
"Aku tidak menyangka kalian bisa keluar dari penjara sihir," senyum Arthur ramah. "Tapi, aku tidak bisa membiarkan kalian melarikan diri." Mengangkat tangan kanannya, para pengawal yang ada di belakang melesat maju untuk menyerang Apel dan yang lainnya.
Apel, Fedrick dan yang lainnya kecuali Rue, Regis dan Mirthy segera maju menghadapi para pengawal tersebut. Mereka tahu, pengawal ini bukanlah pengawal biasa. Mereka pasti merupakan pengawal elit yang bertugas menjaga Raja Hirrim.
Para pengawal tersebut tidak bisa diremehkan, mereka sangat kuat. Fedrick, Lara, Mire dan Vin cukup kewalahan melawan mereka. Mereka tidak bisa menggunakan sihir, sebab para pengawal tersebut tidak memberikan kesempatan sedikitpun bagi mereka untuk menggunakan sihir.
Rue, Regis dan Mirthy yang melihat apa yang terjadi tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya berdiri mematung di tempat mereka.
Rue menatap Apel dengan penuh ketakutan. Fedrick, Lara, Mire dan Vin masing-masing hanya melawan satu orang dari pengawal tersebut, Calix melawan dua orang, sedangkan Apel—dia melawan empat orang sekaligus.
Apel dan yang lainnya yang terlalu terfokus melawan musuh sama sekali tidak melihat Arthur yang telah berjalan mendekati Rue, Regis dan Mirthy.
"K-kakak..." Panggil Mirthy pelan sambil gemetar begitu melihat Arthur berada di depannya.
Arthur tersenyum menatap Mirthy. Mengangkat tangan kanan, tanpa mengatakan sepatah katapun, dia menampar adiknya tersebut hingga terjatuh.
"Mirthy!" teriak Rue terkejut melihat apa yang terjadi.
Regis yang dari tadi tidak bergerak tiba-tiba mengangkat tangan kecilnya membbuat sebuah lingkaran sihir sambil membaca sebuah mantra. Namun, sebelum dia berhasil melancarkan sihirnya, Arthur mencabut pedang yang ada dipinggang untuk menebasnya.
"Regis!" teriak Rue melihat apa yang akan dilakukan Arthur.
Melihat pedang yang terhunus ke arahnya, Regis hanya bisa menutup mata. Dia sadar, dia tidak akan mungkin bisa menghindari pedang tersebut. Namun, tiba-tiba dia merasa seseorang memeluk dan mendorongnya ke samping hingga jatuh ke atas lantai.
"Rue!" Teriak Apel sambil membuka kain yang menutup matanya.
Fedrick, Lara, Calix, Mire dan Vin sangat terkejut dengan teriakan Apel. Menatap ke arah Rue, wajah mereka memucat karena terkejut sekaligus takut.
Regis membuka matanya, dan dia bisa melihat dengan jelas Rue yang memeluknya. Dia bisa melihat dengan jelas wajah kesakitan Rue yang sedang memeluknya. Darah merah mengalir turun dari bahu kanan gadis itu.
Rasa sakit luar biasa dirasakan Rue. Tidak pernah dia merasakan rasa sakit seperti ini sebelumnya. bahu kanannya yang tertebas pedang sungguh sakit, dia merasa pandangannya mulai menjadi gelap. Tapi menatap Regis yang ada dalam pelukannya, dia hanya merasa bersyukur anak itu baik-baik saja.Luka tebasan pedang yang sangat besar. "S-syukurlah, kau tidak apa-apa..." Ujarnya pelan dan semuanya menjadi gelap.
Apel yang melihat Rue terluka tidak memikirkan apapun lagi, kemarahan dan ketakutan memenuhi hatinya. Menatap ke arah Rue dan Regis, dia membuat pilar api mengelilingi mereka berdua.
Semua yang ada sangat terkejut. Arthur meloncat menjauh dan membalikkan wajahnya menatap Apel dan yang lainnya. Dia yakin pilar api ini adalah api sihir. Tapi, dia sama sekali tidak melihat siapapun membacakan mantra sihir maupun membuat lingkaran sihir.
