
Rue membuka mata, cahaya matahari yang menyilaukan membuat dia menutup matanya kembali dan menguap. Rasa kantuk yang masih dirasakan membuat dirinya masih ingin melanjutkan tidur.
"Kau sudah bangun, bodoh?" tanya Apel.
Mendengar pertanyaan Apel, Rue kembali membuka mata. Dia menemukan dirinya berada di punggung pemuda berambut hitam itu. Sebuah senyum menghias wajah cantiknya. Dibopong Apel seperti ini saat dia kecapekan atau mengantuk adalah salah satu hal yang paling disukainya, karena itu, dia mengabaikan panggilan 'bodoh' yang tadi digunakan.
"Selamat pagi, Apel." Tawa Rue dan mengeratkan pelukan tangannya yang berada di leher Apel.
Apel tidak membalas salam Rue, dan Rue sendiri tidak mempermasalahkannya. Sikap cuek dan pendiam pemuda berambut hitam itu, dia sudah terbiasa.
"Selamat pagi, Rue." Salam Fedrick.
Rue menoleh ke belakang menatap Fedrick dan Lara, senyum manis memenuhi wajah cantiknya. "Selamat pagi, Fedrick, Lara."
Fedrick ikut tersenyum melihat senyum Rue, sendangkan untuk Lara, gadis berambut hitam itu hanya mengangguk pelan dan diam membisu seperti biasanya.
"Apel, kenapa kau menggendongku di belakangmu?" tanya Rue. Baru tersadar, dia cukup kebingungan kenapa dia bisa tertidur di punggung Apel. Namun, sedetik kemudian dia segera teringat akan apa yang telah terjadi; laba-laba raksasa.
"Apel! Laba-laba raksasa itu mana?" tanya Rue penuh kepanikan. Mata hijaunya bergerak cepat menatap sekelilingnya.
"Tenanglah, bodoh! Laba-laba itu sudah mati dan kita juga sudah hampir keluar dari hutan ini." Jawab Apel menenangkan Rue walau nada suaranya yang datar tidak berubah sedikitpun.
"Eh! Benarkah? Apa yang terjadi?" tanya Rue lagi. Kepanikan menghilang dari wajahnya digantikan kebingungan.
"Apel mengalahkan laba-laba itu, Rue." Jawab Fedrick yang ada di belakang menyela.
Mata hijau Rue terbelalak tidak percaya mendengar jawaban Fedrick. Menatap ke belakang, dia bertanya pada pemuda berambut pirang tersebut. "Benarkah?"
Fedrick mengangguk kepala. Baik Fedrick maupun Lara teringat kembali akan kejadian semalam, saat Apel melawan laba-laba raksasa tersebut. Sihir dan sikap Apel saat itu membuat mereka berdua sama sekali tidak bisa bergerak karena terkejut dan juga takut.
Sihir terbagi menjadi beberapa tipe, yaitu; sihir api, sihir tanah, sihir angin, sihir air, dan sihir petir. Memang masih ada beberapa sihir lain diluar kelima tipe sihir tersebut. Namun, sihir itu hanya dimiliki oleh beberapa anggota kerajaan. Menguasai sihir bukanlah mudah, biasanya seseorang hanya bisa menguasai satu tipe atau dua tipe sihir. Orang yang mampu menguasai lebih dari dua tipe sihir tidaklah banyak dan biasanya yang mampu menguasai lebih dari dua tipe sihir adalah penyihir yang sangat kuat.
Fedrick dan Lara hanya menguasai dua tipe sihir, yakni sihir angin dan sihir air. Kedua sihir ini sangat membantu mereka, karena sihir ini bisa menyembuhkan dan sekaligus menyerang. Kedua sihir ini juga bisa dikombinasikan. Sihir jarum es adalah hasil dari kombinasi kedua tipe sihir tersebut.
Sihir adalah kekutan yang luar biasa, hanya saja, sihir juga memiliki kekurangan yang tidak lain adalah sihir membutuhkan lingkaran dan mantra sihir. Diperlukan waktu untuk membuat lingkaran sihir dan melafalkan mantranya, karena itu, semakin cepat seorang penyihir bisa melakukan itu, semakin kuat dan tinggu status penyihir tersebut.
Fedrick dan Lara telah melihat Apel menggunakan sihir api, sihir tanah, sihir angin, dan sihir yang sama sekali tidak dikenalinya. Mereka mau tidak mau berpikir, berapa tipe sihir yang dikuasai pemuda itu, terlebih lagi, dia bisa melakukan sihir tanpa lingkaran dan mantra sihir—sesuatu yang mustahil.
Rue juga sama dengan Apel. Fedrick dan Lara yakin, cahaya serta dinding kasat mata yang menghentikan sihir laba-laba raksasa adalah sihir. Gadis berambut emas itu juga bisa melakukan sihir yang tidak dikenali tanpa lingkaran dan mantra sihir.
