
Beristirahat semalaman, keesokan harinya, Rue yang telah pulih dari kelelahannya sangat terpesona dengan Istana Hirrim. Istana tersebut benar-benar sangat indah dan megah. Mirthy dengan senang hati menemaninya berkeliling istana, dari taman istana, perpustakaan hingga ruang seni. Rue yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya, menatap semua itu dengan mata berbinar bagaikan anak kecil.
"Mirthy, apakah kau sudah mengutuskan orang untuk menyampaikan pesan pada Lara dan Apel?" tanya Rue tiba-tiba saat mereka berada di dalam kamar Mirthy.
Rue telah menceritakan kepada Mirthy tentang bagaimana dirinya terpisah dari Apel dan Lara. Dari cerita itu, Mirthy mengambil kesimpulan bahwa Lara mungkin telah mencapai Kerajaan Catax. Para perampok itu pasti tidak akan menunda perjalanan mereka hanya untuk mencari Rue. Tujuan mereka adalah uang, Rue yang merupakan seorang rakyat biasa pasti tidak akan dianggap berharga. Walau, dia sendiri sebenarnya juga cukup ragu, sebab kecantikan Rue yang luar biasa membuatnya terus berpikir; apakah gadis ini benar-benar hanya seorang rakyat biasa?
Sedangkan untuk Apel, Mirthy merasa dia pasti masih berada di Kerajaan Arthorn. Apel yang diceritakan Rue pasti merupakan prajurit buta yang tengah ramai dibicarakan orang sekarang ini. Kerajaan itu masih sedang dalam keadaan siaga perang, karena itu mustahil baginya untuk meninggalkan kerajaan Arthorn.
"Aku telah mengirimkan orang untuk menyampaikan pesan itu. Kurasa perlu waktu seminggu bagi mereka untuk mencapai tempat tujuan."
"Seminggu ya..." Gumam Rue pelan penuh kekecewaan. Dia sangat berharap pesan itu bisa mencapai mereka lebih cepat lagi terutama kepada Apel. Jika Apel memerlukan waktu sekitar seminggu untuk menerima pesan itu, berarti dia akan memerlukan waktu sekitar dua minggu untuk bertemu lagi dengannya, dan bagi Rue, dua minggu itu merupakan waktu yang sangat lama dan panjang.
"R-rue, dua minggu bukan waktu yang panjang. Dua minggu ini pasti akan segera berlalu asal tidak kau pikirkan terus." Hibur Mirthy begitu melihat wajah penuh kekecewaan Rue.
"Aku mengerti," balas Rue sambil memaksakan seulas senyum kecil. Dia tahu Mirthy sedang menyemangatinya. "Terima kasih, Mirthy..."
Mirthy tidak suka melihat wajah Rue yang seperti itu. Sejak pertemuan mereka, dia sangat menyukai senyum serta tawa lepas di wajah gadis berambut emas tersebut. Berusaha keras memikirkan sesuatu untuk menghiburnya, suatu ide tiba-tiba terlintas di dalam pikiran.
"Rue, apakah kau mau berjalan-jalan ke kota? Tiga hari lagi akan ada perayaan besar di sini, bagaimana kalau kita pergi melihat-lihat sekarang? Waktu akan cepat berlalu jika kita memiliki kegiatan." Ajak Mirthy pelan.
Ajakan Mirthy membuat Rue tersenyum lebih tulus dan mengangguk kepala. Mirthy benar, melihat Ibukota Ioreth yang tidak pernah dilihatnya mungkin dapat mengalihkan pikirannya, dan juga, dia tidak ingin membuat Mirthy menghawatirkan dirinya.
"Bagus sekali! Ayo, kita pergi sekarang!" tawa Mirthy gembira. Berlari keluar kamarnya sambil menarik tangan Rue, dia tidak peduli dengan para dayang yang berlari mengikutinya.
Perayaan besar yang akan diadakan tiga hari mendatang membuat kota Ioreth yang memang sudah ramai ini semakin ramai dan hidup. Seluruh rumah para penduduk dan jalan dihiasi dengan bunga yang mekar dengan indah. Senyum dan tawa menghiasi wajah para penduduk kota saat mereka sibuk melaksanakan aktivitas mereka. Perayaan yang akan segera datang ini merupakan perayaan yang sangat ditunggu-tunggu oleh mereka semua.
Rue mengintip keluar melalui jendela kereta kuda yang berjalan dengan lambat. Dia bisa melihat dengan jelas keramaian dan keindahan kota. Matanya berbinar-binar karena kekaguman dan juga kegembiraan.
Mirthy tersenyum melihat sikap Rue, dia sangat bersyukur karena wajah Rue yang selalu penuh dengan keceriaan dan kegembiraan itu telah kembali.
Rue terus bertanya pada Mirthy dengan semangat saat melihat sesuatu yang tidak pernah dilihatnya saat melewati jalan di Ibukota Ioreth ini. Mirthy tidak merasa terganggu dengan pertanyaan Rue yang terus menerus itu, dengan senang hati, dia menjelaskan pelan apa saja yang ditanyakan.
"Itu adalah panggung dari puncak perayaan." Jelas Mirthy sambil menunjuk sebuah panggung besar yang dibangun di tengah lapangan ibukota.
Rue melihat keluar dari jendela ke arah panggung yang ditunjukkan Mirthy itu. Panggung itu sangat besar, megah dan indah. Dipenuhi bunga dan pita yang tertata dengan cantik, beberapa wanita terlihat sedang berlatih menari di atasnya.