Apel tidak mempedulikan para pengawal yang dilawannya lagi, di dalam matanya sekarang hanya ada Rue. Berlari, dia melesat ke arah Rue. Namun, keempat pengawal yang sedang dilawannya tidak membiarkannya. Mengeluarkan pedang kecil dari balik seragam mereka, dua orang dari pengawal tersebut melemparkannya ke arah Apel.
Apel yang sadar dengan cepat menhindar ke dua pedang tersebut. Penuh kemarahan, dia menghadap ke belakang dan mengangkat tangan kanannya. Dua pedang es tiba-tiba muncul. "Jangan ganggu aku!" Melemparnya, kedua pedang es tersebut melesat cepat dan menusuk kepala kedua pengawal tersebut. Jatuh ke bawah, mereka tidak bergerak lagi.
Semua yang ada di sana sangat terkejut melihat apa yang terjadi kecuali Fedrick dan Lara. Pedang es yang tadi dilempar Apel jelas merupakam sihir. Tapi, pemuda itu jelas tidak membuat lingkaran sihir maupun membacakan mantra sihir.
Apel kembali berlari ke arah Rue. Tidak ada seorangpun yang bergerak karena masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Pilar api yang mengeilingi Rue dan Regis segera padam begitu Apel berada di samping mereka. Berlutut ke bawah, badannya bergetar saat melihat luka di bahu kanan Rue. Mengoyak lengan bajunya, dia segeramengikatnya pada bahu gadis itu untuk menghentikan pendarahan. Luka di bahu kanan Rue cukup panjang dan lebar. Satu-satunya yang disyukuri adalah luka tersebut meski cukup parah tapi tidak sampai membahayakan nyawa.
Regis yang berada di samping Apel dan Rue bisa melihat jelas ketidak normalnya Apel. Badan pemuda itu terus gemetar, dan sepasang mata merahnya yang penuh ketakutan hanya terus terfokus pada Rue.
Selesai melakukan pertolongan pertama, Apel menatap wajah Rue yang pucat tidak sadarkan diri. Memeluknya sejenak, dia kemudian membaringkannya dengan pelan diatas tanah.
Perlahan, Apel menoleh wajahnya menatap Arthur yang tidak bergerak sedikitpun sejak tadi. Kebencian dan kemarahan memenuhi mata merah darah tersebut. Beraninya! Beraninya dia melukai Rue! Dia tidak akan pernah memaafkan siapapun yang berani melukai Rue. Dia akan membunuh siapapun yang berani melukainya!
Perasaan tidak enak menyelimuti semua yang ada. Fedrick dan Calix tahu sekali perasaan tidak enak itu, perasaan yang sama dengan perasaan saat Apel melawan naga dan perampok di gunung Bold dengan brutal. Perasaan yang merupakan campuran dari perasaan ketakutan dan kegelisahan.
"Beraninya kau melukainya..." Ujar Apel pelan dan berdiri. Suaranya memang yang datar dan tenang, namun siapapun yang mendengarnya bisa merasakan kengerian di dalamnya.
Arthur tidak mengatakan apapun. Namun, kakinya tanpa disadari melangkah mundur beberapa langkah. Pemuda di depannya ini tidak normal, sepasang mata merah darahnya yang menatap dirinya sekarang penuh dengan kegilaan.
Regis dan Mirthy yang berada tidak jauh dari Apel hanya bisa menatapnya dengan penuh ketakutan. Regis tidak tahu apa yang terjadi kepada Apel, tapi dia merasa sangat takut hanya dengan melihatnya. Yang ada dihadapannya sekarang bukanlah lagi pemuda yang menyelamatkan hidupnya.
Apel melangkahkan kakinya mendekati Arthur dengan pelan. Kedelapan pengawal yang tersisa segera melesat ke depan Arthur untuk melindunginya. Mereka semua bisa merasakan dengan jelas nafsu membunuh yang besar dari pemuda di depan mereka
Tanpa membuang waktu, tiga dari kedelapan pengawal Arthur mengangkat tangan mereka dan membacakan mantra sihir. Lingkaran sihir muncul di depan mereka, dan dari lingkaran sihir itu, tegangan listrik kuat melesat dengan cepat ke arah Apel.
