang dibuatnya, luka bakar yang ada tidak begitu serius.


Melihat Apel yang terluka, naga tersebut tidak membuang kesemapatan yang ada. Melesat cepat dengan mulut terbuka, dia meluncur ke bawah menuju arah Apel.


"Apel!!" teriak Calix dan Fedrick bersamaan. Namun, Apel tidak bergerak sedikitpun. Dia hanya terduduk diam dengan kepala menunduk ke bawah seakan tidak mendengar teriakan mereka berdua.


Calix segera mengangkat tangannya membuat lingkaran sihir berwarna abu-abu dan membacakan sebuah mantra sihir. Dari dalam lingkaran sihir bayangan melesat cepat mengikat kaki naga dan berusaha menghentikan gerakannya. Tapi, apa yang dilakukan Calix sama sekali tidak dapat menghentikan gerakan naga.


Fedrick melihat apa yang terjadi dengan penuh ketakutan dan juga keputus asaan. Dia ingin melakukan sesuatu, namun, dia juga tahu, betapa tidak berdaya dirinya. Rue serta Lara diculik tepat di depan matanya, lalu kini, Apel berada dalam bahaya saat melawan naga—dan dia sekali lagi hanya dapat melihat dalam diam. Dia lemah dan tidak berguna, karena itulah dia sungguh berharap dia kuat dan memiliki kekuatan untuk melindungi temannya.


Dalam keputusasaan dan juga pengharapan yang ada, Fedrick bisa merasakan sesuatu di dalam dirinya. Sedetik kemudin dia sadar, ada kekuatan dalam dirinya—kekuatannya yang tertidur sebagai anggota kerajaan Crussader. Megangkat tangannnya membuat lingkaran sihir berwarna emas dan membacakan mantra sihir, burung-burung yang berada dalam kandang hewan di taman tersebut tiba-tiba melesat keluar menyerang naga.


Semua murid perguruan Erfin yang melihat sihir Calix dan Fedrick sangat terkejut. Mereka tahu apa sihir yang digunakan mereka berdua. Itu adalah sihir unik keluarga kerajaan Arthorn dan Crussader.


Naga tersebut berhenti meluncur ke arah Apel, burung yang menyerangnya membuatnya sangat terganggu, dan juga, sihir bayangan yang mengikat kakinya sekarang mulai mejalar naik ke badannya. Meraung penuh kemarahan, naga tersebut memberontak untuk membebaskan diriya.


Fedrick dan Calix berkonsentrasi penuh berusaha keras untuk mempertahankan sihir mereka. Melihat kesempatan yang ada, Peta segera berlari ke arah Apel untuk memyembuhkan lukanya. Namun, saat mendekati Apel, tiba-tiba dia merasakan udara di sekelilingnya berubah menjadi sangat berat. Perasaan tidak enak menyelimutinya—perasaan enggan dan menakutkan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata.


Udara sekeliling yang berat dan perasaan aneh itu tidak hanya dirasakan Peta seorang saja, semua yang ada di sana juga merasakan perasaan tersebut. Naga yang sedang memberontak untuk membebaskan dirinya tiba-tiba berhenti memberontak, sepertinya dia juga menyadari keanehan yang terjadi.


Semakin dekat dengan Apel, Peta sadar, udara sekeliling yang berat dan perasaan aneh yang muncul itu bersumber dari Apel, "Apel..." panggil Peta pelan.


Apel tidak memberikan reaksi pada anggilan Peta, seakan-akan dia tidak mendengarnya. Namun, tiba-tiba saja, dia mengangkat wajahnya. Peta memang tidak dapat melihat dengan jelas wajah Apel, karena kain yang menutup matanya. Namun, dia bisa melihat dengan jelas sebuah senyum terlukis di wajah tersebut.


Melihat senyum Apel, Peta merasakan ketakutan yang sangat luar biasa menyelimutinya. Tidak tahu mengapa, dia tiba-tiba merasakan Apel yang berada di hadapannya sekarang ini sangat berbahaya, bahkan rasanya pemuda itu lebih berbahaya dari pada Naga yang berada di atas langit perguruan sihir Erfin sekarang. Di matanya senyum Apel itu adalah sebuah senyum yang penuh kegilaan.


Apel bangkit dan berjalan ke arah naga tersebut dengan pelan. Peta tidak berani menghentikannya, badannya sama sekali tidak bisa bergerak, dan saat Apel melewatinya, dia sama sekali tidak berani menatapnya.


Apel tiba-tiba berlari dengan kecepaan luar biasa mendekati naga tersebut. Meloncat ke atas, dia mendarat tepat di atas kepala naga tersebut. Tanpa membuang waktu, dia mengangkat tangan kanannya dan menusuk mata kiri naga tersebut.


Semua yang ada di sana sangat terkejut melihat apa yang terjadi termasuk Fedrick dan Calix. Naga tersebut meraung kesakitan dan memberontak sekuat-kuatnya untuk membebaskan dirinya dari sihir yang mengikatnya. Aksi Apel yang sangat mengejutkan itu membuat baik Frdrick maupun Calix kehilangan konsentrasi pada sihir mereka. Sihir yang mengikat naga tersebutpun terlepas.


Apel meloncat turun dari naga tersebut. Naga itu terbang tinggi ke atas langit sambil meraung kesakitan. Mengangkat wajahnya menatap naga tersebut, senyum di wajah Apel semakin lebar saat mendengar teriakan kesakitan naga itu.


Penuh kemarahan naga yang ada di atas langit tiba-tiba membalikkan badan dan menukik dengan penuh kemarahan ke arah Apel. Tanpa takut, dengan senyum yang masih terlukis di wajahnya, Apel berlari ke arah naga tersebut.


"Apel!" teriak Fedrick dan Calix begitu melihat apa yang dilakukan Apel.


Apel yang terus berlari mendekati naga sama sekali tidak mendengarkan suara Fedrick dan Calix yang terus berteriak memanggilnya. Seluruh fokusnya hanya terpusat pada lawannya, yang ada dalam pikirannya sekarang hanya ada dua, yakni; bunuh dan hancurkan.


......................