Bisa melakukan sihir tanpa mantra dan lingkaran sihir sudah merupakan misteri bagi Fedrick dan Lara. Mereka berdua hanya dapat bertanya-tanya dalam hati, siapa Apel dan Rue sebenarnya?
"Eh! Apel, kau tidak terlukakan?" Menoleh kembali ke depan menatap Apel, Rue bertanya penuh kekhawatir.
"Kau pikir aku akan terluka melawan serangga seperti itu?." Jawab Apel dengan sebuah pertanyaan. Pemuda itu tetap terlihat cuek tidak peduli, namun seulas senyum tipis yang tidak daat dilihat siapapun memenuhi wajahnya. Sesungguhnya, dia senang, Rue menghawatirkannya, walau dia tidak menunjukkannya.
"Syukurlah," senyum Rue begitu mendengar pertanyaan Apel. Hidup bersama begitu lama, dia jelas tahu maksud pertanyaan pemuda itu. "Dan, Apel, kau sudah bisa menurunkanku. Aku bisa berjalan sendiri."
Apel segera behenti berjalan dan menurunkan Rue sesuai permintaan gadis tersebut, walau sebenarnya, dia sama sekali tidak keberatan untuk menggendongnya lebih jauh. Kejadian semalam membuatnya sangat ketakutan—dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika Rue benar-benar terluka.
Apel tahu, dia telah melakukan kesalahan besar semalam. Kamarahan yang menguasainya saat melihat Rue hampir terluka membuat dia gelap mata, sehingga di depan Fedrick dan Lara, dirinya menggunakan sihir tanpa lingkaran dan mantra sihir, serta—sihir sialan itu.
Baik Fedrick maupun Lara tidak mengatakan sepatah katapun sejak kejadian tersebut, tapi, Apel tahu, apa yang mereka lihat bukanlah sesuatu yang bisa dilupakan begitu saja—cepat atau lambat, mereka berdua pasti akan memeriksa jati dirinya dan Rue. Karena itu, secepat mungkin, mereka harus berpisah.
Mereka meneruskan perjalannan mereka, dan tidak lama kemudian, mereka telah berhasil keluar dari hutan terlarang.
"Dari sini kita berjalan ke barat. Kita akan mencapai kota Radiata sebelum malam tiba." Jelas Apel datar.
Fedrick dan Lara tidak meragukan lagi ucapan Apel, pemuda berambut hitam itu terlihat sangat familiar dengan daerah sekitar. Tidak membuang waktu, mereka semua kembali berjalan menuju arah barat seperti yang dikatakan Apel. Bedanya, kini Fedrick dan Lara berjalan di depan diikuti Apel dan Rue dari belakang.
Rue yang berjalan di samping Apel tiba-tiba berhenti. Memalingkan wajah ke belakang, kedua mata hijaunya menatap hutan terlarang.
"Ada apa, bodoh?" tanya Apel melihatnya.
"Aku tidak tahu mengapa. Tapi, aku merasa kita tidak akan kembali lagi ke hutan, Apel." Ujar Rue pelan. Ada perasaan aneh yang memenuhi hatinya. Dirinya merasa baik dia maupun Apel tidak akan dapat kembali lagi ke hutan tempat mereka tinggal selama ini.
Apel menghela napas dan ikut menatap hutan terlarang. Ucapan Rue mungkin benar, mereka tidak akan kembali lagi ke hutan karena tempat itu berbahya bagi mereka sekarang. Tapi, jika saja bisa, dia juga ingin kembali, karena hutan itu adalah tempat dimana dia tahu apa itu bahagia.
"Kau ingin kembali ke hutan?" tanya Apel kemudian.
Rumah kita.
Apel tidak dapat menghentikan senyum di wajahnya mendengar dua kata itu. Sama seperti dirinya, hutan itu juga merupakan tempat yang berharga bagi Rue—rumah.
"Kalau begitu, Kita akan kembali lagi," Apel mengenggam erat tangan Rue. Ya, saat keadaan sudah aman dan terkendalikan, dirinya dan Rue akan kembali lagi ke hutan rumah mereka. "Karena hutan itu adalah rumah kita."
"Benarkah? Kau yakin?" tanya Rue gembira begitu mendengar ucapan Apel.
Apel tersenyum semakin lebar pada Rue, senyum yang sangat jarang diperlihatkannya. "Kapan kataku pernah salah, bodoh?"
"Tidak pernah," tawa Rue. Kedua mata hijaunya berbinar indah karena kegembiraan. "Dan jangan panggil aku, 'Bodoh', Apel."
......................
Mata hijau Rue berbinar-binar saat melihat orang yang berlalu lalang di depannya. Selama hidupnya, dia sama sekali tidak pernah melihat orang sebanyak ini. Sesuai dengan ucapan Apel, mereka berhasil mencapai kota Radiata sebelum malam. Kota Radiata sendiri adalah kota yang makmur dan kaya. Itu dapat dilihat dari bangunan kota yang indah, tembok besar yang mengelilingi kota dan penduduk kota yang hidup dengan nyaman dan damai.