Saat serangan tersebut hampir menyentuhnya, Apel mengangkat tangan kanannya, dan api biru tiba-tiba melesat keluar. Ledakan besar terjadi saat sihir mereka bertemu.
Apel tidak mempedulikan sekelilingnya, dia melesat maju ke arah Arthur. Dua orang pengawal yang berada di samping Arthur segera maju menghadapi Apel, ketiga pengawal yang tadi melancarkan sihir kembali membacakan mantra, sedangkan tiga orang pengawal lagi tidak bergerak karena menjadikn diri mereka tameng bagi sang Raja.
Kedua pengawal yang menyerang Apel, mengangkat pedang yang ada di tangan mereka untuk menyerang. Namun, Apel dengan mudah menangkap pedang yang tajam itu dengan tangannya. Semua yang ada di sana sangat terkejut saat melihat pemuda itu meremukkan pedang yang ada dengan mudah seakan pedang itu terbuat dari tanah liat.
Dengan kecepatan yang luar biasa, Apel kemudian melepaskan tangannya yang menggengam pedang dan meninju kedua pengawal tersebut hingga terpental ke arah Arthur. Arthur dan tiga orang pengawal yang melindunginyan berhasil menghindar ke belakang sebelum kedua pengawal itu menabrak ketiga pengawal yang sedang membaca mantara sihir.
Saat kelima pengawal itu berusaha untuk bangkit, Apel telah berada di depan mereka. Dia mengangkat tangannya yang menyerupai cakar binatang buas itu menyerang mereka. Seulas senyum lebar penuh kegilaan memenuhi wajahnya.
Suara teriakkan ketakutan dan kesakitan dari kelima pengawal itu terdengar dengan jelas memenuhi istana. Dengan brutal, Apel mencabik badan kelima pengawal itu. Darah merah membasahi tanah, mereka sama sekali tidak berdaya menghadapi serangan yang terarah pada mereka. Kecepatan dan kekuatan lawan mereka tidak lagi masuk akal.
Semua yang ada disana menatap Apel dengan penuh ketakutan. Fedrick dan Calix yang melihat Apel tahu, keadaan pemuda itu sekarang mirip dengan saat dia menyerang para perampok di gunung Bold dengan brutal. Namun, kali ini, mereka tidak berani menghentikannya. Tangan yang seperti cakar binatang buas, tato yang memenuhi wajahnya, mata merah darahnya yang bersinar penuh kegilaan, badan yang penuh darah, serta senyum lebar di wajah—Apel tidak kelihatan seperti manusia lagi. Sosok di depan mereka sekarang terlihat seperti iblis atau setan; sesuatu yang harus dihindari dan ditakuti.
Apel terus mencabik kelima pengawal tersebut meski mereka sudah terkapar tidak bergerak dan bersuara lagi. Seluruh wajah dan badannya penuh dengan darah merah, dan senyum di wajahnya semakin lebar.
Arthur tidak mengerti apa yang terjadi pada Apel. Tapi, melihat apa yang dilakukannya, ketakutan yang sangat dalam menyelimutinya. Tanpa di sadarinya, dia kembali berjalan mundur ke belakang.
Apel yang menyadari Arthur berjalan mundur ke belakang tiba-tiba berhenti. Senyum dia wajahnya menghilang. Mengangkat wajahnya, dia menatap Arthur yang ketakutan, dan saat mata mereka bertemu, dia kembali—tersenyum.
Bangkit berdiri, dengan darah merah yang terus menetes turun dari tangannya, Apel berjalan mendekati Arthur. Mata merah darah penuh kegilaannya menatap lurus Raja Hirrim, sedangkan senyumnya kian melebar seakan seorang anak kecil yang bahagia karena telah menemukan mainannya yang hilang.
