Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 11



Rue berjalan mengikuti Fedrick, Lara dan Esthel yang berada di depannya. Sambil mengikuti mereka, pikirannya melayang kembali pada kejadian yang baru saja terjadi beberapa saat yang lalu.


"Pangeran dan putri sebaiknya segera meninggalkan kota. Terowongan ini akan mnghubungkan anda semua ke gunung Bold di samping kota." Jelas Linden sambil menyerahkan sebatang kayu obor kepada Fedrick. "Aku berdoa perjalanan kalian lancar dan segera mencapai kota Cirrion."


Membungkuk memberikan hormat pada Fedrick, Lara dan Esthel, Linden kemudin meninggalkan mereka semua. Sebagai walikota Radiata, dia tidak mungkin mengabaikan kota ini—dia akan mencoba bertarung dan mempertahankan kota sampai akhir.


Jalan rahasia yang ditunjukkan oleh Linden merupakan sebuah terowongan bawah tanah. Apel, Rue, Fedrick, Lara dan Estehl berjalan menyusuri terowongan tersebut dalam diam. Terowongan itu sangat gelap dan satu-satunya sumber cahaya yang ada hanyalah obor yang ada ditangan Fedrick.


"Apel, bisakah kau membuat bola api untuk menerangkan jalan?" pinta Rue kepada Apel yang berada di sampingnya. Dia tidak menyukai kegelapan dalm terowongan.


Tanpa mengatakan apapun, Apel membuka telapak tangan kanannya membuat lingkaran sihir dan menlafalkan mantra. Sebuah bola api muncul di atas telapak tangannya meneranggi jalan, dan mempertahankan bola api itu terus, mereka terus melanjutkan perjalanan.


Fedrick dan Lara tidak berkomentar saat melihat sihir Apel. Mereka sudah pernah melihat pemuda itu melakukan sihir tanpa lingkaran dan mantra sihir, serta sihir yang tidak diketahui, tapi, tidak untuk Esthel. Wanita cantik itu sangat terkejut.


Sihir bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Sihir membutuhkan lingkaran dan mantra sihir, selain itu, juga membutuhkan konsentrasi tinggi. Karena itulah, bisa mempertahankan sihir seperti yang dilakukan Apel adalah hal luar biasa yang hanya dapat dilakukan penyihir tingkat tinggi.


Esthel menatap Apel, dan tiba-tiba, sesuatu melintas dalam kepalanya, "Kau—aku melihatmu bertarung tadi. Kau sangat kuat," ujarnya pelan. "Aku mohon bisakah kau membantu Calix?"


Semua yang ada, kecuali Apel sangat terkejut mendengar permohonan Esthel.


"Kak Esthel, itu—" Sela Fedrick. Namun kata-katanya berhenti begitu melihat air mata Esthel yang mengalir turun. Esthel bukanlah gadis yang lemah. Melihat air mata tersebut, dia sadar betapa khawatir dan takutnya wanita berambut merah itu sekarang.


"Aku tahu," ujar Esthel lagi sambil menghapus air matanya. "Calix menyuruh kita untuk pergi dari kota ini. Dia mengatakan dia akan baik-baik saja. Namun, hatiku sama sekali tidak tenang. A-aku merasa..."


Semua yang ada diam membisu, tak ada yang mengatakan apapun.


"Kumohon," pinta Esthel lagi sambil menatap Apel penuh harapan. "Bisakah kau pergi membantunya?"


Apel tidak mengucapkan apa-apa. Meski Esthel menangis dan memohon padanya, dia tetap tidak merasakan apapun. "Aku tidak memiliki kewajiban membantumu."


Jawaban Apel yang datar tanpa emosi membuat Esthel tertegun. Rasa malu memenuhi hatinya, Apel benar, mereka baru saja bertemu beberapa saat yang lalu, dan pemuda itu tidak memiliki kewajiban membantu Calix yang artinya harus membahayakan nyawa.


Fedrick dan Lara tidak mengatakan apa-apa, sifat dingin Apel mereka sudah mengetahuinya. Kesunyian kembali memenuhi terowongan.


"Apel," suara pelan Rue terdengar memecahkan kesunyian. Menarik lengan Apel, mata hijaunya menatap pemuda tersebut lurus. "Kau bisa membantu Kak Calix, kan?"


