Tales Of Darkness And Light

Tales Of Darkness And Light
Chapter 42



Mire dan Vin menatap sekelilingnya dengan pandangan tidak percaya. Di dalam mimpipun, mereka sama sekali tidak menyangka mereka akan duduk dengan tenang sambil meminum teh di ruang tamu Istana Hirrim. Dengan profesi mereka sebagai perampok, tempat dengan perlindungan terketat ini merupakan salah satu tempat yang harus mereka hindari. Namun, pertemuan mereka dengan Rue yang tidak terduga itu membuat mereka kini berada di dalam istana yang seharusnya mereka hindari.


"Karena itulah aku bernyanyi dan menari di dalam perayaan besar ini untuk berterima kasih kepada Mirthy." Jelas Rue kepada Apel, Fedrick, Lara, Calix, Mire dan juga Vin dengan gembira, walau Mire dan Vin sama sekali tidak mendengar penjelasannya karena masih sibuk mengamati sekeliling.


"Kau memang gadis yang sangat sial dan juga sangat beruntung, Rue." Tawa Calix. Siapa yang menyangka Rue yang terdampar di Desa Aule akan diselamatkan Mirthy, Putri Kerajaan Hirrim.


"Benar, mungkin memang karena orang bodoh hidupnya lebih panjang." Tambah Lara tanpa ekspresi, walaupun sebenarnya dia sangat lega melihat Rue baik-baik saja.


"Lara! Jangan panggil aku bodoh!" teriak Rue kesal begitu mendengar ucapan Lara.


"Sudah, Sudah. Syukurlah kau baik-baik saja, Rue." Fedrick berusaha menenangkan Rue yang sedang berteriak kesal. Tapi, seulas senyum memenuhi wajah tampannya, dia merasa sangat senang dan juga lega karena akhirnya telah menemukan gadis tersebut.


Regis terus mengamati Rue dengan penasaran. Inikah gadis bernama Rue yang dicari Apel dan yang lainnya?


"Suaramu keras sekali, bodoh," sela Apel yang duduk di samping Rue tiba-tiba. "Kau akan membuatku tuli jika seperti ini terus."


Rue menolehkan kepala menatap Apel kesal. Terpisah begitu lama, sifat dan sikap Apek tetap saja tidak berubah. "Apel! Jangan panggil aku bodoh!!!"


"Tidak selama kau tetap bodoh." balas Apel tidak peduli.


"Apel!"


Apel menyentil pelan dahi Rue. "Jangan berteriak, bodoh."


Regis terus menatap interaksi Apel dan Rue yang masih beradu mulut. Dia tidak pernah melihat Apel yang seperti ini. Mata merah darah yang menatap Rue begitu lembut, dan dia juga bisa melihat dengan jelas senyum kecil yang kadang melintas di wajah yang selalu datar tanpa ekspeesi tersebut.


Regis kemudian menfokuskan pandangannya pada Rue. Dia mengakui, Rue adalah wanita tercantik yang pernah dilihatnya selama ini. Bermata hijau dengan rambut berwarna emas seperti dirinya, tapi selebihnya, tidak ada yang spesial.


Rue yang merasakan tatapan mata Regis menolehkan menatapnya "Siapa anak ini?" tanyanya bingung.


"Itu Regis. Dia anak yang diselamatkan Apel dalam perjalanan mencarimu," jelas Calix dan tersenyum. "Karena dia tidak memiliki keluarga lagi, Apel mengajaknya mengikuti kami."


"Begitu,ya. Semoga kita bisa akrab, Regis." Senyum Rue bersahabat.


"Bukan urusanmu, bodoh." Balas Regis dingin dengan wajah tanpa ekspresi.


Semua yang ada di sana terdiam begitu mendengar ucapan Regis. Seketika, Rue kembali menolehkan menatap Apel. "Apel! Apa yang kau ajarkan pada Regis?!!" teriaknya penuh kemarahan. Sikap Regis barusan benar-benar merupakan kopian sikap Apel.


Apel tidak mempedulikan kemarahan Rue. Kedua matanya menatap tenang gadis itu. "Aku tidak mengajarkan apa-apa pada Regis. Dia memiliki mata dan bisa melihat sendiri kebodohanmu, bodoh."