"Perayaan tiga hari mendatang adalah perayaan yang diadakan setahun sekali untuk memperingati datangnya musim panen. Pada hari perayaan, di atas panggung akan diadakan tarian dan juga nyanyian. Kami seluruh rakyat Hirrim percaya, nyanyian dan tarian adalah cara terbaik untuk menyampaikan doa kami kepada para dewa." Jelas Mirthy.
"Tarian dan nyanyian?" tanya Rue sambil menatap Mirthy dengan mata berbinar-binar.
"Iya. Kau harus melihat perayaan ini Rue." Tawa Mirthy gembira.
"Aku tidak sabar menunggu hari tibanya perayaan itu." Senyum Rue membalas ucapan Mirthy.
Malamnya, Rue yang tidak bisa tidur memutuskan untuk berjalan-jalan mencari angin. Saat berjalan melewati taman istana, matanya menangkap sosok Mirthy yang duduk seorang diri di atas sebuah kursi taman.
"Mirthy." Panggil Rue pelan.
"Aku yang seharusnya minta maaf karena telah mengangetkanmu," balas Rue sambil tersenyum dan duduk disamping Mirthy. "Sedang apa kau di sini?"
"Aku sedang duduk menatap langit barat, Rue."
"Barat? Kenapa?" tanya Rue binggung, dia sama sekali tidak mengerti maksud Mirthy.
Mirthy tersenyum. "Karena barat dari sini adalah laut, Rue."
"Aku tidak mengerti, Mirthy."
Mirthy kembali tersenyum dan menatap arah barat. Mungkin karena yang bertanya adalah Rue, makanya dia tidak keberatan menceritakannya. "Laut barat dari sini adalah laut di mana aku bertemu dengan 'Dia', Rue."
"Dia?"
"Iya—'Dia'. Aku bertemu dengannya saat aku masih sangat kecil," jelas Mirthy pelan. Matanya menerawang mengingat pertemuan yang tidak pernah dilupakannya seumur hidupnya. "Aku adalah orang yang sangat pemalu, Rue. Saat kecil, aku tidak berani menghadapi orang, karena itu aku dicap sebagai putri yang gagal oleh semua orang. Suatu hari, aku yang masih kecil dan Ayahanda pergi ke Desa Aule karena urusan kerajaan. Aku menyelinap keluar dari penjagaan para penjaga dan bermain ke laut dekat desa tersebut sendirian."
"Laut dekat Desa Aule? Apakah itu laut tempat kau menolongku?" potong Rue.
Mirthy menangguk kepala dan meneruskan ceritanya sambil tersenyum. "Di sana aku bertemu dengannya. Dia menyemangatiku dan mau berteman denganku yang tidak berguna itu. Setiap hari, selama seminggu saat aku berada di desa, aku menyelinap keluar untuk menemuinya. Dia lebih tua dariku, mungkin sekitar tujuh atau delapan tahun. Namun, dia sama tidak pernah menatapku sebagai orang yang gagal, dia adalah teman pertamaku."
"Di mana 'Dia' sekarang?" tanya Rue semangat
Mirthy membalikkan wajahnya menatap langit gelap di atas, senyum masih memenuhi wajah cantiknya. Namun, Rue bisa melihat dengan jelas ada kesedihan di dalam senyum itu. "Aku tidak tahu. Pada hari terakhir sebelum aku pulang ke istana, dia berjanji padaku bahwa dia akan selalu menungguku di laut itu. Namun, janji itu tidak pernah terpenuhi, sebab dia tidak pernah berada di sana lagi, tidak peduli berapa kali aku pergi ."
"Apakah kau merindukannya?" tanya Rue pelan.
Mirthy mengangguk kepala. "Iya. Karena itulah aku akan tetap pergi ke laut itu. Aku yakin suatu saat nanti kami pasti akan bertemu lagi."
Rue mengerti perasaan Mirthy. Bagi Mirthy, 'Dia' pasti merupakan orang yang sangat disayanginya. Tidak bisa bertemu dengan orang yang sangat kita sayangi itu sangat menyakitkan. Dirinya yang baru terpisah tidak begitu lama dari Apel saja sudah begitu merindukannya, bagaimana dengan perasaan Mirthy yang telah terpisah bertahun-tahun?
Rue ingin membantu Mirthy. Dirinya telah berhutang sangat banyak kepada Putri Kerajaan Hirrim tersebut, dari membantunya menyampaikan pesan untuk Apel dan Lara, menyediakannya tempat tinggal dan makanan, hingga menemaninya saat merasa sedih. Namun, Rue tidak menemukan sesuatu untuk membantu Mirthy.
Tiba-tiba, sebuah ide melintas di dalam pikiran Rue. Meloncat dari tempat duduknya penuh semangat, dengan senyum lebar di wajah, dia menggenggam kedua tangan Mirthy. "Mirthy! Aku tahu apa yang bisa aku lakukan untukmu! Kau mengatakan bahwa tiga hari lagi pada saat perayaan besar, di atas panggung yang tadi siang kau tunjukkan padaku akan di adakan tarian dan nyanyian kan?"
"I-iya." Balas Mirthy binggung.
"Aku akan bernyanyi dan menari pada hari perayaan itu." Balas Rue sambil menepuk dadanya penuh kebangaan.
"Eh??" Mirthy sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Rue.
"Kau mengatakan nyanyian dan tarian itu adalah doa kepada dewa, bukan? Aku akan bernyanyi dan menari di sana, dan aku berdoa kepada dewa supaya kau bertemu lagi dengan 'Dia' yang kau maksud."
......................