"Yang Mulia, cepat anda pergi dari sini. Kami akan berusaha menghentikannya." Ujar salah satu pengawal yang melindungi Arthur. Dia berlari maju menghadapi Apel diikuti kedua temannya dari belakang.
Arthur tidak mengatakan apapun lagi, dia segera membalikkan badannya dan berlari meninggalkan tempat.
"Larilah! Aku akan mengejarmu! Aku akan mencabikmu! Aku akan mencabut jantungmu!" teriak Apel sambil tertawa menatap Arthur yang melarikan diri.
Salah satu pengawal itu begerak ke arah Apel berusaha menyerangnya, sedangkan dua orang yang ada di belakangnya membacakan mantra sihir dan membuat lingkaran sihir. Sekali lagi, Apel dengan mudah menghindari serangan pengawal Raja Hirrim. Menangkap tangan yang mengarahkan pedang padanya, dia kemudian meremukkannya. Namun, pengawal itu tidak membiarkan Apel meremukkan tangannya begitu saja, dia mengangkat tangan kanannya yang bebas dan menangkap badan Apel. Dia tidak akan membiarkan pemuda itu bergerak sedikitpun lagi. "Sekarang! Jangan pedulikan aku! Serang dia!!"
Kedua pengawal yang ada di belakang mengerti apa yang dimaksud teman mereka. Tanpa ragu, mereka berdua melancarkan serangan sihir mereka ke arah Apel. Sihir petir dan jarum es yang mereka buat dengan cepat melesat ke arah pemuda tersebut. Pengawal yang berusaha mengunci gerakan Apel bermaksud mengorbankan dirinya dan mati bersama Apel. Namun, dia salah, dia ternyata tidak bisa menghentikan gerakan Apel.
Apel dengan mudah melepaskan dirinya dari pengawal tersebut. Mengangkatnya dengan sebelah tangan, dia melempar badan sang pengawal ke arah serangan sihir.
Kedua pengawal yang melancarkan sihir sangat terkejut saat melihat teman mereka mati dengan mengenaskan karena sihir mereka. Namun, belum pulih dari rasa terkejut mereka, Apel telah berada di samping mereka. Dia kembali mengangkat tangannya yang bercakar panjang menusuk jantung kedua pengawal tersebut.
Darah kedua pengawal itu menyebar kemana-mana saat Apel mencabut kembali tangannya. Badan mereka jatuh ke atas tanah dan tidak bergerak lagi. Menatap sejenak pengawal yang telah dibunuhnya sambil tersenyum, Apel kemudian membalikkan badan dan berlari mengejar Arthur.
"A-apa itu?" tanya Mire terbata-bata dengan wajah pucat pasi begitu Apel menghilang dari pandangan mereka.
Selama beberapa detik, tidakada seorangpun yang bergerak maupun bersuara. Mereka masih berusaha mencerna apa yang baru saja mereka lihat.
Lara adalah orang pertama yang berhasil mengendalikan dirinya. Berlari ke arah Rue, dia segera memeriksa luka gadis itu. Perasaan lega dan syukur memenuhi hatinya saat melihat luka Rue tidak parah. Namun, dia juga tahu, bukan itu yang paling penting sekarang. Memukul pipi Rue, dia berusaha menyadarkannya. Apa yang terjadi dengan Apel, dia tidak tahu. Tapi, Rue yang telah lama hidup bersamanya pasti tahu. "Rue, bangun! Kau harus menghentikan Apel, jika tidak dia pasti akan membunuh Raja Arthur!"
Mirthy yang mendengar ucapan Lara segera tersadar. Wajahnya berubah menjadi pasi, tanpa mempedulikan apapun, dia segera berlari ke arah Arthur dan Apel pergi. Apa yang dikatakan Lara benar, Apel pasti akan membunuh Arthur. Tapi, dia tidak akan membiarkan itu terjadi, bagaimana pun juga Arthur adalah satu-satunya kakak kandungnya.
"Fedrick! Calix! Kejar dia!" perintah Lara begitu melihat Mirthy yang berlari menuju arah Arthur dan Apel menghilang.
......................