"Apel!!"


Regis yakin sekarang, kata Apel memang benar. Tidak diragukan lagi, Rue benar-benar bodoh. Dia begitu polos dan lugu, tipe yang harus dihindari karena akan merepotkan. Namun, mengapa Apel begitu menganggap penting Rue? Regis yakin pasti bukan karena kecantikannya. Apel bukan tipe orang yang menganggap penting fisik seseorang. Karena itu, apa alasan yang menyebabkan gadis bodoh ini begitu penting baginya?


Tiba-tiba pintu ruang tamu itu terbuka dan Mirthy berjalan masuk dengan wajah penuh kegugupan.


"M-aaf kalau aku menganggu k-kalian..."Ujarnya terputus-putus sambil mendekati mereka. Dia menundukkan wajah cantiknya ke bawah karena tidak berani menatap mereka yang ada di depan.


"Mirthy!" Panggil Rue tiba-tiba. Penuh tawa, dia berlari ke arah Mirthy dan memeluknya erat.


Mirthy sangat terkejut, wajah gugupnya segera berganti dengan wajah merah padam karena malu.


"Mirthy, doamu untuk bertemu lagi dengan 'Dia' pasti akan terkabulkan!!" senyum Rue dengan ceria sambil melepaskan pelukannya.


"Eh!?" seru Mirthy bingung.


Rue berlari kembali ke arah Apel dan memeluk lengan kanan pemuda tersebut sambil menatap Mirthy. "Lihat! Lihat! Aku berhasil bertemu dengan Apel. Karena itu, kau pasti akan segera bertemu dengan 'Dia' lagi. Sang Dewi telah mengabulkan doaku, Mirthy."


Ucapan Rue membuat Mirthy tersenyum. Benarkah dia dapat bertemu lagi dengan 'Dia'?—dirinya tidak tahu. Tapi, sekarang ini, sebagai teman, dia hanya ingin ikut bahagia melihat kebahagiaan Rue yang telah bertemu Apel. Pertemuan setelah perpisahan adalah sebuah berkah yang harus disyukuri.


"Aku tidak mau, Apel." Balas Rue sambil menyulurkan lidahnya. Tertawa, dia mempererat pelukkan di lengan Apel.


Mirthy menatap Apel dan Rue. Apel adalah pemuda yang tampan dengan mata berwarna merah darah yang aneh. Hanya dengan menatapnya saja, semua yang ada pasti akan langsung mengetahui bahwa pemuda itu sangat dingin, kuat dan berbahaya. Sedangkan untuk Rue, dia adalah seorang gadis yang sangat cantik dengan kepribadian ceria, polos, lugu dan hangat. Mereka berdua begitu berbeda dan bertolak belakang. Namun, di mata Mirthy, mereka terlihat sebagai pasangan yang sangat sempurna.


Mirthy bisa melihat dengan jelas, meskipun Apel selalu membalas perkataan Rue dengan cuek seakan-akan tidak mempedulikannya, mata merah darahnya saat menatap gadis itu begitu lembut. Tersenyum, dia yakin sekali, siapapun bisa mengetahuinya hanya dengan sekali lihat; betapa berartinya Rue bagi Apel.


"Aku sudah sangat lelah. Bisakah kau memberitahu ku di mana aku bisa beristirahat?" tanya Lara tiba-tiba mengejutkan Mirthy. Dia tidak peduli tau segan sedikitpun meski dia sekarang sedang berhadapan dengan salah satu tuan rumah di istana Hirrim.


"I-iya akan segera k-kutunjukan," balas Mirthy gugup. Membuang muka, dia tidak berani menatap Lara yang terkenal dingin dan tidak bersahabat. "S-semuanya, silakan ikuti aku. Akan kutunjukkan kamar kalian."


Semua yang mendengar ucapan Mirthy segera berdiri begitu juga dengan Mire dan Vin yang dari tadi sibuk melihat sekeliling mereka.


"Tidak usah, Putri. Kami tidak akan menginap di istana." Ujar Mire cepat sambil tersenyum.


"Eh! Kenapa?" tanya Rue terkejut.