"Kita berpisah disini." Ujar Apel tiba-tiba saat mereka telah melewati pintu gerbang masuk ke kota Radiata.
Rue, Fedrick dan Lara segera memalingkan wajah mereka menghadap Apel begitu mendengar ucapan pemuda tersebut.
"Kalian memiliki tujuan di kota ini kan? Sebaiknya kita berpisah di sini." Tambah Apel dengan suaranya yang datar seperti biasa.
Rue kembali memalingkan wajahnya menatap Fedrick dan Lara. Seketika, mata hijaunya berkaca-kaca, dia sama sekali tidak ingin berpisah. Walau hanya dalam waktu yang singkat, dia telah sangat menyukai mereka berdua.
"Kalian tidak memiliki tempat tinggal kan? Bagaimana kalau kalian menginap bersama kami di—" Tawar Fedrick. Namun, sebelum dia menyelesaikan ucapannya, Apel telah menyela.
"Tidak. Terima kasih, kami akan menginap di penginapan."
Fedrick ingin menghentikan Apel. Namun, mulutnya terasa kering. Dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan kata untuk menghentikan niatnya itu. Dia tahu, apapun yang dikatakannya, Apel pasti tidak akan mengubah keputusannya.
"Ayo, Rue." Ujar Apel.
Rue menatap Fedrick dan Lara. Air mata yng ditahannya mengalir turun. Dia benar-benar tidak ingin berpisah dengan mereka berdua secepat ini. Bagaimanapun juga, mereka berdua adalah teman pertamanya.
Melihat air mata Rue, Lara memeluk gadis berambut emas itu dengan erat. Dirinya bukanlah orang yang mudah dekat dengan orang lain, tapi tidak tahu mengapa, Rue selalu membuatnya merasa nyaman. "Jangan menangis, bodoh. Kau kelihatan sangat jelek saat menangis. Tersenyumlah, wajahmu lebih cocok tersenyum. Kita pasti akan bertemu lagi."
Rue memgangguk menyetujui apa yang diucapkan Lara, sedangkan matanya yang masih penuh air mata menatap Fedrick yang tersenyum.
Lara kemudian melepaskan pelukannya. Rue segera menghapus air mata dan memaksakan sebuah senyum di wajahnya.
"Sampai ketemu lagi, Rue." Senyum Fedrick.
"Sampai ketemu lagi, bodoh." Ujar Lara tersenyum. Senyum yang sangat jarang diperlihatkannya.
Fedrick kemudian menoleh menatap Apel dan tersenyum kikuk. "Sampai ketemu lagi, Apel."
Fedrick baru saja merasa sedikit dekat dengan Apel setelah mengalami banyak hal. Namun, sikap dingin pemuda itu yang bahkan tidak membalas ucapannya sekarang, mau tidak mau membuat dia merasa hubungan mereka kembali menjauh dan kembali seperti dulu.
Apel tidak mengatakan apapun atau lebih tepatnya tidak tahu harus mengatakan apa. Fedrick adalah orang pertama yang memanggilnya teman. Secara pribadi, dia sama sekali tidak membenci pemuda itu. Namun, dia juga tidak ingin berhubungan lagi dengan mereka. Sebab, dia tahu, jika dia terus bersama mereka berdua, maka dia pasti akan berhadapan lagi dengan orang-orang yang mengenalnya. Apel tidak takut menghadapi mereka. Tapi, Rue berbeda, dia sama sekali tidak berani mengambil resiko yang bisa membahayakan gadis itu.
Apel menggengam tangan Rue. "Ayo, kita pergi."
"Sampai ketemu lagi, Fedrick, Lara.." Ujar Rue lemah sambil melambaikan tangan kanannya. Wajahnya yang cantik masih memaksakan seulas senyum.
Berdiri tanpa gerak, Fedrick dan Lara melihat sosok Apel dan Rue yang berjalan meninggalkan mereka sampai menghilang dibalik kerumuran orang yang berlalu lalang.
Fedrick menghela napasnya, sesungguhnya, dia merasa sangat berat untuk berpisah dengan Apel dan Rue. Dia menyadari dirinya sangat tertarik kepada mereka berdua. Namun, dia juga tahu. Apa yang dikatakan Apel barusan benar, dia memiliki tujuan di kota ini, dan juga, dia merasa Apel memang ingin berpisah dengan mereka. Pemuda berambut hitam itu sepertinya menyembunyikan sesuatu.
"Kurasa si buta itu ingin sekali berpisah dengan kita. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dan menurutku itu berhubungan dengan musuh yang kita hadapi." Ujar Lara tiba-tiba.
Fedrick segera menoleh menatap Lara terkejut, dia tidak menyangkan gadis itu akan menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya. "Kau juga berpikir begitu?"
"Hanya orang bodoh seperti Rue yang tidak akan menyadarinya," balas Lara. Tapi, sejenak kemudian dia menghela napas, sebab mereka sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa. "Sudahlah. Ayo kita pergi, Pangeran bayangan itu pasti telah menunggu kita."
......................