"Mengapa aku harus membantunya?" tanya Apel. Kedua mata merah darahnya menatap Rue tidak suka. Kenapa Rue ingin membantu orang yang baru dikenalnya? Dari Fedrick, Lara dan kini Calix dan Esthel—dia benar-benar tidak menyukainya.


"Eh!?" terkejut dan kebingungan dengan pertanyaan Aple, Rue berusaha keras memikirkan jawabannya. "K-karena mereka teman kita."


Mendengar jawaban Rue, Apel tidak mengucapkan apapun. Dia sungguh ingin bertanya pada gadis bodoh di sampingnya, 'Sejak kapan kami berteman?'. Mereka baru saja bertemu, dan pertemuan mereka juga tidak bisa dikatakan baik. Apel sama sekali tidak mengerti, bagaimana Rue bisa berpikir mereka berteman?


"Tidak." Jawab Apel. Dia tidak ingin dirinya dan Rue berhubungan dengan siapapun. Semakin cepat mereka berpisah akan semakin bagus. "Aku tidak akan mengulangi lagi, aku tidak memiliki kewajiban untuk menolong mereka."


Baik Fedrick, Lara dan Esthel masih diam membisu. Melihat sikap teguh Apel yang tidak ingin memberikan bantuan, mereka tidak dapat memaksanya. Namun, ucapan Rue kemudian mengejutkan mereka. "Kalau begitu, biar aku saja yang pergi membantu Kak Calix."


"Apa kau mengerti apa yang baru saja kau katakan, bodoh?" mata merah darah Apel bersinar penuh kemarahan saat mendengar ucapan Rue. "Kau sama sekali tidak punya kewajiban untuk menolong mereka."


"Aku punya kewajiban, Apel," balas Rue menatap Apel. Tidak ada ketakutan di wajahnya saat menatap wajah penuh kemarahan pemuda itu. "Kak Calix dan Kak Esthel pernah menyelamatkanku dari gangguan orang jahat saat aku tersesat dalam kota."


"Menyelamatkanmu?" tanya Apel kebingungaan.


Rue mengangguk kepala.


Apel terdiam. Dia cukup terkejut mendengar apa yang dikatakan Rue. Dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padabRue saat gadis itu meninggalkan penginapan, dan saat mendengar Calix serta Esthel pernah menyelamatkan Rue, perasaan berhutang muncul dalam hatinya—perasaan yang sangat menganggu baginyam


Menghela napas, Apel bertanya ada Rue. "Apakah kau tahu apa itu perang sebenarnya?"


"Eh! Ehm, sesuai kata kak Calix perang itu adalah pertempuran untuk merebut suatu wilayah. Tapi, itu tidak ada hubungannya dengan aku pergi membantu kak Calix." Jawab Rue ragu-ragu. Namun, matanya menatap lurus mata Apel


Mendengar jawaban Rue, Apel yakin sekali bahwa gadis itu sama sekali tidak tahu apa itu perang, dan melihat tatapan mata Rue, dia juga tahu, gadis itu tidak akan mengubah keputusannya untuk membantu. Tinggal bersama bertahun-tahun, dialah yang paling tahu betapa keras kepala sesungguhnya gadis bodoh tersebut.


Terdiam sejenak, Apel hanya dapat kembali menghela napas sambil menutup mata,"Baiklah, aku akan membantunya," ujarnya. Membuka matanya lagi, dia menatap tajam Rue. "Tapi, kau tidak akan ikut denganku."


Semua yang ada sangat terkejut mendengar keputusan Apel yang tiba-tiba tersebut, terutama Fedrick dan Lara. Mereka berdua tidak mengerti bagaimana pemuda itu bisa mengubah keputusannya hanya beberapa kalimat dari Rue.


"Eh! Mengapa aku tidak boleh ikut? Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk tidak akan meninggalkanku?" protes Rue panik.


"Kau hanya akan mengangguku saja, bodoh. Kau ikut dengan mereka ke kota Cirrions. Setelah masalah di sini selesai, aku akan menemuimu di kota itu." Balas Apel. Dia sesungguhnya tidak ingin berpisah dengan Rue. Namun, dia sama sekali tidak ingin menempatkan gadis itu dalam medan perang yang berbahaya.


Rue tidak menemukan kata untuk menbalas ucapan Apel. Apa yang dikatakan pemuda itu memang benar, dia yang tidak bisa apa-apa hanya akan menjadi beban jika mengikutinya.