"Kami berdua harus memberitahu Vin, Peta dan yang lainnya bahwa kau sudah berhasil ditemukan. Mereka pasti sangat khawatir dan akan terus melakukan pencarian jika tidak ada yang memberitahu mereka." Jelas Vin dengan senyum lebar di wajahnya.


"Benar. Kami sangat khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika mereka terus melakukan pencarian, padahal kau sudah di temukan. Karena itulah kami berencana segera menemui mereka." Tambah Mire sambil mengangguk kepala.


"Benarkah? Kita baru saja bertemu tapi kita harus segera berpisah lagi." Ujar Rue sedih sambil menatap mereka berdua.


Mire dan Vin yang menatap wajah sedih Rue merasa sedikit bersalah. Alasan sebenarnya mereka berdua tidak ingin menginap di istana istana bukanlah karena mereka berdua mengkhawatirkan Peta, Van dan yang lainnya, melainkan, mereka tidak ingin mengambil resiko yang membahayakan diri mereka sendiri. Bagaimana jika identitas mereka sebagai perampok ketahuan? Mereka pasti tidak akan bisa keluar lagi dari istana ini hidup-hidup.


"Oh," suara pelan Lara yang bergumam pelan tiba-tiba terdengar. "Apakah kalian tidak ingin uang ratusan juta penna dari keluargaku lagi?"


Mire dan Vin seketika tertawa keras penuh kegugupan. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Vin tersenyum pada Lara. "Ayolah, Putri Lara. Kau tahu kami hanya bercanda." Bagaimana mungkin mereka masih berani memikirkan uang tebusan di saat seperti ini?


Lara tidak membalas Vin. Dengan wajah tanpa ekspresi dia menutup mata dan tidak mengatakan apapun lagi.


Suasana menjadi canggung karena sesungguhnya, semua yang ada dalam ruangan jelas tahu identitas Mire dan Vin. Tapi, meski begitu, mereka yang dengan suka rela membantu pencarian Rue tanpa mepedulikan apapun jelas bukan orang jahat.


"Aku berharap kalian berdua bisa tinggal lebih lama lagi..." suara pelan penuh kesedihan Rue terdengar menghancurkan kecanggungan suasana ruangan.


Menatap Rue, Mire menghela napas dan berjalan mendekatinya. Tersenyum, dia memeluk gadis mungil yang meski bodoh tidak dapat dibencinya. "Jangan sedih, bodoh. Kita pasti akan bertemu lagi."


"Benar Rue, kita pasti akan bertemu lagi." Setuju Vin dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.


Rue membalas pelukan Mire dan mengangguk kepala. Menahan air mata yang sudah hampir menetes, dia merasa sangat sedih. Kebersamaan mereka tidak lama, tapi mereka jelas adalah temannya.


"Sampai ketemu lagi, bodoh." Tawa Mire sambil melepaskan pelukannya pada Rue.


"Ayo, kita pergi Mire." Ajak Vin cepat. Mereka tidak boleh berlama-lama lagi di sini, sebelum seorangpun dalam ruangan ini merubah pikiran mereka dan melaporkan identitas asli dirinya dan Mire.


Mire menolehkan pandangan menatap yang lainnya "Sampai ketemu lagi, semuanya," dan saat dia menatap Apel, dia memasang senyum terbaiknya "Sampai ketemu lagi, Apel."


Apel tidak memberikan reaksi sedikitpun. Diam membisu, dia seakan tidak mendengar apapun.


"Sudahlah, ayo kita pergi!" menggeleng kepala melihat wajah sedih karena tidak dipedulikan Apel, Vin menarik wanita perampok tersebut. Terkutuklah kecintaan Mire pada wajah tampan. "Sampai ketemu lagi semuanya!"


"Sampai ketemu lagi.." Balas Rue pelan dna berusaha memaksa seulas senyum di wajah.


Setelah Mire dan Vin pergi, Mirthy segera mengantarkan mereka ke kamar mereka masing-masing. Namun, di tengah jalan, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Membalikkan wajahnya menatap Apel dengan takut-takut, dia berujar pelan. "Anu, m-maaf, aku lupa menyampaikan pesan padamu. K-kakakku, Raja Hirrim ingin berbicara denganmu..."


......................