"Serahkan saja padaku." Balas Fedrick cepat. Dia tahu, Apel tidak sepenuhnya mempercayai mereka, tapi pemuda itu meminta mereka menjaga Rue—dia boleh berpikir ada kemajuan dalam hubungan mereka, kan?


Lara tidak membalas Apel. Diam membisu, gadis itu membuang muka tidak peduli. Tidak dimintapun dirinya akan menjaga Rue yang tidak tahu apa-apa itu.


"Terima kasih, terima kasih," senyum lebar memenuhi wajah Esthel. "Kau tidak usah mengkhawatirkan Rue. Kami pasti akan menjaganya."


Apel kembali memalingkan wajahnya menatap Rue, dan dia merasakan sepasang tangan memeluknya erat. "Kau harus cepat datang menemuiku, Apel." ujar Rue pelan.


Apel memadamkan bola api penerang di tangannya dan membalas pelukan Rue. Menutup mata menghirup bau khas gadis dalam pelukannya, dia mengangguk kepala.


Sesungguhnya, sangat berat bagi Apel dan Rue untuk berpisah di sini. Sejak mereka bertemu sampai dengan detik ini, mereka tidak pernah terpisah lama. Ada perasaan aneh dalam hati mereka bahwa perpisahan ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bertemu kembali.


"Jaga dirimu dan tunggu aku." Bisik Apel pelan dan melepaskn Rue. Menatap wajah cantik yang menatapnya lurus penuh kesedihan, seulas senyum yang sangat jarang ditunjukkannya memenuhi wajah. "Aku akan cepat."


Rue mengangguk kepala dalam diam. Dalam kegelapan terowongan, dia melihat Apel membalikkan badannya dan berlari menjauh. Hanya dalam satu kedipan mata, pemuda itu telah menghilang ditelan kegelapan.


Apel yang berlari dalam kegelapan kembali ke mansion walikota mengeluarkan kain putih yang digunakannya untuk menutup mata dari sakunya. Mengikatnya dengan erat untuk menyembunyikan mata merah darahnya, dia menuju medan perang tanpa takut.


"Itu pintu keluarnya!" suara Esthel segera menyadarkan Rue dari lamunannya. Mengangkat kepala melihat ke depan, dia melihat ujung dari terowongan gelap ini adalah sebuah tangga yang akan menghubungkn mereka ke luar.


"Ayo!" ujar Esthel gembira dan mulai memanjat tangga tersebut diikuti Rue, Lara dan Fedrick.


Saat mereka berhasil keluar dari terowongan tersebut, matahari pagi telah terbit. Mereka menemukan diri mereka berada di tengah gunung Bold yang berada tidak jauh dari kota Radiata.


"Kita harus melewati gunung ini dan berjalan ke timur untuk mencapai kota Cirrion. Kita harus cepat." Ujar Esthel cepat memimpin rombongan.


Rue, Fedrick dan Lara mengangguk kepala menyetujui apa yang dikatakan Esthel. Mereka berjalan secepat yang mereka mampu untuk melewati gunung Bold. Mereka harus mencapai kota Cirrion secepatnya. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di kota Radiata sekarang ini, karena itu, mereka harus meminta bantuan pada kota Cirions untuk membantu mempertahankan kota Radiata secepatnya.


"Aku tidak mengira kerajaan Ormund akan menyerang secepat ini." Esthel tiba-tiba memulai pembicaraan. Kebingungan bercampur kekhawatiran terdengar jelas dalam suaranyam


"Kau benar, kak Esthel. Secara keseluruhan kerajaan Ormund bukanlah kerajaan yang mampu menandingi lima kerajaan lainnya. Aku tidak akan berkata demikian jika kita masih merupakan tawanannya. Tapi, masalahnya sekarang, kita sama sekali bukan tawanannya." Setuju Fedrick dan menyuarakn apa yang ada dalam pikirannya.


"Raja kerajaan Ormund bukanlah orang yang gegabah. Dia adalah orang yang penuh perhitungan. Dia tidak akan melakukan suatu tindakan yang akan membahayakannya." sela Lara yang dari tadi diam tanpa ekspresi.


Fedrick dan Esthel yang mendengar ucapan Lara berpikir sejenak. Mereka merasa apa yang dikatakannya benar. Jika Raja Ormund berani menyerang kerajaan Arthorn berarti Raja Ormund berani mengakhiri perdamaiaan yang ada. Raja Ormund pasti tahu, kerajaan-kerajaan lainnya tidak akan tinggal diam jika kerajaan Arthorn diserang. Apa yang menyebabkan Raja Ormund berani menyerang kerajaan Arthorn? Fedrick, Lara dan Esthel sungguh tidak tahu.


"Ehm..," gumam Rue pelan mendengar pembicaraan Fedrick, Lara dan Esthel. Matanya menatap bingung mereka bertiga. "Kalian sedang membicarakan apa? Aku sama sekali tidak mengerti?"


Fedrick, Lara dan Esthel menoleh wajah mereka menatap Rue. Mereka tidak terkejut lagi dengan pertanyaan gadis berambut emas tersebut, sebab ini bukanah pertama kalinya.


"Kau tidak perlu tahu—itu tidak ada hubungannya dengnmu." Ujar Lara. Dia tahu, tidak ada gunanya menjelaskan pada Rue, gadis itu pasti tidak akan mengerti.


Rue tidak membalas ucapan Lara, dengan wajah cemberut, dia tidak bertanya lagi. Jika dijelaskan dengan pelan beberapa kali seperti yang selalu dilakukan Apel untuknya, dia pasti akan mengerti. Menghela napas, Rue mulai merindukan pemuda itu.


Gunung Bold merupakan gunung yang indah dan damai. Suara kicauan burung terdengar di sekeliling mereka dan beberapa ekor binatang seperti kelinci, tupai, kijang terlihat hidup dengan damai di dalam gunung. Namun, anehnya, saat melihat mereka, binatang-binatang tersebut mulai mengikuti mereka.


"Apa hanya perasaanku saja," menatap sekeliling bingung bercampur waspada, Lara merasakan keanehan yang ada. "Kenapa aku merasa semua binatang yang kita temui mengikuti kita?" tanya Lara.


Fedrick dan Esthel tidak mengucapkan sepatah kata pun. Namun, mereka mengetahui apa yang dikatakan Lara benar. Binatang-binatang yang ada memang mengikuti mereka.


"Fedrick, apakah kau sudah berhasil menguasai sihir pengendali binatangmu?" tanya Esthel kepada Fedrick. Seperti halnya Calix dari kerajaan Arthron yang menguasai sihir unik di mana mereka bisa mengendalikan bayangan, keluarga kerajaan Crusader juga memiliki satu tipe sihir unik, yaitu sihir untuk mengendalikan binatang.


Fedrick mengeleng kepala. Dia yakin sekali bukan dia yang menyebabkan binatang-binatang di hutan ini mendekati mereka, sebab dia masih belum menguasai sihir tersebut, dan juga, menguasai sihir pengendali binatang tidak berarti dia akan menarik semua binatang mengikutinya ke manapun dia pergi.


Tiba-tiba seekor burung kecil terbang mendekati Rue. Rue tertawa saat burung kecil tersebut hinggap di bahu kirinya. Dengan tangan kanannya, dia mengelus kepala burung kecil itu pelan. Seakan-akan mengikuti burung kecil tersebut, semua binatang yang mengikuti mereka mendekati Rue.


Fedrick, Lara dan Esthel berhenti berjalan begitu melihat apa yang terjadi. Tertegun, mereka menyadari yang membuat semua binatang mengikuti mereka adalah Rue bukan Fedrick.


Beberapa binatang yang mendekati Rue bergerak mengelilinginya seakan-akan mengajak dia untuk bermain bersama mereka. Rue yang tidak merasa aneh tertawa melihat aksi binatang-binatang tersebut.


Fedrick, Lara dan Esthel menatap tidak bergerak Rue yang ada di depan mereka. Di bawah limpahan cahaya matahati dengan para binatang mengelilinginya, gadis berambut emas itu terlihat luar biasa cantik—seakan bukan berasal dari dunia ini.


"Fedrick, Lara," panggil Esthel pelan. Kedua matanya masih tertuju pada Rue. "Siapa sebenarnya Rue itu?"


Fedrick dan Lara sama tidak dapat menjawab pertanyaan Esthel. Tidak hanya Apel yang penuh teka-teki, Rue juga sama. Siapapun yang melihat mereka pasti akan bertanya dalam hati; siapa mereka?


......................